Maaf Suamimu Aku Pinjam

Maaf Suamimu Aku Pinjam
Ibu Tak Setuju Aku Cerai


__ADS_3

Untuk kesekian kalinya Bos Robert ikut ke Tanjungpinang. Sebenarnya aku ingin menolak. Tapi, lagi-lagi pasti bakal terjadi perang dunia ketiga.


Karena masih ada misiku yang belum terlaksana, terpaksa aku ke Tanjungpinang diam-diam.


Anehnya, dia selalu menemukan keberadaanku.


Saat bertemu, perdebatan dan baku hantam pun terjadi.


"Sebenarnya kamu kenapa Mi, sudah dua kali ke Tanjungpinang, diam-diam. Kamu ketemu jantan ya!" bentaknya dan aku langsung emosi dituding seperti itu.


"Suka-suka aku. Kan kamu bukan suami aku. Kenapa kamu melarang aku!" jawabku emosi.


Bos Robert menampar aku.


*Plak!


Emosiku semakin memuncak lagi. Kugigit lengannya dan dia langsung menarik hijabku, nyaris berantakan.


"Ya Allah Bu....tolong aku Bu. Aku dianiaya," teriakku di area pelabuhan Sri Bintan Pura, Tanjungpinang.


Seketika dia melepaskan.


Aku pun langsung mencari taksi. Dia aku tinggalkan sendiri di pelabuhan. Tapi, tak lama, dia juga kulihat mengikuti aku dengan Go-Jek.


"Ya Allah. Kenapa sial banget hari ini." gumamku sembari memperbaiki hijabku yang tadi sempat ditarik Bos Robert.


Kalau seperti ini, rasanya aku seperti buah simalakama. Mau pisah susah, apalagi bertahan semakin susah juga.


Kulihat dia masih mengekori aku dari belakang. Di taksi, aku meneteskan air mata. Kenapa aku harus bertemu dengan laki-laki seposesif dia.


Saat taksi yang kutumpangi mendekati rumah, aku bingung. Mau berkata apa nanti kalau ibu aku melihat mataku sembab, seperti ini. Semoga saja ibu aku nggak pernah bertanya.


Taksinya berhenti di depan rumah aku dan dia juga ikut berhenti, turun dari gojek itu.


Seperti tak ada kejadian dia menyapa ibu di dengan ramahnya.


"Assallamuallaikum Bu," ucapnya saat menjumpai ibuku di teras. Kebetulan ibu aku sedang menyiram bunga, sore itu.


Aku yang tadinya masih dibelenggu emosi, tiba-tiba mereda melihat sikapnya itu. Ya Allah.....kenapa laki-laki ini selalu hadir di hidup aku.


"Waallaikum Salam. Masuk-masuk," kata ibuku menyambut kedatangan aku dan juga Bos Robert.


"Fira mana?" tanya ibuku pertama kali ke aku.


"Dia nggak mau ikutan Maminya," sebutku.

__ADS_1


"Ya udah buatkan kopi dulu, sana untuk tamunya," perintah ibu dan aku langsung ke dapur.


Malamnya, aku dan Bos Robert keluar. Makan malam bareng. Setelah selesai, dia aku antar ke hotel. Karena memang setiap ke Tanjungpinang dia tidur di hotel. Jarang banget kalau tidur di rumah aku.


Kali ini aku nggak mau singgah ke kamar hotelnya. Setelah aku antar pakai motor, aku cepat-cepat balik. Aku nggak mau berdebat lagi sama dia.


Aku pun balik ke rumah. Di rumah ibu justru heran.


"Cepat banget keluar sama dia, tumben?" celetuk ibu heran.


"Dia ada jumpa sama orang Bu."


"Ooo...,"


"Dia tidur di hotel kan?"


"Iya Bu,"


"Ibu cuma ingatkan kamu. Kamu itu statusnya istri orang, jalan bareng sama laki-laki lain. Kalau tahu orang lain yang kenal sama suami kamu, nanti bisa jadi masalah besar," kata ibu khawatir padaku.


Aku diam saja karena nggak tahu mau jawab apa. Paling aku hanya bisa mendengarkan saja apa kata ibu.


"Gimana. Kamu sudah bicarakan belum sama Arga?" tanya ibu penuh selidik.


"Sudah, Bu!"


"Dia setuju saja, Bu!"


"Terus anak-anak?" tanya ibu lagi.


"Gio ikut Mas Arga dan Fira sama aku Bu."


Tiba-tiba setelah itu ibu bertanya soal Bos Robert.


"Sekarang jawab pertanyaan ibu. Hubungan kamu sama Bos Robert itu sudah sejauh mana?" tanya ibu untuk kesekian kalinya.


"Masih teman biasa saja Bu. Cuma hubungan kerja. Aku bawahannya dan dia atasan aku," jelasku berusaha nggak gugup.


Karena sebelumnya juga aku menjawab dengan kalimat seperti itu, saat ibu bertanya hubungan aku dengan Bos Robert.


"Teman? Kamu bawahan dan dia atasan? Hubungan kerja? Masa iya. Ibu nggak percaya. Ini sudah ibu tanyakan ke kamu berkali-kali. Tapi kamu masih saja nggak mau jujur sama ibu. Kamu pacaran sudah jauh banget kan....kemana-mana berdua. Setiap ke Tanjungpinang dia pasti ikut," jelas ibu panjang lebar.


Lagi-lagi aku diam. Kubiarkan saja ibu berkata panjang lebar soal aku dan Bos Robert. Kalau aku jawab, pasti aku banyak bohong sama ibu. Apa yang aku ceritakan nggak sesuai dengan kenyataan. Aku takut ibu marah besar sama aku, kalau aku jujur padanya.


"Sekarang, ibu boleh usul nggak. Kalau memang kamu mau merasakan bau surga. Tinggalkan laki-laki itu dan mengabdilah pada suamimu. Kamu nggak ingin merasakan bau surga?"

__ADS_1


Aku kembali terdiam. Karena pertanyaan ibu susah aku jawab. Sebagai orang waras, aku pasti ingin merasakan bau surga. Tapi, akankah aku menderita sampai akhir hidupku, bersama dengan laki-laki yang sama sekali tak ingin menyentuhku. Aku ini istrinya. Tapi, dia jijik menyentuhku.


Akhirnya aku menangis. Meratapi apa yang terjadi pada diriku.


"Kamu pikirkan itu, Winona. Kalau kamu cerai, dan menikah dengan laki-laki lain belum tentu bakal bahagia." ungkap ibu menasehati.


Mungkin ada benarnya kata ibu. Tapi, batin aku sudah tersiksa selama tiga belas tahun ini.


"Apa kamu nggak kasihan sama sekali, dengan Arga kalau pisah?"


"Tapi, dia nggak butuh aku lagi Bu." tandasku.


"Nggak butuh gimana?" desak ibu.


"Dia nggak mau menyentuh aku lagi Bu," sebutku sedih.


"Aku sudah beritahu ibu bukan?" imbuhku.


Ibu aku gantian diam.


Lalu ibu aku memberi saran, kenapa tidak bicara baik-baik saja.


Kukatakan pada ibu, jangankan diajak bicara. Dia saja acuh tak acuh padaku. Jangankan ke aku, ke anak-anak juga sama sekali nggak ada perhatian. Dia sibuk dengan dunianya sendiri.


Ibu menangis kali ini.


Katanya, ibu merasa bersalah. Karena ibu merasa nggak pernah perhatian dengan aku. Aku bilang sama ibu, namanya rumah tangga, nggak ada yang mulus, Bu.


"Mungkin ini takdir aku Bu. Jodoh aku sama Mas Arga sampai disini."


"Jadi kamu serius cerai?"


"Iya....Bu,"


"Ya Allah.....ya sudah. Mau apa lagi. Tak ada gunanya nasehat ibu panjang lebar," kata ibu dengan nada kecewa.


"Andai bapak kamu tahu. Pasti dia sedih melihat kamu yang memilih bercerai dari menantu kesayangannya," ucap ibu lagi masih meneteskan air matanya.


"Ya Allah....ibu aku nggak setuju kalau aku cerai. Tapi gimana ya." gumamku sedih.


"Insya Allah ini yang terbaik Bu," kataku meyakinkan ibu.


Paginya, Bos Robert datang ke rumah aku. Ibu kembali terlibat obrolan akrab dengan dia. Tapi, aneh banget. Ibu aku nggak pernah bertanya sejauh mana hubungannya dengan aku.


Sampai-sampai Bos Robert sangat berharap dia ditanya sama ibu soal kedekatannya dengan aku.

__ADS_1


Tapi, sudah kesekian kali ke Tanjungpinang Bos Robert nggak pernah ditanya. Ibu hanya mengorek informasi dari aku saja.


Di sisi lain, ibu menyambut Bos Robert dengan ramah, meski dibalik itu dia sepertinya tak setuju kalau aku berdua sama Bos Robert.(bersambung)


__ADS_2