Maaf Suamimu Aku Pinjam

Maaf Suamimu Aku Pinjam
Kakek-Kakek Juga Jadi Sasaran


__ADS_3

Seperti biasa. Satu bulan belakangan ini, ada saja yang selalu mentraktir aku makan siang.


Begitu juga sarapan pagi.


Rasanya, kalau sudah seperti itu, dunia tentram dan damai. Pokoknya, untuk keperluan kampung tengah, selalu aman terkendali.


''Mi, makan siang dimana. Jangan di warung makan Pak Dollah. Kita cari makan dimana ya, yang enak dan murah. Tapi, jangan seafood terus. Bahaya. Bisa tensi.'' ajak Bos Robert, dan aku langsung mengiyakan ajakannya.


Sebelum beranjak pergi, aku kemasi dulu barang-barang di meja kerjaku.


''Mi. Aku mau makan otak-otak,'' katanya request ke aku.


''Yup.Oke oke oke......Tuan Robert. Jangan minta yang aneh-aneh ya. Nanti marah.'' kataku berseloroh.


''Hahahaha. Emang aku ini Fira.'' celetuknya.


''Iya kamu kayak anak kecil kalau cemburu.'' katanya sedikit serius.


''Udah cepetan.'' pintanya. Kali ini, pakai mobil aku. Katanya kalau pakai mobil dinas, belum isi bensin.


''Alasan. Belum isi bensin. Takut ketahuan ceweknya ya, makan sama aku pakai mobil dinas!'' celetukku, asal-asalan.


''Ih...ngajak duel kayaknya nyonya Robert satu ini.''


''Nyonya Robert? Apaaaaaaa? Darimana asalnya, nyonya Robert?'' kataku nyinyir.


''Udah, agak cepetan nyetirnya. Lapar nih.'' desaknya.


***


Memasuki jalanan Kota Kijang, Bos Robert tak sabaran ingin cepat sampai di makanan otak-otak langganannya di Jalan Beringin.


''Hmmm....aroma otak-otak bakar ini, memang khas banget. Bikin orang lapar.'' katanya sembari memejamkan mata, menghirup aroma asap otak-otak yang dibakar di tungku.


''Pi....nanti, bawa pulang buat Fira ya, 10 bungkus aja.'' kataku padanya, mengingatkan.


''Iya. Mami nggak minta, aku akan belikan untuk anak gadis aku itu.'' sebutnya meyakinkan.


Mendengar itu, rasanya aku terbang ke langit ke tujuh, merasa tersanjung, karena Fira disebut-sebut dia, sebagai anak gadisnya.


''Dia itu, bakal tumbuh jadi gadis yang tangguh Mi. Lihatlah sekarang dia pinter banget ngomongnya.'' puji Bos Robert.


''Pi....boleh nggak, kita duduk-duduk sebentar sambil menikmati otak-otaknya.'' pintaku.


Kata Bos Robert, dia oke-oke saja. Lagian, ini masih jam istirahat.


''Selama masih sama Bos Robert, telat sedikit masuk kantornya, nggak masalah ya,'' kataku sok percaya diri.


''Hmmm.....enak aja.'' katanya.

__ADS_1


Tak lama, ada seorang pria yang usianya mungkin sudah bisa dibilang kakek-kakek. Dia juga datang bersama istrinya. Tapi, entah kenapa, pandangan lelaki gaek itu, selalu memandang ke arahku.


Tanpa berpikir panjang, laki-laki tua itu dilabrak sama Bos Robert.


''Bapak tahu kan....ini istri saya.'' katanya sambil menggebrak meja, tapi nggak terlalu kuat, sampai-sampai aku takut sendiri. Takut Bos Robert nekat.


''Terus.....bapak nggak menghargai perempuan yang ada di samping bapak ini ya. Sadar Pak. Bapak itu sudah tua. Jaga pandangan.'' kata Bos Robert, dengan nada emosi.


''Ya Allah.....Yah....sudahlah. Kamu ini apa-apaan sih?!'' kataku berusaha menghentikan kemarahannya itu.


''Sudah tua, tapi mata jelalatan, kemana-mana. Istri orang, dilihatin terus. Jaga pandangan Pak. Sadar diri!'' katanya lagi lebih pedas.


Akhirnya aku tarik tangannya. Menjauh dari pasangan itu. Kubayar otak-otaknya yang sudah aku makan berdua.


''Yah.......jangan kayak begitu. Malu kita dilihat orang!''


''Biarin. Biar buat pelajaran. Sudah tua tapi mata keranjang. Lihat yang seger-seger, melotot matanya.''


''Sudahlah!''


''Lagian kita sudah pergi dari sana.'' kataku mencoba menenangkan dia.


''Maaf ya, nggak jadi belikan otak-otak buat Fira. Jadi, aku masih punya hutang sama dia ya. Lain kali aku belikan, kalau kita kesini lagi.'' katanya lagi, berjanji padaku.


Sejenak aku diam. Merenungi apa yang baru saja terjadi. Aku nggak habis pikir. Tadi itu, yang dilabrak terang-terangan sama Bos Robert, laki-laki tua, sudah kakek-kakek.


Bagaimana kalau yang lihat aku tadi pria tampan? Apa nggak dia balikkan meja penjual otak-otak tadi ya!


Oalah. Aneh-aneh saja, hari ini. Mimpi apa aku semalam sampai ada kejadian lucu seperti tadi.


''Ayah. Aku boleh tahu nggak. Kenapa sih, kamu marah banget sama kakek-kakek itu. Kan dia cuma lihat aku aja. Itu pun dari jauh. Dia itu sudah kakek......kakekkkkkk,'' kataku, meminta dia menggarisbawahi status pria tadi.


''Dia sudah gaek. Masa iya, hanya ngelihat aku dari jauh, dia punya mata, masa iya nggak boleh ngelihat orang cantik.''


''Hmm.....iya. Kamu memang cantik. Jadi, nggak boleh sembarangan dilihat orang.''


''Ya udah jadi pajangan aja aku di rumah. Tapi, biayai ya hidup aku!'' pintaku bergurau.


Dia diam saja tak merespon kata-kata aku tadi.


''Kan....giliran suruh biayai kebutuhan aku aja, diam. Sementara, kalau di luaran, dilihat laki-laki lain, nggak boleh. Tadi itu, yang lihat, cuma kakek-kakek pun, langsung dilabrak habis-habisan. Ampun.....DJ!'' kataku serius.


Sebenarnya aku berterimakasih banget dia melindungi aku begitu dahsyatnya. Tapi, kalau hanya dilihatin orang, apa salahnya. Itu artinya aku cantik. Hehehehe! Memuji diri sendiri.


***


Aku menceritakan kejadian itu ke Bayu. Dia juga tertawa lepas, mentertawakan ulah Bos Robert.


''Kok bisa, kakek-kakek itu dilabrak sama Bos Robert. Dia kan cuma ngeliatin kamu dari jauh?'' ungkap Bayu terkekeh.

__ADS_1


''Hidup ini memang aneh ya, Bayu. Suami aja nggak sedahsyat itu, melindungi kita. Ini, laki-laki lain yang statusnya nggak jelas, atau hubungan tanpa status, justru perhatian banget sama kita.'' keluhku.


''Ya sabar......'' kata Bayu.


''Eh setelah dilabrak, lelaki gaek itu gimana responnya?'' tanya Bayu penasaran.


''Dia ketakutan banget, dan minta maaf sama Bos Robert, janji nggak akan mengulanginya.'' ceritaku.


''Mungkin, kalau tangan dia nggak aku tarik, bisa-bisa dia balikkan meja penjual otak-otak itu. Dia gebrak meja di depan kakek-kakek itu.'' imbuhku lagi.


''Masya Allah, luar biasa ya.'' celetuk Bayu.


''Ya udah, nanti kalau lain waktu, kamu pergi sama Bos Robert, pakai topeng atau pakai cadar aja. Biar nggak bisa dilihatin sama laki-laki lain.'' saran Bayu.


''Bayu....gimana, kamu masih takut dicariin nggak sama Bos Robert.''


''Eh iya, kemarin dia ke kantor, kata kawan satu bidang aku. Katanya dia mau nyari aku, ada keperluan penting. Pasti dia mau tanya soal keberadaan dukun itu.'' jelas Bayu meyakinkan.


''Kumohon, tolong jangan kasih tahu soal keberadaan dukun itu ya, kumohon.'' kataku memohon pada Bayu.


''Iya, nggak mungkin aku kasih tahu. Nanti dia pasti bakal tonjok dukun itu, kalau sempat tahu.'' jelas Bayu.


''Aku mau tahu, andai kamu yang ditonjok Bos Robert, kamu kasih tahu juga nggak?'' tanyaku penasaran.


''Kalau dia tonjok aku, aku lapor polisi. Tenang aja, aku nggak kasih tahu.'' kata Bayu berjanji padaku.


''Makasih ya.'' ucapku.


''Ke depannya, gimana, apa kamu masih mau lanjut sama dia?'' tanya Bayu untuk kesekian kalinya.


''Entah, aku sendiri juga nggak tahu. Tapi, pelan-pelan aku mulai menerima dia. Karena, dia memberikan kenyamanan dan kedamaian hati, buat aku dan Fira.'' sebutku, mulai blak-blakan di depan Bayu.


''Aku hanya mendoakan yang terbaik buat kamu dan Fira. Kalau memang nggak bisa diperbaiki hubungan kamu dengan Mas Arga, ya apa boleh buat. Setiap orang, akan menemukan jalannya masing-masing. Termasuk aku, sudah 5 tahun menduda. Ini jalan yang aku pilih. Jadi aku nggak boleh menyerah. Harus tegar dan kuat. Doaku hanya satu, semoga suatu hari nanti, aku bisa menemukan jalanku, bareng perempuan yang benar-benar mencintai aku, apa adanya.'' ungkap Bayu panjang lebar.


''Iya....amin....'' kataku mengaminkan apa yang Bayu katakan.


***


Beberapa hari setelah itu, aku janjian lagi, sama Bos Robert. Mau jalan bareng Fira. Karena Fira minta dibelikan sepatu. Asal jalan sama Bos Robert, Fira terlihat bahagia.


Bahkan, dia juga jarang menanyakan keberadaan Mas Arga. Apalagi, Mas Arga juga jarang meluangkan waktu untuknya. Mungkin, itulah yang membuat Fira lupa sama ayahnya sendiri.


Lagi jalan di mall. Seorang lelaki tua yang berpapasan dengan aku, memperhatikan penampilan aku dari ujung kaki sampai ke atas kepala.


Padahal, aku berhijab. Tapi, ada saja, mata lelaki yang jelalatan memandang ke arah aku, saat berada di keramaian.


Tak ayal, lelaki yang memandang aku tadi, didatangi Bos Robert.


''Bapak, tahu siapa perempuan yang bapak lihat dari bawah sampai atas. Itu istri orang. Sadar Pak. Sudah tua, jangan mata keranjang.'' kata Bos Robert lagi. Ya Allah....laki-laki itu, adalah laki-laki kedua yang dilabrak sama Bos Robert. Luar biasa. Takut aku melihat cara dia melindungi aku.(bersambung)

__ADS_1


__ADS_2