
Lama, aku berpikir, bagaimana caranya menyudahi interaksiku dengan Bos Robert.
Mau menghindar, nggak mungkin. Apalagi, ruang Bos Robert, berhadap-hadapan dengan ruangan aku.
Blokir nomor Bos Robert? Rasanya itu nggak mungkin. Mau cari mati? Hahahahahah!
''Bayu, gimana ya menurut kamu, aku sudah terlalu jauh, berhubungan sama bos satu itu!''
''Maksudnya terlalu jauh?'' tanya Bayu, sedikit bingung.
''Eh tunggu. Sebelum melanjutkan pembicaraan, kita aman nggak disini. Nanti tiba-tiba dia datang, aku kena tonjok. Kan nggak lucu. Aku panggil teman wartawan aku, terus viral deh bos satu itu. Hahahahahahah!'' katanya sembari melepas tapi merasa was-was.
''Aman. Asal aku nggak bikin status di WA. Kalau aku buat status, ''Lagi di Kafe Noname.'' Berarti, tak lama lagi, dia bakal meluncur kesini, nonjok kamu dan menarik tanganku, kayak anak-anak aku disuruh pulang.'' sebutku penuh semangat bercerita.
''Wkwkwkwkwkwkw!'' tambah Bayu, melepas tawa untuk kesekian kalinya.
''Sumpah aku bingung, Yu. Karena aku berjalan di jalan yang salah, saat ini. Ini, kamu dan aku aja yang tahu ya. Jangan cerita sama orang lain. Kuanggap kamu sahabat terbaikku,'' sebutku padanya.
''Iya, aman, Winona.'' jawab Bayu.
''Janji.'' imbuhnya lagi.
''Aku tuh sebenarnya nggak mau kejebak dengan kondisi ini. Aku ingin menyelesaikannya sendiri. Tapi, kenapa dia datang dalam kehidupan aku yang kacau seperti sekarang ini?'' keluhku, dengan suara pelan, sambil mengurut dada, menghela nafas panjang.
''Hindari dia, nggak mungkin,'' celetuknya lagi.
''Iya gimana mau menghindari dia. Ruangannya aja berhadap-hadapan dengan pintu ruangan kerja aku. Apa minta pindah bagian?'' kataku minta pertimbangan sama Bayu.
''Ke sub bidang aku? Wah jangan Winona. Bisa-bisa aku kena bunuh dia!'' protes Bayu padaku.
Spontan aku pun melepas tawa karena saat mengatakan itu, wajah Bayu begitu lucu.
''Serius ini. Jangan cari masalah Winona. Bisa-bisa aku dibunuh dia di depan orang!'' jelasnya lagi seolah serius.
''Kamu tahu sendiri kan, waktu kemarin aku ketahuan makan bareng sama kamu, aku langsung dipanggil ke ruangan. Parah nggak. Besoknya aku dipindah ke bagian lain. Padahal aku nggak ngapa-ngapain juga kan sama kamu?!'' kenang Bayu, mengungkit-ungkit kembali, bagaimana kronologis dia dipindah ke bagian lain, sama Bos Robert.
Jujur, aku dengan kejadian itu, rasanya aku yang bersalah. Soalnya kemarin aku yang ajak dia makan. Padahal, cuma makan berdua. Makannya juga di tempat umum. Bukan di hotel berdua. Tapi, Bos Robert langsung marah, melihat Bayu dekat sama aku.
''Kamu, nggak dendam kan sama aku?'' tanyaku pada Bayu.
''Nggak. Winona. Aku teman kamu. Ngapain juga dendam. Manfaatnya untuk aku apa, kalau aku dendam sama kamu?'' katanya meyakinkan aku.
__ADS_1
''Makasih ya. Jujur aku nggak punya teman curhat selain sama kamu!'' kataku blak-blakan padanya.
''Hmmm.....'' sahut Bayu.
''Bingung aku, Yu. Tapi, aku akan coba, minta pindah bagian aja ya, ngajuin surat pindah ke gubernur!'' sebutku gamang.
''Good. Coba aja. Aku doain berhasil.'' kata Bayu serius.
''Serius nih bisa nggak ya, aku minta pindah bagian. Terus nanti aku alasannya pindah bagian apa ya?'' tanyaku lagi bingung.
''Nah, itu dia. Bilang aja, kamu butuh ......,'' sebut Bayu. Tapi, Bayu sendiri bingung dengan kalimat dia itu.
''Maksudmu, butuh apa nih?'' tanyaku ikutan bingung.
''Tunggu aku pikirkan nanti malam, cari alasan yang tepat. Karena, jujur aja Yu. Aku takut banget. Oke.....untuk saat ini aku masih di posisi aman. Orang rumah dia nggak tahu. Terus, sempat tahu, aku diviralkan. Apa nggak malu banget aku? Mentalku jatuh banget kalau sempat itu kejadian!'' sebutku sembari menghela nafas panjang.
''Iya sih, Wi. Aku juga bingung mau nolong, nggak bisa. Paling cuma kasih saran. Karena yang ngejalani semua, kamu. Serba dilema juga!'' kata Bayu, coba berdiplomasi di depan aku.
''Stttt....dia nelpon aku. Gimana nih. Angkat nggak ya?''
''Terserah kamu.'' jawab Bayu.
*Dreettt....
*Dreet.....
''Selama nggak aku angkat, dia bakal telepon terus. Pasti dia mau tanya posisi aku dimana. Padahal, ini kan jam makan siang. Bebas dong ya, aku mau kemana. Tapi, dia selalu mengawasi kemana aku pergi. Parah kan....dia. Dia itu lelaki posesif!'' sebutku blak-blakan sama Bayu.
''Hmmmm...kalau soal itu, aku nggak bisa ngomong. Karena aku bukan pelakunya.'' sebut Bayu.
''Urusan hati itu memang susah. Coba, di swalayan atau di mall ada jual remote kontrol hati. Hati dia bisa aku remot, jangan posesif ke aku.'' celetukku serius.
''Hahahahah. Kamu ini, bisa aja!''
*Dreettt....
*Dreetttt...
*Dreettt...
''Yu, lihat nih, bos kamu dulu.'' kataku sembari kutunjukkan ponselku, ada panggilan masuk dari Bos Robert.
__ADS_1
''Angkatlah. Aku ngilang dulu ya!'' kata Bayu bergurau.
''Emang kamu punya ilmu menghilang?'' celetukku lagi sembari mentertawakan dia.
''Udah ah, aku cabut dulu ya. Terima aja panggilan masuk dari bos. Nanti kena maki-maki sama dia, baru tahu!' kata Bayu memberi saran padaku.
Tak lama, kami berpisah. Bayu meninggalkan aku sendiri. Padahal, perbincangan belum selesai.
Terpaksa angkat ponsel.
''Maaf di jalan.'' sebutku saat mengawali percakapan dengan bos galak-galak tapi ganteng itu.
''Makan dimana?'' tanyanya.
''Makan di rumah. Ini mau balik ke kantor.'' kataku.
''Jangan bohong. Tadi aku nampak kamu, di kafe noname. Kamu makan di sana ya?'' tanyanya lagi to the point.
''Hm...susah aku mau bohong.'' gumamku dalam hati.
''Kenapa nggak mampir tadi?'' kataku padanya.
''Iya mau mampir, cuma nggak bawa dompet. Hahahahahahaha!'' jawabnya.
''Ah alasan. Kenapa sih kamu tahu aja aku berada di mana. Sebenarnya kamu sewa orang ya, buat mata-mata kemana aku pergi!'' tuding aku langsung.
Tak lama, dia muncul di hadapan aku. Bingung aku. Sebenarnya apa yang dia mau, sampai tahu kemana aku pergi. Ke lubang semut pun, aku pergi, kurasa dia pasti tahu. Hahahahah!
''Kamu tadi lama ya ngobrol sama Bayu. Kalian pacaran ya? Kamu main serong ya di belakang aku?!'' katanya langsung main tuduh aku.
''Kamu yang bener ngomongnya. Jangan fitnah. Kenapa nggak dari tadi, nguping apa yang aku bicarakan. Jadi, kan kamu nggak main tuduh aku!'' bentakku.
Ya Allah, malu banget aku. Pelayan kafe ini, pada ngeliat ke arah aku.
''Bang kamu bisa nggak sih. Nggak bikin onar di tempat umum. Kalau kamu mau bertengkar sama aku. Kita pulang aja!'' tegasku sambil menahan rasa maluku.
Tapi, seketika aku beranjak dari kafe itu. Aku bayar tagihannya. Lalu aku mempercepat langkahku, menuju mobil.
Kulihat, bos Robert mengikuti aku dari belakang. Lalu berhenti di pinggir jalan. Menghentikan mobilku, dengan cara dia berdiri di tengah jalan.
Seketika aku ngerem mendadak. Untung aja nggak ada kendaraan lain atau ada polisi. Kalau ada polisi, bisa panjang urusan aku, karena dituduh menabrak pejalan kaki. Memang parah banget. Dia lelaki posesif yang pernah aku temui.(***)
__ADS_1