
Suasana siang ini, panas banget. Rasanya, pengen minum es teh terus. Aku sengaja mempercepat pekerjaanku. Begitu jam kantor berakhir, aku mau buru-buru pulang ke rumah.
Sebisa mungkin, di jam terakhir kantor, aku menghindar dari Bos Robert. Soalnya kalau ketemu sama Bos Robert, bakal panjang urusannya. Hahahaha!
''Selamat,'' gumamku ketika sudah berhasil keluar dari area parkir perkantoran.
***
''Mas, seminggu lagi, Fira ulang tahun.'' kataku pada Mas Arga. Kulihat, dia tak bergeming meski melihat aku sudah sampai di rumah. Dia fokus dengan ponsel di tangannya.
''Mas....dengerin aku dong.'' kataku, memanggil dia lagi.
''Hmmm!'' sahutnya.
''Fira mau dirayain ultahnya!'' kataku setengah kesal karena aku ngomong dari tadi tak direspon.
Mas Arga masih diam.
''Mas! Kamu kenapa sih, nggak pernah menghargai aku. Ngomong pun kamu nggak mau meresponnya.'' protesku dan tak terasa air mataku menetes di pipi.
''Iya. Kan seminggu lagi. Masih lama, kan?'' tanya dia masih berlagak cuek. Dia masih saja fokus dengan ponselnya.
Aku yang tadinya duduk di depan dia, langsung beranjak pergi dari hadapan dia.
''Ya Allah, kenapa dengan keluarga kecil aku sekarang ini. Dia begitu nggak pedulinya sama aku.'' pekikku dalam hati, dengan dibarengi rasa emosi.
Aku harus bagaimana lagi?
***
#Kesel. Nggak Pernah Dihargai.
Kutulis status itu di pesan instastoriku.
Tak sampai sedetik, Bos Robert langsung meresponnya. Dia langsung meneleponku. Tapi, aku sengaja nggak mau angkat. Nanti, kalau aku terima teleponnya, pasti panjang urusan aku.
Aku benar-benar kesal. Kuputuskan saja pergi, siang itu. Mau ke kantor, malas. Mending aku cari tempat makan enak.
Kutelepon, Fitri.
''Fit, dimana. Makan yuk,'' ajakku lewat chat.
''Aku di kantor Kak.'' jawab Fitri.
''Ya udah, aku jemput ya. Tapi, kamu jalan dikit ke depan ya. Aku nggak bisa jemput kamu di area kantor. Nanti ketahuan sama bos kamu itu, bisa bahaya.'' kataku serius.
''Oke Kak,'' jawabnya.
__ADS_1
Tak lama, aku sampai di lokasi. Kira-kira 4 meteran agak jauh dari lokasi kantor.
''Sori ya Fit, kamu jalan jauh banget. Nanti kalau tahu bos, bisa panjang aku kena marah.'' sebutku.
''Nggak apa, Kak. Santai aja!'' jawab Fitri.
Tiba-tiba Fitri cerita.
''Aku tadi disuruh telepon ke nomor kakak. Tapi aku bohong, kubilang kakak nggak mau angkat telepon aku.''
''Hahahahaha. Masa iya.'' tanyaku, merespon cerita Fitri.
''Terus....kata bos kamu itu apa?'' tanyaku lagi penasaran, ingin tahu.
''Dia marah Kak!''
''Marah gimana, kok aneh. Aku kan hari ini masuk. Karena jam istirahat masih satu jam lagi. Apa salahnya aku nggak ke kantor.'' sebutku, membela diri.
''Nggak tahu Kak.'' jawabnya.
''Hahahahahaha. Pasti, nanti aku masuk kantor, bakal kena marah sepanjang jalan kenangan.'' ulangku.
''Tapi, biarin aja. Mau marah atau gimana. Kakak ni, lagi malas aja, bawaan mau ke kantor. Tugas tadi banyak banget. Pusing rasanya,'' keluhku.
''Jadi, yang penting, sekarang kita makan soto aja yuk,'' ajakku. Fitri pun oke saja. Karena, dia bukan tipe orang yang suka pilih-pilih makanan. Semua makanan apa saja, dia suka.
''Kak, gantian ya nanti aku yang traktir,'' kata Fitri.
''Hahaahahaha, iya deh!''
Sampai di warung soto, tak lama. Orderannya datang, kami seperti balapan, makan cepat-cepat.
Setelah selesai, aku buru-buru mengajak Fitri hengkang dari warung itu.
''Yuk Fit, kita cepet-cepet balik ke kantor. Bos kamu yang galak itu, sudah telepon kakak, bolak-balik. Tapi, kakak sengaja nggak angkat,'' sebutku. Mendengar itu, Fitri pun menurut saja, aku ajak balik ke kantor.
***
Aku dan Fitri, berusaha pelan-pelan buka pintu ruangan kerja. Takut kedengaran sama bos Robert. Baru di depan pintu, bos itu datang.
''Kalian dari mana?'' tanyanya.
''Makan siang, Pak. Biasa.'' jawab Fitri. Tapi aku diam saja.
''Hahahahahah. Sial!'' gumamku.
''Tolong semua berkas yang harus saya tanda tangani, antar ke ruangan saya, ya Winona!'' perintahnya.
__ADS_1
''Iya Pak,'' kataku sambil menganggukkan kepala.
Kami berpisah. Masuk ke ruangan masing-masing.
''Sebagai kepala dinas, dia bisa nggak ya, sehari saja nggak marah-marah sama kita. Coba, kek bersahabat sama anak buah. Ini, nggak. Anak buah telat masuk kantor, langsung pasang wajah kayak singa. Wkwkwkwkwkwk!'' kataku tapi nggak terlalu kuat tertawanya.
''Sttt....hati-hati kak, nanti bos kakak itu dengar. Mati kita kena hukum!'' sebut Fitri yang ikutan cengar-cengir saat aku ngomong tentang Bos Robert.
''Hmmm....emang anak sekolah, kena hukum!'' jawabku membantah pernyataan Fitri.
''Fit, aku minta saran nih. Kalau ultah Fira nanti, ada ide nggak dirayain dimana? Dia minta dirayain di KFC, undang teman-temannya. Apa nggak bangkrut aku. KFC kan mahal!'' keluhku.
''Rayain tapi sederhana aja kak, beli jajanan anak-anak, terus kasih balon di ruangannya. Kan meriah!'' ungkap Fitri.
''Ih ribet. Aku mau dirayakan di luar aja, Fit. Di kafe, bagus nggak ya Fit?''
''Hmmm ide bagus.'' kata Fitri.
''Ya udah di kafe noname aja gimana?! Aku ada kawan kenal. Dulu, ponakan juga ngerayainnya di sana!'' sebut Fitri, dengan antusiasnya.
''Wah....boleh. Berapa kalau paket ultah anak-anak untuk tamu undangan paling nggak sekitar 50 anak.'' tanyaku serius.
Fitri langsung serius menjelaskan secara detail soal paket perayaan ultah itu.
''Nih Kak, aku forward ke kakak. Karena minggu kemarin, ponakan aku sempat ngerayakan di sana.'' kata Fitri sembari memforward rincian biaya paket perayaan ultah, ke ponsel aku.
''Tuh kak, aku forward juga tempatnya. Biar kakak tahu. Tempatnya keren kak.''
''Kemarin, ponakan ultah juga ngundang teman-temannya, ada sekitar lima puluhan,'' masih cerita Fitri penuh semangat.
Aku langsung to the point minta bantu sama Fitri. Fitri langsung semangat.
''Fit, satu lagi nih. Menurut kamu, bos Robert diundang nggak ya?'' tanyaku minta saran ke Fitri.
''Nggak usah aja kak. Kan itu ultah anak-anak. Kecuali Bos Robert punya anak kecil, undang aja dia. Kalau nggak punya, ya nggak usah aja kak!'' jawab Fitri panjang lebar.
''Hmmm. Iya sih. Tapi, nanti dia tahu, terus nggak kita undang, dia marah nggak ya?'' tanyaku ragu.
''Kalau begitu, suruh kasih kadonya aja Kak, buat Fira!'' katanya memberi ide.
''Hahahahah. Ide kamu emang keren. Fit.'' celetukku.
''Fit, nanti, pulang kantor, temani aku ya, cari kartu undangan untuk anak-anak.''
''Oke Kak. Biasa di Toko Buku, keren-keren kak.'' sebut Fitri memberi info.
''Oke, yuk. Nanti kita makan bakso, ya pulang dari cari kartu undangan.'' kataku lagi.
__ADS_1
''Ih, kakak ini. Makan melulu. Nanti gendut. Terus kena marah sama bos Robert, kalau stafnya kegendutan,'' seloroh Fitri.
''Hahahahaha. Emang dia siapa, marah-marah sama staf yang gendut.'' jawabku dan Fitri, gantian terkekeh.(***)