Maaf Suamimu Aku Pinjam

Maaf Suamimu Aku Pinjam
Mulai Diawasi


__ADS_3

Sesuai rencana, Sabtu aku mau jalan-jalan. Pengen rehat sejenak, menikmati libur. Dulu, sebelum kerja di kantor aku sekarang. Setiap bulan selalu menyempatkan diri jalan-jalan. Meski hanya cuci mata di mall. Tapi aku nggak shoping.


''On The Way''


Hanya dalam hitungan detik, setelah aku menulis status di whatsapp aku, bos galak itu menelepon aku.


*Angkat.....


*Nggak......


*Angkat.....


*Nggak.....


Bingung. Kalau diangkat, pasti masalahnya bakal panjang. Bakal ditanyain lagi dimana, sama siapa, ngapain. Tiga pertanyaan itu pasti akan dilontarkan dia, ke aku.


Dia kirim chat.


''Angkat. Aku mau ngomong penting!'' perintahnya lewat chat.


''Duh....gimana ini. Angkat apa nggak ya. Matikan ponsel, kali ya. Aman!'' pikirku dalam hati.


''Eh...nggak ah. Nanti malah jadi masalah kalau aku matikan ponsel.'' kataku masih bimbang sendiri.


''Iya, Pak. Maaf di jalan.'' kataku, membalas chat bos galak itu. Hahahahaha!


''Angkat telepon aku!'' desaknya lagi, padaku.


Bersamaan dengan itu, dia memang menelepon aku lagi lewat panggilan whatsapp. Saat aku terima, dia minta dialihkan panggilannya ke panggilan video call!


''Aduh.....dia video call, gimana ini. Gawat! Harus cari posisi aman. Dia bakal tahu aku dimana. Hmmmm....ini gara-gara status aku ''on the way.''


Terpaksa aku harus mengalihkan panggilannya ke video call.


''On the way kemana kamu?!'' tanyanya lembut.


''Biasa, mau jalan. Suntuk aku. Mau jalan-jalan aja sebentar!'' jelas aku padanya.


''Iya, kemana jalan-jalannya?!'' tanya dia penasaran.


''Ada deh!'' jawab aku singkat, sengaja membuatnya supaya penasaran.


''Kamu jangan macem-macem sama aku. Aku pimpinan kamu!'' tegasnya.


''Ih....apaan sih dia ini!'' gerutuku, kesal.


''Bilang, kamu kemana. Pergi ke luar kota tanpa izin pimpinan, itu melanggar peraturan.'' sebut Robert.


''Ke Tunjungan Mall Sidoarjo!'' kataku. Akhirnya aku ngaku juga, daripada urusannya panjang.

__ADS_1


''Posisi kamu sekarang dimana!?" tanyanya, memaksa aku harus menjawab jujur.


''Di mall,'' jawabku singkat.


''Tunggu aku lima belas menit, sampai sana!'' sebutnya lagi, sembari mengakhiri percakapannya.


Aku menarik nafas panjang, melihat tingkah aneh bos aku yang satu itu. Nggak ada yang bisa kuperbuat, selain pasrah menerima keadaan. Rasanya, sekarang aku nggak bisa lepas dari pantauannya. Padahal, Sabtu itu, hari libur aku. Tapi, dia selalu mengawasi kemana pergerakan aku. Sial. Benar-benar sial!


***


Dalam diam, aku nggak bicara, saat dia tiba-tiba muncul di hadapan aku. Dia memintaku mengikutinya, memasuki salah satu rumah makan.


Seorang lelaki, menyapa ramah padanya. Dia langsung ambil posisi duduk di belakang. Kata dia, minta ditemani makan siang dulu. Karena katanya tadi belum selera makan.


Terpaksa aku ikuti saja apa mau dia siang itu. Aku juga ikutan order. Kami mengambil posisi kursi paling tengah. Kebetulan, rumah makan itu tak terlalu banyak pengunjungnya. Hanya dua orang. Kursinya banyak kosong.


Setelah selesai, akhirnya jalan keliling mall.


Nggak seperti biasa. Kalau Sabtu, mall ini biasanya full. Tapi, sejak covid pengunjungnya tak terlalu banyak. Mungkin, Minggu, kali, baru full pengunjungnya.


Jantungku berdebar, saat dia menggandeng tanganku, saat berjalan beriringan dengannya. Aku sama sekali masih diam, tak berkata-kata. Karena aku juga bingung mau ngomong apa, siang itu.


''Kenapa kamu tadi diam-diam jalan sendiri, tanpa sepengetahuan aku?'' tanyanya seolah memojokkan aku.


Aku masih diam tak menjawab pertanyaannya.


''Kamu dingin nggak?'' tanyanya lagi, sambil terus menggenggam erat tanganku.


''Untung nggak banyak orang. Kalau ada orang, malu aku dibuatnya. Pegang-pegangan tangan di depan umum. Anehnya, dia nggak ada basa-basinya mau pegang tangan aku. Hahahahahahaha!'' gumamku bicara sendiri dalam hati.


Waktu itu, memang benar-benar dingin, karena AC mall memang kuat banget. Apalagi pengunjungnya jarang. Tentu saja, AC-nya jadi dingin banget.


''Kenapa sih kamu nggak mau bicara dari tadi. Sariawan ya?'' tanya dia terus nyerocos. Asli, ngalah-ngalahin perempuan, doyan bicara.


Aku hanya menyeringai tipis, sembari berusaha melepaskan genggaman tangannya. Tapi, semakin aku berusaha melepaskan diri dari genggaman tangannya, dia semakin kuat menggenggam tanganku.


Kurasakan seolah-olah ada aliran hangat yang menjalar ke tubuhku, lewat genggaman tangannya.


Sepanjang hari itu, dia memang suka menggenggam erat tanganku. Mau mengelak, juga nggak mungkin.


''Alhamdulillah, hari ini bisa jalan bareng sama kamu,'' katanya. Jelas saja, kata-kata dia itu, jadi buat aku tersanjung.


Untuk kesekian kalinya, aku berusaha melepaskan genggaman tangannya. Kali ini dia lepaskan karena memang aku dan dia harus masuk ke mobil.


"Masuk mobil aku sebentar," pintanya.


Permintaan aneh.


"Pak saya bawa mobil sendiri tadi. Di parkiran." kataku padanya.

__ADS_1


"Iya tahu. Ada berkas yang harus kamu kerjakan. Ambil di mobil aku." katanya.


"Kamu pasti mikir yang bukan-bukan, saat aku bilang masuk ke mobil. Bener kan? Makanya jangan negatif thinking melulu, sama aku!"


Seperti kena skak mati. Aku memang tadi sudah su'udzon. Kukira, mau ngapain, disuruh masuk mobilnya dia.


Kami pun berpisah. Aku keluar lagi dari mobil dia. Huft!


Lagi-lagi, aku diam, nggak habis pikir, kalau ketemuan sama dia. Ada aja momen-momen aneh yang buat aku geleng-geleng kepala. Semua serasa di luar nalar aku.


***


Taksi yang membawaku dan juga Robert, akhirnya sampai di pelataran salah satu hotel. Seperti sepasang kekasih, kami melangkah ke hotel itu dengan santai. Padahal, di sisi lain, jantungku masih berdebar tak karuan. ''Beneran nggak ini, pergi liburan berdua sama bos galak ini! Hahahahahahah!'' gumam aku.


''Kami mau dua kamar, yang standart!'' sebutnya pada pelayan di lobi depan itu.


''Baik Pak,'' jawabnya dan dia meminta KTP Robert, untuk mencatat identitasnya.


''Di lantai 2 ya Pak,'' sebut pelayan itu.


''Oke,'' jawab Robert. Dia membawa kunci dua kamar itu.


''Kamu, mau gabung apa tidur sendiri?'' tanyanya.


''Sendiri aja, Pak,'' jawabku yakin.


''Yakin? Kamu berani sendiri?'' tanyanya lagi, ingin memastikan.


''Ya udah, kalau ada apa-apa, telepon aku aja. Ponsel aku online terus,'' sebut Robert meyakinkan aku.


Aku menarik nafas panjang. lega, rasanya. Aku bisa pisah dari dia!


Kunyalakan lampunya, aku pun merebahkan tubuhku di atas ranjang yang masih tertata rapi itu.


Ponselku bergetar. Ada panggilan masuk dari bos sebelah. Hahahaha!


Sudah aku duga. Dia bakal menelepon aku.


Tapi, sengaja aku lama-lamain angkat teleponnya. Karena tak aku angkat-angkat, dia mengetuk kamarku.


''Buka!'' perintah dia lewat chat whatsapp.


''Aduh....kukira aku terbebas dari dia, setelah menerima kunci kamar. Ternyata dia malah mendatangi aku!'' gerutuku, kesal.


Akhirnya, aku pun pasrah untuk yang kesekian kalinya. Dia memang nggak benar-benar memberiku kebebasan. Jadi, untuk apa dia sewa dua kamar, kalau akhirnya dia mendatangi kamar aku. Hahahahahaha. Dasar aneh. Bos aneh!


''Kenapa kamu lama angkat telepon aku?'' tanya dia seakan memojokkan aku.


Tanpa basa-basi, dia mendekati aku dan memelukku erat. Lagi-lagi, aku semakin tak kuasa untuk menolak dekapannya itu.(***)

__ADS_1


__ADS_2