Maaf Suamimu Aku Pinjam

Maaf Suamimu Aku Pinjam
Putus


__ADS_3

Setelah bertengkar hebat di kafe itu, aku memutuskan untuk mengakhiri semua. Karena, kupikir, kalau tetap dilanjutkan, hubungan ini nggak sehat.


Selalu saja terjadi pertengkaran yang pemicunya cuma sepele. Bayangkan saja, dia langsung menuduhku selingkuh dengan Bayu. Dia tak memberiku kesempatan untuk menjelaskan meski hanya semenit.


''Mi.....kamu kenapa khianati aku?'' katanya lewat chat. Aku sengaja membacanya saja, tanpa aku balas.


''Mi....kita ketemuan. Nggak bisa aku diperlakukan kayak begini sama kamu.''


Entah dia chat apa saja, aku sengaja nggak membalasnya. Hanya kubaca.


Dia datang ke ruangan aku. Di sana, ada staf dan pegawai lainnya.


''Mi....apa maksud kamu, cuma baca chat aku, tapi nggak kamu balas.'' katanya lagi.


''Ya Allah....malu aku sama Fitri dan yang lainnya.'' gumamku.


Kukemasi barang-barang yang ada di meja kerja, langsung aku tinggalkan dia cepat-cepat. Aku takut terjadi sesuatu hal yang membuat aku semakin malu di hadapan banyak orang-orang kantor.


Memang, semua orang kantor sudah tahu kalau aku dan Bos Robert menjalin hubungan. Awalnya aku rahasiakan. Tapi, seiring berjalannya waktu, mereka mengetahuinya sendiri.


''Mi....tunggu!'' katanya sembari mengejar aku dari belakang. Aku pun semakin mempercepat langkahku, untuk menjauhi dia.


''Mi....tunggu. Beri aku kesempatan ngomong!'' katanya memelas.


Aku langsung masuk ke mobil. Tancap gas, meninggalkan kantor.


Ternyata dia mengejarku dengan motor. Mobil ku dipepet dia.


Brakkkkk!


Kulihat dia terjatuh setelah menyenggol mobil aku. Mau nggak mau, aku pun langsung berhenti.


''Gila kamu. Kamu mau mati ya!'' kataku dan coba memapahnya ke pinggir jalan. Bebera orang menolong meminggirkan motornya.


Ya dia lecet tangannya berdarah-darah. Melihat itu, aku jadi panik sendiri. Cepat-cepat dia aku papah naik ke mobil. Kubawa dia ke RSUD ke bagian UGD.


Dengan paniknya aku langsung meminta pada perawat UGD untuk segera menolongnya.


''Kenapa Bu, Bapak ini?'' tanya perawat.


''Dia sok mau jadi superman,'' celetukku.


Perawat itu pun buru-buru membalut lukanya.


Setelah selesai, dia aku antar pulang ke rumahnya. Kuminta dia istirahat saja di rumah.


''Urusan kita belum selesai ya sayang.'' katanya saat kuturunkan dia di depan rumahnya.


Sebenarnya aku khawatir kalau-kalau istrinya melihatku, saat kuturunkan dia di depan rumah. Untung sepi.

__ADS_1


Paginya, Bos Robert minta jemput aku. Katanya mobil di kantor. Jadi dia nggak bisa gerak sendiri.


''Tolong jemput aku ya sayang.'' katanya lewat chat.


Jadi, sebelum ke kantor, terpaksa aku mampir ke rumahnya.


Jantungku deg-degan. Nanti kalau istrinya tahu gimana ya?


Tapi, nggak apa. Cuek saja. Aku pun mendatangi rumahnya.


Masih dengan tangan terbalut, dia pergi ke kantor.


Kami masih nggak mau ngomong dan lebih baik memilih diam saja.


''Sayang....kamu jangan menduakan aku. Aku nggak bisa kamu perlakukan seperti itu!'' kata dia, memulai percakapan.


''Tega kamu kayak begitu sama aku. Aku kurang apa sama kamu?'' kata dia terus nyerocos.


''Gimana udah ngomongnya?'' tanyaku serius.


''Jujur, aku mau putus!''


''Nggak bisa!'' bentaknya.


''Harus bisa!'' kataku.


''Alasannya apa, sayang. Aku nggak mau kamu tinggalin. Nggak ada perempuan lain selain kamu yang selalu bertahta di hati aku. Istri aku aja, aku nomorduakan,'' katanya.


''Itu urusan kamu. Tapi yang pasti semuanya akan berakhir sampai disini. Jangan pernah lagi mengusik hidup aku.'' tegasku.


Sampai di kantor, aku kembali fokus sama pekerjaanku. Lagi-lagi kudengar Bos Robert marah sama Fitri. Katanya pekerjaan dia nggak beres. Tapi kerjanya main ponsel.


''Fit...ini tugas kamu kenapa berantakan. Aku perhatikan, kamu main ponsel terus di saat jam kerja.'' kudengar kalimat itu dari dalam ruangan Bos Robert.


Sudah menjadi kebiasaan dia, kalau lagi marah-marah sama aku, pasti ada saja sasaran kemarahan staf di kantornya.


''Kepala Dinas nggak profesional.'' pekikku dalam hati.


Keluar dari ruangan Bos Robert, kulihat Fitri menangis. Ya Allah, ini pasti gara-gara aku.


Kudekati Fitri.


''Sabar ya Fit.'' kataku berusaha menenangkan dia.


''Perasaan aku tugas-tugas yang aku kerjakan semua sudah sesuai aturan kak,'' keluhnya dan sesekali mengusap air matanya.


''Iya Fit. Mungkin bos itu lagi ada masalah, jadinya kita yang kena sasaran pelampiasannya.''


Tak lama, Bos Robert mendatangi ruangan aku. Dia minta aku ke ruangannya.

__ADS_1


Karena tak ingin berdebat, aku pun ke ruangan dia.


''Kita bicara baik-baik Mi. Jangan pergi dari aku!'' katanya.


''Apalagi. Semua udah jelas. Semua sudah berakhir. Cincinnya sudah aku balikin. Apa lagi yang kurang?'' kataku, dengan air mata yang meleleh di pipi.


Dia mendekati aku. Lalu memelukku erat. Meraih tanganku, dan menyematkan cincin itu lagi di jari manisku.


Tapi, buru-buru aku lepas lagi.


''Mi....jangan seperti ini Mi. Aku nggak bisa kalau kamu tinggalin.''


''Jujur aku nggak bisa melanjutkan hubungan yang nggak sehat ini. Istri kamu ada. Anak kamu juga ada. Mereka lebih butuh perhatian. Kembalilah ke mereka.'' kataku dengan berderai air mata.


''Nggak bisa Mi.'' katanya merengek seperti bocah kecil.


''Aku juga nggak bisa sama kamu terus.'' balasku.


''Kamu sudah merenggut kebebasan aku. Aku nggak boleh bergaul sama laki-laki mana pun. Padahal aku juga nggak semudah itu jadi perempuan. Kamu kira aku ini perempuan gampangan. Setelah sama kamu, aku main serong juga dengan laki-laki lain? Pikir dengan otak kamu baik-baik!'' jelas panjang lebar.


''Mi....terima cincin ini Mi. Hargai pemberian aku. Aku ingin kamu jadi milikku suatu hari nanti.'' katanya sambil menyematkan cincin itu lagi.


''Sekali lagi kamu ajak aku bertengkar, aku buang cincin ini di depan kamu. Aku nggak akan meletakkannya baik-baik di meja, seperti kali ini. ''


''Terimakasih Mi. Kamu mau menerimanya lagi.'' ucapnya.


Lalu aku pun beranjak pergi dari ruangan dia.


Jam istirahat makan siang, aku buru-buru kabur. Janjian sama Bayu lagi di kafe yang lain. Karena, kafe tempat biasa aku bertemu dengan Bayu, sudah terendus sama Bos Robert.


''Bayu. Tunggu aku di Kafe Gia. Karena itu kafe satu-satunya yang belum pernah diketahui Bos Robert.


''Mau ngomong apa. Ngomong lewat chat aja. Nanti ketahuan, bisa kena bogem mentah, aku.'' katanya menolak aku ajak bertemu.


''Nggak ada mau ngomong apa-apa. Cuma mau makan siang aja.'' kataku beralasan.


''Baiklah. Tapi, aman kan?'' tanyanya minta kepastian.


''Iya....aman.'' tegasku.


Di Kafe Gia, Bayu datang duluan.


Kupercepat langkahku menuju meja paling belakang.


''Kamu masih juga nggak jera ya ketemuan sama aku. Nanti kamu berantem lagi sama ayang beib kamu itu.'' selorohnya.


Aku diam saja.


Saat pelayan datang, aku hanya order minuman juice alpokat. Sedangkan Bayu juga order yang sama dengan orderan aku. (bersambung)

__ADS_1


__ADS_2