Maaf Suamimu Aku Pinjam

Maaf Suamimu Aku Pinjam
Izin Me Time


__ADS_3

Sepulang dinas keluar kota, aku merasakan tubuhku penat. Ingin ke SPA barang sebentar saja. Ingin pijet sekalian luluran.


Aku pun memberanikan diri untuk minta izin ke pimpinan.


"Pak. Saya izin ya. Rehat sehari saja." kataku pada pimpinan. Siapa lagi, kalau bukan izin ke bos Robert.


Bukannya dibalas. Malah cuma dibaca saja chat aku.


Tapi, bagi aku, dibalas atau nggak dibalas, aku tetap libur. Minta izin sehari.


*Cuma dibaca. Udah kayak baca koran aja!*


Aku sengaja menuliskan status itu di WhatsApp ponselku.


Ponsel aku bergetar.


"Siapa lagi sih ini. Mau istirahat nggak bisa!" gerutu aku kesal.


Sebenarnya, aku ragu menerima panggilan masuk dari ponselku itu. Takutnya si bos galak itu. Tapi, nggak apa. Sudah resiko. Kalau mau kena marah-marah.


"Ya, hallo." kataku menyapa si penelepon duluan.


"Winona, Bapak mau ngomong. Penting!" kata Kak Mona.


*Deg.


Jantungku berdebar tak karuan. Sudah aku duga. Pasti si bos galak itu yang telepon.


"Posisi kamu dimana?" tanya si Bos itu.


"Saya kan sudah minta izin sama Bapak. Hari ini, saya libur Pak. Rasanya, badan letih banget." jelasku.


"Aku nggak ada terima laporan kalau kamu izin," kata Bos Itu.


"Saya sudah izin Pak. Ponsel Bapak aja yang nggak aktif," jelasku lagi, sedikit agak emosi rasanya kalau ngomong sama dia.


"Aku nggak mau tahu apapun alasannya. Karena, ada banyak PR di kantor yang harus kamu kerjakan dalam dua hari ini. Aku tunggu laporannya. Tugas itu, harus beres dalam dua hari. Ingat! Ini akhir tahun." katanya seraya mengakhiri percakapannya.


"Sial!" pekikku memaki diri sendiri. "Kenapa sih dapat Bos segalak macan," keluhku masih kesal.


Tak lama, Bos galak itu telepon ke aku, dengan ponselnya sendiri.

__ADS_1


Pertama, dia telepon pakai panggilan whatsappnya. Tapi, setelah beberapa detik, dia minta pengalihan panggilan pakai video call.


"Duh gimana ini, aku lagi SPA luluran. Nggak mungkin banget aku harus terima video call." gerutuku.


Parahnya, selama nggak aku terima panggilan video callnya, dia terus video call.


Jadi, bagusnya aku matikan saja. Biar aman. Perkara besok di kantor dia marah atau nggak, itu urusan besok.


Sekarang, yang penting fokus sama me time. Lagian, kalau nggak capek banget, aku juga nggak bakalan minta izin libur.


''Kan cuma sehari doang. Besok aku janji mau full time di kantor sampai tugas-tugasku, kelar,'' janjiku dalam hati.


Satu jam, aku berada di tempat SPA. Sekarang, badan aku ngerasa udah fresh, setelah rilex, luluran. Setelah me time aku berakhir, kunyalakan ponselku. Busyet! Serangan chat dari bos galak itu, masuk bertubi-tubi. Hahahahahahaha. Baru juga satu jam ponselku aku matiin. Gimana kalau sampai seharian. Bisa heng kali ya memori HP aku. Hahahahahahaha!


Satu persatu aku cerna chat-chat yang masuk ke nomor whatsapp.


''Kenapa kamu pakai acara matikan ponsel?''


''Kamu niat kerja nggak?''


''Kalau masih kerja, baik-baik sama saya. Saya bisa mutasikan kamu kapan saya mau!''


''Tahu nggak kamu. Libur tanpa izin, artinya kamu melawan atasan!''


''Hahahahahahahahahah. Duh gusti! Mimpi apa aku tadi malam. Hari ini dilabrak sama bos, lewat whatsapp. Padahal, aku kan sudah izin. Chat aku aja cuma dibaca doang sama dia. Kayak baca koran. Eh.....alih-alih sekarang aku jadi bahan amukan dia. Oalah.....sabar ya Winona. Itu sudah jadi takdir kamu. Jalani dengan tabah ya, Winona!'' gerutuku lagi, masih kesal. Nggak habis pikir, kok ada ya pimpinan gila kayak dia!


***


''Chongki! Pagi!'' sapaku lewat chat. Aku ingin mencari tahu, apa respon bos galak itu, saat aku nggak di kantor.


''Yup, Kak. Apa?'' balas Chongki, teman satu bidang.


''Bos galak itu, kemarin marah-marah ya waktu aku nggak masuk?'' tanyaku penasaran.


''Hmmmmm....jangan tanya lagi, Kak!'' jelas Chongki.


''Aku jadi sasaran amukannya. Semua salah pokoknya. Nggak ada yang benar di mata dia, kemarin!'' jelas Chongki lagi, panjang lebar.


''Ya Allah, Chongki. Maaf ya. Ini gara-gara aku. Maaf ya, kamu jadi kena imbasnya. Kakak benar-benar capek, habis dinas luar kota,'' jelasku pada Chongki dan aku merasa nggak enak hati, sudah menyusahkan Chongki.


''Hahahahaahah. Nggak apa, Kak. Kakak nggak salah. Dasar si bos aja, emang suka emosian,'' celetuk Chongki.

__ADS_1


''Ups. Beneran emang dia suka emosian?'' tanyaku penuh selidik.


''Kakak kan baru beberapa bulan tugas. Aku yang sudah setahun ditempatkan di kantor ini, udah nggak heran lagi, Kak. Kalau bapak suka marah-marah. Jadi, Kakak tenang aja. Nggak usah merasa bersalah. Intinya, kita tetap berikan yang terbaik aja, kalau aku. Biar dia nggak marah-marah. Kalau hasil kerjaan beres, pasti dia nggak marah-marah. Eh....eh...maaf. Aku jadi ceramah pulak, Kak. Udah ah. Kakak tenang aja,'' tegas Chongki.


''Iya, Chongki. Makasih ya....kamu baik banget sama aku. Aku juga mau usaha jadi baik di mata dia. Hehehehee. Emang sudah seharusnya kan....pegawai itu harus baik dan melaksanakan tugas-tugasnya dengan amanah.'' jelasku lagi, ke Chongki.


''Iya, Kakakku.'' sahutnya.


''Eh iya. Hari ini Kakak udah masuk apa masih holiday?'' tanya Chongki lagi.


''Insya Allah masuk kok Chongki, hari ini. Nanti kalau nambah libur sehari, bisa-bisa aku dipecat. Terus anak aku beli susu pakai uang apa, coba?'' selorohku.


''Hahahaha. Kakak ini bisa aja lho.'' canda Chongki.


''Ya udah. Ini udah jam 07.00 wib. Aku siap-siap ya. Sebentar lagi aku on the way ke kantor.'' jelasku mengakhiri percakapan.


''Sippppp. Kakakku yang tercantik!'' puji Chongki di akhir chatnya sama aku.


''Wkwkwkwkwkwkwkw. Bisa aja lho dia ini,'' kataku, dan langsung offline.


***


Sumpah! Deg-degan! Rasanya tak karuan, perasaan aku, saat kulangkahkan kakiku menuju ruangan kerja. Takut kalau dimarahi sama bos itu. Terus tiba-tiba aku dimutasi, entah di kantor mana. Hahahahaha. Pikiran aku lagi negatif. Nggak kebayang kalau aku dimutasi. Terus beradaptasi lagi sama orang-orang baru di sana.


*Dag dug dug.....


''Dia datang. Lindungi aku ya Allah dari amukan dia yang tak bertepi. Luluhkan hatinya untukku ya Allah. Jangan sampai dia ngamuk pagi-pagi!'' gumamku dalam hati.


Kulihat, dia nggak melihat ke arah ruangan kerja aku. Alhamdulillah ya Allah. Semoga, setelah ini dia nggak panggil aku ke ruangan dia. Sederet doa kupanjatkan untuk menghilangkan rasa takutku.


*Bel ruangan dia berbunyi.....


*Ting....tong...


*Ting....tong...


Aku dan Chongki saling berpandangan.


''Chong. Gimana ini. Pasti aku kena panggil,'' kataku lirih.


''Stttt. Tenang, Kak. Mudahan Kakak aman,'' kata Chongki menenangkan aku, dan dia pun melangkah ke ruangan bos aneh itu. Eh bukan bos aneh. Tapi, bos galak!(***)

__ADS_1


__ADS_2