Maaf Suamimu Aku Pinjam

Maaf Suamimu Aku Pinjam
Balik ke Rumah


__ADS_3

Kulirik, jam dinding di kamar hotel, menunjukkan pukul 11.00 wib. Artinya, jam 12.00 wib, aku harus siap-siap chek out. Sebenarnya aku masih ingin menyendiri di kamar hotel ini. Karena hatiku masih perih atas penolakan Mas Arga kemarin malam.


Bahkan, dia juga nggak mengkhawatirkan aku sama sekali. Padahala, ponselku, semalaman, aktif. Tapi, Mas Arga tak ada meneleponku. Itu artinya, dia memang benar-benar nggak peduli sama aku.


Lama, aku merenungi nasib aku. Kenapa harus seperti ini, cerita perjalanan rumah tanggaku. Dulu, aku begitu mencintai Mas Arga, dengan sepenuh hati. Begitu juga, Mas Arga, juga mencintai aku. Masih segar dalam ingatan aku. Waktu itu, ada banyak lelaki yang naksir aku. Tapi, entah kenapa, aku lebih memilih Mas Arga, sebagai pendampingku.


***


Ingat Masa lalu yang indah. Tapi semua sudah sirna.


''Kamu, serius kan sama aku?'' tanyaku sama Mas Arga.


''Iya, serius. Kita nikah,'' waktu itu. Aku bahagia luar biasa. Aku merasa tersanjung dengan pernyataan Mas Arga.


''Kamu masih pacaran sama Galih kan?'' tuduh Mas Arga.


''Kudengar dia naksir kamu.'' sebutnya.


Aku langsung mengklarifikasi apa yang menjadi tuduhannya.


Kubilang sama dia, kalau aku bukan seperti yang dia kira. Galih, hanya teman biasa bukan pacar aku. Dia memang sering jalan bareng sama aku. Tapi, bukan berarti aku pacaran sama dia.


''Oh, jadi bukan pacaran?'' tuduhnya lagi.


''Sial!'' pekikku dalam hati.


Kuakui, waktu itu, Galih memang naksir berat sama aku. Kalau aku respon cinta Galih, dia bakal nikah sama aku. Buktinya, Galih nikah sama perempuan lain. Tuduhan Mas Arga tak terbukti waktu itu. Apalagi, ayah aku begitu menyukai sosok Mas Arga. Kata Ayah, dia lelaki berwibawa dan bertanggungjawab. Ayah yakin, anak gadisnya (aku) bakal bahagia bila hidup bersamanya. Hingga akhirnya dia mantap melamar aku.


Aku sedih mengenang masa itu, kalau akhirnya biduk rumah tanggaku seperti ini. Salah aku dimana? Aku nggak selingkuh. Tapi, dia menolak aku. Kutahu, dia juga nggak punya perempuan lain. Apa aku salah mengira? Suatu saat, aku sempat mengecek ponselnya saat dia terlelap. Nggak ada rahasia yang dia sembunyikan dari aku.


Jadi, apa sebabnya dia menolak aku? Sejijik itukah aku di dekatnya? Nggak tahulah. Aku pasrah dengan kisahku.


***


Sampai rumah, aku lihat dia tertidur di sofa. Dia sama sekali nggak menyapaku. Aku juga sedang nggak ingin menyapanya. Karena aku memang sedang terbakar emosi setelah kejadian kemarin malam.


''Aku minta cerai!'' kataku, iseng padanya. Aku ingin tahu apa respon dia ke aku, saat kukatakan itu padanya.

__ADS_1


Dia masih pura-pura tidur di sofa. Kuyakin dia tahu, saat aku sudah datang. Tapi, sepertinya dia sedang pura-pura tidur.


Kutarik kakinya. Kukatakan sekali lagi, kalau aku ingin cerai.


''Apaan sih. Orang lagi ngantuk-ngantuknya, digangguin!'' elaknya.


''Mas aku mau kamu ceraikan aku!'' ulangku lagi.


Dia sengaja masih diam. Kutarik lagi ujung kakinya itu, sampai dia benar-benar mau meresponku. Entah berapa kali aku tarik kakinya, hingga dia bangun dan ngomong sama aku.


''Apa sih. Aku ngantuk. Semalaman main domino sama teman-teman, di kantor. Aku mau tidur lagi.'' katanya sembari merebahkan badannya lagi ke sofa ruang tamu.


''Dengar dulu permintaan aku!'' kataku, dengan air mataku yang tiba-tiba meleleh di pipi.


Sebenarnya aku nggak ingin mengatakan itu. Karena aku ingat dengan keberadaan anakku yang masih membutuhkan kasih sayang ayahnya. Tapi, aku sudah terlanjur sakit, karena Mas Arga menolak aku.


Mendengar aku ngomel terus, akhirnya Mas Arga berusaha bangkit dari pura-pura tidurnya itu.


''Kamu jangan aneh-aneh. Kenapa kamu tiba-tiba minta cerai?'' tanyanya dengan datar tanpa merasa bersalah.


''Ceraikan aku. Karena kamu sudah nggak sudi kan sama aku?'' kataku sambil menangis sesenggukan.


''Kenapa kamu ini?'' tanyanya masih pura-pura nggak ada masalah.


''Sudahlah, kemarin itu memang gerah. Aku lagi nggak mau dekat-dekat orang,'' katanya memberi alasan padaku.


''Nggak. Kamu bohong. Itu penolakan yang kamu lakukan untuk yang kesekian kali!'' sebutku masih terus menangis menahan perihnya hatiku.


Jujur, dia memang menolak aku. Bahkan, tidur sekamar dengan aku, dia juga nggak sudi lagi. Saat aku ingin bermanja-manja dengannya, dia selalu mengatakan aku terlalu lebai.


''Sana. Malu dilihat anak. Apa-apaan ini. Sana!'' katanya mengusirku waktu itu.


Kuanggap saja, apa yang dia katakan itu benar. Aku takut putri kecilku melihatnya.


''Ya sudahlah. Mungkin bukan waktu yang tepat aku ingin bermanja-manja dengannya. Mungkin lain waktu.'' pikirku, aku selalu positif thinking.


Tapi, kejadian kemarin malam, aku benar-benar merasakan dia memang jijik saat aku mendekatinya. Aku masih berusaha berpikir positif. Berprasangka yang baik-baik. Mungkin, dia lelah, nggak ingin diganggu. Tapi, kurasakan, penolakan dia, memang terlihat aku ini menjijikkan.

__ADS_1


Sampai kapan aku harus menerima penolakan ini? Aku ini istrinya. Apa karena aku sudah melahirkan? Dia lalu menolak aku? Beberapa penafsiran, menari-nari di otakku. Ada apa dengan dia? Aku yang salah atau dia perempuan lain? Sumpah, sampai detik ini aku belum menemukan jawabannya.


***


Malam itu, aku lihat dia tidur di kamar. Aku pun tak sengaja, tidur di sampingnya. Seketika, dia bangun dan pindah posisi tidur di depan tv?


Air mataku langsung meleleh, menangis sesenggukan. Dia tahu aku menangis. Tapi, lagi-lagi dia pura-pura tertidur dan nggak mendengar tangisanku.


Ya Allah, dia benar-benar menolak aku. Namun, dia selalu membantahnya saat aku ingin meminta kepastiannya.


''Panas, tadi malam,'' akunya saat aku tanya lagi kenapa dia pindah posisi tidur.


''Kamu jangan tanya-tanya lagi,'' bentaknya.


''Capek aku ditanya-tanya terus kayak begini,'' kata Mas Arga mulai emosi.


Aku langsung bilang ke dia, kalau aku minta cerai. Mas Arga masih bersikeras untuk menolak permintaanku. Katanya, dia nggak mau dengar aku lagi soal perceraian.


''Kamu ini mabuk atau apa. Tiap hari minta cerai!'' sebutnya membentak aku.


***


Bik Minah, pembantuku, curiga. Dia bilang, Mas Arga terdengar bicara mesra dengan seseorang. Padahal, orang yang dia dengar lewat ponsel itu, adalah lelaki.


Aku masih nggak percaya dengan cerita Bik Minah


''Ah. Mungkin salah dengar, kali.'' batinku.


Tapi, Bik Minah meyakinkan kalau suara lawan bicara Mas Arga itu, adalah laki-laki.


''Bik Minah salah dengar nggak?'' kataku sedikit nggak percaya pada ceritanya.


''Iya Buk. Bapak bicara mesra sama lelaki,'' kata Bik Minah mengadu padaku.


''Ih Bik Minah ini, jangan ngarang-ngarang ceritaku,'' celetukku masih nggak percaya.


Aku benar-benar penasaran dengan cerita Bik Minah, hingga akhirnya aku mencari cara, untuk mengecek ponsel Mas Arga lagi. Tapi, anehnya, ponsel Mas Arga nggak pakai password. Ya, layar ponselnya nggak dikunci sama Mas Arga. Ini artinya, memang nggak ada rahasia, dibalik ponselnya itu. (***)

__ADS_1


__ADS_2