
''Kamu bakal serius sama dia.'' ulangnya, untuk kedua kali.
''Maksudnya saya serius sama dia, gimana Pak. Bukannya dia serius sama saya. Selama ini dia yang kejar-kejar saya!'' kataku coba protes ke dukun itu.
''Itu perasaan kamu saja. Dia yang kejar-kejar kamu. Tapi, memang dia juga serius sama kamu. Tapi.....,'' dia diam tak melanjutkan kalimatnya.
Lama, aku menunggu kelanjutan kalimat dia.
Karena tak sabaran, aku langsung bertanya ke Pak Dukun berjenggot putih itu.
''Tapi, apa Pak?'' tanyaku harap-harap cemas akan jawaban dia.
''Tunggu....,'' kata dia, melanjutkan sambil ngelinting rokok cerutunya.
''Duh...itu rokok dia merk apa ya. Kok dia linting sendiri. Nggak sesuai nih rokok yang aku bawa sama Bayu.'' gumamku.
''Dia itu serius sama kamu. Tapi, dia juga royal sama semua perempuan-perempuan yang ada di sekitar dia!'' sebut dukun itu.
Nggak tahu kenapa, aku langsung cemburu. Sampai terpikir di otak aku, lebih baik aku mundur, daripada nanti aku kecewa.
''Dia baik kepada semua perempuan. Terus, banyak perempuan-perempuan itu juga yang mengejar dia.'' katanya, mengamati foto Bos Robert yang aku sodorkan di HP aku.
''Seriusan nggak sih, kata dukun ini?'' tanyaku pada diri sendiri, serasa nggak percaya.
Tapi, di kantor aku juga agak cemburu pada Kak Hana. Dia terlihat manja-manja dan suaranya dibuat-buat manja, kalau ngomong sama Bos Robert. Tapi, aku cuek saja, karena aku percaya Bos Robert nggak gampang ditakhlukkan perempuan.
''Kamu, salah satu diantara perempuan itu yang berharap cinta laki-laki ini.'' lanjutnya dan aku terhenyak mendengar pernyataan dukun itu.
''Sialan. Beneran nggak sih.'' gumamku lagi masih nggak percaya. Tapi, sedikit banyak, kuakui, memang aku berharap Bos Robert serius padaku. Tapi, itu mustahil, nggak sih!? Dia punya orang! Kalau aku, meski punya suami. Suami aku nggak peduli sama aku. Ya.....punya suami tapi ngerasa lajang! Seperti aku ini!
***
Malamnya, aku diajak ketemu sama Bos Robert. Pikir aku, ini kesempatan untuk memperjelas hubungan aku sama dia. Sebelum aku terlanjur melangkah terlalu jauh, dan aku bakal kecewa nantinya. Lebih baik aku akhiri saja.
''Posisi dimana. Bisa minta waktu nggak. Ada hal penting yang ingin aku sampaikan.'' kata Bos Robert.
''Biasa, di rumah. Oke....aku juga ada yang mau aku sampaikan. Penting!'' kataku. Ambil kunci mobil, dan aku on the way ke rumah makan yang dia maksudkan.
__ADS_1
Hanya dalam hitungan setengah jam, kami bertemu dia di area parkiran mobil, rumah makan yang Bos Robert maksud.
Belum juga masuk rumah makan, dia to the point menyampaikan protes ke aku.
''Pasti ini soal panggilan teleponnya sampai 20 kali yang nggak aku angkat,'' tebak aku.
''Kemana aja kamu, kemarin sampai 20 kali lebih aku telepon nggak angkat!'' katanya sambil menarik tanganku. Otomatis aku berhenti sebentar, untuk menunggu kalimat-kalimat dia berikutnya.
''Kamu kenapa belakangan ini menghindar!?'' tanyanya lagi dan aku masih diam.
''Sudah selesai ya ngomongnya?!'' tanyaku santai.
''Jawab dulu!'' desaknya.
''Aku sibuk ngurus rumah tangga aku!'' kataku seenaknya.
''Jawab yang bener. Jangan bohong. Kamu jalan sama siapa!?'' tanyanya lagi, yang dibarengi dengan emosi.
''Kamu jangan menuduh aku seenak jidat kamu ya!'' kataku membentaknya.
''Lepaskan tangan aku, baru aku jawab.'' kataku memaksa dia agar melepaskan tanganku, yang dia tarik kuat sekali.
''Aku lapar. Mau makan dulu.'' kataku berusaha ngeloyor ke dalam rumah makan padang itu.
Dia pun mengikuti langkah aku.
Kami ambil tempat duduk masing-masing, dengan posisi yang berhadap-hadapan.
''Kenapa sih kamu selalu buat aku gelisah. Kenapa nggak mau angkat telepon aku!?'' tanyanya masih melanjutkan perdebatan dari luar tadi.
''Kamu ini, kayak anak-anak ya. Menuduh aku seenaknya. Asal aku nggak angkat telepon kamu, kamu tuduh aku yang aneh-aneh. Jalan sama laki-laki lain. Kamu punya orang beriman kan? Tapi kenapa kamu tuduh orang seenak jidat kamu!'' kataku berusaha pelan, saat mengatakan itu padanya. Karena aku malu, kalau-kalau para pelayan rumah makan itu ikut nguping pembicaraan kami. Untungnya, mereka nggak ada yang perhatian sama aku dan Bos Robert yang lagi kelahi nggak jelas.
''Sudahlah, kenapa sih kita selalu seperti ini. Aku itu, sayang sama kamu. Aku ingin melindungi dan menjaga kamu!'' ungkap Bos Robert jujur.
''Melindungi? Menjaga aku? Caranya kayak begini ya. Kalau nggak angkat telepon, selalu menuduh aku yang macem-macem!'' kataku emosi. Tapi, aku masih bisa mengontrol suaraku, agar tak terlalu lepas begitu saja. Kalau aku nggak berusaha ngerem suara aku, pasti para pelayan rumah makan itu memperhatikan ke arah aku dan Bos Robert duduk.
Sejenak aku menghela nafas panjang.
__ADS_1
''Bismillah, aku harus bisa mengatakan putus. Cukup sampai disini.'' kataku dalam hati. Bersamaan dengan niat itu, hatiku deg-degan. Apa ya....yang bakal terjadi saat aku mengatakan hal itu pada Bos Robert.
''Aku mau semuanya cukup sampai disini.'' kataku.
''Maksud kamu apa. Kamu jangan macem-macem ya. Sudah aku tegaskan berapa kali, aku nggak mau melepaskan kamu, apapun yang terjadi. Ingat itu!'' kata Bos Robert.
Aku kembali terdiam dan menghela nafas panjang lagi, untuk yang kesekian kalinya.
''Aku tahu, banyak perempuan di luar sana yang berharap akan cinta kamu.'' kataku, mengutarakan alasan kenapa aku ingin putus dari dia.
''Kamu jangan sembarangan ngomong!'' katanya dengan penuh emosi. Tapi, dia juga pelan-pelan saat mengatakan itu.
''Jadi, aku lebih baik mundur.'' lanjutku, berusaha tegar mengatakan kalimat itu.
''Kamu dapat cerita dari mana! Jangan asal menuduh aku!'' pekiknya semakin emosi.
''Jawab. Kamu dapat cerita dari mana?'' ulangnya terus mendesak aku.
''Ini orang kepercayaan aku yang bilang. Kamu banyak penggemarnya.'' kataku menegaskan pernyataanku itu.
Dia langsung mengamuk. Mengatakan aku sudah memfitmah dia.
''Kamu jangan kurang ajar ya. Memang aku ini laki-laki murahan yang sana-sini punya banyak perempuan?'' tanyanya dengan membentakku.
Aku terdiam. Debaran jantungku semakin tak karuan, saat dia merebut ponselku, lalu mengecek percakapan-percakapan yang ada di dalamnya.
''Kamu ternyata ganjen ya di belakang aku. Kamu jalan sama Bayu. Minta anter ke dukun.'' katanya.
''Jadi, kata dukun itu, aku banyak penggemarnya dan kamu minta putus?'' bentaknya, dan aku malu, karena ada karyawan yang memperhatikan pertengkaran kami, meski posisi duduk aku dan dia ada di pojokan.
''Siapa dukunnya. Biar aku tonjok!'' katanya penasaran.
''Dukun cabul kali ya yang kamu datangi itu!''
Sekali lagi, aku masih terdiam, nggak menjawab sepatah katapun. Apa sebaiknya aku cabut saja ya dari rumah makan ini. Nanti, dia tambah emosi dan aku semakin malu dibuat dia.(bersambung)
''
__ADS_1