
Kucoba dekati Mas Arga karena baru hari ini kulihat dia, seharian di rumah. Padahal kalau wekend begini, dia selalu di luar rumah. Seharian nongkrong di kedai kopi sama genk-genknya.
"Mas aku mau bicara," kataku sambil menggoyangkan ujung kakinya, sekali.
"Hmm....," sahutnya, masih dengan posisi rebahan di sofa ruang tamu.
"Mas serius ini aku mau ngomong. Perhatikan aku sebentar saja," desakku lagi sambil menggoyangkan ujung kakinya untuk yang kedua kalinya.
"Apa sih. Ngantuk nih!" tolaknya.
"Mas sebentar saja aku mau ngomong penting soal masa depan kita," tegasku.
"Ngomong aja aku dengerin," katanya masih tak mau bangkit dari rebahannya itu.
"Tolong dengarkan aku sebentar saja. Bangunlah!" desakku.
"Apa. Ngomong aja," kali ini dia membuka matanya tapi tetap rebahan.
"Kamu ini, sekali aja menghargai aku mau ngomong, bangunlah." ulangku untuk kesekian kalinya.
Akhirnya dia duduk dan sekarang malah sambil otak-atik ponselnya. Sedih banget rasanya aku nggak dihargai sama sekali, mau menyampaikan sesuatu.
"Apa....kamu mau bahas perceraian kita?" katanya langsung to the point ke aku.
Syukur, dalam hati. Ternyata dia paham apa yang akan aku bahas bersamanya.
"Sekarang apa mau kamu?" tanyanya.
"Aku mau pisah sama kamu." kataku.
"Oke," katanya dan tak lama dia rebahan lagi di kursinya itu.
"Mas aku belum selesai bicara." kataku seperti mengemis perhatian padanya.
"Iya apa lagi. Kan aku sudah bilang oke. Apa lagi masalahnya?" tanya dia acuh tak acuh.
"Aku mau kamu tetap menafkahi anak-anak meski bercerai." pintaku.
"Oke," jawabnya singkat.
"Nanti biar aku yang pergi dari rumah ini," kataku dengan mantap.
"Oke," jawabnya singkat lagi.
Ya Allah rasanya aku mau lempar dia dengan asbak rokok, karena apa yang aku bicarakan sepertinya hanya sebagai candaan bagi dia. Dia nggak serius menanggapinya.
"Nanti Fira sama aku. Gio sama kamu," sebutku.
"Atur aja," sahutnya.
Keesokan harinya, di kantor aku ceritakan masalah ini ke Bos Robert dan dia langsung meresponnya dengan bahagia.
__ADS_1
"Yes.....berarti aku semakin dekat dengan misi aku untuk segera menikahi kamu," katanya.
"Jadi kapan cerainya?" tanya Bos Robert penuh semangat.
"Entah. Kapan aku belum tahu. Tapi yang pasti aku sudah bahas soal itu sama Mas Arga, tadi malam." jelasku.
"Yah...........," sahutnya dengan nada kecewa.
"Sabar.....," kataku.
"Oh ya apa aku bantuin ngomong juga, biar bisa cepat prosesnya." tantangnya.
"Bantu ngomong? Jangan gila ya," sergahku.
"Ya aku kasian aja sama kamu. Nanti semakin lama, semakin lama dong aku melamar kamu," selorohnya.
"Apaan sih,"
"Iya kan bener kan....sayang." katanya lagi.
"Sayang....Minggu ini aku main ke rumah kamu ya, pas ada Arga. Kan dia teman sekolah waktu SMA. Jadi ada alasan aku mengunjungi dia." kata Bos Robert tiba-tiba.
"Nggak boleh. Nanti kamu ngomong aneh-aneh sama suami aku," kataku mencegah rencananya itu.
"Nggak. Janji. Aku nggak akan ngomong aneh-aneh. Percaya," ucapnya meyakinkan aku.
Malamnya, aku nggak bisa tidur. Memikirkan bagaimana nasib aku andai nanti aku benar-benar bercerai. Apakah Bos Robert akan menepati janjinya untuk menikahi aku?
"Ah sudahlah......yang pasti aku mantap bercerai dari dia. Tiga belas tahun, bukan waktu yang sedikit. Waktuku terbuang sia-sia sama dia. Aku nggak diperlukan sebagaimana mestinya seorang istri. Hingga akhirnya sekarang aku mencari kehangatan dari pria lain. Aku ini perempuan normal ......ya Allah....masih butuh belaian dan kasih sayang dari seorang pria. Apakah memang Robert Airlangga itu dikirimkan untuk aku ya.....?"
Kalau ada masalah apapun, dia selalu ada untuk aku. Begitu juga saat aku membutuhkan dekapan kasih sayangnya, dia juga hadir memenuhinya.
Ya Allah sebenarnya aku nggak mau terus-terusan begini. Akrab dengan pria lain yang masih belum halal buat aku. Tapi, gimana. Aku juga nggak bisa melawan takdir. Mungkin pertemuanku dengan dia, adalah takdir terindahku, saat aku terpuruk.
"Mi....kangen," tiba-tiba Bos Robert chat aku malam-malam begini.
Baru saja aku memikirkan tentang dia. Tak lama dia muncul di chat aku. Hahahaha.
"Nyambung banget," kataku, membatin.
"Kangen ya di dalam hati aja kalau malam ini," kataku. Padahal aku juga kangen sama dia.
"Mi.....Sabtu depan kita jalan yuk Mi. Ke Tanjungpinang." ajaknya.
"Ih ngapain nih ngajak ke Tanjungpinang terus," kataku keheranan.
"Kan ke rumah calon mertua, apa salahnya," sebut dia dengan pedenya.
"Hmmmm iya ya ke rumah calon mertua." ungkapku.
"Beneran ini Mi. Ke Tanjungpinang yuk," ajaknya.
__ADS_1
"Mi....aku mau tanya. Nggak bosen ya kita jalani kayak begini sudah tiga tahun. Coba kalau sudah jadi suami istri, kalau kangen, bisa pelukan sewaktu-waktu," katanya jujur.
"Ih apaan sih," sahutku.
"Hayo.....Mami jangan bohong. Mami apa nggak kangen sama aku?" tanyanya menggodaku.
"Nggak!"
"Bohong pasti!" protesnya.
"Ngapain kangen sama suami orang! Ups!" selorohku.
Sampai waktu menunjukkan pukul 03.00 wib dini hari aku masih saja chat ria sama dia. Dia memang selalu ada untuk aku.
"Ya sudah yuk tidur sayang," kataku.
"Ngantuk nih,"
"Oke.....selamat mimpi indah ya. Miss you. Winona," ucapnya.
Paginya, di kantor kami sambung lagi. Sepertinya pembahasan soal rindu ini nggak ada habisnya.
Dia memintaku ke ruangannya. Masih pagi banget belum ada staf yang datang. Aku staf pertama yang suka datang ke kantor pagi-pagi.
"Sayang..aku kangen berat sama kamu tadi malam," katanya sembari memeluk aku erat banget.
"Kita nikah aja yuk, sayang. Biar aku nggak tersiksa menahan rindu, saban hari," katanya berbisik di telingaku.
Saat aku berusaha melepaskan diri dari pelukannya dia semakin erat memelukku.
"Udah ah nanti ada staf lihat kita begini, bisa jadi scandal berita dan kita viral!"
"Ya sudah, kita siap-siap untuk rapat ya hari ini, pemaparan di depan gubernur soal kunjungan wisman ke lokasi pariwisata kita," katanya dan bersamaan dengan itu, aku meninggalkan ruangan dia, untuk mempersiapkan materi pemaparan.
"Ok satu jam lagi kita on the way ke kantor gubernur. Kamu ikut ya Winona. Ajak Fitri juga boleh," katanya sebelum aku beranjak pergi dari hadapannya.
"Oke siap. Tuan Robert," sahutku.
Jam 08.00 wib sejumlah staf dan pegawai lainnya berdatangan. Fitri langsung aku beritahu kalau dia diminta bos untuk mendampingi rapat di kantor gubernur.
"Oke kak....enak dinas di luar," ucap Fitri kegirangan.
"Iya ya Fit. Maunya tiap hari ada rapat di luar kantor. Biar bisa sekalian cuci mata. Lihat pegawai cowok di kantor gubernur, ganteng-ganteng ya Fit." celotehku.
Fitri pun terkekeh.
"Awas. Nanti ada yang ngamuk, kalau kakak lirik-lirik cowok di kantor gubernur. Nanti, ujung-ujungnya kami-kami ini jadi sasaran kemarahan bos!" seloroh Fitri mengingatkan aku.
"Hehehehe. Nggak Fit. Canda aja buat ilangin stress. Boleh kan.....ya siapa tahu kamu dapat cowok provinsi yang ada di kantor gubernur," kataku berdiplomasi di depan Fitri.
"Aminnn," sahut Fitri.(bersambung)
__ADS_1