Maaf Suamimu Aku Pinjam

Maaf Suamimu Aku Pinjam
Sebelas Menit Kedua


__ADS_3

Kulirik jam tanganku, sudah pukul 22.00 wib. Aku bergegas ke kamar mandi, membasahi tubuhku, sebentar saja. Karena rasanya gerah, pengen mandi.


''Mau kemana sayang,'' kata Bos Robert menarik tanganku saat aku hendak bergegas ke kamar mandi.


''Mandi sebentar. Terus mau balik. Nanti aku ditanyain sama ibu aku, kenapa lama.'' jelasku beralasan padanya.


Semakin aku berusaha menepisnya, Bos Robert semakin kuat menarik tanganku, dan dia menarikku dalam pelukannya lagi.


Anehnya aku juga tak melawan, malah pasrah, menikmatinya.


''Nggak boleh pergi. Masih kangen berat nih,'' katanya membuka handuk yang menutupi tubuhku.


''Ih....nggak bisa. Aku harus pulang. Nanti apa kata ibuku?'' kilahku.


''Nggak bisa pulang pokoknya, aku pengen pelukan sampai pagi.'' katanya mencoba terus menelusuri lagi titik-titik sensitifku.


Rasanya, otakku memang ingin bercinta lagi sama dia, dan aku membiarkan dia bebas berkeliaran di taman lembah ranumku.


''Sayang.....aku mau sama kamu seperti ini terus,'' gumamku dalam hati. Andai aku bisa mengatakan itu padanya. Betapa bahagia hatiku.


Sesekali aku berusaha menepis tangannya yang nakal itu.


''Jujur, kamu juga pengen terus seperti ini, kan...kalau bisa sampai pagi.'' ucapnya di telingaku.


Aku diam saja, tak mau meresponnya karena aku memang tak ingin melepasnya malam ini. Tapi, nggak mungkin.


Waktu terus berlalu dan aku harus pergi. Karena aku nggak mau ibuku berpikiran yang macam-macam soal kepergian aku dan Bos Robert.


''Maaf sayang ya....aku sebenarnya pengen juga menemani sampai pagi. Tapi, apa kata ibuku nanti. Ini aja, aku mau balik, aku takut aja, dan nggak enak sama ibu. Kalau nggak balik, aku bakal lebih nggak enak lagi, sama ibu.'' sebutku.


Akhirnya dia melepaskan pelukannya.


''Sepuluh menit lagi baru pulanglah kalau mau pulang.'' kata Bos Robert, menarik tanganku lagi.


Seperti terhipnotis, aku pun menuruti saja apa yang menjadi keinginan dia.


''Kamu jago hipnotis orang ya, Bos Robert yang ganteng-ganteng tapi galak!'' bisikku lirih di telinganya.


''Maksudnya.'' tanyanya bingung saat menjawab pertanyaan aku.


''Iya, dari tadi aku seperti dihipnotis sama kamu. Soalnya, dari jam sembilan tadi, aku gerak mandi, eh kamu ajak aku terus main game.'' kataku dan aku memang masih ingin dimanja dia.


''Hahahahah. Iya kita kalau bisa main gamenya sampai pagi. Eh....nggak....aku mau nya main billiar, biar aku bisa berkelana lama-lama di lembah kenikmatan yang kamu punya.'' katanya.


Mendengar itu, lagi-lagi aku merasa tersanjung dan tak ingin jauh dari dia.

__ADS_1


''Udah....ah....aku mau balik.'' kataku lagi berusaha menepis pelukannya.


''Jangan dulu, kurang tiga menit. Tadi kan aku minta sebelas menit.'' protesnya lirih.


Aku merasakan ada cairan yang hangat, mengalir dari milikku yang paling terdalam.


Selama ini, hanya dia yang aku perbolehkan berkelana di lembah itu. Karena aku yain, hanya dia laki-laki yang bisa memberi kebahagiaan batinku.


''Makasih sayang ya....waktunya malam ini.'' katanya padaku, dan dia terlihat bahagia setelah bersamaku, meski hanya sebentar.


Aku pun bergegas mandi, membasahi tubuhku.


Beberapa menit kemudian, dia menerobos masuk ke kamar mandi, dan memelukku dari belakang.


''Sayang....lima menit lagi, ya....aku masih kangen berat.'' katanya memelas padaku, penuh harap.


Kupandangi tubuhku di kaca kamar mandi kamar hotel itu. Lelaki yang bukan milikku itu, bebas memainkan bagian-bagian tubuhku, dengan nafsunya.


''Ya Allah, aku nggak ingin seperti ini terus menerus. Aku ingin jadi pasangan yang halal di mata-Mu ya Allah.'' gumamku, sedih.


''Tapi, aku nggak kuasa untuk menolak semua ini. Apakah karena aku tak pernah mendapatkannya dari Mas Arga, sampai hasrat itu aku serahkan untuk lelaki lain yang bukan milikku?''


***


Mengapa jalan hidup aku serumit ini? Aku dihadapkan pada 2 pilihan, antara benar dan salah. Aku tahu, mencintai seseorang yang tak bisa kumiliki itu salah. Aku berselingkuh di belakang Mas Arga. Tapi, aku punya alasan kenapa aku harus melakukan semua itu.


''Sayang....sampai kapan aku harus menjalani cinta yang salah ini?''


Bos Robert tak peduli apa kata-kataku, karena dia masih terbelenggu nafsu ingin terus memainkan bagian-bagian sensitifku.


''Sayang....dengerin aku. Udah ya....,'' kataku memberontak.


''Aku harus pulang.''


''Sebentar lagi, kamu nggak kasihan ya. Aku masih kangen sama kamu. Tolong pahami aku.'' katanya.


''Sudahlah, sayang. Kamu yang harus pahami aku. Gimana dengan perasan ibuku, kalau tahu hubungan kita ini?'' kataku resah.


''Iya...iya....aku paham. Ya sudah. Maaf ya....,'' katanya, sembari melepasku dari pelukannya.


Akhirnya aku bergegas ke kamar mandi, membashi tubuhku dengan air hangat di kamar mandi hotel itu.


''Makasih sayang ya waktunya buat malam ini,'' ucapnya sembari mengecup keningku, dan aku beranjak pergi dari kamar hotel itu.


***

__ADS_1


Di sepanjang perjalanan pulang, aku berharap ibu sudah terlelap. Karena, aku takut kalau ibu masih terjaga, pasti akan menanyai aku dengan pertanyaan panjang lebar, soal aku yang jalan bareng berdua sama Bos Robert malam ini.


Saat tiba di rumah, kulihat ibu masih terjaga di depan tv, sambil terus memutar tali tasbihnya.


Ibu menghentikan dzikirnya, lalu menanyakan aku dari mana saja, baru pulang selarut ini.


Tadi, katanya Fira rewel. Berkali-kali terus menelepon aku. Tapi, ponsel aku nggak aktif.


''Iya, Bu. Maaf tadi lowbat. Winona menemani bos, makan malam sama teman-temannya.'' jawabku, terpaksa berbohong. Jantungku deg-degan, khawatir ibu bakal melontarkan pertanyaan yang aneh-aneh.


Kulihat ibu beranjak pergi dari depan TV itu, dan menuju ke kamarnya.


''Ya sudah, jangan lupa matikan TV kalau kamu mau tidur.'' pesan ibu.


Aku menghela nafas panjang. Lega, rasanya, karena ibu tak memberiku pertanyaan lagi.


''Terimakasih ya Allah.'' kataku sembari mengusap wajahku dengan kedua telapak tanganku.


***


''Selamat pagi, sayang. Pasti masih bobok ya jam segini.'' kata Bos Robert mengirim chat ke aku, di awal pagi.


Waktu masih menunjukkan pukul 05.00 wib. Mataku masih berat, untuk membalasnya.


Tak lama dia meneleponku lewat panggilan video call.


Kuangkat tapi mataku masih berat untuk meresponnya.


''Ih...si cantik sayangku ini masih tidur. Bangun......''


''Iya, masih ngantuk.'' kataku manja.


''Wuih, dia pakai baju tidur seksi.'' katanya dan seketika aku terbangun, berusaha membuka mataku.


Buru-buru kututup dadaku yang terlihat belahannya.


''Eh jangan ditutup. Orang mau lihat, kalau tidur pakai baju seksi itu, cantik banget ya kamu, sayang.'' ungkapnya dan aku masih diam belum niat bicara.


''Nanti, jam 08.00 wib, jangan lupa ya, jemput aku di hotel. Kita sarapan bareng. Fira ajak juga ya.'' pintanya.


''Hmmmm...iya...'' kataku masih malas-malasan menjawabnya.


''Hai....bangun dong nona cantikku. Coba kain penutup di dadamu itu singkirkan!'' katanya coba menggodaku.


''Nggak mau!'' jawabku.

__ADS_1


''Hmmm....kalau aku ada di sana, aku nggak perlu repot-repot minta tolong untuk menyingkirkannya. Pasti sudah aku singkirkan sendiri dari gundukan gunung kembar itu.'' celetuknya masih berusaha menggodaku.


''Udah ya aku mau tidur lagi. Ngantuk berat. Nanti jam delapan sambung lagi ya di warung. Tunggu aku sama Fira, jemput ke hotel.'' kataku, sembari kututup percakapannya.(bersambung)


__ADS_2