Maaf Suamimu Aku Pinjam

Maaf Suamimu Aku Pinjam
Istri Bos Robert Datang ke Kantor


__ADS_3

Hari ini, rasanya pengen libur. Tapi, kerjaan dari bos, menumpuk. Mempersiapkan agenda pertemuan rutin dengan para guide, agen travel, serta pihak hotel. Mengevaluasi data peningkatan dan penurunan jumlah pariwisata lokal dan mancanegara.


Pertemuan rutin itu, ditaja oleh pihak PHRI (Persatuan Hotel dan Restaurant Indonesia). Sedangkan Dinas Pariwisata sendiri, sebagai pihak pendukung acara.


Biaya akomodasi dan transportasi, semua ditanggung Dinas Pariwisata.


''Kira-kira, pertemuan triwulan pertama ini, Bapak mau acaranya digelar tanggal berapa?'' tanyaku, yang sedari tadi sudah mempersiapkan buku dan pena.


''Aku mau pertengahan Maret.'' jawabku, dan langsung aku catat.


''Oke.'' jawabku.


''Ada berapa kira-kira peserta yang diundang.'' tanyaku lagi.


''Kalau bisa, undangan sekitar lima puluh orang. Jangan lebih. Kalau kurang dari lima puluh, lebih bagus. Ingat, cek betul-betul, jangan sampai ada yang tertinggal. Para guide, agen travel, serta pengurus PHRI.'' perintah Bos Robert.


''Oke siap.'' kataku sambil mencatatnya dalam buku kecil.


''Akomodasi dan biaya transportasi peserta selama 3 hari, jangan lupa disiapkan.'' sebut Bos Robert.


''Hotel yang akan kita gunakan untuk tempat acara, tolong pastikan juga. Lobby pihak managementnya dari sekarang. Ini ada waktu dua minggu. Persiapkan segala sesuatunya.'' katanya, lebih detail.


''Sertifikat peserta yang hadir, juga tolong dipersiapkan. Mereka akan kita beri sertifikat pelatihan pariwisata. Baik itu pihak agen travel, guide, serta hotel.


''Pokoknya saya mau, di ruang pelatihan itu, terdata sebanyak 50 orang saja. Jangan lebih.''


''Pihak media, kita undang 10 orang. Media cetak, media online, dan radio.''


Aku bolak-balik melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kiri aku. Masih satu jam lagi, jam istirahat. Tapi, perut aku mulai keroncongan. Maklum, tadi pagi nggak sempat sarapan.


Jelang kurang setengah jam, Tiono masuk, memberitahukan kalau istri Bos Robert menunggu di luar.


Seketika, aku langsung deg-degan. Jantungku berdebar tak karuan karena panik, saat mendengar ada istri Bos Robert datang ke kantor.

__ADS_1


Bos Robert langsung mengakhiri rapat, dan meminta aku, Fitri dan Galih, segera keluar ruangan.


''Ya Allah ini gimana.'' pekikku panik sendiri, dalam hati.


''Kalau bisa, secepatnya kamu pergi ya, sementara ini, atau nggak usah balik ke kantor.'' katanya berbisik kepadaku, lalu bergegas menemui istrinya di luar.


Keberadaan Fitri dan Galih, sedikit menutupi rasa panikku. Karena setidaknya aku nggak seorang diri berada di ruangan Bos Robert. Saat aku keluar, tatapan sinis mata istri Bos Robert mengarah ke arah aku.


Untuk menutupi rasa panikku, kuajak Fitri untuk menemani aku makan siang.


''Kak, istri Bos Robert mukanya seram ya.'' seloroh Fitri.


''Hus...nanti kamu diterkam baru tahu rasa.'' kataku pada Fitri.


Ya....di sepanjang perjalanan, kami bahas soal istri Bos Robert yang penasaran saat berada di kantor.


''Kak, jangan marah ya. Aku cerita.'' kata Fitri.


''Cerita apa?'' tanyaku penasaran.


Padahal, saat dia cerita itu, aku takut banget. Takut kalau-kalau aku sudah ketahuan sama nyonya bos itu. Mampus aku!


***


''Pa...siapa perempuan itu. Aku tadi cuci baju kamu, ada bekas lipstik di baju kamu.'' kata istri Bos Robert di ruangan kerjanya, dan suara perempuan itu sampai terdengar dari luar.


''Kamu ini kenapa Ma, aku di kantor ini kerja.'' elak Bos Robert.


''Iya, hari ini memang Papa kerja. Tapi, Mama nggak tahu lipstik itu menempel di baju Papa, kapan.'' kata istri Bos Robert yang suaranya semakin kuat, hingga didengar beberapa staf di ruangan itu yang kebetulan tak keluar saat jam makan siang.


''Apa-apaan kamu ini, Ma. Sudahlah, nggak ada perempuan yang mama maksud itu. Bukannya itu lipstik mama, kan warnanya sama!? Mama, kali, pas mau cuci baju papa, lupa dipakai lap.'' sebut Bos Robert, dan pernyataan itu membuat emosi istrinya kian memuncak.


''Ma....Papa di kantor ini banyak kerjaan. Nggak sempat, Ma...mau aneh-aneh. Mama lihat sendiri. Tadi, papa lagi rapat, waktu mama datang. Tahu sendiri kan.....'' kata Bos Robert berusaha meredakan emosi istrinya.

__ADS_1


Tiba-tiba istri Bos Robert menangis.


''Pa...jujurlah. Kalau memang ada perempuan lain, bilang sama Mama.'' ungkapnya sembari menangis sesenggukan.


''Perempuan lain apa sih Ma. Sudahlah Ma,'' kata Bos Robert lagi, dengan wajah meyakinkan. Hingga akhirnya Bos Robert mengantarkannya pulang ke rumah.


***


''Ma, tolong jangan buat malu Papa. Apalagi di kantor banyak anak buah. Nanti, apa kata mereka, Mama suka buat ribut seperti tadi. Malu, Ma, Papa!'' sebut Bos Robert, sembari terus konsentrasi dibalik kemudi mobilnya.


Istri Bos Robert diam saja.


Lalu, dia bilang, kalau ketahuan selingkuh, Bos Robert nggak boleh bertemu atau menyentuh ketiga anak-anaknya, yang sudah beranjak remaja itu.


''Jangan bicara yang macem-macem Ma. Papa itu, di kantor sebagai pimpinan. Nggak mungkin, mau macem-macem. Papa malu, Ma.'' tegas Bos Robert.


''Aku memang punya perempuan lain yang membuat hatiku damai dan nyaman. Tapi, belum saatnya untuk aku katakan pada istriku.'' gumam Bos Robert.


''Tapi, Pa. Mama dengar, di kantor ada staf cantik, yang suka bantuin tugas-tugas kamu.'' sebut istrinya, to the point.


''Ya ampun Ma, aku ini, kepala dinas. Staf aku di kantor, banyak Ma. Ada 30 orang lebih. Semua memang cantik-cantik Ma. Tapi, mereka juga sudah berkeluarga. Sudah lah, jangan bahas ini lagi. Oke! Kita makan aja yuk, Ma,'' ajak Bos Robert pada istrinya.


Lalgi-lagi, istrinya itu masih diam. Padahal, dia berharap banget, bisa romantis seperti dulu lagi. Tapi, belakangan, dia mendengar isu, kalau suaminya, sedang dekat dengan seorang perempuan cantik, yang tak lain staf baru di kantor itu.


Kecurigaan istri bos itu cukup beralasan. Ditambah lagi Bos Robert sering lembur dan keluar kota. Semua itu membuat istri Bos Robert nggak tenang.


''Pa, kalau keluar kota, aku ikut. Biar mama sekalian jalan-jalan ya.'' katanya, tiba-tiba bernegosiasi sama Bos Robert.


''Terus yang urus anak-anak siapa Ma, kalau Mama juga ikut dampingi Papa tugas keluar kota?'' kata Bos Robert pelan, saat memberi pengertian ke istrinya.


''Aku sewa pembantu ya.'' katanya lagi.


''Apaan sih Ma. Tunjangan Papa aja dikurangi, setelah ada covid ini. Gaji Papa memang besar. Tapi, itu untuk persiapan biaya Reza dan Danisa kalau mereka kuliah nanti.'' kata Bos Robert.

__ADS_1


''Ya sudahlah, kalau memang nggak mau manjain aku. Manjain aja perempuan simpanan kamu itu.'' katanya sewot.


''Ya ampun, kenapa kamu ini, Ma.'' (bersambung)


__ADS_2