Maaf Suamimu Aku Pinjam

Maaf Suamimu Aku Pinjam
Makan Bertiga


__ADS_3

Di sepanjang jalan, Fira tak henti-hentinya ngobrol tentang banyak hal, sama Bos Robert.


Andai saja Bos Robert memang benar-benar menjadi ayah Fira, pasti anak gadisku itu bahagia.


Perlakuan Bos Robert kepada Fira, sering buat aku bahagia. Tapi, aku selalu saja merasa bersalah, karena apa yang Fira terima, semua adalah kebahagiaan yang semu.


Ya......, aku dan Fira, tak punya ikatan resmi dengan Bos Robert. Dia punya keluarga sendiri. Kupastikan, dalam hati kecil Bos Robert, keluarga dialah yang menjadi prioritas utamanya. Sedangkan aku dan Fira, hanya sekedar selingan.


''Kita maem KFC aja yuk,'' ajaknya ke Fira.


Spontan, Fira langsung kegirangan.


''Ya Allah, kasian kamu ya, Nak. Kegembiraan kamu itu cuma kegembiraan semu.'' gumamku, untuk kesekian kalinya, membatin sedih.


''Ayah baik, Fira mau es krim sama ayamnya.'' kata Fira pada Bos Robert, dengan manjanya.


''Iya....tunggu ayah pesan dulu ya, ke pelayannya.'' ucap Bos Robert, yang menurunkan Fira. Karena, Fira selalu mAanja minta gendong, padahal sudah 5 tahun usianya.


''Es krim 3. Paket combonya untuk tiga orang.'' sebut Bos Robert, tanpa melihat daftar menu makanannya.


''Langsung saja ya Mi, es krim 3 sama paket combo makannya 3 ya.'' kata Bos Robert memberitahuku, setelah membayar pesanannya di kasir.


''Ada tambahan lagi Pak?'' tanya bagian kasir.


''Sudah Mbak, itu saja.'' jawab Bos Robert.


''Oke. Ditunggu. Nanti kita antar.'' kata perempuan muda itu dengan ramahnya.


''Ayah, Fira mau dua es krimnya.'' tiba-tiba Fira merengek pada Bos Robert.


Aku langsung memprotesnya.


Mataku sedikit melotot ke dia.


''Fira. Nggak boleh begitu. Semua es krimnya satu satu. Kenapa kamu harus dua. Nggak boleh rakus,'' kataku serius padanya.


Dia hanya tertunduk ketakutan. Bos Robert yang melihatnya juga diam.


''Permintaan dia masih wajar. Kalau cuma es krim.....berapalah.'' bisik Bos Robert, di telingaku.


Apapun alasan dia, aku tetap saja nggak mau memperlakukan Fira berlebihan. Aku nggak mau menuruti segala permintaannya. Semua aku lakukan karena aku nggak ingin dia nanti jadi anak yang manja.


Sampai orderan KFC dan es krimnya datang. Fira masih pasang wajah cemberut. Dia diam saja, setelah aku omelin tadi.


''Sini sayang. Senyum dong, anak ayah yang cantik ini.'' kata Bos Robert coba menghibur hatinya yang lagi mendung.


''Nanti, setelah maem es krim, kita ke tepi laut ya.....jalan-jalan sore. Tapi, tunggu sore. Kalau jam segini, masih panas, sayang.'' kata Bos Robert, sembari membelai lembut rambut Fira.

__ADS_1


Kulihat dia masih diam saja saat diajak ngobrol sama Bos Robert.


''Sini, ayah suap es krimnya. Tadi kan Fira pengen maem es krim.'' katanya sembari menyuapkan es krim ke mulut Fira.


Pelan-pelan, kulihat Fira mulai mengembangkan senyumnya.


''Nah....begitu dong. Anak ayah yang cantik, molek centil dan baik hati ini, senyum.'' puji Bos Robert.


''Kamu jangan terlalu keras sama dia. Nanti dia jadi kasar sama orang.'' bisik Bos Robert lagi, mengingatkan aku.


Mungkin dia ada benarnya.


''Eh, ibu kita bungkusin KFC ya.'' kata Bos Robert menawari.


''Nggak usah. Ibu aku nggak doyan.'' kataku menolaknya.


''Jangan begitulah. Aku tulus, benar-benar ingin mengenal dan dekat dengan keluarga kamu.'' katanya seolah jujur padaku.


''Serius mau mau baikan sama keluarga aku, terus ninggalin yang di rumah sana?'' selorohku.


Dia diam tak menjawab. Tapi, aku yakin, dia nggak bakal melakukan itu.


''Nanti kita bicara lagi ya. Kasian Fira nanti dia dengar pembicaraan orang dewasa.'' kilahnya.


''Hm...''


Setelah itu, kami bertiga dengan mengendarai motor, menuju ke rumah aku.


***


''Bismillah. Intinya Bos Robert itu, bos di kantor aku. Belum saatnya kamu cerita yang sebenarnya, soal hubungan kamu dan Bos Robert, Winona!'' kataku, membatin.


Tapi, nggak tahu kenapa, jantungku berdebar tak karuan, saat kami bertiga sudah sampai di halaman rumah aku.


Ibu terlihat sudah duduk di teras rumah.


Bos Robert langsung mengucap salam, saat bertemu ibuku.


''Assallamuallaikum, Bu.'' kata Bos Robert dengan ramahnya.


Alhamdulillah, ibuku menyambutnya dengan senyum yang mengembang.


''Waallaikum salam, Pak. Silakan......masuk.'' jawab ibu, langsung mempersilahkan Bos Robert masuk ke ruang tamu.


''Winona. Buatkan teh atau kopi ya.'' perintah ibu padaku.


''Sudah, Bu. Jangan repot-repot. Tadi kami juga baru saja ngopi.'' katanya.

__ADS_1


''Nggak apa-apa. Tadi lain, sekarang juga lain. Kopi kedai beda dengan kopi buatan Winona.'' kata ibu berseloroh.


''Hmmm....baiklah kalau begitu.'' sahut Bos Robert.


Aku pun bergegas ke dapur, segera memanaskan air, membuatkan kopi susu kesukaan Bos Robert. Dalam hitungan sepuluh menit kemudian kopi susu kesukaan Bos Robert itu sudah aku bawa ke ruang tamu.


''Nanti, kalau balik, bawa otak-otak Tanjungpinang ya, Pak. Biar nanti Winona yang belikan.'' kata ibu.


Dalam hati, aku berkali-kali mengucap syukur, karena ibu cukup bersahabat dengan Bos Robert. Tadi, sebelum tiba di rumah, di sepanjang perjalanan, aku khawatir banget. Khawatir ibu nggak menerima kehadiran Bos Robert.


Tanpa diminta, Bos Robert langsung menjelaskan tujuan dia datang ke Tanjungpinang.


''Saya ada acara kantor, mau bertemu dengan orang Dinas Pariwisata. Kami ada program pengembangan dan kolaborasi program pariwisata, dengan orang Dinas Pariwisata Tanjungpinang.'' sebut Bos Robert.


''Iya....Pak. Sekalian jalan-jalan, ya.'' kata ibu.


''Iya Bu.''


''Nanti baliknya bareng ya sama Winona?'' tanya ibu.


''Sepertinya begitu.''


Kulihat, Fira masih saja manja sama Bos Robert.


Karena aku suka melarang dia ikut nimbrung di obrolan orang dewasa. Aku minta dia masuk ke kamarnya.


Saat terdengar adzan ashar. Bos Robert minta diantar ke Hotel Penginapan dia. Katanya dia mau istirahat.


Fira, terpaksa aku tinggal di rumah neneknya.


***


''Serius kamu ada acara besok?'' tanyaku dengan polosnya.


''Acara apa sayang. Acaranya ya acara kita ketemuan.'' katanya menggodaku.


''Ih....apaan. Nggak lucu. Makanya tadi aku membatin. Pasti acara itu acara bohong.'' sebutku serius.


Dia pun terkekeh.


Lagi pula, kata Bos Robert, nggak ada program kolaborasi pariwisata, seperti yang dia utarakan tadi, di depan ibuku.


''Program kolaborasi itu, tak lain ya program bersatunya Robert Airlangga dan Winona!'' katanya terus menggodaku.


''Apaan sih!'' kataku mengelak saat dia berusaha melucuti bajuku.


''Beneran sayang. Aku kangen banget sama kamu. Apalagi kamu nggak mau ngomong sama aku. Batinku semakin tersiksa kalau kamu perlakukan seperti itu. Duniaku hambar.'' katanya, dan dia semakin nakal menelusuri titik-titik daerah terlarangku.

__ADS_1


''Ah sayang......kamu memang bikin aku gila.'' katanya tak henti membelai dua gundukan kembar yang ada di area puncak gunung kembar.


''Beneran....kamu bikin aku gila,'' bisiknya di telingaku, sembari terus memainkan daerah paling forbiden. Saat seperti itu, rasanya aku tersanjung dibuatnya. Rasanya aku benar-benar menjadi perempuan yang paling dibutuhkan laki-laki. Bisikan-bisikan mesranya membuat aku melayang, dan di otakku, ingin selalu bercinta dengan dia.(bersambung)


__ADS_2