
Seingat aku, pertengahan April. Sekitar tanggal 16 atau 17 ya, Bayu ulang tahun. Tapi, aku yakin sepertinya tanggal 17. Tapi, gimana mau ngucapin happy birthday. Hape aku rusak, gara-gara dibanting sama Bos Robert. Jadinya, aku mencari cara, mendatangi kantor Bayu.
Aku celingukan kanan kiri, mau melarikan diri, supaya Bos Robert nggak mengetahui kepergian aku. Apalagi, kalau tahu mau makan sama Bayu, bisa kena gampar tujuh keliling, sama Bos Robert.
Belum lagi dituduh perempuan ganjen, jumpa laki-laki lain. Oalah. Padahal aku jumpa Bayu, di ruang terbuka. Kecuali, aku jumpa Bayu di hotel atau di semak-semak. Itu namanya aku perempuan ganjen.
"Lah ini jelas-jelas di ruang terbuka, dibilang ganjen. Kan sialan! Bikin emosi jiwa aja dia itu kalau ngomong suka asal-asalan dan menyakitkan hati." gumamku.
*Aku menarik nafas dalam-dalam.
"Aman dunia. Bisa langsung cus ke lokasi biasa. Tapi, jemput Bayu dulu!" pikirku.
"Ya Allah sengsara banget, nggak punya HP. Asal punya HP seminggu, pasti jadi sasaran, dibanting sama Bos Robert, kalau lagi marahan atau cemburu sama aku!
Aku sedikit bosan, menunggu Bayu keluar dari kantornya. Mau hubungi dia juga nggak bisa. Nggak ada hape.
"Oh itu dia!"
Aku langsung membunyikan klakson mobilku. Bayu pun, paham betul dengan plat polisi nomor mobilku. Dia langsung mendekati mobilku, membuka pintunya, lalu masuk ke dalam mobil.
"Ini aman nggak aku nebeng sama mobil kamu?" tanya Bayu terkesan nyinyir.
"Hahahahah. Takut banget sih jadi laki-laki. Kan kalian sesama batangan. Kenapa harus takut?" selorohku.
"Bukan masalah takut. Aku tuh cuma khawatir sama kaca mobilmu. Nanti kaca mobilmu dipecahin dia. Mau?!" gantian Bayu yang berseloroh panjang lebar ke aku.
"Sial! Bahas kaca mobil pula!? celetukku.
"Hahahaha. Ya aku kan bertanya. Aman nggak, aku makan siang sama kamu?! Takutnya, pas lagi enak-enaknya makan, kena jotos. Bisa nyonyor bibir aku. Terus, sasaran berikutnya, dia bakal pecahin kaca depan mobil kamu!" ulang Bayu, bikin aku kesel mendengarnya.
"Tapi, bener kata kamu. Kalau dia lagi cemburu buta sama aku, dia banting ponsel aku. Terus berdebat habis-habisan. Terakhirnya, dia pecahkan kaca mobil aku." jelasku, dan Bayu malah cekikikan mentertawakan aku.
Spontan aku langsung menepuk bahunya.
"He....jangan ketawain aku terus! Ini aja aku nggak punya hape. Kemarin, dibanting dia! Nunggu gajian, baru aku mau beli hape baru." ceritaku dengan santai.
__ADS_1
"Dalam hitungan sebulan, berapa kali dia banting hape kamu. Terus kamu catat nggak? Hahahaha!" tanya Bayu terus nyinyir.
Aku kesal karena Bayu mengejekku tak ada habis-habisnya.
Untuk kesekian kalinya, Bayu bertanya ke aku, kenapa aku bertahan dengan Bos Robert.
Kukatakan, cinta nggak butuh alasan apa-apa.
"Hahahaha. Cinta? Taik kucing rasa coklat? Rela dianiaya lahir batin? Bener begitu ya?!" celetuk Bayu.
"Ya nggak tahulah. Mungkin ini udah takdir aku!" jawabku pasrah.
"Tahan banting juga kamu ya!?"
"Eh bisa nggak jangan bahas Bos Robert lagi,'' kataku meminta pada Bayu. Karena, dari tadi dia bully aku dan Bos Robert terus.
"Hmm....jadi bahas apa?" kata Bayu sembari menyulut rokoknya lalu memainkan asapnya, membentuk bulatan-bulatan kecil ke udara.
Tiba-tiba Bayu teringat soal status Fira yang kemarin masih aku rahasiakan.
Aku kira dia sudah lupa. Ternyata masih mengganjal di benaknya, kata dia.
Aku pun akhirnya terus terang, kalau Fira itu anak orang lain.
"Maksud kamu, anak angkat ya?" tanyanya.
"Karena sudah tahu, jadi aku nggak usah jelasin lebih detail ya," kataku, menyudahi ceritanya.
"Hmmm. Kok bisa. Katamu kemarin, Fira itu anak kamu dengan Bos Robert!" canda Bayu memancing emosi.
"Apaan sih! Jangan ngarang cerita. Aku saja nggak pernah cerita begitu ke kamu!'' protesku sambil terus ngunyah kentang goreng dicolek ke saos pedas.
"Ada. Kemarin kamu cerita begitu, kalau nggak salah!" tandas Bayu yakin.
"Hei jangan macem-macem. Bisa aku guna-gunai kamu nanti, biar jatuh hati sama janda." selorohku.
__ADS_1
"Ya nggak apa jatuh hati sama janda. Asal janda kaya raya, tajir melintir! Enak, nggak perlu kerja keras lagi, aku! jawab Bayu dengan pede.
"Dasar lu mata duitan. Ngincar janda tajir pula!"
Tak lama, Bayu kembali bertanya padaku soal status Fira yang aku bilang anak orang lain.
"Jadi....gimana ceritanya Fira itu anak orang," tanya Bayu masih penasaran.
"Seriusan memang dia anak orang ya?" tandasnya lagi.
"Dulu, ibu kandungnya Fira, mau aborsi, setelah itu, dia niat mau bunuh diri. Semua, karena cowoknya nggak mau tanggungjawab untuk menikahinya. Akhirnya ibu kandung Fira, putus asa. Saat mau aborsi. Teman aku yang seorang dokter kandungan, memberi saran. Jangan bunuh anakmu. Biarkan saja dia membesar di rahimmu. Karena, ada keluarga baik hati yang akan mengadopsinya. Hingga akhirnya, ibunya Fira nggak jadi bunuh diri. Aku yang biayai semua proses kehamilannya sampai anaknya itu lahir. Tapi, tahu nggak, si ibunya Fira itu sama sekali nggak jumpa sama aku. Semua biaya aku serahin ke kawan aku yang dokter itu. Nah, setelah lahiran, ibu si bayi pergi, dan bayinya itu masih di rumah sakit. Dia berjanji akan pergi jauh dari kota ini, setelah nggak ada urusan lagi sama bayinya. Aku pun mengambil bayi itu. Kurawat dia dengan kasih sayang, sampai sekarang." jelasku panjang lebar.
"Sebenarnya, saat awal-awal bayi itu hadir di rumah, suamiku sama sekali nggak sudi memegangnya."
"Tapi, akhirnya pelan-pelan Mas Arga bisa menerima Fira dengan lapang dada. Bayi itu, sekarang sudah usia 5 tahunan lebih." ceritaku masih tanpa jeda.
"Tapi, kulihat, dia lengket banget ya sama Bos Robert?" kata Bayu, gantian bersuara, setelah aku tadi sempat membuatnya terdiam karena mendengar cerita aku.
"Iya, Fira memanggil Bos Robert, dengan panggilan Ayah Baik!" sebutku.
"Terus. Bos Robert sendiri punya anak berapa?" tanya Bayu yang tiba-tiba beralih pembahasan soal Bos Robert.
Aku mengangkat kedua bahuku, tanda aku nggak tahu berapa persisnya jumlah anak Bos Robert.
"Lah.....kata kamu, sudah tiga tahun, deket sama dia?"
"Ya bukan berarti aku tahu seluk beluk keluarga dia,'' jawabku sok lugu.
"Terus anak-anak Bos Robert itu udah besar-besar pastinya ya?" tanya Bayu terus mengintrogasi aku.
"Terus mereka ada yang tahu nggak kamu pacaran sama papanya? Hahahaha!"
"Apaan sih. Pertanyaan nggak berbobot!" kataku sewot.
"Hahahaha. Kalau marah tambah cantik. Ups!" kata Bayu yang spontan menutup mulutnya.
__ADS_1
"Takut aku, puji-puji pacar orang, nanti kena bogem mentah. Bisa nyonyor maju lima centimeter, bibirku." seloroh Bayu, dan aku terkekeh mendengarnya.(***)