Maaf Suamimu Aku Pinjam

Maaf Suamimu Aku Pinjam
Blak-Blakan Curhat


__ADS_3

Selepas jam kantor, aku nggak boleh pulang. Kata Bos Robert ada rapat penting yang harus dibahas. Terkait dengan kedatangan Menteri Pariwisata Ekonomi Kreatif, yang bakal berkunjung ke daerah.


''Bingung. Mana hari ini janjian mau makan di luar sama Fira. Besok soalnya dia kan ulang tahun.'' gumamku mulai nggak konsen kerja dari siang.


Tapi, nggak apa, besok aku ganti saja dengan hadiah boneka barby permintaan dia. Padahal, boneka di rumah, sudah banyak. Asal keluar, dia selalu minta boneka dengan tampilan yang berbeda. Asal diajak ke mall dan ada ngeliat boneka, pasti Fira merengek minta dibelikan boneka.


''Hm....bisa bangkrut sebelum gajian, kalau nuruti kemauan dia.'' keluhku sendiri.


Bolak-balik ngeliat jam dinding. Sejam lagi, rapat sama bos, di ruangannya.


Pasrah, dan harus terima konsekwensinya kalau nanti pulang-pulang, ditagih makan sama Fira.


''Saya tunggu di ruangan saya, setelah jam kantor berakhir,'' kata Bos Robert lewat chat aku.


''Aneh. Rapat kantor, tapi setelah jam kantor,'' protesku, pengen marah. Tapi, marah ke siapa. Marah sama bos Robert, nggak mungkin. Nanti kena mutasi. Eh. Tapi aku pengen dimutasi ke bagian lain. Hahahahah!


Seperti biasa, aku cuma baca saja chat dia, tanpa membalasnya. Meski seperti itu, bukan berarti aku abaikan apa yang jadi perintah dia.


Seperempat jam lagi, jam kantor berakhir. Ini artinya rapat segera dimulai. Fitri, kutanyain, dia ada ikut rapat atau nggak. Dia malah bingung. Balik bertanya ke aku, rapat apa? ''Hmm....ini rapat nggak bener. Nih. Kok aku aja yang harus hadir,'' kataku membatin.


''Daaa.....kak....aku duluan ya. Kakak kan rapat sama bos, menyambut kedatangan abang Sandi.'' celetuknya padaku, sembari berlalu.


''Tunggu. Siapa sandi?'' tanyaku bingung dan nggak kenal, siapa abang Sandi?''


Fitri menghentikan langkahnya sejenak, menjawab pertanyaan aku.


''Bang Sandiaga Uno, si cover boy dari Jakarta itu,'' jawabnya bergurau.


''Ohhhhh hahahahahaha. Bisa aja kamu ini ya. Ya udah, hati-hati ya pulangnya.'' kataku dan Fitri pun berlalu dari hadapan aku.


***


Kuketuk pintu ruangan kerja bos Robert.


''Masuk!'' jawabnya.

__ADS_1


''Permisi, Pak.'' kataku menyapanya.


''Duduk.'' perintahnya.


''Aku mau kamu dampingi aku, besok ada menteri pariwisata datang ke daerah.'' sebutnya.


Sejenak dia diam.


Lalu, berdiri mendekati aku. Jantungku berdebar tak karuan saat dia mendekat ke arahku.


Tiba-tiba dia memegang tanganku. Lalu bertanya kepadaku.


''Aku tahu kamu lagi ada masalah. Ceritakan ke aku dong,'' pintanya padaku.


Awalnya aku ragu tapi nggak tahu kenapa, bibirku justru lancar menceritakan masalah rumah tanggaku dengan Mas Arga.


''Jadi, dia selama ini gimana, masih memberi kamu nafkah batin?'' tanyanya to the point.


Aku nggak bisa jawab untuk pertanyaan dia yang satu itu. Aku takut dibilang dia aku wanita kesepian.


''Tolong jujur padaku.'' desaknya lagi.


''Yang lainnya? Banyak ya?'' tanya Bos Robert penasaran.


''Ada dua orang. Dulu mereka mengejar aku. Bahkan, mereka ada yang rela menceraikan istrinya demi aku. Tapi aku nggak mau. Aku lebih memilih Mas Arga. Akhirnya aku menikah dengan dia. Setelah nikah dua tahun, terungkap, kalau dia itu orang dengan HIV? AIDS (ODHA). Duniaku, rasanya hancur seketika. Bagaimana dengan nasib putri kecilku, Fira. Gimana!'' air mataku tak terasa mulai membasahi pipi.


''Akhirnya aku periksa darah. Tapi, alhamdulillah ak negatif. Dari sana, terjawab sudah, kenapa Mas Arga nggak mau memberi nafkah batin ke aku. Jangankan memberi nafkah batin, menyentuh tanganku atau aku pengen manja-manja di dekatnya, dia selalu menolak aku.'' ceritaku panjang lebar dan aku semakin terisak, menangis sesenggukan.


Bos Robert memelukku, penuh mesra. Mengusap setiap bulir air mataku yang membasahi pipi.


''Maaf ya aku sudah buat kamu sedih, hari ini.'' katanya padaku.


''Tapi, sampai sekarang dia nggak mau ngaku, dia sudah main sama perempuan murahan mana.'' kataku, melanjutkan cerita.


''Sejak itu juga, dia mulai nggak peduli aku. Aku mau nggak pakai baju di depan dia, dia nggak bakal nafsu sama aku. Mungkin, dia jijik sama aku.'' kataku, sambil terus menangis.

__ADS_1


''Selain nggak pernah peduli sama aku, dia juga nggak pernah mau peduli sama Fira. Tak jarang, saat Fira mengajaknya jalan-jalan, alasan dia, capek karena kerja. Bayangkan saja, dia punya papa, tapi serasa jadi anak yatim piatu karena papanya nggak peduli.'' sebutku lagi, masih cerita panjang lebar di depan bos Robert.


''Aku sudah desak dia berkali-kali, supaya ngaku, pernah main sama siapa, sampai dapat penyakit itu.'' kataku lagi.


''Jadi, dia mau ngaku?'' tanya Bos Robert lagi penasaran.


''Nggak. Dia diam saja.''


''Tapi, aku juga pernah bertanya-tanya sama kawan dekatnya. Katanya, Mas Arga pernah main sama perempuan PSK.''


''PSK?''


''Iya perempuan sek komersial.''


''Hah?''


Bos Robert nggak mau melanjutkan pertanyaan-pertanyaan berikutnya. Karena dia tahu, aku bakal tersiksa banget dengan kisah yang aku ceritakan itu.


''Anehnya, kata pembantu aku, dia itu selalu bicara mesra di telepon dengan seorang lelaki!'' tambahku.


''Hmmmm....salah dengar nggak dia itu? Masa iya suami kamu seperti itu?'' kata Bos Robert meragukan ceritaku.


''Coba tanya baik-baik, jangan sampai dia menyebarkan fitnah. Apa iya, suami kamu seperti itu!'' perintah Bos Robert serius.


''Nggak tahulah. Yang pasti hidup aku sudah hancur sekarang. Bayangkan saja, aku bertahan dengan dia, sudah 13 tahun, seperti itu. Aku nggak mendapatkan nafkah batin dari dia.'' ceritaku blak-blakan, tanpa aku sadar.


''Jadi, gimana kelanjutannya? Kamu mau sama dia sampai tua?'' tanya Bos Robert.


''Aku pernah minta cerai. Tapi, dia nggak memberi aku izin. Dia diam aja, saat hal itu sering aku sampaikan ke dia.'' jelasku mendetail.


''Coba sekali lagi tanya dia sekali lagi, apa mau seperti itu, selamanya?'' kata Bos Robert memberi saran.


Aku bingung menjawabnya. Karena sudah berkali-kali aku coba. Tapi, Mas Arga masih membisu, tak ingin menjawab pertanyaan aku.


''Mulai sekarang, aku yang akan memberikan perhatian untuk kamu dan juga Fira. Aku sayang kalian berdua.'' kata Bos Robert, tiba-tiba mengakhiri perbincangan sore itu. Tapi, aku ragu dengan apa yang dia ucapkan.

__ADS_1


''Dia saja milik orang. Gimana mau ngasih perhatian ke aku? Bisa-bisa aku dicakar sama orang rumahnya!'' protes aku dalam hati. Apa mungkin, seorang laki-laki, mencurahkan kasih sayang untuk dua orang perempuan dalam waktu yang sama. Mustahil. Sebenarnya aku ingin membantah pernyataannya tapi, belum saatnya aku ungkapkan. Tunggu waktu yang tepat.


''Ya udah, kita makan malam aja yuk. Maaf ya, hari ini aku sudah menguras energi dan pikiran kamu, karena aku mendesak kamu untuk menceritakan tentang rumah tanggamu.'' ungkap Bos Robert penuh penyesalan.(***)


__ADS_2