Maaf Suamimu Aku Pinjam

Maaf Suamimu Aku Pinjam
Me Time Sama Fira


__ADS_3

Parah, baru jam 20.00 wib, kenapa bawaannya lapar melulu. Padahal, tadi sore baru saja makan soto. Iseng chat Fitri. Siapa tahu, dia lagi free, nggak sama pacarnya.


''Makan empek-empek 78, sepertinya bakal menggugah selera,'' gumamku sambil menelan salifaku.


''Fit, makan empek-empek 78 di Meja Tujuh, yuk,'' ajakku.


Sudah 10 menit. Chat aku nggak ada balasan. Hm... ternyata whatsapp Fitri nggak aktif.


''Penonton kecewa!'' pekikku sendiri.


Akhirnya aku ambil inisiatif pergi sendiri. Karena, hasrat kampung tengah, nggak bisa ditahan. Apalagi barisan cacing-cacing perutku juga sudah demo.


Seperti biasa. Mas Arga aku lihat nggak ada di rumah, jam segini. Fira fokus main hape, di kamarnya. Apa lagi, kalau bukan nonton youtube sampai paketnya ludes tak bersisa.


Untung, aku sekarang selalu pegang duit. Duit bulanan dari Mas Arga, sudah aku bawa ke swalayan, dan bayar kebutuhan Fira saban hari. Jadi, uang gaji aku, untuk kebutuhan me time. Makan-makan, make up, jalan-jalan nggak jelas, parfume, lipstik, baju sesekali saja. Karena hari-hari lebih banyak di kantor. Terkadang pulang kerja, nggak ganti baju, langsung jalan-jalan ke mall. Pakaian bebas, jarang banget. Pulang kantor, mau jalan. Ganti baju? Hm...ribet. Mendingan pulang kantor langsung on the way ke mall, atau ke tempat makan yang aku suka.


''Fira sayang, mau ikut mami nggak, makan empek-empek?'' tanyaku menawari anak gadisku.


Dia masih diam tak merespon ajakan aku. Dia bener-bener fokus dengan ponselnya.


''Fira, sayang....kalau nggak mau ikutan, mami tinggal ya. Berani nggak di rumah sendiri.'' tanyaku lagi, mengulanginya.


''Ikutttt....Mi,'' katanya, baru merespon ajakan aku yang kedua.


''Ayo, kalau begitu. Kita makan empek-empek ya sayang. Suka nggak ya Fira. Empek-empek yang pernah kita makan kemarin, ingat nggak yang lokasinya di dekat pelabuhan?'' tanyaku mencoba menguji ingatan dia.


''Iya....Mi, ingat.'' jawab dia meyakinkan.


''Ya udah, kalau begitu kita kemon.........,'' kataku serius.


''Yuk,'' katanya yang masih nggak mau melepas ponselnya.


''Ya udah kalau mau jalan. Ponselnya dimasukkan ke tas. Kan mami kemarin sudah belikan tas HP yang Fira minta.'' kataku mengajarinya. Sebenarnya aku risau karena saban hari, dia harus main HP. Sekolahnya masih TK nol kecil. Bahaya sebenarnya anak seusia dia main ponsel terus.


Saban hari, aku khawatir banget soal itu. Tapi, apa boleh buat, aku juga nggak bisa kontrol dia selama 24 jam. Pagi sampai sore, hari-hari nggak sama aku. Aku di kantor. Fira, sekolah TKnya masuk jam 07.00 wib, balik jam 10.00 wib. Setelah itu, dia sama Bik Inah di rumah. Bik Inah juga sudah aku pesan berkali-kali. Tapi, namanya juga sama pembantu. Selalu saja lepas kontrol. Sama Bik Inah suka dimanja. Terkadang kalau paket internet di ponsel Fira habis, pasti Bik Inah memberikan pinjaman HP nya ke Fira.

__ADS_1


''Hmmmm......entahlah,'' gumamku.


***


Tiba di empek-empek 78, Meja Tujuh. Fitri baru membalas chat aku.


''Sini Fit, aku lagi sama Fira nih, makan empek-empeknya. Whatsapp kamu nggak aktif dari tadi,'' sebutku membalas chat Fitri.


''Maaf kak, ponsel aku lagi aku chas. Terus dimainkan ponakan. Maaf ya kak, ada chat jadi lambat balas.'' katanya.


''Lanjut kak, ini aku lagi di rumah ponakan. Mau cabut, nggak enak. Mereka lagi ultah. Ceritanya mereka minta ditraktir KFC, malam ini.'' jelas Fitri.


''Oh. Oke nggak masalah Fit. Lanjut. Selamat ulang tahun ya buat ponakannya. Kadonya dari kakak besok menyusul ya,'' kataku pada Fitri.


''Hehehehe. Maaf kak, ya. Aman, kalau soal kado. Makasih ya kak....." ulang Fitri lagi.


''Iya, Fit.....lanjut. Aku juga lagi nunggu empek-empeknya datang.'' imbuhku.


''Oke, kak. Selamat makan malam sama anak gadis ya Kak,'' ucap Fitri lalu mengakhiri percakapannya.


''Mi, ayah baik, kemana ya Mi, nggak pernah kelihatan.'' tanya Fira, dan aku terhenyak mendapat pertanyaan itu darinya.


''Nanti kita telepon ya....eh video call ya. Fira mau ngomong sama ayah baik ya?'' kataku ingin memastikannya.


Dia menganggukkan kepalanya, sembari masih fokus dengan ponsel di tangannya.


''Mi, pakai ponsel Fira aja gimana?'' katanya menawarkan diri.


''Hmmm.....boleh. Memang ayah baik, tahu nggak nomor Fira.'' tanyaku.


''Nggak tahu Mi. Coba aja, ayah baik mau angkat nomor Fira nggak, kalau nggak kenal.'' katanya memberi saran ke aku.


Akhirnya aku coba telepon pakai nomor Fira. Tapi, parah. Sampai tiga kali aku telepon, Bos Robert nggak angkat telepon aku dari nomor ponsel Fira.


''Nggak diangkat ya Mi,'' tanyanya polos.

__ADS_1


''Nggak kenal, Nak, ayah baik sama nomor Fira. Jadi, nggak diangkat.'' kataku memberi dia penjelasan.


''Tunggu ya Nak. Mami telepon sama nomor ponsel Mami aja. Sttt....kecilin sedikit dong ponselnya Fira.'' pintaku. Dia pun menuruti perintahku.


Panggilan aku ditolak. Hmm....berarti dia lagi sama nyonya, di rumah.


Terpaksa aku beri alasan yang bisa diterima sama Fira.


''Sayang......ayah baik, lagi sibuk. Nggak bisa ditelepon, malam ini. Besok ya, kita coba lagi, sayang ya.'' kataku memberi dia pengertian.


Dia lagi-lagi menganggukkan kepalanya. Tanda mengerti. Tak lama, orderan empek-empek aku, sudah terhidang di hadapan aku.


''Yuk, sayang kita maem ini dulu ya. Mami lapar banget. Fira lapar juga kan,'' kataku sambil menyodorkan piring ke kecil buat dia.


''Fira nggak mau pakai kuahnya Mi. Fira mau empek-empeknya aja.'' pintanya.


''Kuahnya pedes kan Mi?'' tebak dia meyakinkan.


''Iya sayang. Pedes. Fira makan empek-empeknya aja ya.'' tambahku.


Malam itu, kami benar-benar menikmati waktu berdua, dengan bahagia. Tak aku sangka, Fira lagi-lagi bahas soal Bos Robert.


''Mi. Kapan ya ayah baik ajak jalan Fira lagi. Mau beli boneka barby yang bajunya warna pink, Mi.'' sebut Fira mengungkapkan keinginannya.


''Aduh....kenapa dia terus mau jalan sama Bos Robert sih? Bahaya ini, anak gadis aku. Bisa-bisa dia akrab banget sama Bos Robert,'' kataku membatin.


Aku pun menjanjikan ke Fira, kalau ada waktu, pasti ayah baiknya itu akan mengajak dia jalan-jalan dan membelikan barang yang dia mau.


Tapi, sekali lagi aku ingatkan ke dia, kalau nggak boleh minta-minta boneka, terlalu sering.


''Fira, lupa ya kata Mami. Nggak boleh minta boneka terlalu sering ya Nak. Kasian, nanti uang ayah baik, habis. Terus ayah baik nggak punya uang. Gimana, apa Fira nggak kasian?'' kataku lagi mengingatkan dia.


''Kan ayah baik, banyak uang Mi,'' celetuk dia.


''Lho, jadi, ayah Arga nggak banyak duitnya ya?'' tanyaku ingin tahu jawaban dia apa.

__ADS_1


''Ayah Arga jarang beliin Fira boneka.'' jawabnya to the point.


''Ya Allah, anak gadis aku ini siapa yang ngajari seperti itu. Tahu aja kalau orang banyak duit sama nggak.'' gumamku.(bersambung)


__ADS_2