
Sekitar jam 10.00 wib, ibuku baru mengaktifkan ponselnya.
*Dreeettt....
*Dreeett....
*Dreett....
Ponsel aku berdering. Kulihat ada panggilan masuk dari ibu.
''Ibu, mau order nastar aku nggak. Sekilonya hanya seratus delapan puluh ribuan aja.'' kataku, mengawali cerita dibalik ponsel genggamku.
''Ih....anak ibu satu ini memang nggak sopan banget. Kirimin, bukan disuruh order. Ibu kan yang beri resepnya. Masa iya disuruh order.'' celetuk ibu, tanpa jeda.
''Ayolah Bu. Buat pelaris. Kata kawan aku, kalau pembeli pertama, itu pelaris.'' pintaku, merengek seperti anak kecil.
''Hmmm.. ya sudah. Sini, ibu transfer uangnya. Minta nomor rekeningnya.'' kata ibu aku, akhirnya mengalah, dan bersedia memesan kue nastar buatan aku.
''Kebahagiaan terbesar seorang pedagang itu, tak lain ketika dagangannya laris manis.'' gumamku, dalam hati.
''Ibu transfer sekarang. Cepat kirim nomor rekeningnya.''
''Iya....sabar, ibu. Nanti Winona kirim ya nomor rekeningnya, ke whatsapp ibu!'' sebutku, seraya mengakhiri percakapan aku dengan ibu.
Jujur, aku sebenarnya hanya ingin ngeprank ibu aja. Aku bukan anak yang setega itu dengan ibu sendiri. Kukemas kue nastarnya. Lalu aku kirim lewat kurir.
''Terimakasih ibu ya.....kue nastar orderan ibu, saat ini sedang on the way menuju ke alamat. Kira-kira, Tanjung Balai-Tanjungpinang, akan memakan proses 4 harian, untuk bisa sampai ke alamat.'' kataku lewat chat.
''Mana, Jeng Winona nomor rekeningnya. Biar ibu transfer sekarang.'' kata ibu lagi, mendesak aku, supaya segera mengirimkan nomor rekeningku.
''Ibu....kalau soal itu, aman. Biar aja kue nastarnya sampai rumah dulu, baru ibu transfer kapan-kapan. Tadi, Winona cuma bercanda aja, kalau ibu suruh bayar. Free......ibu, kuenya. Nanti kasih masukan/ kritikan ya, kurang apanya. Kalau menurut kawan Winona, rasanya oke banget!'' jelasku, masih lewat chat.
''Masa iya,'' balas ibu.
''Kawan kamu itu, bilang kue nastarnya enak, biar dapat gratis dari kamu.'' kata ibu mengejekku.
''Tapi, beneran ibu. Kata kawan aku, enak. Terus, dia bilang juga janji mau bantu jualin kue nastar buatan aku. Doain laris manis ya, ibu.''
''Iya sudah. Ibu percaya. Alhamdulillah akhirnya anak ibu yang satu ini, mau mengikuti jejak ibu, jadi pedagang kue kering. Apalagi, nanti jelang hari raya, pasti kuenya laris manis. Yakin, deh. Ibu doakan.''
Mendengar itu, rasanya aku bahagia banget. Karena, bagi aku, doa ibu itu yang utama.
***
Pengen rasanya berbagai cerita ini ke laki-laki itu. Siapa lagi, kalau bukan Bos Robert. Tapi, status aku, kali ini lagi berantem hebat. Bahkan, kalau bisa, aku nggak mau lagi melanjutkan hubungan ini. Tapi, aku belum siap, menerima konsekwensinya harus kehilangan dia. Rasanya memang seperti buah simalakama. Bertahan sulit, apalagi melepaskan, lebih sulit.
*Dreettt....
*Dreett...
*Dreett...
Ponsel aku bergetar. Buru-buru aku meraihnya. Tapi, aku ragu untuk mengangkatnya. Karena tak tertera nama si pemanggil. Akhirnya aku diamkan saja, meski dia terus berusaha menelepon.
''Jangan-jangan itu Bos Robert. Dia pakai nomor lain.''
Tiga kali dia menelepon, dan aku masih nggak ingin menerima panggilannya.
''Siapa, sih? Niat banget sampai tiga kali menelepon aku.''
Eh...dia kirim chat.
''Kak, Wi. Ini aku, Fitri, pakai nomor ponsel kawan. Aku mau order kue nastar kak. Tiga kilo, berapa ya kak. Aku mau ada acara!'' kata si pengirim chat itu padaku.
Tapi, aneh, aku telepon dia nggak mau angkat. Kata dia, lagi sama teman. Aku disuruh chat aja.
''Kak, nanti ada gojek yang ambil ke rumah kakak ya, sama uangnya aku bayar langsung ya. Lewat gojek itu.'' kata Fitri.
__ADS_1
''Oke?'' jawabku, sembari mengakhiri percakapan.
Tanpa berpikir panjang, aku pun langsung mengemas kue nastar pesanan Fitri.
Tiga puluh menit kemudian, kudengar suara motor seseorang, berhenti di depan rumah aku.
Aku buru-buru ke depan, melihat siapa gerangan orang itu.
Lelaki berpakaian gojek.
''Assallamuallaikum.'' ucap lelaki itu.
''Waallaikum salam. Iya sebentar, tunggu.'' jawab aku dari dalam rumah.
Saat kubuka pintunya, dia langsung menebak namaku, Winona.
''Benar ini rumah Mbak Winona ya?'' tanyanya to the point.
''Iya,'' jawabku.
''Yang mau ambil orderan Mbak Fitri ya?'' tanyaku balik.
''Iya Mbak. Ini uangnya.'' katanya sembari menyodorkan uang yang dititipkan Fitri, ke aku.
''Oke tunggu sebentar ya, saya ambil nastarnya.'' aku ke dalam.
''Ini nastarnya, Pak.'' kataku, seraya menyerahkan nastar tiga kilo pesanan Fitri itu, ke abang gojek.
Dia pun berlalu, meninggalkan rumah aku.
***
Keesokan harinya, aku buru-buru ke kantor. Aku penasaran, ingin tahu apa penilaian Fitri soal nastar buatan aku yang kemarin dia order. Masalahnya, kemarin aku mau menelepon Fitri, ternyata ponsel Fitri nggak aktif.
''Fit....tadi malam, ponsel kamu nggak aktif ya?'' tanyaku penasaran.
''Eh gimana rasa kue nastar buatan aku, enak nggak Fit?'' tanyaku penasaran , ingin segera mendengar penilaian Fitri.
''Terus buat acara apa sih Fit, banyak banget kamu order nastar sampai 3 kilo.'' sebutku, dan Fitri heran mendapat pertanyaan itu dari aku.
''Nastar? Kakak jualan nastar?'' tanya Fitri balik, dengan nada heran.
''Iya, semalam kamu suruh abang gojek kan, ambil ke rumah aku?'' kataku memperjelasnya.
''Nggak ada, Kak? Fitri aja dari sore ketiduran, sampai-sampai, bangun tengah malam, jam 01.00 wib karena kelaparan.'' jelas Fitri meyakinkan.
''Hah, serius. Jangan ngerjain aku dong Fit.'' kataku masih dengan wajah penasaran.
''Sumpah kak, demi Allah, Fitri semalam ketiduran dari sore. Bangun-bangun, tengah malam, karena kelaparan.'' ulang Fitri lagi, masih bersikukuh dengan soal dia yang ketiduran dari sore.
''Bohong, dosa. Ngerjain orang!'' celetukku.
''Ya ampun, Kak. Lagian, aku ngapain sampai order nastar 3 kg. Aku ini anak kos, kak. Lagian, aku juga lagi bokek, Kak. Mau beli nastar sekilo aja, aku pasti mikir panjang.'' jelasnya lagi dan semakin membuat aku tanda tanya.
''Ih......serem ya.'' kata Fitri.
''Kawan kakak ada lagi nggak yang namanya Fitri?'' tanya Fitri.
''Nggak ada, Fit. Kawan aku yang namanya Fitri, ya cuma kamu.'' sebutku.
***
Kulihat, Bos Robert masih belum datang. Sepertinya dia libur, nggak masuk kantor hari ini.
Fitri, yang kebetulan hendak meletakkan sejumlah berkas penting di meja Bos Robert, bercerita ke aku, kalau ada nastar di meja kerjanya.
''Kak, Bos Robert order nastarnya sama kakak juga ya? Mau cicip, tapi takut. Soalnya ada di ruangan bos.'' bisik Fitri, pelan di telinga aku.
__ADS_1
Aku langsung kaget. Bingung mau jawab apa. Karena Bos Robert nggak pernah order nastar ke aku. Apalagi, status aku lagi berantem hebat dengan dia.
''Fit coba fotoin nastar di meja bos itu.'' pintaku pada Fitri.
''Kak, tapi aku takut, nanti aku masuk lagi, dikira mau ngapain. Tadi, kan aku masuk, karena mau meletakkan berkas,'' kata Fitri, menolak untuk membantuku.
Akhirnya aku masuk saja ke ruangan bos Robert. Lagian, dia juga belum datang. Padahal, sudah jam 10.00 wib. Pasti dia libur nggak masuk kantor!
Saat aku membalikkan badan, kulihat dia sudah berdiri di belakang aku. Betapa terkejutnya aku, melihat kedatangannya, karena aku memang tak menyadari saat dia masuk ke ruangannya.
''Kalau kepengen, ambil saja, semalam aku beli di swalayan.'' jelasnya.
''Duh.....aku malu banget. Ketahuan.'' gerutuku dalam hati.
Dia tiba-tiba menyerahkannya satu toples ke aku.
''Ambillah, kalau mau. Aku masih punya banyak, di kulkas.'' sebutnya menunjuk ke arah kulkas yang ada di ruangannya itu.
Mendengar itu, sebenarnya aku ingin ketawa. Kenapa harus diletakkan di kulkas, nastarnya. Tapi, aku berusaha menahannya, agar tak tertawa. Aku buru-buru pergi meninggalkan ruangannya.
***
Kucicipi nastar pemberian Bos Robert itu. Aku curiga, nastar ini adalah nastar buatan aku. Lagi pula, sejak kapan, laki-laki doyan ngemil nastar. Hahahahah!
''Hmmmm...nggak salah lagi ini. Ini nastar buatan aku.'' gumamku dalam hati.
Aku sengaja mengeluarkan nastar yang aku bawa dari rumah.
''Fit, enakan mana, nastar Bos Robert, dengan nastar buatan aku.'' kataku, meminta Fitri untuk mencicipi nastar yang ada aku sodorkan ke dia.
''Fit, lucu nggak sih, laki-laki suka ngemil nastar.'' kataku lagi minta pendapat Fitri.
''Nggak juga sih, Kak. Hanya saja, sedikit aneh aja sih, Kak.'' selorohnya sedikit pelan, saat mengatakan itu.
''Kamu, kalau kepengen nastar, minta aja sama bos. Tadi, aku waktu di ruangan dia, dikasih satu toples. Terus, katanya lagi, masih ada stok banyak di kulkas.'' bisikku, lirih ke telinga Fitri.
Kami berdua hampir ngakak barengan. Karena melihat Bos Robert keluar dari ruangannya, kami pun berusaha menahan diri, nggak tertawa.
Dia melirik aku dan Fitri. Lalu berlalu begitu saja dari hadapan aku. Pikirku, dia tumben jaim banget sama aku, hari ini.
Aku kembali ke pembahasan nastar.
''Fit, gimana rasanya,'' kataku mendesak Fitri, untuk memberikan penilaian.
''Eh iya tunggu Kak. Aku makan sekali lagi ya. Soalnya susah bedain, mana yang lebih enak. Soalnya sama-sama enak, ini Kak. Terus, bentuknya juga sama Kak.'' jelas Fitri.
''Hmmm. Ada yang aneh dengan nastar ini. Aku yakin nastar di meja Bos Robert dan juga di kulkasnya itu, beli sama aku. Tapi, dia bilang beli di swalayan. Swalayan dari Hongkong!'' gerutuku.
''Ooooo, pantes dia ngilang. Pasti takut aku tanyain soal nastar ini. Hahahaha. Dasar!''
''Beneran ya Fit, sama enaknya?'' tanyaku lagi.
''Iya, Kak. Rasanya sama.'' tegasnya lagi.
''Jujurlah Fit, enakan mana. Nastar aku sama nastar dari meja bos?!''
''Coba nih Kakak rasain aja sendiri.''
Tapi, memang benar rasa nastarku sama dengan nastar yang diberi Bos Robert.
Curiga banget aku. Jangan-jangan abang gojek yang ke rumah aku kemarin itu, orang suruhan dia.
Bagaimana pun juga, aku berterimakasih sama dia, karena sudah membeli dagangan aku. Mau dia ngaku atau nggak ngaku, aku bersyukur saja, dagangan nastar aku laris.
''Makasih ya sayang, kamu sudah membeli nastar buatan aku.''
Ingin mengatakan itu. Tapi, aku gengsi. Pura-pura nggak tahu aja. Nanti, ada saatnya aku ingin mengintrogasi dia, sampai dia ngaku, kalau nastar itu dia beli dari swalayan aku.(bersambung)
__ADS_1