
Kupercepat langkahku. Dia mengejar aku dari belakang.
''Winona tunggu!'' teriaknya.
Tapi, aku nggak peduli, aku semakin mempercepat langkahku, untuk ke area parkiran.
Dia berhasil menghentikan langkahku.
''Kenapa sih kamu mengkhianati aku!'' bentaknya. Bersmaan dengan itu, dia membanting ponsel milikku di depanku.
*Brakkkk!
Ponselku hancur berantakan. Karena dia banting.
Sambil menangis, aku berusaha menepis tangannya yang dari tadi menggenggam pergelangan tangan kiri aku.
Aku diam saja, sambil terus menangis.
Tak lama, dia memelukku. Tapi aku berusaha mengelak.
''Mulai sekarang nggak usah pedulikan aku. Atur hidup kita masing-masing!'' kataku sambil menangis sesenggukan, dan berusaha melepaskan diri dari pelukannya.
''Minggir. Kamu itu sudah menyakiti aku dalam banyak hal!'' sebutku dan aku akhirnya pasrah ketika dia semakin erat memelukku.
''Maafkan aku sayang. Aku nggak bermaksud menyakiti kamu. Aku sangat.....sangat ......sayang banget sama kamu!'' katanya. Kulihat dia meneteskan air mata, saat mengatakan itu. Sepertinya dia serius mengatakan itu. Tapi, bagaimana dengan pernyataan dukun itu, yang seolah-olah meyakinkan aku untuk mempercayai bahwa Bos Robert itu banyak dikejar perempuan, di luar sana.
''Maaf, lepaskan aku. Aku mau pulang. Capek aku, kamu perlakukan aku seperti ini terus. Kamu kekang. Aku memang butuh diperhatikan laki-laki. Karena aku memang nggak pernah diperhatikan laki-laki. Tapi, bukan seperti ini caranya. Kamu sudah merampas kebebasan aku. Semua teman-teman yang dekat sama aku, kamu labrak dia. Kamu curigai dia. Dimana coba harga diriku. Kamu jatuhkan aku di depan teman-teman aku, seperti itu. Pikirkan itu. Dimana ada perempuan seperti aku yang kuat menjalani hubungan seperti ini?'' kataku akhirnya blak-blakan. Kuungkapkan semua apa yang dia lakukan ke aku.
Dia sekali lagi diam. Tak mau menimpali.
''Maafin aku ya. Aku hanya tak ingin kehilangan kamu, Mi.'' katanya berbisik lirih di telinga aku. Dia mengecup keningku penuh mesra.
''Ya Allah, kenapa ya! Di saat aku berusaha sekuat tenaga untuk menghindari dia, aku semakin nggak sanggup jauh dari dia. Kenapa ya Allah, Engkau kirim dia untuk aku?!'' gumamku yang masih terisak dalam pelukannya.
''Ayo kita mulai lembaran baru. Aku ingin menjaga kamu, sampai nafas terakhir aku. Aku ingin jadi lelaki istimewa di hati kamu. Terima aku apa adanya. Karena.....kamu tahu nggak......?'' kata dia, yang terdengar begitu romantis, sore itu.
''Tapi, aku nggak siap jadi yang tersakiti, kalau memang banyak perempuan di luaran sana, yang mengejar cinta kamu.'' kataku jujur padanya.
''Stttt....kamu ngomong apa sih, Mi,'' kilahnya, sembari menempelkan telunjuk tangan kanannya ke bibir aku.
__ADS_1
''Percaya sama aku. Aku nggak semudah itu. Aku hanya punya kamu...Tahu kan.....kamu adalah semangat hidup aku.'' akunya lagi dan aku merasa tersanjung dengan pengakuannya itu.
Di sisi lain, meski sudah sedikit mereda perdebatan sore itu, dia merasa belum puas, saat dia belum menemukan siapa dukun yang aku datangi bersama Bayu.
''Mi, bilang dong. Siapa dukun yang kamu datangi itu. Biar aku tonjok. Kenapa dia ngomong seperti itu. Terawangan dia tentang aku itu, salah besar. Hasil penerawangan dia itu, merusak hubungan kita. Aku nggak terima itu. Kalau dapat, aku mau tonjok dia sampai bonyok!'' katanya panjang lebar.
''Matilah aku!'' pekikku dalam hati.
''Kalau besok dia cari Bayu, gimana ya?!'' kataku dalam hati, was-was.
***
Selesai berdebat dengan Bos Robert. Pulangnya, aku buru-buru menelepon Bayu. Kuberitahu soal pertengkaran aku dengan Bos Robert.
''Bayu. Gimana ini kalau dia cari kamu.'' kataku panik, saat kukatakan itu lewat ponsel.
''Apa dirimu libur aja, besok. Biar nggak ketemuan sama Bos Robert. Karena aku yakin, dia pasti mencari kamu ke kantor.''
Bayu juga bingung mau jawab apa.
Tapi, akhirnya Bayu memutuskan ambil cuti selama seminggu. Dia keluar kota, demi menghindari Bos Robert.
***
''Dimana kamu sekarang?'' tanyaku penasaran.
''Di luar kota.'' jawabnya.
''Iya tapi dimana. Aku nggak akan bocorin posisi kamu!'' kataku meyakinkan dia.
''Nggak mau. Nanti percakapan aku disadap sama Bos Robert, terus dia datang ke tempat aku, lalu mencekik aku!'' aku Bayu berseloroh.
''Baiklah kalau begitu. Semoga kita semua selalu dalam lindungan-Nya.'' kataku.
''Ya udah, kalau ada apa-apa, hubungi aku ya. Ini aku nggak simpan nomor kamu. By!'' kataku seraya menghapus semua percakapan aku lewat whatsapp.
***
Lagi-lagi, Bos Robert menghubungi aku. Sehari saja nggak menghubungi aku, dia itu bisa gila kali ya! Aneh banget sih!
__ADS_1
''Posisi dimana. Ketemuan yuk Mi. Aku lapar, belum makan siang. Sekalian ajak Fira,'' kata Bos Robert, siang itu.
Ya ampun. Ini hari minggu. Dia masih saja menghubungi aku. Terus istrinya kemana? Hello!
''Ping!'' katanya mengirim chat ke aku.
Nggak aku balas. Hingga akhirnya dia ngirim kata-kata ping itu, sampai puluhan jumlahnya.
''Hmmmm....kumat sintingnya dia ini. Kenapa sih, selalu saja mengganggu aku!'' gumamku kesal.
Sampai-sampai hati aku ini menolak pernyataan dukun itu. Dukun itu pasti salah. Bukankah yang mengejar-ngejar aku itu, dia! Kenapa dia membalikkan fakta yang sebenarnya. Kenapa dia bilang akulah yang mengejar-ngejar dia. Hahahahahah! Pantes bos galak-galak ganteng itu ngamuk. Seperti buaya mau makan orang!
''Bayu. Terawangan dukun kamu itu salah kayaknya. Buktinya, Bos Robert itu, kalau nggak menghubungi aku sehari saja, dia sudah kayak orang gila!'' kataku mengirim chat ke Bayu, yang nomor WA dia, aku namai Sarifah. Ups!
''Hahahaha. Kalau itu, aku nggak tahu.'' kata Bayu mengelak.
*Dreetttt...
*Dreettt...
*Drettt....
''Eh tunggu....dia telepon aku. Nanti aku chat lagi ya.'' kataku terpaksa mengakhiri perbincangan dengan Bayu. Padahal, aku belum selesai, ngomongnya.
''Kenapa nggak balas chat aku!?"' tanyanya datar, dari balik telepon genggam.
''Maaf aku lagi sibuk nyuapin Fira. Dia agak manja hari ini. Biasanya kan Bik Inah yang nyuapin dia. Bik Inahnya lagi nggak enak badan. Jadi aku suruh dia libur aja.'' jelasku panjang lebar, biar dia percaya.
''Mami, itu suara ayah baik ya!'' pekik Fira.
''Sini, aku mau ngomong sama Fira. Berikan teleponnya sama dia.'' perintah Bos Robert.
''Fira, ini ayah baik mau ngomong sama Fira,'' kataku, mendekatkan ponselnya ke telinga dia. Tapi, tak lama, aku alihkan panggilannya ke panggilan video call.
Akhirnya mereka bicara lewat video call.
''Fira, sayang. Makan KFC yuk, sama ayah,'' ajak Bos Robert.
''Mau....mau....Mi, kita makan KFC sama ayah baik,'' katanya padaku, dengan wajah ceria.
__ADS_1
''Siap-siap dong kalau begitu, ajak Mami keluar, naik mobil,'' perintah Bos Robert pada Fira. Fira pun langsung mandi, ganti baju dan mengajak aku keluar. (bersambung)