
Waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 wib. Karena kelelahan bermain. Akhirnya Fira tertidur di depan tv. Bersamaan dengan itu, ibu mulai mengintrogasi aku.
''Winona. Jawab dengan jujur. Siapa ayah baik yang dimaksud Fira tadi. Ibu dengar, Fira asik menyebut nama ayah baik terus, dari tadi. Siapa dia sebenarnya?'' tanya ibu.
Saat ibu menanyakan itu, jujur aku gugup mau menjelaskannya. Bahkan, aku tak berani memandang tatapan mata ibu, yang menaruh seribu tanda tanya soal ayah baik yang sering disebut-sebut Fira itu.
''Bu, boleh nggak Winona makan dulu, lapar. Mau buat indomie dulu.'' kataku mencoba mengalihkan pembahasan.
''Sejak kapan kamu malam-malam suka makan indomie. Bukannya kamu juga nggak biasa makan malam?'' kilah ibu memprotesku.
''Beneran ini, ibu, Winona lapar banget. Nanti ya ceritanya.'' sergahku.
Ibu akhirnya menyerah dan memberiku waktu, untuk masak indomie.
''Ibu mau sekalian nggak, biar Winona buatin. Ini sayur sawinya banyak. Biasa ibu kan suka kalau buat indomie, banyak sayurnya.'' kataku mencoba menawari ibu.
Karena tergoda dengan rayuanku, akhirnya ibu mau juga aku buatin indomie. Tak pakai lama, indomienya sudah jadi, dalam hitungan 10 menitan.
Kami pun makan berdua, menikmati indomie buatan aku.
''Ih ini kenapa asin indominya.'' protes ibu.
Aku cekikikan.
''Masa iya sih Bu. Perasaan aku, enak lho.''
Aku terus mengulang-ulang menyeduh kuahnya. Tapi, memang benar sedikit asin.
Kata ibu, jangan masak terlalu asin, nggak bagus buat kesehatan. Nanti bisa darah tinggi. Bawaannya pengen marah terus.
Ibu benar. Tapi, namanya juga terlanjur kebanyakan garam, mau bagaimana lagi.
Setelah selesai, ibu kembali menanyakan soal siapa sosok ayah baik yang dimaksud Fira.
''Jawab, sekarang pertanyaan ibu. Siapa ayah baik itu. Jangan aneh-aneh kamu ini. Sudah punya suami yang baik. Apa lagi yang mau kamu cari? Kemewahan? Kamu pikir kemewahan bisa memberikan kebahagiaan? Jangan pernah dibutakan dengan kemewahan.'' sebut ibu panjang lebar, tapi dengan suara yang lirih.
Aku masih diam, belum berani menjawab pertanyaan ibu. Soalnya, aku masih bingung, mau mulai dari mana, untuk menjelaskannya ke ibu. Belum aku jawab pertanyaan kedua. Ibu malah melontarkan pertanyaan kedua.
''Terus, maksud kamu kemarin bilang mau cerai, apa karena gara-gara ada orang lain yang namanya ayah baik itu ya? Pantes Fira kelihatannya akrab banget sama dia.'' celetuk ibu yang to the point itu. Aku sama sekali tak menyangka, kenapa analisis ibu nyaris mendekati kebenaran.
''Jawab jujur, Winona. Kalau nggak, aku laporkan sama bapak kamu, ya!'' ancam ibu padaku.
''Ya Allah, bingung aku.'' kataku masih bicara sendiri dalam hati.
''Kamu sudah dewasa. Sudah punya anak satu. Harusnya kamu bisa membedakan mana yang baik, dan mana yang salah.'' sebut ibu. Aku semakin takut untuk menceritakannya ke ibu.
''Ibu ingin, kamu dan Arga, rumah tangganya langgeng sampai ke anak cucu. Jangan sampai pisah, kecuali dipisahkan dengan maut.'' imbuh ibu lagi.
''Kalau kamu tak mau cerita, ya sudah. Ibu tunggu waktu yang tepat, untuk mendengarkan cerita kamu.''
Mendengar itu aku sedikit lega. Tapi, aku galau. Sebenarnya tujuan aku kemari memang mau cerita sama ibu, kalau aku berniat mau bercerai dengan Mas Arga.
''Jadi, kapan Winona kamu cerita?!'' kata batinku, masih gamang.
Kata ibu, jangan pernah berpikiran untuk cerai, meskipun masalah rumah tangga kita itu, rumit. Katanya lagi, pikirkan, bagaimana caranya bertahan di tengah badai masalah itu.
***
__ADS_1
Sudah tiga hari lebih aku berada di rumah ibu. Untung aku izin cutiku selama sepekan disetujui Kabag Tata Usaha kantorku.
Ibu, masih penasaran dan ingin tahu, siapa laki-laki yang sering disebut-sebut Fira sebagai ayah baik itu. Kecurigaan ibu semakin bertambah, karena nyaris saban hari, Fira minta disambungkan ke sambungan video call ayah baik. Tapi, aku selalu mengelaknya, dan aku katakan pada Fira, kalau ayah baik sedang sibuk mengerjakan tugas kantor.
Lagi-lagi ibu menarik tanganku, dan mengajak aku, masuk ke dalam kamarnya, lalu mengunci pintunya dari dalam. Hal ini, untuk menghindari agar Fira tak mendengar pembicaraan kami berdua.
''Coba katakan dengan jujur, siapa laki-laki yang sering disebut-sebut Fira itu. Kamu jangan aneh-aneh Fira. Arga itu baik. Tanggungjawab sama anak istri. Dia juga nggak pernah aneh-aneh. Kurang apa lagi, coba laki-laki seperti itu.'' celetuk ibu masih panjang lebar.
''Dia itu nggak pernah memberiku nafkah batin, selama belasan tahun ini, Bu.'' (andai aku berani mengatakan itu).
''Asal ibu tahu. Dia itu ODHA (Orang Dengan HIV/ Aids.'' (kalau aku benar-benar berani mengatakan itu, secara blak-blakan, akan aku ceritakan semua deritaku selama ini) Tapi, jujur, aku belum berani dan belum sanggup melihat kesedihan di wajah ibuku, andai aku ceritakan hal itu.
''Kalau sampai kamu macem-macem, jangan pernah kamu pulang ke rumah, dan anggap saja ibumu ini sudah mati.'' bentak ibu, tapi dengan nada pelan.
''Ibu, beri aku waktu, untuk mengumpulkan keberanianku, agar aku bisa menceritakan semuanya kepada ibu.'' kataku, minta waktu dan kerelaan ibu, agar mengerti dan memahami aku.
''Kenapa, dengan Arga? Dia selingkuh, di belakang kamu?'' tanya ibu masih penasaran, karena aku belum menceritakan yang sebenarnya.
''Ibu, boleh ya, aku ceritakan besok, sebelum aku balik ke Tanjungbalai. Winona janji, akan cerita besok.'' kataku berjanji pada ibu. Tanpa kata, akhirnya ibu beranjak pergi meninggalkan aku sendiri di kamarnya.
''Ya Allah, beri aku keberanian untuk menceritakan semuanya. Tapi, apakah ini memang jalanku, harus mengambil keputusan untuk bercerai? Ya Allah, beri aku kekuatan untuk menghadapinya.''
''Mami, ayah baik, video call, nih!'' kata Fira yang tiba-tba nyelonong masuk kamar ibu.
Buru-buru kuhapus air mataku yang sempat meleleh membasahi pipi.
''Iya, Nak. Angkat saja kalau Fira mau ngomong sama ayah baik.'' sebutku, dan Fira mulai asik mengobrol lewat video call, dengan Bos Robert. Fira duduk di sampingku. Tapi, aku sengaja nggak mau ngomong sama Bos Robert.
''Fira, Mami mana?'' tanya Bos Robert.
''Ayah baik mau ngomong sama Mami, dong, sebentar saja.'' katanya pada Fira.
Meski sudah berhadap-hadapan lewat video call, aku masih tak ingin bicara. Perang dinginku, masih berlangsung.
''Fira, bisa keluar sebentar nggak. Mami mau bicara soal kerjaan, sama ayah baik. Anak kecil nggak boleh nimbrung ya sayang.'' pintaku dan Fira langsung keluar dari kamar, menuruti perintahku.
''Mi....maafin aku. Sedih aku, kamu tinggal cuti sampai seminggu. Tega kamu ya Mi,'' ungkap Bos Robert.
''Cari aja Hana.'' kataku sewot.
''Jangan sebut-sebut dia, Mi. Sumpah demi Allah, aku nggak ada hubungan apa-apa sama dia. Dia itu cuma mantan staf aku dulu. Kalau memang ada hubungan sama aku, bunuh saja aku.'' kilahnya mencoba bernegosiasi denganku.
''Nggak lucu, jawabannya!'' selorohku.
''Beneran Mi,'' ulangnya, berusaha meyakinkan aku.
''Mau berapa kali sih Mi, aku jelaskan itu ke kamu. Kamu itu perempuan satu-satunya di hati aku.''
''Nomornya juga sudah aku buang, aku blokir. Terus aku harus bagaimana coba?'' katanya memelas padaku.
Di video call, aku lebih banyak diam dan merespon seperlunya pembicaraan dia.
''Ayah ke Tanjungpinang ya, nanti jemput di pelabuhan.''
''Nggak perlu.'' jawabku ketus.
''Ayah pengen silaturrahim sama ibu kamu di sana.'' pintanya memohon padaku.
__ADS_1
''Ya Allah, kalau dia alasan silaturrahim, masa iya harus aku tolak?'' gumamku.
''Ya Mi.....jemput ayah ya di pelabuhan Sri Bintan Pura.'' katanya lagi.
''Emang kamu siapa, dijemput-jemput segala.'' kataku masih sewot.
Dengan santai dia menyebutkan bahwa dia adalah bos aku.
Hampir saja aku mau tertawa karena dia mencoba melucu di depan aku. Kata dia memang benar. Ya....dia bos aku, dan aku anak buahnya. Sudah semestinya, seorang anak buah, harus patuh dan tunduk pada perintah atasan. Kalau nggak mau melaksanakan perintahnya, berarti, aku melawan perintah atasan.
''Ya sayang....jemput aku....ya. Kangen.....aku kangen banget, sudah beberapa hari ini belum peluk kamu.'' katanya menggombal.
''Kamu pasti juga kangen kan, sama aku. Aku yakin itu. Kalau bohong, nanti nggak cantik lagi. Bisa-bisa cepet jadi nenek-nenek!'' celetuknya, melucu lagi.
Jujur, dia memang paling pandai mengambil hati aku. Kalau aku marah, dia selalu berusaha merayuku, agar aku memaafkannya. Dia nggak bisa kalau didiamin sampai berhari-hari.
''Sayang, jangan pernah pergi dari hidup aku ya. Aku sudah bilang, hidupku hambar, tanpa kamu.'' katanya menggombal lagi, untuk yang kesekian kalinya.
''Kan ada Hana.''
''Mi....tolong jangan bahas itu lagi ya. Kumohon.'' pintanya serius.
***
Keesokan harinya, Bos Robert benar-benar menepati janjinya.
Pagi-pagi selepas sholat subuh, dia chat ke aku. Katanya mau siap-siap on the way ke pelabuhan. Dia bilang, aku disuruh dandan yang cantik, untuk menyambut kedatangannya.
''Nggak, aku mau pakai daster bolong-bolong aja.'' kataku.
''Hahahaha. Boleh boleh....aku semakin suka dong liatnya.'' jawabnya santai sambil melepas tawa.
''Eh iya....Fira mana Mi.'' tanyanya.
Aku langsung meneriaki Fira.
''Fira...sini, Nak.'' panggilku.
Fira langsung masuk ruangan dan aku serahkan ponselnya ke dia.
''Ini, ayah baik mau ngomong sama Fira.'' kataku.
''Fira.....besok jemput ayah baik di pelabuhan ya.'' katanya memberitahu ke Fira.
Kulihat, Fira menganggukkan kepalanya. Tapi, di sisi lain dia begitu senang mendengarnya.
''Besok, kalau sudah di Tanjungpinang, kita jalan-jalan ya.....sama Mami.''
Lagi-lagi, Fira kembali menganggukkan kepalanya.
Tak ketinggalan, dia selalu request minta dibelikan es krim, ke Bos Robert. Parahnya, Bos Robert selalu mememuhi janjinya untuk membelikan es krim permintaan Fira. Aku sering marah, kalau Bos Robert suka kelewatan memanjakan Fira. Sudah berapa kali, aku selalu cerewet kalau Bos Robert selalu menuruti apa yang diinginkan Fira.
Sebelum mereka mengakhiri percakapan, aku meminta lagi ponsel Fira, karena ada yang ingin aku sampaikan ke Bos Robert.
''Besok, bawain oleh-oleh buat ibu aku ya....kue apa aja yang penting halal dan enak. Terlebih lagi, murah, meriah.'' pesanku padanya.
''Oke, tuan putri. Perintahnya akan hamba laksanakan dengan baik.'' katanya.
__ADS_1
''Oke deh......sampai ketemu besok ya.'' pungkasnya. (bersambung)