Maaf Suamimu Aku Pinjam

Maaf Suamimu Aku Pinjam
Curhat Lagi ke Bayu


__ADS_3

Mungkin, ini perjalanan takdir cintaku. Seingatku, aku belum pernah bertemu lelaki seposesif dia. Posesif yang melampaui batasannya. Tapi, anehnya aku nggak bisa membebaskan diri dari belenggu cintanya.


''Kalau menurut kamu, aku itu, pantas nggak sih, sama dia?'' tanyaku sama Bayu.


''Dia yang mana?'' seloroh Bayu menggodaku.


''Lama-lama, aku santet juga nih orang. Pakai tanya-tanya segala, seperti wartawan aja!'' protesku.


Aku terus menikmati makanan yang ada di depanku. Tak kusadari, Bayu mengabadikan momen aku menyantap makanan.


Kata dia, Bos Robert nggak akan pernah melepaskan perempuan impiannya.


''Perempuan impian?'' tanyaku heran.


''Hahahaha. Ngacau kamu.'' celetukku lagi.


''Iya dia nggak akan melepaskan kamu. Apalagi kamu masih muda, kalau dibandingkan dengan istri dia, tentu jauh beda.'' sebut Bayu.


''Kamu jangan menyenangkan hati aku.'' kilahku.


''Beneran, kamu lebih dipilih dia, ketimbang istrinya!'' masih kata Bayu meyakinkan aku.


''Hahahaah. Udah kayak dukun aja kamu itu.''


Aku berusaha menepis semua pernyataan-pernyataan dia. Karena aku sendiri masih ragu dengan perasaan aku. Aku benar-benar cinta sama Bos Robert, atau hanya sekedar melepas kesepianku.


''Jujur, Yu, aku sama suami aku, udah nggak pernah lagi hidup wajar layaknya suami istri,'' sebutku blak-blakan.


''Tiga belas tahun, Yu,'' tambahku.


Sejenak, Bayu terdiam mendengar cerita aku.


Dia menanyakan apakah aku pernah menceritakan soal itu ke Bos Robert. Aku jawab saja sudah. Bahkan, aku juga menceritakan apa alasannya aku nggak pernah melakukan itu dengan suamiku.


Lagi-lagi, Bayu masih terdiam saat aku mengatakan yang sebenarnya soal hubungan aku dengan Mas Arga.


''Tiga belas tahun, kamu betah banget?!'' tanyanya dengan mata terbelalak.


''Iya, Yu. Aku kesepian. Sebagai perempuan normal, aku masih punya hasrat.'' kataku, sembari meneteskan air mata.


''Setelah anak aku lahir, setahun pertama, aku berusaha sabar, saat dia tak ingin mendekati aku. Bahkan, saat aku berusaha mendekati dia, dia merasa jijik.'' ceritaku masih terisak.


''Aku penasaran. Kenapa dia selalu menolak aku. Semua terjawab, saat dia sakit, dan harus minum obat untuk melawan penyakitnya.'' jelasku, dan rasanya suara aku tercekat di leher, tak sanggup melanjutkan ceritaku.


''Waktu itu, dia terbaring tak berdaya, di rumah sakit. Bersamaan dengan itu, aku terkejut saat dokter menanyakan sudah berapa lama suami aku itu ODHA. Rasanya aku nggak percaya. Aku tanya sekali lagi sama dokter itu, dokter yang khusus menangani penyakitnya.'' kenangku, mengingat awal mula prahara itu muncul.

__ADS_1


''Apa, Dok? Dia ODHA?!'' tanyaku dengan tubuh gemetar dan pikiran aku kacau banget.


''Lho, jadi ibu nggak tahu ya selama ini? Bapak nggak pernah cerita? Tentang riwayat penyakitnya?'' tanya dokter itu heran.


Sekali lagi, aku menangis sejadi-jadinya.


''Terbayang di otak aku, aku pasti tertular dia. Terus nasib anak aku Fira, gimana? Dia pasti mengidap penyakit itu. Pokoknya aku merasa saat itu dunia kiamat. Hidup aku hancur.''


''Dokter itu pun menyarankan agar aku dan Fira, melakukan serangkaian tes darah, untuk mengetahui apakah aku dan Fira, tertular penyakit Mas Arga atau nggak.''


Sambil terus bercerita di depan Bayu, aku benar-benar tak kuasa membendung air mataku yang terus mengalir membasahi pipi.


''Eh jangan nangis Wi. Aku jadi sedih banget ngeliat kamu kayak begini.'' ucap Bayu mencoba menenangkan aku.


''Maaf ya, Wi. Selama ini berprasangka yang bukan-bukan, soal kamu. Tapi, setelah aku tahu kenyataan yang sebenarnya. Aku benar-benar sedih banget.'' ungakp Bayu, terus terang.


''Terus hasil tesnya gimana, waktu itu?'' tanya Bayu penasaran.


''Hasilnya, aku dan Fira negatif.'' jawabku dengan sisa-sisa suaraku yang rasanya masih tercekat di tenggorokan aku.


''Bayu, aku cuma punya kamu yang aku percaya. Tolong jaga aib keluarga aku ya. Jangan ceritakan soal ini ke siapa pun,'' pesanku, memohon pada Bayu.


''Iya nggak mungkin, aku ceritakan kemana-mana.''


''Makasih ya Bayu.'' kataku.


''Kamu nggak jijij juga kan berteman sama aku.'' tanyaku menguji Bayu.


''Sama sekali nggak. Lagian juga aku nggak pernah sentuh kamu.'' kata Bayu serius.


''Iya....makasih ya....aku benar-benar cuma punya kamu, teman aku. Aku takut menceritakan ini ke orang lain selain kamu!''


Bayu terdiam. Dia memegang erat tanganku.


''Aku akan ada selalu untuk kamu.'' janjinya.


''Tapi, hati-hati ya, kalau janjian sama aku. Jangan sampai diikuti sama Bos Robert. Bisa mati aku kena bunuh dia, karena sudah diam-diam ngajak ketemuan sama perempuan impian dia!'' kata Bayu, mewanti-wanti aku.


''Yu, sekali lagi, aku mohon ya, simpan cerita sedihku ini rapat-rapat ya. Jangan ceritakan ke orang lain. Aku malu, Yu. Apalagi nanti kamu ceritain ke orang, kalau aku kesepian. Aku bakal malu banget, Yu!'' ulangku lagi, entah berapa kali aku memohon pada Bayu, agar merahasiakan semuanya.


''Percaya sama aku.'' jawabnya lagi, meyakinkan aku.


''Makasih ya.'' kataku lagi.


''Iya, mau berapa kali terimakasih?'' katanya mengejek aku.

__ADS_1


***


Keesokan harinya, aku mengajak Bayu ketemu lagi, di Kafe Oishi, kafe favorit yang suka aku datangi sama Bayu.


''Bayu, aku pindah ke kantor kamu saja ya. Aku akan segera menajukan pindah dinas.''


Bayu heran, dan menanyakan hubungan aku dengan Bos Robert.


''Kamu putus sama Bos Robert?'' tanyanya penuh selidik.


''Iya.'' jawabku singkat.


''Serius?'' tanya Bayu balik, seolah nggak percaya dengan rencana aku minta pindah ke kantor Bayu.


''Tapi, aku bukan kepala dinas yang bisa seenaknya menerima staf baru. Aku ini cuma pegawai rendahan. Nggak punya kekuasaan apa-apa!'' jelas Bayu.


''Tapi, jangan pindah ke Dinas aku. Nanti aku dibunuh sama Bos Robert kalau satu kantor sama kamu!''


''Ih apaan sih!'' celetukku, menepis anggapan Bayu.


''Jangan pokoknya. Jangan pindah ke dinas aku. Nanti bahaya. Nyawa aku terancam. Mana aku belum nikah. Aku baru aja pedekate sama cewek aku! Hahahaha!'' seloroh Bayu dan buat aku terkekeh.


''Tolongin kasih pandangan aku harus pindah ke dinas apa ya, biar bisa menghindari Bos Robert.''


Bayu diam.


''Kamu dulu, prosesnya lama nggak waktu pindah dinas?'' tanyaku ingin tahu.


''Kan aku dimutasi sama pacar kamu itu,'' sebutnya dan lagi-lagi aku lupa kalau dia dipindah ke dinas lain, semua karena kecemburuan Bos Robert sama Bayu.


Padahal, aku juga nggak ada apa-apa sama Bayu, selain teman curhat. Lagi pula, usia aku sama Bayu, juga jauh beda. Tapi, meski pun mau kepala empat, dia masih betah membujang. Entah cewek model apa yang dia cari, hingga betah menjomblo.


''Maaf ya Yu, aku sudah menyusahkan kamu. Padahal, kamu kan masih adik aku. Masih kecil.''


''Enak aja, masih kecil. Sebenarnya aku sudah bisa buat anak kecil,'' katanya, berbisik lirih ke telingaku.


''Iya....iya.....aku percaya.'' kataku.


Aku pun menanyakan hubungan dia dengan calon istrinya, kapan peresmian tanggalnya.


Kata Bayu, dia mau ngumpulin duit segunung, biar bisa beli cewek yang dia mau


''Semua cewek zaman now, matre. Kalau kita nggak punya apa-apa, pasti diremehkan, Wi.'' keluh Bayu.


''Hmmm. Aku sebenarnya mau protes. Harusnya kamu panggil aku Kak Winona. Kenapa wi.....wi....wi....!''

__ADS_1


Bukannya mengklarifikasi kesalahannya memanggil aku, malah dia memuji aku. Katanya aku awet muda.


''Jadi, ngapain panggil Kak. Kelihatan tua, nanti. Lebih baik aku panggil saja, Winona! Hahahahah!'' jelasnya terus terang.(bersambung)


__ADS_2