
Kulihat, ibu aku sedang asik membaca buku. Kudekati ibu, dan aku duduk disampingnya, sambil memijat pundaknya.
''Wuih...enak ini, dipijat sama anak gadis ibu. Eh bukan gadis lagi. Ups...!'' katanya mengajakku bergurau.
''Meski sudah nggak gadis lagi, aku tetap anak gadis ibu. Titik,'' kataku minta pengakuan dari ibu.
''Ibu....Winona mau cerita ya....ibu janji jangan marah sama Winona.'' kataku masih terus memijat kedua pundaknya.
''Cerita apa, ibu dengerin. Tapi, sambil pijat pundak ibu ya.'' pinta ibu.
''Siap....ibu negara.'' kataku mencoba memujinya.
''Ibu....janji ya....jangan marah.....,'' kataku masih ragu untuk bercerita.
''Iya....kan sudah dibilang ibu nggak marah.'' kata ibu meyakinkan aku.
''Ibu....Winona mau cerai sama Arga.'' kataku, dan spontan ibu membalikkan badan. Maka sektika pijatan aku terhenti karena ibu terkejut mendengar ceritaku.
''Ada apa....bukankah selama ini kamu baik-baik saja sama Arga. Jangan bercanda dengan ibu ya!'' katanya tak percaya dengan cerita aku.
''Kalau ada masalah rumah tangga, bicarakan baik-baik. Bukan ada masalah langsung mau cerai, keputusannya. Cerai memang nggak dilarang sama Allah. Tapi, itu dibenci sama Allah. Jadi, jangan lakukan itu,'' kata ibuku mewanti-wanti.
''Apa sebenarnya masalah kalian, sampai fatal banget, harus memilih bercerai?'' tanya ibu penasaran.
''Kami sudah nggak cocok lagi, Ibu.'' kataku.
''Kamu betul sedikit alasannya. Alasannya klasik banget.'' sebut ibu.
''Iya, ibu. Dia aja bilang begitu, sudah nggak cocok lagi sama aku,'' ungkapku lagi.
''Jangan macem-macem. Bicarakan baik-baik lagi. Ingat, Fira itu masih kecil, dia masih butuh sosok seorang ayah.'' jelas ibu. Memang benar kata ibu. Nggak cocok lagi itu bukan sebuah alasan yang tepat. Itu hanya sebuah alasan klasik. Tapi, dibalik itu semua, aku nggak mungkin cerita masalah yang sebenarnya. Aku nggak mau menceritakan aib suami aku sendiri, meski kepada ibuku.
Cukup masalah aku yang sebenarnya itu, hanya Bos Robert yang tahu. Segala yang aku alami, dan segala yang aku rasakan, aku ceritakan secara blak-blakan ke Bos Robert. Aku nggak takut dia menjauh atau jijik padaku, setelah mendengar ceritaku. Dia mau menjauh atau gimana sama aku, itu hak dia.
''Kapan-kapan, ibu mau ketemu sama Arga. Biar ibu yang ngomong sama dia. Kalian nggak boleh cerai-cerai segala.'' ungkap ibu serius.
''Mas Arga mungkin punya yang lainnya.'' kataku mencoba menambah cerita masalahku, supaya ibu yakin.
''Nggak mungkin. Ibu lihat, dia bukan tipe orang yang suka main perempuan,'' tegas ibu, seolah memberi pembelaan ke Mas Arga.
__ADS_1
Kata ibu, jangan pernah terbersit di kepala, untuk minta cerai dari suami. Kalau memang dalam berumah tangga belum merasakan surga dunia. Paling tidak, di akhirat nanti, akan mendapat surga-Nya.
Di mata ibu, Mas Arga selalu baik. Jarang ada kesalahan yang dia buat. Begitu juga di mata adik-adikku dan saudara-saudara. Mas Arga itu, abang ipar yang super baik, nggak ada cela.
''Sekarang, jujur, ibu mau tanya. Mengapa kamu sampai minta cerai? Kulihat dia nggak pernah kasar sama kamu?!'' tanya ibu lagi, penuh selidik.
''Nggak boleh cerita, meski ibu mendesak aku. Cerita kalau Mas Arga itu ODHA? Nggak boleh. Ini aib suami. Ak harus menyimpannya rapat-rapat.
''Sini sambungkan aku sama Arga, biar akui bicara,'' pinta ibu.
''Jangan dulu, Bu. Ini aku baru minta izin sama ibu, belum sungguhan.'' kataku.
''Awas aja, kalau kalian cerai. Jangan anggap aku ibumu,'' ancam ibu.
''Ibu, tadi kan ibu janji nggak marah. Lagi pula, ini Winona baru minta izin. Bukan hari ini Winona bilang mau cerai, terus besok cerai beneran.'' jelasku meyakinkan ibu.
Belum selesai bicara sama ibu, tiba-tiba Mas Arga menelepon aku, lewat panggilan whatsapp.
''Ibu, ini Mas Arga telepon. Sebentar ya....paling Fira mau video call sama aku.'' kataku.
''Setelah itu, ibu mau ngomong sama dia.'' pinta ibu.
''Mami.....!'' panggil Fira lewat video call.
''Kapan Mami pulang dari Tanjungpinang.'' tanya Fira padaku.
''Besok pagi, Mami pulang, ya Nak,'' kataku berjanji pada putri kecilku itu.
''Horeeee......,'' seru dia, kegirangan.
''Mi. Mami nggak rindu Fira sama ayah ya.....,'' tanya dia dengan polosnya.
''Rindu dong sayang.....besok Mami naik kapal ferry yang pagi. Jadi cepat sampai rumahnya.'' ucapku dengan nada meyakinkan.
Ponselnya diserahkan ke Mas Arga, gantian Mas Arga yang video call sama aku.
Asli! Semua hanya formalitas, biar dibilang rukun sama ibu aku. Padahal, hari-hari, aku mau kemana, dia mana peduli.
Bahkan, waktu aku juga nggak pulang ke rumah, dia nggak pernah khawatir sama aku.
__ADS_1
Perhatian Bos Robert, nggak seperti perhatian Mas Arga.
***
Tiba-tiba, Bos Robert pun menelepon aku. Eh....berubah ke panggilan video call. Terpaksa aku menjauh dari ibu. Mau aku tolak panggilan video callnya. Pasti dia ngamuk. Aku, bakal jadi sasaran amukan dia, sepanjang hari, kalau besok Senin, masuk kantor.
''Dimana sih, kok lama angkat video call aku. Coba arahkan kamera ponsel kamu ke segala penjuru. Beneran nggak kamu berada di rumah orang tua kamu.'' pinta Bos Robert.
''Aku lagi di hotel.'' kataku berbohong padanya.
''Hotel mana biar aku kesana, sore ini berangkat pakai last ferry.'' tegasnya.
''Ih aneh. Parah bos satu ini. Percaya banget sama kata-kata anak buah. Harusnya jangan dipercaya. Berarti gampang dibohongi sama anak buah ya.'' selorohku, dan dia terlihat cengar-cengir.
''Aku lucuti juga nanti ya kalau ketemu. Awas aja.'' ancamnya bercanda.
''Nggak takut. Aku juga bisa lucuti balik.'' kataku juga bergurau.
''Emang berani, lucuti baju bos. Nanti kamu kena pecat baru tahu!?''
''Biarin!'' jawabku.
''Mi, cepet baliklah besok. Pusing aku nggak lihat kamu sehari. Beneran pusing aku,'' ungkapnya jujur.
''Kan bisa cuci mata ke mall.'' saranku.
''Nggak. Aku maunya lihat kamu. Titik.'' tegasnya.
Kata dia, pusing kalau sehari saja nggak lihat wajah aku. Bukan hanya itu, katanya kalau nggak peluk aku sehari, dia juga ngaku pusing.
''Ah! Laki-laki banyak gombal. Bini di rumah, kan bisa dipeluk. Ngapain dianggurin.'' kataku mengejeknya.
''Kamu bisa nggak cepetan pulang. Ayah jemput ya, beneran pusing aku Mi, nggak peluk kamu,'' aku Bos Robert lagi, sepertinya dia jujur padaku.
***
Sampai di pelabuhan Dabo, kulihat mobil Bos Robert sudah ada di sana. Dia langsung memintaku cepat-cepat naik mobil. Tak lama, dia benar-benar memelukku dan mengecup tengkukku, hingga aku pun terangsang dibuat dia.
''Mi. Kita ke villa sebentar yuk, Ayah rindu banget sama kamu,'' katanya sembari terus memelukku. Meski cuma sesaat, dia benar-benar mengistimewakan aku. Hingga aku pun menikmati pelukan dia, dengan sepenuh hati. Rasanya aku melayang dibuat dia.(bersambung)
__ADS_1