
Sudah jam 09.00 wib. Tak seperti biasanya Bos Robert telat datang ke kantor. Padahal, hari-hari dia selalu datang tepat waktu. Jam 08.00 wib sudah di ruangannya. Memimpin apel pagi bersama staf.
Mau chat dia, gengsi. Lebih baik diam saja. Tapi kenapa aku resah dan gelisah ya karena nggak ngeliat dia di kantor.
Ponselku bergetar. Dari Bos Robert. Buru-buru kuraih.
''Iya, perintah?" tanyaku santai. Tapi di balik itu aku lega, karena sudah tahu kabarnya.
"Bisa datang ke Jalan Merdeka sekarang nggak?''
"Dalam rangka apa?" tanyaku heran.
"Datang aja nanti aku jelaskan. Sekarang. Aku tunggu. Paling nggak setengah jam sudah sampai disini," perintahnya.
"Kasih tahu dulu. Nanti aku mau datang," kataku.
"Tolong sekali ini saja patuhi perintah aku. Kumohon." katanya memelas di ujung telepon.
Akhirnya aku beranjak pergi menuju ke tempat yang dia maksud.
"Udah sampai mana?" tanyanya, nggak sabaran.
"Tunggu. On the way. Nih," jawab aku dengan nada kesal.
"Kalau sudah di lokasi, telepon aku ya!"
"Iya....sibuk banget sih,"
Tak lama, aku pun tiba di lokasi yang dia maksud.
Kutelepon dia. Aku disuruh berjalan menuju ke jalan yang lurus.
"Dimana. Kamu," tanyaku lewat telepon genggam.
"Dimulai dari mobil kamu. Jalan aja lurus. Lurus aja sekitar 50 meter. Nanti menoleh ke kiri ya." perintahnya.
Aku pun menurutinya.
Sesuai perintahnya, aku pun berhenti di depan sebuah kantor.
"Kantor KUA?" gumamku heran sendiri.
Tiba-tiba dia muncul di belakang aku. Lalu menggandeng tanganku, menuntunku ke dalam kantor KUA.
Tapi aku menolak ajakan dia.
"Maksud apa kamu ajak aku kesini?" tanyaku heran.
__ADS_1
"Aku mau mengajak kamu nikah di kantor ini," sebutnya.
"Jangan gila!" kataku spontan di depan dia.
"Karena kamu berkali-kali meragukan cinta aku, sekarang saat kita resmikan saja," sebut Bos Robert serius.
"Jangan gila kamu. Aku belum cerai. Kamu juga belum jelas urusan kamu dengan istri kamu," protesku lagi.
"Aku sudah buktikan keseriusan aku sama kamu. Tapi untuk kesekian kalinya kamu tolak aku lagi. Kita sudah di depan KUA."
"Iya tapi kamu gila. Belum jelas semua urusan, kamu ajak aku kesini. Yang bener aja." bentakku.
"Ya udah mau kamu sekarang gimana? Aku ceraikan istri aku sekarang, dan kamu juga minta cerai dari suami kamu," desaknya.
"Aku butuh waktu," kataku.
"Ya sudah aku beri kamu waktu, terserah kamu kapan. Kalau sudah siap. Bilang ke aku ya. Kita pergi kesini lagi," katanya. Aku diam saja dan kami berpisah saat itu.
Di perjalanan, aku nggak habis pikir. Bisa bertemu laki-laki seperti itu. Dia suka nekad.
"Yu....ada kejadian gila hari ini," curhatku ke Bayu.
"Apa? Kamu dicium dia depan umum?" seloroh Bayu.
"Hahahaha. Bukan itu," kilahku.
"Dia ajak aku ke KUA. Tapi aku tolak," kataku lagi.
"Iya gila kan mantan bos kamu itu. Suka nekad nggak jelas," imbuhku.
"Kenapa kamu tolak?" tanya Bayu ingin tahu.
"Ya kan aku masih sah istrinya Arga. Nggak mungkin dong aku nikah sama laki-laki lain,"
"Hmmm.....padahal tiga belas tahun kamu nggak diperlakukan sebagaimana mestinya seorang istri. Hebat kamu ya bertahan selama itu," kata Bayu.
"Semua demi anak-anak aku,"
"Tapi aku pasti akan minta cerai. Karena udah nggak bisa dipertahankan lagi rumah tangga aku ini."
"Semoga ada penyelesaiannya ya atas masalah kamu ini," kata Bayu memberi semangat ke aku.
"Mi....malam ini aku mau bicarakan masalah aku ini sama istri. Aku bilang saja ke dia aku mau nikah dengan perempuan yang aku sayangi selama ini," kata Bos Robert padaku saat aku tiba di kantor. Tapi dia chat aku dengan semangatnya.
"Berani kamu lakuin itu?" tanyaku dengan ragu.
"Iya nanti malam aku akan usahakan bicara sama dia." katanya meyakinkan aku.
__ADS_1
Tapi, kenapa aku yang deg-degan ya dia bicara soal rencana itu ke istrinya.
Ya Allah gimana ya perasaan istrinya nanti.
"Kalau dia nggak terima?"
"Kan aku sudah bilang kalau dia mau atau nggak mau aku ceraikan. Aku tetap menikah sama perempuan kesayangan aku," tegasnya.
"Ya Allah.....dia nekad." gumamku.
Jujur, selama ini aku memang prioritasnya. Sesibuk apa pun dia dengan keluarganya aku selalu jadi yang utama. Sepertinya dia cinta mati sama aku.
Paginya, di kantor dia sudah laporan ke aku. Katanya istrinya nggak mau dicerai atau nggak mau dipoligami.
"Sudah aku duga."
"Berarti kamu nggak jadi menikahi aku. Sudah jelas endingnya." kilahku.
"Mi....kita makan siang dimana. Kita bicarakan ini." pinta Bos Robert.
"Tugas kantor aku masih banyak. Nggak ada waktu buat makan siang," tolakku langsung.
"Jangan begitu Mi. Nanti kamu sakit, aku sedih. Nggak bisa lihat kamu. Pasti nggak masuk kantor kalau sakit," keluhnya.
"Sudahlah. Nggak penting. Mau sakit atau nggak itu bukan urusan kamu," kataku dengan nada ketus.
"Ya sudah aku ke ruangan kamu sekarang. Kita makan di luar bareng," ajaknya masih bersikukuh padaku.
"Dasar di nekad bin gila," makiku dalam hati.
Tak lama, dia muncul di hadapan aku. Semua staf dan pegawai di ruangan itu hanya diam melihat tingkah aneh Bos Robert ke aku. Tapi, mereka sudah tahu, kalau aku dan Bos Robert memang ada hubungan spesial.
Syukurnya, mereka tak ada yang berani komentar. Soalnya, kalau mereka sampai berani komentar, pasti bakal dipindahin ke bidang lain. Hmmmm.....Bos Robert punya kuasa.
Beberapa staf dan karyawan juga sedikit segan ke aku, karena mereka takut aku adukan ke Bos Robert kalau nggak bener.
Padahal, sepanjang sejarah aku jadi staf di kantor itu, aku nggak pernah mengadukan staf atau pegawai yang ada di kantor itu, ke Bos Robert.
Aku bukan tipe orang yang pengadu. Bagi aku, jangan urus urusan pribadiku, maka aku nggak peduli apa pun yang mereka lakukan.
Di rumah makan, aku lagi-lagi berdebat soal rencana Bos Robert menikahi aku. Sudah aku tegaskan berkali-kali kalau aku minta waktu dan dia harus memikirkan segala resikonya, kalau mau menceraikan istrinya.
"Mi. Aku serius. Mau menikahi kamu," tegasnya di depan aku.
Aku pun percaya atas apa yang dia katakan. Dulu aku kira bercanda atas rencana dia menikah dengan aku. Tapi, belakangan dia benar-benar membuktikan omongannya.
"Kalau bisa bicarakan baik-baik sama istri kamu. Kalau memang dia nggak mau menerima aku apa adanya. Aku bisa apa?" kataku lirih dan seketika air mataku meleleh di pipi.
__ADS_1
Dia mengusap lembut air mataku yang meleleh di pipi. Seraya berbisik kalau apa pun yang terjadi dia akan membuktikan kata-katanya itu, untuk memperistri aku.
"Jangan nangis Mi. Aku sedih melihat Mami nangis begini. Aku janji akan menikahi kamu," pungkasnya.(bersambung)