
Waktunya masuk kantor. Pekerjaan sudah menumpuk.
Nggak sabaran menunggu jam 12.00 wib. Karena, di jam itu, ada undangan makan siang bareng Bayu. Kata dia, baru dapat gaji ke-13.
Kalau saja masih satu kantor, aku memang sering ditraktir dia. Sayangnya dia sudah pindah tugas, jadi jarang ketemu.
Kulirik jam tanganku, jam dua belas kurang lima belas menit.
Jadinya, buru-buru kukemasi barang-barang kerjaanku.
''Aku on the way ya ke rumah makan Pak Dollah.'' kataku memberitahu Bayu.
''Aku jemput aja gimana?'' katanya menawarkan diri.
''Hahahaha mau cari mati? Kepergok sama Bos Robert, siap dihadiahi bogem mentah?'' selorohku membalas chat Bayu.
''Nggak takut. Kalau dia tonjok aku, tinggal lapor polisi. Terus dia viral. Semua media cetak dan online bakal nulis tentang dia. Kepala Dinas Tonjok Pegawai Dinas Lingkungan Hdup.'' ungkap Bayu meyakinkan.
''Hahahaha. Iya percaya. Ya sudah aku on the way.'' sebutku lagi dan kumatikan ponselku.
Sebelum keluar ruangan, aku celingukan kanan kiri dulu, takut kalau ada Bos Robert.
''Oh aman.'' pikirku dan aku bergegas keluar dari ruangan kerjaku.
''Fit....Kakak pergi dulu ya. Nanti kalau ada yang tanya bilang aja nggak tahu.'' pesanku pada Fitri dan aku buru-buru melangkahkan kakiku menuju parkiran.
Kulihat, mobil bos ganteng-ganteng tapi galak itu, masih ada di parkiran. Berarti pemiliknya masih ada di ruangan. Aku sengaja nggak ada chat dia dari pagi sampai sekarang. Lagian, aku juga nggak ada kewajiban harus chat tiap hari.
Tak lama, aku sampai di warung makan Pak Dollah. Kulihat, Bayu sama tiga orang. Dua perempuan dan satu laki-laki. Aku nggak pernah melihat dua perempuan itu. Mungkin, mereka berdua orang kantornya.
''Assallamuallaikum. Maaf, telat.'' kataku basa-basi ke mereka berempat.
''Push up dulu, yang telat. Hahahahah,'' kata Bayu dengan nada bergurau.
''Apaan sih. Tega banget,'' sahutku pelan.
''Teman-teman, kenalkan. Ini teman aku, nona Winona. Dulu sahabat aku di kantor lama, Dinas Pariwisata.'' sebut Bayu memperkenalkan aku ke teman-temannya itu.
Jujur, aku rasanya asing banget di tengah-tengah mereka. Merasa nggak sefrekuensi. Tapi, demi menghormati undangan Bayu, aku tetap berusaha menyatukan diri dengan suasana siang itu.
Tapi, sepertinya aku belum terlambat, karena makanan mereka berempat juga belum datang.
Di sela-sela menunggu orderan makanan datang, Bayu menyampaikan rasa terimakasihnya kepada aku dan juga teman-temannya yang sudah bersedia datang ke acara makan siangnya itu.
''Sebenarnya aku nggak mau merayakannya. Tapi, aku ingin berbagi kebahagiaan, karena ada sedikit rejeki.'' katanya terkesan formal.
''Cie...cie......yang dapat bonus gaji ketigabelas.'' seloroh salah seorang dari kedua perempuan teman Bayu itu.
Aku diam saja mendengar pernyataan teman Bayu itu.
''Eh Winona kamu pesan apa. Pesanlah makanan yang kamu suka. Tenang aja aku lagi banyak uang nih.'' selorohnya ceplas-ceplos seenaknya. Akupun memesan ayam bumbu rujak, makanan kesukaan aku.
__ADS_1
Jam istirahat hampir berakhir. Kami pun bubar, balik ke kantor masing-masing. Di mobil, aku hidupkan ponsel.
Ya ampun....ada puluhan panggilan!
Chatnya juga bertubi-tubi.
Sekali masuk, belasan chat ke ponsel aku.
''Dimana....!'
''Ping!''
''Dimana....!''
''Pinggggggggggg!''
''Kenapa ponselnya dimatikan?''
''Bikin susah orang aja!''
''Dimana.....!''
''Kalau sudah di kantor, ke ruangan saya.''
''Cepat. Sekarang aku tunggu.''
''Apa dia nggak capek, nulis chat sebanyak itu.'' tanyaku sendiri, heran.
Tiba di kantor, aku langsung ke ruangan Bos. Kali ini aku nggak takut, kalau dia ngajak berantem. Karena, aku sudah tahu. Kalau aku matikan ponsel, pasti nanti bakal berantem nggak jelas.
''Kamu makan siang sama laki-laki lain kan!'' tudingnya to the point.
''Kamu lihat ini!'' kata Bos Robert sambil menunjukkan foto aku dan Bayu, serta teman-temannya tadi.
''Anjir.....! Ada mata-mata tadi itu. Tapi, siapa ya!'' pekikku dalam hati.
Aku diam saja, nggak mau komentar soal itu.
''Siapa tadi yang ambil gambar aku! Sialan banget sih hari ini!''
''Sebenarnya kamu sama Bayu ada hubungan apa! Kamu sering kan....makan siang bareng dia. Pengkhianat kamu itu ya!'' katanya penuh emosi.
''Iya, ada hubungan makan siang! Puas!'' jawabku setengah membentaknya.
Aku pun bergegas keluar setelah mengatakan itu. Karena aku nggak mau berdebat lebih parah lagi setelah itu.
Sampai jam kantor brakhir, aku nggak bertegur sapa sama Bos Robert, sampai keesokan harinya. Lelah aku hidup seperti ini. Bagiku dia terlalu posesif.
''Kalau memang kamu nggak suka, sebaiknya sudahi saja hubungan kita.'' kataku pada Bos Robert, lewat chat.
''Nggak bisa. Kamu nggak bisa seenaknya mau lepas dari aku.'' katanya seolah mengancam aku.
__ADS_1
''Kita nggak ada ikatan apa-apa.'' balasku tanpa perasaan.
''Nggak bisa. Kamu milik aku.'' tegasnya lagi masih berdebat lewat chat.
Karena merasa tak puas, dia meneeponku. Tapi aku lagi-lagi tak ingin melayaninya.
Aku berusaha cuek.
''Bagas....kapan kita makan siang. Besok aku traktir, mau nggak.'' tanyaku pada Bagas, di depan Bos Robert.
Bos Robert tiba-tiba datang ke ruangan aku.
''Besok siapkan berkas-berkas untuk rapat bareng gubernur.'' katanya serius melirik ke arah aku.
Langsung saja aku katakan pada Bagas, kalau aku nggak jadi mengajaknya makan.
''Bagas, maaf ya jangan marah. Besok ternyata ada rapat sama gubernur, berarti aku pun terancam bakal telat makan siang.'' kataku langsung meralatnya.
''Nggak masalah. Tenang aja. Lain waktu,'' jawab Bagas santai.
''Iya nanti aku hubungi ya, kalau ada waktu.'' kataku masih berusaha membuat hati Bos Robert panas.
Dia pun langsung menyuruhku ke ruangan dia. Aku menolak.
''Ngapain juga ke ruangan. Kalau hanya diajak untuk berantem nggak penting.'' sebutku, cuek.
''Nggak bisa. Kamu harus jelaskan semuanya,'' kata dia semakin emosi, melihat aku janjian sama Bagas.
''kamu ini perempuan murahan banget ya. Semua laki-laki kamu ajak janjian makan siang. Setelah Bayu. Fajar. Bagas!'' sebutnya satu per satu.
''Kamu jangan seenaknya menuduh aku perempuan murahan. Kamu laki-laki tanggung jawab nggak? Kalau kamu bebas sama perempuan lain, aku juga suka-suka aku dong!'' tegasku dengan sinis.
Mendengar itu, dia semakin emosi. Dia merebut ponsel aku, dan membantingnya ke lantai.
''Jahanam kamu ya!'' kataku memaki dia.
''Ganti ponsel aku, kalau nggak kamu ganti, aku lapor kamu ke polisi.'' ancamku.
''Nggak mau. Enak aja minta ganti!'' jawabnya seolah merasa tak bersalah.
Aku langsung pergi meninggalkan dia, penuh emosi.
Ya Allah....beberapa staf di kantor itu langsung fokus ke aku. Mereka pasti mendengar pertengkaran aku dengan Bos Robert.
''Dasar laki-laki jahanam dia itu.'' makiku lagi, dalam hati.
Lagi-lagi, di otakku rasanya ingin pindah saja dari kantor itu. Rasanya, aku sama dia itu, seperti Tom and Jerry. Nggak pernah akur. Kalau pun akur, paling hanya beberapa menit. Selebihnya, selalu terjadi perdebatan sengit. Kalau aku dan dia punya senjata perang. Mungkin sudah terjadi gencatan senjata, di kantor itu.
Sebenarnya aku malu. Pertengkaran ini bukan pertengkaran pertama. Tapi, apa boleh buat, aku harus tebal muka.
Keesokan harinya aku nggak teguran lagi sama Bos Robert. Apapun yang dia perintahkan, aku nggak mau mengerjakan. Bahkan, dia membuang berkas penting ke muka aku, juga pernah aku alami. Tapi, anehnya, semua itu nggak berlangsung lama. Paling, hanya sehari dua hari, besoknya sudah teguran lagi, dan baikan lagi. Parahnya, peluk-pelukan lagi karena tak bisa menahan rindu.(bersambung)
__ADS_1