Maaf Suamimu Aku Pinjam

Maaf Suamimu Aku Pinjam
Berkunjung ke Rumah Ibu


__ADS_3

Hari Sabtu, aku suka bangun siang. Begitu juga dengan Fira, pasti ikut-ikutan aku.


Tak kudengar suara Mas Arga. Pasti dia sudah pergi sedari pagi. Aku selalu memakluminya. Sudah belasan tahun hal itu berlangsung. Dia jarang ada di rumah, meski hari libur.


''Ma....kapan jalan-jalan lagi sama ayah baik?'' pinta Fira yang tiba-tiba masuk ke kamar aku. Aku mengalihkan masih mengabaikan pertanyaannya tadi.


''Hai....anak gadis Mami sudah bangun. Bangunnya siang-siang ya.....ikut-ikutan Mami.'' celetukku.


Dia menghambur ke pelukanku. Kubelai dia, karena dia memang suka manja-manja, kalau lagi dekat sama aku.


''Agenda kita ke rumah nenek aja, yuk. Kita naik kapal ferry.'' kataku memberitahunya.


Tanpa berpikir panjang, dia langsung setuju saja, aku ajak jalan ke Tanjungpinang, ke rumah neneknya.


''Mi. nanti Fira tidur di kapal lagi ya Mi,'' katanya.


''Ya udah....siap-siap yuk, kita mandi. Terus kita ke pelabuhan, naik kapal ferry.'' sebutku.


Aku menyuruhnya dia mandi duluan. Setelah itu, aku. Sepertinya dia semangat banget mau diajak pergi.


''Mi, ayah baik, nggak diajak ke rumah nenek ya.'' katanya lagi, masih membahas soal Bos Robert.


''Aduh......gimana ini jawabnya. Lagi pula, kenapa dia peduli banget, sama Bos Robert. Sepertinya, mereka berdua ini ada ikatan batin, yang susah untuk dipisahkan.'' gumamku dalam hati.


''Mi....telepon ayah baik dong Mi. Nih pakai ponsel Fira,'' katanya sembari menyodorkan ponselnya ke aku. Terpaksa aku bohong. Kubilang saja, kalau ayah baik sedang tak ingin diganggu karena sibuk dengan tugas-tugas kantornya. Ada rasa kecewa di hatinya, saat kukatakan itu. Tapi, aku akan berusaha menjauhkan Fira dari Bos Robert. Kalau mereka terlalu dekat, bahaya untuk kesehatan jiwaku dan juga kesehatan jiwa Fira sendiri.


''Mi, ayolah coba telepon ayah baik. Siapa tahu, ayah baik nggak sibuk.'' katanya mencoba melobi aku.


''Coba Fira yang telepon sendiri.'' kataku memberi saran.


Saat Fira mencoba melakukan panggilan ke nomor Bos Robert, ternyata ponselnya tak aktif. Kulihat Fira benar-benar kecewa.


''Mi, nggak aktif Mi.'' katanya melapor ke aku.


''Iya...sayang. Kan Mami sudah bilang, kalau ayah baik itu lagi sibuk menyelesaikan tugas-tugas kantornya. Jadi, hapenya tak aktif. Lain kali aja ya sayang kita telepon ayah baik. Semoga ayah baik nggak sibuk lagi.'' kataku memberi harapan ke dia. Dia pun menganggukkan kepalanya, meski kecewa berat.


''Senyum, dong, anak gadis Mami ini. Masa cemberut aja. Jelek!''


Dia tetap diam, tak terpengaruh dengan kata-kataku. Meski seperti itu, dia terus mempersiapkan barang-barang bawaannya, beserta mainannya.


''Mi, Fira bawa kaos sama celana tidur yang gambar kuda poni ya.'' katanya sembari menunjukkan baju miliknya itu.


''Sama baju barby ya Mi.''


''Sama bantal busuk Fira juga ya Mi.''


''Jangan banyak-banyak sayang. Berat Mami bawanya.'' kataku mengingatkan dia, agar tak membawa barang-barangnya terlalu banyak.


''Iya deh,'' kata dia, dan kulihat ada beberapa boneka dan baju yang dia batalkan.


***


Tiba di pelabuhan, aku segera membeli tiket tujuan Tanjungbalai-Tanjungpinang. Aku dan Fira pun segera naik ke kapal ferry.

__ADS_1


Alhamdulillah, lautnya tenang. Sepanjang perjalanan di atas kapal, Fira lebih banyak tidur. Karena sudah rencana dia, melanjutkan tidur di atas kapal ferry.


Dua jam sudah, kapal ferry tujuan Tanjungpinang berlayar, dan segera bersandar di dermaga Pelabuhan Sri Bintan Pura.


Kubelai rambut Fira, dan dia menggeliat, bersamaan dengan kapal ferry yang sudah sandar di dermaga.


''Sayang, bangun. Kita sudah sampai.'' bisikku.


Dia masih enggan membuka matanya. Sekali lagi aku bangunkan dia, karena satu per satu penumpang kapal mulai antri di depan pintu, bersiap turun.


''Sayang, bangun dong. Mami nggak kuat kalau disuruh gendong.'' kataku lagi, berbisik lirih di telinganya.


''Iya....Mi,'' jawabnya sambil malas-malasan.


Aku dan Fira, ikutan antri mau keluar, dari kapal ferry yang aku tumpangi ini.


Beberapa supir taksi sudah standby di pintu keluar pelabuhan Sri Bintan Pura, menunggu calon penumpang.


''Taksi, Bu,'' kata seorang pria, mencoba menawarkan jasa angkutannya ke aku.


''Boleh, Pak. Ke km 20 arah Kijang berapa ya Pak?'' tanyaku ingin tahu lebih dulu, berapa tarifnya.


''Seratus ribu, Bu.'' sebutnya dan aku langsung setuju saja, tanpa negosiasi lebih dulu.


Harga seratus ribu itu, kurasa masih wajar, meski tak ada tarif resmi yang diberlakukan.


''Oke, Pak.'' kataku. Dia pun langsung meraih barang-barang bawaanku, dan memasukkannya ke taksi miliknya.


''Iya, Bu. Saya juga nggak berani kalau ngebut-ngebut bawa penumpang. Karena, bagi saya, keselamatan penumpang itu, nomor satu.'' jelasnya meyakinkan aku.


''Good, itu yang benar Pak. Jangan hanya karena kejar setoran, supirnya ngebut sesuka hati dia,'' kataku pada lelaki agek itu.


***


Dalam hitungan 40 menit lebih, taksi yang aku tumpangi itu, tiba di rumah ibu.


Kulihat, wajah ibu begitu bahagia melihat aku datang. Apalagi, Fira, langsung berlari menghambur ke pelukan neneknya itu.


Ibu mencoba menggendongnya tapi sepertinya tak kuat.


''Aduh, cucu nenek ini sudah gadis. Udah nggak kuat kalau nenek mau gendong.'' ucap ibu, terus terang.


Fira langsung cipika-cipiki sama neneknya.


''Nek, Fira haus,'' aku Fira, blak-blakan dan manja.


''Ya ampun, ayo kita bikin minuman es teh atau sirup melon. Pasti Fira suka.'' kata ibu menawari Fira.


''Mau....Nek. Fira suka melon,'' celetuknya riang gembira.


''Tapi, maem dulu ya. Nenek tadi masak goreng lele sama goreng tahu. Sayur bening bayam.'' sebut ibu. Tapi, Fira diam saja.


Kalau urusan makan, Fira agak susah. Dia itu lebih suka makan pakai kerupuk saja. Padahal, di rumah aku suka masak yang enak-enak. Tapi, dia susah kalau disuruh makan.

__ADS_1


''Ayo sini maem dulu. Baru minum es melonnya.'' bujuk ibu.


''Nenek suapin ya.'' kata ibu menawarkan diri.


''Nggak mau, Nek. Fira haus. Fira belum lapar,'' kilahnya.


''Fira, kalau nggak mau makan, nanti Mami bilangin sama ayah baik. Biar ayah baik, nggak mau ajak jalan-jalan Fira lagi.'' kataku menakut-nakutinya.


Ya ampun....ternyata manjur juga ancaman aku. Dia langsung mau, seketika.


''Siapa ayah baik?'' tanya ibu padaku, penuh keheranan.


''Biasa, ada bos aku, dia suka banget sama Fira. Kalau main ke kantor, dia asik main di ruangan bos aku itu.'' jawabku, sedikit deg-degan juga saat menjelaskan itu ke ibuku.


''Gimana kabar Arga, sehat kan?'' tanya ibu.


''Alhamdulillah, Bu. Dia sehat.'' jawabku.


''Kalian baik-baik saja kan? Jangan suka berantem. Kalau ada yang nggak berkenan antara kalian berdua, bicarakan baik-baik.'' kata ibu, mewanti-wanti aku.


Aku hanya manggut-manggut mendengar nasehat ibu itu.


''Tapi Bu, aku sudah belasan tahun nggak pernah dapat nafkah batin dari Mas Arga. Apa aku nggak berhak minta cerai ya, kalau sudah seperti itu?!'' (Andai saja aku berani mengatakan itu, pada ibuku. Tapi, aku masih berusaha mengumpulkan keberanianku. Entah kapan terkumpul keberanian itu, aku sendiri juga nggak tahu).


***


Tiba-tiba Bos Robert melakukan panggilan video call ke ponsel Fira.


''Mi.....ayah baik, video call,'' katanya sembari menyerahkan ponselnya itu ke aku.


Aku tolak saja panggilannya. Tapi, aku tolak berkali-kali, dia mencobanya berkali-kali juga dengan panggilan video callnya itu.


''Angkat saja, kenapa memangnya.'' tanya ibu.


''Nggak usah Bu. Paling dia mau ngobrol sama Fira. Dia kan lagi sibuk. Tadi, di kapal dia video call bos aku itu, tapi ponselnya tak aktif. Jadi, dia telepon balik. Tadi Fira itu, usil aja.'' kataku beralasan.


''Semoga ibu tak curiga dengan alasan aku itu.'' gumamku dalam hati.


Lagian, untuk apa Bos Robert telepon balik. Pasti, kalau dia menelepon balik, posisi dia sedang tidak ada di rumah.


''Mi, Fira mau ngomong sama ayah baik.'' pinta Fira.


''Ya udah ini.'' kataku, sembari menyerahkan ponselnya itu.


''Hai....Fira....maaf ya tadi waktu Fira telepon, ponsel ayah baik, lagi nggak aktif. Karena ayah baik sedang mengerjakan tugas-tugas kantor.'' sebutnya memberitahu Fira.


Fira tampak menganggukkan kepalanya.


''Fira dimana ini.'' tanya Bos Robert.


''Lagi di rumah nenek,'' jawabnya.


''Mampus aku. Ketahuan kalau aku keluar kota. Tapi, biar saja. Lagian aku juga lagi perang dingin sama dia. Peduli amat, dia mau tahu atau nggak, aku keluar kota. Kalau dia mau ngamuk, apa hak dia. Mas Arga saja, nggak peduli aku mau kemana. Masa bodoh aja!'' pikirku dalam hati. (bersambung)

__ADS_1


__ADS_2