Maaf Suamimu Aku Pinjam

Maaf Suamimu Aku Pinjam
Gara-Gara HP Tak Aktif


__ADS_3

Jam makan siang sengaja nggak mau makan. Karena kerjaan masih menumpuk. Rencananya nanti balik cepat, pengen makan soto di Morning Bakery. Tapi, makannya sama siapa ya. Ajak Fitri, teman makan paling setia. Diajak makan apa aja, dia doyan.


''Eh iya...Fitri nggak masuk hari ini. Terpaksa makan sendiri. Nggak mungkin, ngajak Bos Robert. Nanti, bukannya makan, malah berdebat masalah yang nggak jelas-jelas. Bisa kenyang duluan aku.'' gumamku.


''Makan siang yuk, tapi cari tempat aman.'' tiba-tiba Bayu chat ngajak makan.


''Hmmm. Jadi bingung. Makan sekarang atau nanti.'' gerutuku.


''Kutunggu ya....di rumah makan Padang. Tapi, yang di langganan aku aja. Kalau di rumah makan langganan kamu, takut kepergok Bos Robert.'' chat Bayu berikutnya.


''Ya udahlah sekarang aja makan. Sebenarnya aku lapar juga. Pengennya makan nanti. Berhubung ada yang mengajak makan sekarang, apa salahnya sekarang aja, mumpung ada teman.'' kataku membatin lagi.


Belum sempat balas chatnya, Bayu meneleponku.


*Dreet....


*Dreet....


*Drettt....


''Hmmm... iya tunggu aku kemas dulu barang-barang aku di meja. Terus on the way. Kasih tahu aja di rumah makan Padang yang mana.'' ungkapku dan aku langsung matikan ponsel.


Aku hidupkan saja nomor rahasia aku yang tak pernah aku berikan ke siapa-siapa. Kecuali orang-orang terdekatku. Tidak juga dengan Bos Robert. Dia nggak tahu nomor rahasia aku ini. Aku langsung meluncur dengan mobil aku.


***


''Aku pakai nomor ini. Tolong jangan berikan ke siapa pun. Hanya orang-orang tertentu yang tahu nomor ini.'' kataku pada Bayu, saat di perjalanan.


Bayu langsung membalasnya dengan memberitahu di rumah makan mana dia makan siang.


Di otakku langsung kebayang di rumah makan itu ada menu gulai otak sapi.


Hmm....rasanya jangan ditanya. Enak luar biasa. Apalagi, masakan orang Padang. Nggak diragukan lagi rasanya.


''Sepuluh menit lagi sampai. Aku isi bensin sebentar. Mobilku res bensinnya.'' kataku pada Bayu.


''Oke....ditunggu. Tapi, hati-hati ya, jangan sampai kamu dibuntuti sama orang ganteng idola kamu itu.'' kata Bayu, lewat chatnya.


''Hahahahaha. Sialan!'' balasku.


''Sudah jangan balas chat aku terus. Nanti balas chat terus, kapan sampainya!'' tegas Bayu.


Dalam hitungan sepuluh menit kemudian, aku sampai di rumah makan yang dibilang Bayu tadi. Di sana aku lihat tak ada mobil Bayu. Aku telepon saja dia.


''Dimana posisi. Aku nggak lihat mobil kamu!'' tanyaku bingung.


''Masuk aja. Aku duduk di belakang. Meja 24. Tadi, minta anter sama teman kantor. Nanti kalau bawa mobil, bahaya, ditandai sama orang ganteng idola kamu itu.'' celetuk Bayu lagi dan buat aku kesal saja, komentar-komentar dia itu.


''Hmmmm. Sialan kamu. Oke aku masuk.'' kataku dan aku memarkir mobilku dulu.


''Aman, kan.'' tanya Bayu saat aku sudah duduk di depannya.


''Nanti aku suruh datang, biar dia sekalian makan siang sama kita. Dia kan jarang makan siang di rumah. Masakan bininya kurang enak.'' kataku.


''Hahahaha.'' kata Bayu lagi, sembari melepas tawa.


''Makan dulu, kita.'' kataku.


Seorang laki-laki muda pelayan rumah makan Padang itu mendekat ke arah meja, dimana aku dan Bayu duduk. Menyodorkan buku menunya.


Tapi, aku nggak berminat membukanya. Aku langsung saja bertanya kepada pemuda itu, kalau aku order gulai otak sapi, ada nggak? Dia menganggukkan kepalanya. Tanda menu yang aku inginkan itu ada. Lalu mencatatnya dalam nota kecil.


''Suka gulai otak sapi ya?'' tanya Bayu.


''Iya....aku pernah makan disini. Enakkkkkkk pakai banget rasa gulai otak sapinya.'' jelasku penuh antusias.

__ADS_1


''Gimana kamu lancar kerjaan hari ini.'' kataku basa-basi, sambil menunggu makanan yang aku pesan tadi.


''Lancar.'' jawab Bayu santai, sambil menyulut sebatang rokoknya.


''Eh kamu nggak pesan makan?'' tanyaku karena kulihat di meja belum ada bekas piring makan nasi.


''Udah, aku tadi pesan, ikan bakar. Tapi, aku bilang sekalian aja tunggu kawan datang,'' jelas Bayu.


''Ooo.....begitu?''


Tak terasa, kami ngobrol menghabiskan waktu jam makan siang. Bayu minta jemput kawannya dan aku balik ke rumah sebentar, mau lihat Fira lagi ngapain.


***


Kulihat Fira tertidur di sofa ruang tamu. Kata Bik Inah, dia baru saja minum susu, dan makan siang banyak banget. Pakai lauk gulai ikan. Kukecup keningnya, dia tak bergeming. Benar-benar tertidur pulas, anak gadis aku ini.


''Bik, nanti kalau dia bangun, suruh mandi ya Bik. Bilang aja kalau nggak mau mandi, nanti nggak diajak jalan sama mami.'' pesanku ke Bik Inah.


''Iya, baik, Bu.'' jawabnya.


''Saya ke kantor lagi ya Bik.'' kataku pamit ke Bik Inah.


''Iya, Bu,'' sahutnya dan aku berlalu dari hadapannya.


***


Sampai di kantor, aku terkejut. Fitri bilang, Bos Robert dilarikan ke UGD., karena jatuh dari motor.


''Jatuh dari motor?'' tanyaku heran.


''Jadi gimana kondisinya sekarang?''


Belum sempat aku mendengar penjelasan Fitri, langsung saja aku on the way ke UGD RSUD Raja Fatimah.


Tanpa aku minta, Fitri juga ikut denganku.


''Ada, Bang Ginta dan Hadi. Mereka tadi langsung bawa Bos Robert ke UGD,'' sebut Fitri menjelaskan ke aku.


***


Di UGD, kulihat Bos Robert terbaring di tempat tidur, dengan tangan yang sudah dibalut perban. Tapi, dia dalam kondisi masih terjaga.


''Ya Allah, syukur dia cuma luka di tangannya.'' kataku sedikit lega setelah melihat kondisinya.


Melihat aku datang, Ginta dan Hadi, keluar. Termasuk Fitri, nggak ikut mendekat ke Bos Robert. Mereka memberi waktu aku berdua dengan Bos Robert.


''Gimana sih ini ceritanya sampai jatuh dari motor?'' tanyaku sambil cekikikan.


''Jadi, kamu senang kan kalau lihat aku celaka seperti ini?'' tanyanya sambil menahan perih luka tangan kanannya itu.


''Iya aku heran. Kok bisa, seorang kepala dinas, jatuh dari motor?'' kataku. Tapi, kali ini aku berusaha serius. Nggak cengar-cengir lagi.


''Ini gara-gara kamu.'' tudingnya.


''Gara-gara aku? Coba ulang lagi!'' kataku semakin heran.


''Kenapa pula menyalahkan aku?'' protesku.


''Iya, kamu tadi matikan ponsel di jam makan siang!'' sebutnya menyalahkan aku.


''Ya ampun....apa hubungannya coba aku matikan ponsel dengan kamu yang jatuh dari motor.'' tanyaku minta penjelasan lebih detail, ke Bos Robert.


''Iya aku cari-cari kamu. Ke rumah kamu, kulihat mobil kamu nggak ada. Terus aku keliling cari kamu, sampai aku pitam, dan masuk ke parit, motorku.'' jelasnya.


''Ha.......nyari aku? Ngapain coba, orang lagi istirahat makan siang.'' kataku dan rasanya aku ingin mentertawakan dia, kali ini, setelah mendengar kronologis cerita dia yang jatuh dari motor.

__ADS_1


''Iya kamu kemana aja, pakai matikan ponsel segala. Aku kira kamu melarikan diri. Aku chat masih centang satu. Aku telepon, nggak aktif nomor kamu. Katanya nomor yang anda hubungi sedang makan siang sama orang lain!'' jelasnya panjang lebar.


''Hmmm.....parah laki-laki ini, segitu pentingkah aku harus mengaktifkan ponselku setiap saat. Mungkin aku harus aktifkan selama 24 jam, kali ya? Biar dia bebas kapan saja bisa menghubungi aku. Sumpah, aku nggak menyangka kalau gara-gara matikan HP, kejadiannya seperti ini. Dikiranya aku melarikan diri. Ya ampun.......'' gumamku masih membatin dalam hati.


''Ih......norak banget sih pria satu ini. Gimana kalau aku melarikan diri beneran ya?'' selorohku padanya.


Spontan dia langsung menarik aku dalam pelukannya.


''Ih, jangan gila. Disini banyak orang. Pakai peluk-peluk. Lepas!'' kataku berusaha melepaskan diri dari pelukan Bos Robert.


''Biarin. Mereka sudah tahu, kok kalau kita pacaran!'' celetuknya sesuka hati.


''Lepas nggak. Kalau nggak dilepas, aku panggil suster, aku suruh suntik obat penenang. Biar nggak banyak tingkah.'' kataku, dan dia akhirnya melepaskan dekapannya.


Tak lama, dokter dan perawat masuk. Aku pun agak mundur ke belakang, karena nggak enak dilihat orang, kalau aku dekat-dekat Bos Robert.


''Ibu, bapak harus banyak istirahat ya. Sepertinya bapak kurang istirahat.'' kata dokter itu padaku.


''Oke....Dok.'' jawabku.


''Jangan lupa minum vitamin, makan buah-buahan dan sayur ya Pak, biar staminanya semakin oke,'' kata Dokter itu mengingatkan.


Aku pun kembali mengiyakan apa yang dibilang dokter.


''Kalau sudah merasa agak sehat, boleh pulang kok Pak. tapi, ingat ya, harus banyak istirahat. Nanti saya beri surat dispensasi, biar bisa libur, dua hari ini.'' sebut dokter itu lagi.


Mendengar kata dokter diperbolehkan pulang, akhirnya Bos Robert minta pulang saja. Minta dianter ke villa pribadinya.


''Mi, temani aku istirahat di villa kita ya.'' pintanya.


''Villa kita?'' selorohku sembari cengar-cengir.


''Nanti, aku minta beneran, ada yang marah! Terus aku kena labrak. Dibilang pelakor, minta villa.'' ungkapku.


''Apaan sih Mi.'' kilahnya.


''Kalau mau, ambil aja villa itu. Tapi, dengan satu syarat, Mami harus jadi istri aku.'' sebutnya sambil senyum-senyum.


''Ih....!'' sahutku.


***


Suasana dan moment yang paling aku harapkan, berdua di villa bareng Bos Robert.


Meski tangan kanannya sakit, dengan balutan perban, Bos Robert masih saja ingin memanjakan aku, siang itu. Lagi-lagi dia ingin selalu singgah di daerah sensitifku.


''Ah sayang. Kamu itu nakal banget ya. Udah tahu lagi nggak enak body, masih aja nakal sama aku.'' kataku berusaha mengelak. Tetapi, di sisi lain, aku tak kuasa saat dia terus berusaha menerobos benteng pertahananku.


''Ih...sayang....kamu memang nakal banget,'' kataku manja, saat berbisik di telinganya.


''Iya karena ada di dekatmu, aku selalu ingin berinta denganmu.'' katanya yang juga berbisik di telinga aku.


''Sayang. Aku harus balik ke kantor ya. Kerjaan aku belum beres.'' kataku ingin mengakhiri permainan siang bolong itu.


''Apaan sih. Temani aku sampai malam disini. Aku sudah izinkan kamu, nggak usah ke kantor lagi.'' sebutnya.


''Besok, kalau kerjaan aku belum beres, jangan marah ya.'' kataku meminta kepastian.


''Besok aku masih libur. Kalau bisa, temani aku disini sampai besok.'' pintanya.


''Terus, istri kamu gimana. Apa nggak nyari?'' tanyaku penuh selidik.


Kata Bos Robert, dia alasan keluar kota selama dua hari. Istrinya, percaya saja apa kata Bos Robert.


''Serius kamu bilang keluar kota?'' tanyaku lagi masih tak percaya.

__ADS_1


''Iya....Mami sayangku,'' sebutnya dan kami berpelukan lagi, melanjutkan permainan di atas ranjang villa.(bersambung)


__ADS_2