Maaf Suamimu Aku Pinjam

Maaf Suamimu Aku Pinjam
Berantem Lagi Soal Cewek


__ADS_3

Aku nggak sengaja mengecek ponsel Bos Robert, saat dia ke toilet. Aku emosi saat membaca chat-chat akrab yang dikirim Bos Robert ke nomor salah seorang cewek yang aku ketahui dia teman lama satu kantornya dulu. Namanya Hana.


''Bang, apa kabar?'' kata cewek itu chat duluan ke Bos Robert.


''Kapan nongkrong-nngkrong lagi,'' tanya dia lagi.


Bos Robert menjawab chatnya.


''Kabar baik. Hana gimana?''


''Nanti diatur ya kalau ada waktu.''


Memang cuma kalimat yang dikirim Hana ke nomor whatsapp Bos Robert. Tapi, andai itu aku, pasti aku sudah dapat bogem mentah dari Bos Robert. Tak hanya sekedar bogem mentah. Perang dunia ketujuh, pasti bakal berlangsung lama. Bisa-bisa sampai seharian aku kena maki-maki sama dia.


Saat kulihat Bos Robert keluar dari toilet rumah makan Pak Dollah, aku masih memegang ponselnya. Tapi, Bos Robert nggak marah sama sekali saat melihat ponselnya masih aku cek.


Seketika aku banting ponselnya di depan dia.Tapi bukan ak banting ke lantai, melainkan aku banting di meja.


''Brak!''


Sekali lagi dia masih santai. Nggak terlihat emosi saat mengetahui ponselnya aku banting.


''Udah. Puas banting ponsel aku?'' tanyanya sambil senyum-senyum tipis.


''Kurang ajar. Breng^^k! Ternyata kamu masih chat-chatan sama Hana. Janjian mau ketemuan nongkrong!'' sebutku penuh emosi.


''Kalau aku yang melakukan itu, kamu ngamuk! Berapa kali kamu banting ponsel aku!'' bentakku dan langsung aku beranjak pergi, ambil kunci mobil.


Bos Robert berusaha mengekori aku, setelah membayar nota makanannya ke kasir.


''Mi. Tunggu aku jelaskan!'' katanya berusaha menghentikan langkahku.


Tapi aku tetap saja menuju mobil, tetap dengan pendirian aku, meninggalkan dia.


Aku nggak peduli dia mau naik apa baliknya. Pokoknya aku sudah niat meninggalkan dia sejak itu.


''Nggak usah lagi cari-cari aku!'' teriakku, dan aku segera menutup pintu mobilku.


Kulihat di kaca spion mobilku, dia menggebrak bagian belakang kaca mobilku. Tapi aku tetap melaju benar-benar meninggalkan dia sendiri.


Tak lama, aku lihat, dia mengejarku dengan motor. Entah motor siapa yang dia pakai. Hingga akhirnya dia menghadangku, dan aku mengerem mendadak mobilku. Dia berada tepat di depan mobil aku. Andai tak aku buru-buru mengeremnya, mungkin aku sudah menabraknya. Bisa panjang urusan aku sama pihak kepolisian.

__ADS_1


*Citttttttt..........citttttttttt......!!!


''Astagfirullah. Gila! Breng^^k!''


Aku langsung keluar, dan meneriakin dia.


''Gila kamu ya! Kalau mau bunuh diri jangan di depan mobil aku. Aku nggak mau urusan sama polisi hanya gara-gara kamu!'' kataku dengan emosi yang memuncak.


Tak aku sangka-sangka dia memecahkan kaca mobil bagian depan, dengan ponselnya. Lalu, aku berusaha menelepon Bayu. Tapi, Bos Robert buru-buru merebut ponselku dan membantingnya di aspal. Aku berteriak sekuatnya, minta tolong. Karena aku tiba-tiba ketakutan melihat sikapnya yang begitu kasar, saat itu.


''Ibu....tolong aku, ibu. Dia menyakiti aku!'' teriakku kuat-kuat, sambil menangis.


Ternyata, Bos Robert belum puas, meskipun sudah membanting ponselku, hingga hancur berkecai. Dia juga menampar aku. Terbersit di dada aku, sejak itu aku berpikiran kalau sebenarnya Bos Robert itu suka ringan tangan.


''Ya Allah, lindungi aku!'' pekikku lagi, masih terus menangis sejadi-jadinya, karena ketakutan melihat kebrutalan Bos Robert siang itu.


''Ibu....tolong aku!'' teriak aku lagi.


''Teruskan teriakan kamu! Kalau nggak berhenti juga, aku pecahkan semua kaca mobil kamu ini!'' ancamnya dengan tatapan mata yang nanar.


''Sekarang mau kamu apa?'' tanya Bos Robert masih dengan tatapan bola matanya yang nyaris mau keluar dari kelopak matanya itu.


''Aku mau mengakhiri semuanya. Perempuan mana yang bisa kamu kekang, kamu sakiti seperti ini. Aku nggak menyangka ternyata kamu pengkhianat!'' sebutku penuh emosi, dan aku masih menangis.


''Lepas. Aku nggak mau kamu sentuh lagi. Nggak sudi aku disentuh sama laki-laki pengkhianat seperti kamu!'' bentakku.


Dia semakin erat memegang tanganku, dan aku semakin ketakutan, saat dia menampar pipiku.


''Kurang ajar kamu ya. Sopan sedikit kamu sama aku!'' kata dia masih terus membentakku.


''Kamu juga punya teman laki-laki lain, kan selain aku! Jawab!!!!'' bentaknya lebih kuat.


Aku diam saja karena memang aku nggak punya teman spesial lainnya selain dia.


''Lepaskan aku, dan aku nggak mau lagi ada hubungan apa-apa sama kamu!'' tegasku.


''Nggak bisa!'' protesnya.


''Kamu nggak bisa lepas dari aku!'' sebutnya.


''Sudahlah Mi, aku capek kamu curigai. Hana itu bukan siapa-siapa aku. Perempuan satu-satunya yang ada di hati aku, cuma kamu, Mi!'' katanya meyakinkan aku. Intonasi suara dia yang tadinya meninggi, kali ini mulai merendah.

__ADS_1


Aku terdiam. Tak ingin meresponnya. Karena aku masih belum bisa menerima dia seratus persen, atas kejadian yang baru aku alami itu.


Hatiku sakit, karena dia sudah main kasar sama aku.


***


Keesokan harinya, aku masih menonaktifkan ponselku. Bahkan, aku berani bolos nggak masuk kantor, lantaran masih memendam rasa sakit hatiku setelah kejadian itu.


Ya Allah, beri aku kekuatan untuk menghadapi semua ini. Karena aku lelah ya Allah, mengejar seseorang yang bukan milik aku. ''Jauhkan aku dari dia, ya Allah. Kalau memang dia bukan jodohku. Karena aku nggak ingin terus tersakiti seperti ini.'' gumamku, bicara sendiri dalam hati.


''Mami, kenapa sedih?'' tanya Fira yang tiba-tiba mendekati aku.


''Mami, libur ya, hari ini?'' tanyanya lagi.


''Mi...ajak jalan ayah baik, yuk!'' pinta anak gadisku itu. Seketika, mendengar dia menyebut Bos Robert, rasanya hatiku masih sakit.


''Ayah baik, lagi sibuk, sayang. Nggak bisa diajak jalan!'' kataku memberi pengertian.


''Video call aja Mi, kalau ayah baik sibuk. Sebentar aja Mi!'' kata Fira merengek padaku.


''HP ayah baik, lagi nggak aktif Nak. Itu tandanya ayah baik lagi sibuk.'' jelasku lagi, meyakinkan dia.


''Mi, coba pakai hp Fira aja.'' desaknya lagi.


''Mi....aktif Mi,'' katanya sembari menunjukkan ponselnya di depan aku.


Aku diam saja. Bingung mau alasan apa lagi, biar Fira nggak video call sama Bos Robert.


Hanya dalam hitungan detik, panggilan video call dari Fira langsung diterima sama bos Robert.


''Hai sayang apa kabar?'' sapa lelaki yang aku benci itu pada anak gadis aku.


''Baik, ayah baik.'' jawab Fira dengan manjanya.


''Ayah baik, kapan jalan sama Fira?'' tanyanya pada Bos Robert.


''Ajak Mami Fira ya, kalau jalan. Nanti ayah hubungi sore ya. Kita jalan bareng yuk ke mall. Fira mau beli apa aja, nanti ayah belikan.'' kata Bos Robert memberi angin surga buat Fira.


Tanpa berpikir panjang, Fira langsung bilang oke.


''Ayah baik, nanti Fira tunggu ayah pulang dari kantor ya. Jangan lupa jemput Fira,'' pinta Fira.

__ADS_1


''Oke sayang. Sampai jumpa sore nanti!'' ucap Bos Robert lalu menutup ponselnya.(bersambung)


__ADS_2