Maaf Suamimu Aku Pinjam

Maaf Suamimu Aku Pinjam
Minta Cerai


__ADS_3

Tak seperti biasa, tumben hari libur, Mas Arga ada di rumah. Biasanya, selalu saja tak pernah di rumah. Kalau nggak lembur di kantor, dia main sepeda sama komunitas-komunitasnya. \


Kulihat dia rebahan di sofa ruang tamu. Sepertinya, sekarang waktu yang tepat untuk ngomong tentang rencana permintaan cerai aku.


Aku mendekat ke arahnya. Duduk tak jauh dari sofa yang ada di ruang tamu itu.


''Mas, aku mau ngomong.'' kataku memulai pembicaraan.


''Hm...,'' sahutnya.


''Aku mau ngomong nih.'' kataku lagi memintanya untuk memperhatian aku. Soalnya, dia masih dalam posisi rebahan. Meski aku sudah bicara sampai dua kali.


''Bangunlah aku mau ngomong.'' kataku mulai kesal.


''Iya....ngomong aja aku dengar kok,'' jawab Mas Arga.


''Aku mau pisah dari kamu.'' kataku serius.


Dia diam. Bahkan, kata-kata aku itu nggak merubah posisi Mas Arga. Dia tetap rebahan sambil memejamkan matanya, pura-pura ngantuk.


''Ceraikan aku,'' bentakku, tapi suaraku nggak terlalu tinggi.


''Sudah tiga belas tahun aku bertahan seperti saat ini. Jujur, aku nggak mau terus-terusan, seperti ini. Hubungan kita sebagai suami istri, sudah nggak wajar. Kita sudah tak saling cocok.'' kataku blak-blakan.


Ya Allah.....dia masih diam membisu, tak merespon kata-kata aku.


''Sekali lagi, kumohon padamu. Lepaskan aku. Kita jalani hidup masing-masing. Karena, percuma kita bertahan seperti ini, karena satu sama lain sudah nggak ada kepedulian. Lu....lu....gue...gue....,'' jelasku lebih detail.


''Sebenarnya aku nggak mau minta cerai. Tapi, sikap kamu selama 13 tahun ini, tak memperlakukan aku sebagaimana mestinya seorang istri,'' kataku lagi masih nyerocos sendiri.


''Apaan sih ngomong kamu. Aku ngantuk,'' kata Mas Arga.


''Aku serius. Minta cerai. Aku mau pisah sama kamu. Lebih baik carilah perempuan di luar sana yang bisa cocok dengan kamu!''


''Fira bagaimana? Bisa kamu menghidupi dia dengan gaji ASN kamu yang tak seberapa itu?'' tanyanya sepele.


Aku bilang saja sama Mas Arga, bisa atau nggak bisa, aku akan berusaha menghidupi Fira.

__ADS_1


Aku tegaskan sama dia, kalau aku saat ini benar-benar nggak bisa lagi hidup sama dia. Nggak ada kata akhir, dari perdebatan aku dengan Mas Arga. Tapi, dia sepertinya belum bersedia melepas aku.


***


''Bang. Aku sudah bilang sama dia. Dia nggak mau sepertinya menceraikan aku.''


Bos Robert diam. Dia masih sibuk memainkan ponselnya.


''Ya sudah. Kita tunggu saja waktu yang tepat untuk mengakhiri semuanya. Kamu mau hidup sama dia terus, sampai mati?''


''Entahlah....aku juga nggak tahu lagi mau ngomong apa.'' kataku pasrah.


Padahal, selama ini aku nggak pernah dianggap sebagai istri. Sementara aku, selalu melaksanakan kewajiban aku. Memasak, mencuci baju. Beres-beres rumah. Merawat anak. Cari duit sendiri juga.


''Ya sudah. Jalani saja, sayang. Ada aku untuk kamu.'' ungkap Bos Robert menenangkan aku.


Memang benar, dia selalu ada untuk aku. Pelan-pelan juga aku mulai menerima dia. Karena, dia memang memberi kedamaian di hati aku.


''Bang. Aku mau tanya. Andai kamu ketahuan istri kamu, apa tindakan kamu?'' tanyaku penasaran.


''Ngomong apa, nih. Aneh-aneh aja. Sekarang, ketahuan atau nggak ketahuan, aku tetap sayang sama kamu.''


''Jangan macem-macem aja, pesan aku. Awas kalau kamu khianati aku. Aku cekik nanti,'' ancamnya serius.


Aku malah mentertawakan dia.


Katanya, siapa pun orang yang berani mendekati aku, pasti akan berhadapan dengan Bos Robert. Tapi, sungguh aku malu dibuat dia, karena selama ini memang orang-orang yang dekat sama aku, selalu dibuat rusuh sama dia. Apalagi orang itu laki-laki. Bahkan sampai kakek-kakek yang hanya lihat aku dari jauh, sudah dicemburuin dia. Hmm.....


***


Hatiku tercabik-cabik lagi, saat Bik Inah serius menceritakan apa yang tadi siang dia dengar dari percakapan Mas Arga dengan seseorang dibalik telepon genggamnya.


Berkali-kali aku minta Bik Inah memastikan bahwa apa yang dia dengar itu salah. Namun, ternyata Bik Inah memastikan kalau majikannya itu, Mas Arga sedikit aneh.


''Bapak, setiap hari janjian sama laki-laki, ke kedai kopi. Terus dia ngomongnya lembut banget.'' cerita Bik Inah untuk kesekian kalinya.


''Ya Allah Bik. Memang sudah hancur hidup aku BIk, sejak Bik Inah cerita soal ini, beberapa waktu lalu,'' ungakpku dan aku kembali menitikkan air mata di depan perempuan setengah baya itu.

__ADS_1


''Bik, tapi jaga nama baik keluarga aku ya. Jangan bocorkan rahasia ini kemana-mana.'' pintaku penuh harap.


''Iya Bu, saya akan jaga. Saya sudah janji sama ibu.'' katanya meyakinkan aku.


''Bik....aku mau minta pendapat, sama bibik.'' kataku setengah ragu mengatakan itu.


''Iya apa...Bu,'' tanyanya menunggu kalimat aku.


''Kalau misalnya aku cerai sama bapak, menurut bibik gimana?'' tanyaku minta pertimbangan sama dia.


''Waduh....nggak tahu saya Bu. Takut mau ngomong kalau soal itu. Nanti saya salah ngomong, berdosa, saya.'' ungkapnya serius.


''Saya cuma mendoakan buat ibu dan bapak, supaya rukun.'' katanya.


Aku trenyuh mendengar kata-kata Bik Inah. Dia sudah aku anggap sebagai orang tua aku.


''Bingung aku Bik Inah. Hidup aku sudah hancur rasanya nggak mungkin diperbaiki lagi.'' kataku pasrah.


''Yo jangan begitu toh Bu. Semua belum terlambat. Ibu sama Bapak, bisa memperbaikinya.'' katanya menasehati dan seolah memberiku semangat.


***


Pelan-pelan aku bertanya pada Fira, bagaimana tentang sosok lelaki yang sering dia panggil ayah baik itu. Katanya, dia suka banget sama ayah baik. Kata dia, alasan suka sama ayah baik, karena suka ajak jalan. Belikan makanan kesukaan Fira, terus sayang sama Fira.


Kulihat, memang, Bos Robert menyayangi Fira layaknya seperti anak sendiri. Tapi, aku ragu. Bukankah sesuatu hubungan itu hanya indah di awal dan sedih di akhir. Dia itu punya orang. Nggak mungkin rasanya bisa aku miliki seutuhnya.


''Ya Allah.... kenapa dia Engkau hadirkan untukku. Di saat hidupku kacau seperti ini?''


''Fira....Fira sayang nggak sama ayah baik?'' tanyaku iseng padanya, menjelang tidur malamnya.


''Iya, ayah baik, baik banget. Fira suka.'' katanya, dengan polos.


''Besok, jalan-jalan lagi yuk Mi, sama ayah baik. Kalau sama ayah Arga, kan susah diajak jalan. Ayah Arga sibuk di kantor.''


Ya Allah aku kaget mendengarnya. Ternyata, anakku juga protes akan perlakuan Mas Arga selama ini. Ya....Mas Arga telah mengabaikan Fira. Jangankan jalan-jalan, bersenda gurau dengan Fira, juga jarang dan nyaris nggak pernah.


''Maafin Mami ya sayang, ayah kamu tak melaksanakan kewajibannya dengan baik. Semoga kelak kamu jadi gadis yang tangguh, kelak sudah besar.'' kataku membelai rambutnya, dan dia pun tertidur pulas.

__ADS_1


Saban hari, Mas Arga jarang bersama Fira. Dia, berangkat pagi, pulang terkadang tengah malam, di saat Fira terlelap.(bersambung)


__ADS_2