Maaf Suamimu Aku Pinjam

Maaf Suamimu Aku Pinjam
Bekas Lipstik di Baju


__ADS_3

Aku bingung, harus bilang apa, saat Bos Robert cerita kalau istrinya, sudah seminggu ini marah, nggak mau bertegur sapa dengannya. Katanya, semua gara-gara bekas lipstik yang pernah menempel di bajunya. Padahal, kejadiannya sudah sebulan yang lalu. Tapi, istri Bos Robert, masih terus membahasnya, selama belum mendapat jawaban yang memuaskan.


''Sekarang, mau kamu apa?!'' tantang Bos Robert, menceritakannya ke aku penuh antusias.


''Terus, istri aku bilang, kalau dia minta cerai saja. Katanya, dia nggak mau dipoligami,'' kata Bos Robert melanjutkan ceritanya.


''Jadi, aku bilang aja sama dia. Oke! Kapan mau kamu urus surat cerainya??'' kata Bos Robert lagi penuh antusias.


''Anehnya, dia nggak jawab. Terus nangis-nangis.''


''Padahal, kalau dia nggak nangis, aku mau cerita, kalau sebenarnya aku mau nikah lagi, sama cewek baru aku.'' selorohnya dengan santai.


Spontan aku langsung mencubit lengan tangannya, sampai memerah. Pasti, besoknya bakal biru. Karena memang cubitan aku nggak main-main sakitnya.


''Ouwwww sakit tahu!'' kata Bos Robert mengaduh kesakitan.


''Biar tahu rasa.'' kataku.


''Awas aja. Kalau sampai ngomomg macem-macem ke istrinya, aku santet nanti kamu ya, Bos Robert yang ganteng-ganteng tapi galak!'' ancamku dengan nada serius.


''Padahal, kamu senang kan, kalau aku pisah sama dia, dan kita bisa bersatu. Hayo ngaku. Jujur sama diri sendiri?'' ungkapnya blak-blakan.


''Ih. Jangan macem-macem. Jangan sampai kamu cerai sama istri kamu. Sebenarnya aku nggak senang. Nggak setuju kalau kamu cerai sama istri kamu.'' kataku, tapi saat mengatakan itu, rasanya hatiku perih. Karena berharap sesuatu yang bukan milik aku.


''Bener kan, kamu berharap kita bersatu?'' desaknya.


''Nggak!'' jawabku sewot.


''Sumpah. Berani nggak, kalau memang kamu nggak berharap kita bersatu!'' katanya mendesakku, aku disuruh bersumpah. Karena, dia ingin memastikan, benarkah aku nggak mengharapkan dia.


Aku terdiam. Menghela nafas panjang. Nggak berani merespon kalimatnya tadi.


''Hmm...kalau kamu berani bersunpah, pasti sumpah kamu itu sumpah palsu!'' katanya menudingku.


***


Masih segar dalam ingatan aku, waktu itu, ceritanya aku dan Bos Robert, bertengkar hebat. Aku dituduh ada main sama teman yang satu bidang, di kantor aku. Padahal, sama sekali aku nggak ada hubungan apa-apa, selain hanya hubungan teman sekantor. bahkan, aku sudah bersumpah demi Allah pun, Bos Robert masih nggak percaya.


Tak hanya itu, selama satu tehun belakangan ini, entah berapa kali, ponsel aku dibanting dia, hanya karena cemburu nggak jelas. Saat aku hendak beranjak pergi dari hadapan dia, karena emosi, dia malah menarik aku, dalam pelukannya. Ternyata, bekas lipstikku, ta sengaja menempel di bajunya. Mau dihapus, aku juga bingung gimana cara hapusnya. Akhirnya aku biarkan saja!


''Sudah seminggu lebih, istri aku masih nggak mau ngomong sama aku.'' cerita Bos Robert, sedih.

__ADS_1


''Sedih ya, kamu, kalau nggak disapa sama istri kamu?'' tanyaku padanya.


Bos Robert diam. Tapi, dia melanjutkan cerita berikutnya.


''Aku nggak tahu sudah berapa kali, aku jelaskan ke dia, ada teman aku, waktu reunian, dia sengaja nempel-nempel ke aku. Mereka ngerjain aku. Biar kamu marah.'' lanjut Bos Robert lagi.


''Tapi, mau seribu kali aku jelaskan, dia tetap saja nggak mau percaya!'' imbuh Bos Robert.


Untuk kesekian kalinya aku menghela nafas panjang. Nggak tahu harus ngomong apa lagi, soal masalah Bos Robert dengan istrinya itu.


''Tapi, terakhir kemarin aku peringatkan, sekali lagi bahas soal lipstik itu, pasti aku akan benar-benar mengurus perceraian, sesuai yang dia inginkan. Dia diam, nggak mau bicara, dan lagi-lagi dia menangis. Anehnya, setelah itu, dia nggak mau ngomong sama aku. Kalau ada perlu apa-apa, anak-anak yang disuruh ngomong ke aku. Aku jadi nggak peduli lagi sama dia, kalau sikapnya seperti itu.'' cerita Bos Robert masih panjang lebar.


''Wajar, dia itu cemburu. Kalau aku ada di posisi dia, pasti aku juga cemburu! Gimana kalau kamu baikin dia aja. Apa salahnya, kamu baikin dia. Dia itu, ibu dari anak-anak kamu. Dia yang mengurus anak-anak kamu. Kasian, kalau kamu nggak peduli lagi sama dia. Dia pasti sedih banget.'' kataku menasehatinya.


''Awas aja kalau kamu juga seperti dia. Aku peluk, nggak aku lepas-lepas. Biar kamu tahu rasa!'' ancamnya berseloroh lagi di depan aku.


''Dasar pria aneh!'' celetukku.


***


Keesokan harinya, Bos Robert cerita, kalau usahanya untuk bersikap baik pada istrinya, sia-sia saja. Istrinya masih acuh tak acuh.


''Mi....gimana kalau aku ngaku aja kali ya, mau nikah lagi. Karena, jujur saja, sudah setahun belakangan ini, hubungan aku sama dia, hambar.'' akunya.


Karena nggak aku respon, Bos Robert marah. Dia menuduh aku, kalau aku nggak serius sama dia.


''Nggak serius gimana. Berapa kali kita tidur bareng? Nggak serius itu namanya? Teerus, apa namanya itu? Kamu tahu luar dalamnya aku. Apa coba! Hubungan seperti apa kita ini!'' kataku mulai emosi.


''Sudahlah sayang. Sekarang kita pelukan aja yuk,'' katanya meredakan emosiku.


''Jangan marah-marah sama aku, sayang. Nanti aku pusing. Nggak bisa berselancar di tubuhmu.'' katanya mulai menggodaku dan aku pun berusaha diam, nggak mau membahas lebih lanjut soal itu.


Tiba-tiba, dia menarik tanganku, menuntun langkahku ke atas ranjang. Lagi-lagi aku nggak bisa menolak.


''Sayang, aku lebih bergairah, setelah melihatmu marah-marah.'' katanya sembari merebahkan aku di atas ranjang villa milik pribadinya itu.


Aku masih diam, tak bisa berkata-kata. Tapi, debaran jantungku tak karuan, setelah dia berusaha menerobos titik-titik daerah terlarangku.


''Kamu selalu hebat, di mataku. Semua milik kamu indah, sayang.'' katanya memujiku.


''Nggak ada yang boleh menyentuhnya selain aku,'' desahnya lirih.

__ADS_1


''Sayang....kamu nakal banget hari ini. Udah bikin aku emosi, sekarang kamu nyelonong aja masuk ke tempat-tempat terlarang milik aku!'' kataku lirih.


Kurasakan ada benda hangat, memasuki daerah terlarangku dan aku terdiam, terus menikmatinya.


''Dia memang selalu membuat aku bahagia,'' gumamku membatin. Dan....seketika, aku dan dia, sama-sama meraih puncak kenikmatan.


Dia memelukku erat, seakan tak mau melepasnya. Begitu juga aku membalas pelukannya dengan mesra.


''Sayang, sampai kapan kita seperti ini. Aku ingin memilikimu, seutuhnya.'' kata Bos Robert pelan.


Aku diam. Karena aku juga bingung mau jawab apa, soal itu.


''Kamu nggak mau ya sama aku?!'' tanyanya lagi.


''Ngantuk ini aku, tidur sebentar boleh nggak. Kita pulang agak jam enam ya,'' pintaku.


''Jawab dulu pertanyaan aku tadi. Dua pertanyaan tadi nggak kamu jawab-jawab!'' desaknya.


''Pertanyaan yang mana, sayang. Pertanyaan kamu banyak banget. Bingung aku mau jawab apa. Kalau tanya, satu-satu. Biar aku jawab dengan benar dan baik.'' jelasku dan aku berusaha beranjak dari tempat tidur, menuju ke kamar mandi.


''Mau kemana sih, orang masih kangen pengen peluk lama-lama. Ini mau pergi aja,'' protesnya.


''Mau mandi. Tadi Fira chat aku. Katanya dia sudah menungguku di rumah. Aku lupa, karena sudah ada janji sama dia, kalau mau ngajak jalan ke mall.'' kataku beralasan.


''Katanya mau balik jam enam!?'' sebut Bos Robert, sedikit kecewa.


''Nggak jadi. Kasihan Fira. Aku juga lupa, karena janjiku sudah seminggu yang lalu. Belum aku tepati. Soalnya aku juga dikasih tugas terus sama bos di kantor. Bos aku itu galak. Kalau tugas aku nggak siap, pasti dia ngomel-ngomel ke aku!'' jelasku panjang lebar.


''His....apaan sih. Sini, aku peluk lagi. Karena aku masih kangen.'' katanya mengikuti aku sampai ke kamar mandi.


Aku tetap saja mau mandi. Tapi, dia malah ikut masuk.


Hingga akhirnya, ada game kedua, di kamar mandi. Aku berdua sama dia, mandi di bath tub.


''Udah yuk,'' kataku ingin mengakhiri game kedua di bath tub itu.


Tapi, lagi-lagi dia menolak. Katanya, dia ingin kembali menelusuri tempat tersembunyiku. Saat dia berhasil menemukannya, dia menerobos dengan seenaknya sendiri.


''Ah....sayang. Kamu memang hebat. Rasanya, aku nggak bisa hidup tanpa kamu. Karena kamu adalah gairah hidup aku, selamanya. Aku ingin menua bersamamu.'' ucapnya lirih.


''Gombal!'' bisikku di telinganya.(bersambung)

__ADS_1


__ADS_2