Maaf Suamimu Aku Pinjam

Maaf Suamimu Aku Pinjam
Tiga Tahun


__ADS_3

Tak terasa, sudah tiga tahun aku menjalin hubungan dengan Bos Robert. Selama tiga tahun itu, suka duka aku jalani bersama dia. Tapi, bagi aku, aku lebih banyak merasakan duka saat bersama dia. Kebebasan aku dirampas. Berteman sama laki-laki manapun, dilarang.


Ada chat aneh-aneh yang sedikit berbau-bau chat dengan laki-laki, aku langsung diintrogasi. Tak lama, tanpa basa-basi, ponsel aku langsung dibanting. Tak hanya sekedar ponsel aku yang dia hancurkan. Kaca mobil juga pernah jadi sasaran kemarahannya. Mau baku hantam, juga sering. Bingung aku, kalau sudah seperti itu. Bertahan sulit, melepaskan juga tambah sulit.


Di otak aku, hanya ada dia, yang selalu mengisi hari-hariku. Kalau lagi berjauhan, rindu. Kalau berdekatan, suka baku hantam. Mesranya, cuma semenit. Lagi-lagi aku ceritakan kisahku itu berulang kali sama Bayu. Teman dekat yang pernah satu kantor sama aku. Bayu pun pernah jadi sasaran kemarahannya. Sampai-sampai, dia dipindahkan ke kantor lain, dengan alasan, mutasi itu sebagai bentuk penyegaran, di sebuah dinas/ instansi atau perkantoran.


''Bayu, boleh minta waktu nggak. Aku mau ngomong sama kamu. Penting.'' kataku memohon pada Bayu.


Tanpa berpikir panjang, Bayu menyetujui apa yang menjadi permintaan aku.


''Sekarang aku tunggu, kalau mau. Aku share lokasi ya, dimana posisi aku saat ini.''


Bayu mengirim balasan chat aku.


''Soal bos ganteng-ganteng tapi galak itu ya?'' tebak Bayu, to the point. Aku pun membenarkan apa yang dia katakan.


Aku membalas pernyataan Bayu itu dengan emoticon orang menangis.


''Kenapa nangis?'' tanyanya lagi, masih lewat chat whatsapp.


''Panjang cerita aku.'' kataku.


''Iya tahu aku. Tiga tahun kan....bukan waktu sebentar, menjalin hubungan tanpa status selama tiga tahun itu, melelahkan.'' kata Bayu yang membubuhkan emoticon orang sedih.


''Kok kamu tahu, tiga tahun?'' tanyaku heran.


''Udah....sini aku tunggu. Cepat. Aku lagi sendiri juga nggak punya teman, lagi ngopi di kafe Cozy.'' ungkap Bayu. Tak lama, Bayu pun memberitahu posisi dia, lewat share lokasi.


Dalam hitungan setengah jam, aku sudah sampai di kafe rahasia itu. Kafe di tengah hutan yang jarang dikunjungi banyak orang. Hany orang-orang tertentu yang butuh privasi, berkunjung kesana.


Melihat kedatangan aku, Bayu melambaikan tangannya dari jauh.


Suasana Kafe Cozy ini memang menyenangkan. Kafe di tengah hutan. Kalau malam, pemandangannya asik banget. Dihiasi dengan lampu temaram, ditambah lagi dengan biduan muda yang cantik dan molek, kerap menghibur para pengunjung.


Kupercepat langkahku menuju meja nomor 34, dimana Bayu duduk sendirian, ditemani secangkir kopi dan lilin aromatherapy di mejanya.


''Uhui...so sweet....ya kalau malam, suasana kafe ini.'' celetukku sembari mengatur nafas yang sedikit terengah-engah karena lokasi parkir dan kafe, cukup jauh.


''Santai saja, harusnya,'' kata Bayu, tiba-tiba.


''Maksudnya?'' tanyaku kurang paham.


''Iya...hubungan kamu dengan Bos Robert. Jangan dibawa ke hati. Jalani aja, santai....santai......Nona Winona.....!'' katanya memberi saran ke aku.


''Pengennya seperti itu. Tapi, gimana caranya kalau nggak dibawa ke hati. Sumpah aku pengen mengakhiri semuanya. Tapi, dia nggak mau melepas aku begitu saja.'' jelasku.

__ADS_1


''Sekarang tergantung kamu. Mau melepas dia nggak?'' tanya Bayu balik.


''Jujur aku bingung. Melepas atau bertahan, sama-sama sulit aku lakukan. Katanya dia mau menikahi aku.'' jelasku lagi.


''Terus orang rumahnya dikemanakan?''


''Kata dia. Ini menurut pengakuan Bos Robert. Kalau istrinya nggak mau dicerai, Bos Robert yang akan pergi. Jadi, mau atau nggak mau, istrinya harus terima apa yang diinginkan Bos Robert.''


''Jadi, kamu mau dipoligami?'' tanyanya lagi penasaran menunggu jawaban aku.


''Entahlah,'' jawabku pasrah.


''Harus kamu pikir baik-baik. Bagaimana pun, kalau jadi yang kedua, harus rela ditinggalin, suatu saat nanti.'' jelas Bayu.


''Nggak....kok. Dia nggak akan meninggalkan aku. Bahkan......dia bilang sudah nggak nafsu sama istrinya.'' kataku setengah berbisik.


Bayu malah terkekeh mendengar perkataan aku.


''Serius?'' tanya Bayu.


''Tapi, aku nggak heran. Semua laki-laki kalau sama perempuan pujaannya, pasti bilangnya seperti itu.'' kilah Bayu.


''Nggak. Aku lihat dia sepertinya jujur mengatakan itu.'' kataku memberi pembelaan buat Bos Robert.


''Cie.....cie....dibelain........,'' celetuk Bayu.


''Tapi, bener. Aku merasakan sendiri. Sesibuk apapun dia dengan keluarganya. Aku selalu menjadi prioritasnya.'' imbuhku.


''Hmmm....lugu banget sih nona satu ini. Semua itu, karena Bos Robert belum memiliki kamu seutuhnya. Kalau kamu sudah jadi miliknya. Dunia akan terbalik. Makanya jangan terlalu percaya sama laki-laki beristri.'' kata Bayu memperingatkan aku.


Gantian aku yang terkekeh, mendengar penjelasan dia. Entah kenapa, terlepas dari benar atau tidak kata-kata Bayu, aku memang mencintai Bos Robert.


''Wi.....aku mau tanya nih.'' kata Bayu, setelah sejenak terdiam.


''Aku heran. Katamu Bos Robert itu posesif. Kebebasan kamu dirampas. Tapi....kenapa kamu masih bertahan? Apa yang buat kamu lebih memilih bertahan, ketimbang melepaskan?'' kata Bayu mengintrogasi aku, layaknya seperti polisi yang mengintrogasi maling.


''Susah aku mau jelasin.''


''Tapi, yang pasti, dia memberiku sebuah kenyamanan.''


''Apa sih kenyamanan itu?'' tanya Bayu heran.


''Itu namanya politik cinta.'' sebut Bayu berdiplomasi di depan aku.


''Udah kayak penyair aja kamu ini,'' protesku, menyanggah pernyataannya tadi.

__ADS_1


''Kamu pikir lagi, semuanya. Nggak gampang menjalani hubungan dengan milik orang.'' ungkap Bayu lagi menasehati aku.


''Aku nggak mau bela kamu atau bela Bos Robert. Bagiku, yang terpenting kamu yang menjalaninya sanggup nggak, dengan segala konsekwensinya.'' imbuh Bayu.


Sepertinya kata Bayu benar.


''Terus, sekarang......setelah kamu melangkahkan kaki keluar dari kafe ini, apa rencana kamu dengan Bos Robert?''


''Bingung. Aku mau ngomong sekali lagi sama suami aku. Aku mau cerai. Karena, hubungan aku dengan suamiku selama ini juga sudah nggak wajar. Hidup serumah, tapi nggak ada cinta.'' jelasku mulai blak-blakan sama Bayu.


''Suami kamu juga selingkuh dengan perempuan lain?'' tanyanya.


''Nggak. Ada yang lebih fatal dari itu, kesalahan dia.'' sebutku.


''Lebih fatal dari selingkuh? Apa memangnya?'' tanya Bayu semakin penasaran.


''Kalau aku cerita, kamu pasti nggak bakal percaya dengan cerita aku.''


''Apa.....?'' desaknya.


''Nggak usah sekarang ceritanya. Ini sudah jam berapa?'' kataku sembari melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kanan aku.


''Sekarang aja, cerita dong sama aku.'' kata Bayu lagi, terus mendesakku.


''Masih jam 20.00 wib.'' sebut Bayu.


''Iya, aku pergi dari pagi, sampai jam segini belum balik ke rumah. Pasti anak aku mencariku. Ini aja dia telepon-telepon. Aku nggak angkat.


''Bos Robert juga pasti khawatir nyariin kamu.'' imbuh Bayu lagi mengejekku.


''Hahahahahah!'' kataku tertawa lepas.


''Ya sudah, besok aku tunggu disini lagi ya, jam makan siang.'' sebutnya menyudahi perbincangannya dengan aku.


*Dreett.....


*Dreettt.....


''Ini lihat, baru aja kamu ngomongin Bos Robert. Sekarang dia telepon-telepon aku lewat video call. Pastri dia mau tahu dimana keberadaan aku.''


''Angkat....kalau mau. Aku pergi saja. Besok kita lanjut.'' ujar Bayu. Tapi, aku menolaknya, karena aku memang lagi perang dingin sama bos galak itu.


''Jangan begitulah. Kasian dia, rindu berat sama perempuan idamannnya.'' seloroh Bayu dan membuat aku sedikit tersipu malu.


''Biar dia tahu rasa, bagaimana kalau aku benar-benar ingin melepaskan diri dari dia. Bisa nggak dia hidup tanpa aku.'' kilahku.

__ADS_1


''Nggak bisa. Dia nggak bisa hidup tanpa kamu. Hahahahah.'' celetuk Bayu.


''Tahu kan.....ikan yang kena jaring nelayan. Dia langsung mati.'' imbuh Bayu berseloroh.(bersambung)


__ADS_2