Maaf Suamimu Aku Pinjam

Maaf Suamimu Aku Pinjam
Status Palsu


__ADS_3

Kalau sudah memasuki minggu kedua, aku suka kegirangan. Soalnya, pekerjaan berat di kantor, berkurang. Rencananya mau jalan-jalan, ke rumah teman aku. Lama nggak ketemu. Karena posisi aku sudah tinggal di kota yang berbeda.


''Eh....tapi kocek lagi cekak. Nggak jadi ah!'' pikirku, tiba-tiba berubah pikiran. Padahal, keinginan jalan-jalan itu, sudah lama terbersit di benak aku. Sesekali, jalan-jalan, apa salahnya, untuk menghilangkan rasa suntuk.


Tapi, entah kenapa, aku punya ide gila, buat status palsu di whatsapp aku. Apalagi aku lagi kesal sama bos Robert. Pengen banget buat hatinya panas, terbakar api cemburu.


#On The Way, jumpa sama some one! Hahahahaha#


Nggak sampai satu detik, dia langsung menelepon aku. Menanyakan posisi aku berada di mana.


''Hahaahaha. Dia kepancing. Pasti dia cemburu dan menuduh aku yang macem-macem.'' gerutuku sambil cengar-cengir, cekikikan ngetawain dia.


''Hahahahahah. Mampus kamu!'' makiku dalam hati.


Aku berusaha santai saat mengangkat panggilan masuk dari nomornya.


''Aku sudah bilang berapa kali. Kalau kamu ke luar kota, harus izin aku!'' katanya seperti membentakku.


''Apa urusannya, aku jalan-jalan ini, di hari Sabtu-Minggu. Sementara jam kerja aku, hanya dari hari Senin-Jumat.'' jawabku, melawan dia.


''Kamu, jangan macem-macem sama kamu. Kalau ada apa-apa, aku nggak akan tanggungjawab!'' bentaknya lagi.


Aku nggak bisa bayangkan betapa dia emosinya jika memang benar-benar mengetahui kalau aku keluar kota sendirian.


Sekali lagi, aku nggak akan ngomong ke dia, kalau aku sebenarnya nggak lagi berada di luar kota. Hahahahahaa!


***


Aku chat Rosa, minta foto-foto dia yang lagi nongkrong di kafe. Aku pajang saja foto-foto dia. Kubuat lagi statusnya. #Memang asik, kalau nongkrongnya jauh dikit#


*Satu....


*Dua....


*Tiga...


Kulihat whatsappnya online.


Dalam hitungan detik, dia meneleponku.


Lagi-lagi, dia marah besar. Minta nomor Rosa.


''Sebenarnya tujuan kamu apa ya, mengekang gerak aku sampai sebegitunya!'' kataku kesal.

__ADS_1


''Nggak ada. Karena kamu milikku!'' tegasnya terang-terangan dari balik ponsel.


Sejenak, aku merasa tersanjung mendengar pengakuannya. Tapi, aku kesel banget dengan sikap dia yang sangat posesif padaku.


''Tolong jangan urusi hidup aku. Kamu urus aja keluarga kamu. Bukankah kita masing-masing punya keluarga!'' jelasku, protes ke dia.


''Nggak usah ngajari bebek berenang. Aku lebih tahu bagaimana caranya hidup,'' kata dia dengan emosi.


Sekali lagi, aku bisa apa, kalau dia sudah bersikukuh mengatur hidup aku. Jujur, sebenarnya aku berterimakasih banget sama dia. Karena dia perhatian ke aku. Suami aku aja, nggak peduli aku mau gimana-gimana. Mau makan, mau mati atau apa aja, dia sama sekali masa bodoh sama aku.


Dibilang cuek, dia masih memberiku nafkah lahir. Dia masih memberi makan anakku. Tapi, untuk urusan ranjang, dia sama sekali sepertinya tak sudi menyentuh aku.


''Jujur, perhatian dia, membuat sedikit aku nyaman, dan merasa terlindungi.'' gumamku membatin.


''Besok, aku datangi kamu. Kamu lagi liburan dimana. Awas kamu!'' amcamnya, sembari mengakhiri panggilannya.


Spontan, hal itu membuat aku panik.


''Aduh....gimana nih dia mau nyusul. Biasa dia kan nggak main-main. Dia itu selalu serius!'' kataku bingung sendiri.


***


Subuh-subuh, jam 05.00 wib, terpaksa aku harus jujur sama dia, sebelum dia benar-benar mau menyusulku! Hahahahahah! Parah!


Karena, aku chat duluan, sama aja aku main api sama dia. Untuk menghindari itu, aku berusaha nggak chat dia kalau nggak ada keperluan mendesak.


Aduh! Centang satu. Nomor whatsapp dia masih belum aktif. Lama juga aku harap-harap cemas menunggu balasan chat dari dia. Aku khawatir banget, dia tiba-tiba berangkat, tanpa membaca chat aku lebih dulu.


Satu jam lebih, dia tak kunjung mengaktifkan ponselnya. Tapi, wajar, hari masih terlalu pagi. Pejabat mana, nomor ponselnya yang aktif 24 jam. Kurasa, jarang ada pejabat yang ponselnya aktif 24 jam.


***


Sudah jam 07.00 wib. Sumpah, dia sudah bikin aku panik. Tapi, ini salah aku sendiri. Aku sudah bohongi dia. Entah berapa kali aku bolak-balik liat ponselku. Apa sudah terkirim atau belum chat aku, ke dia.


''Ya Allah, aku merasa bersalah banget atas semuanya. Gimana dong kalau dia sampai beneran mau pergi. Bisa panjang urusan aku nanti.'' kataku masih panik luar biasa.


''Eh udah dibaca dia!'' pekikku kegirangan.


Tak lama dia menelepon aku.


''Sabar, aku mau berangkat!'' kata dia lebih dulu bicara di ponsel.


''Bang.....dengarkan aku. Tapi jangan marah. ya. Janji!'' kataku meminta kepastian dari dia.

__ADS_1


''Iya apa! Aku mau on the way.'' sebutnya lagi.


''Bang....dengarkan aku dulu!'' pintaku.


Setengah takut, aku mengatakan yang sebenarnya ke dia.


''Iya cepetan. Nanti aku nyusul!'' katanya ngotot.


''Bang....sebenarnya aku nggak kemana-mana, kemarin sore!'' jelasku.


''Jangan bohong kamu sama aku. Coba alihkan panggilannya ke video call. Baru aku percaya!'' desaknya.


Terpaksa aku menuruti permintaan dia.


Sebelum aku alihkan, aku menyempatkan diri cekikikan. ''Sepertinya dia itu suka sama aku,'' gumamku, GR sendiri.


Apa semua perempuan seperti aku ya, diperhatikan, terus merasa GR. Apalagi, yang perhatian itu, bos! Rasanya seperti tersanjung banget, diperhatikan sama atasan! Hahahahah!


Dia baru percaya, setelah mengetahui posisi aku, memang berada di rumah. Sialnya, dia langsung minta temani sarapan!


''Apes gue. Keluar dari kandang macan, eh terperangkap masuk kandang buaya. Wwkwkwkwkwkwkwk!'' celetukku kesal.


***


Sekitar jam 09.00 wib, kami ketemuan di kantor. Padahal, hari ini hari Minggu. Parkiran kantor tentunya sepi banget. Kuparkir mobilku di tempat parkiran VIP. Aku pindah ke mobil dia. Karena dia memintaku pindah ke mobilnya.


Tanpa kusangka. Dia meraih tanganku, dan menggenggamnya erat sekali. Anehnya aku nggak mengelak.


Seketika, rasa hangat itu mengaliri tanganku.


''Ya Allah, gimana ini. Setiap aku berusaha menghindari dia, kenapa seakan-akan ada kekuatan ghaib yang ingin mempersatukan aku dan dia! Aku benci ini.'' kataku lirih dalam hati.


''Kamu jangan buat aku jadi orang gila. Tahu nggak kenapa aku kayak begini? Karena aku itu, selalu ingin di dekat kamu!'' jelasnya to the point.


Mendengar itu, rasanya aku tak bisa berkata-kata. Kata-kata dia, membuat bibirku bungkam. Jantungku berdebar tak karuan.


''Aku, nggak bisa jauh dari kamu!'' katanya lagi. Sedangkan aku, masih diam seribu bahasa.


''Pandang aku. Aku selalu menginginkan kamu, di dekatku!'' katanya lagi, semakin membuat anganku melambung tinggi ke angkasa biru.


''Hahahahah. Dia ini mabuk atau apa sih. Dia nggak dalam pengaruh alkohol kan, saat ini? tanyaku sendiri dalam hati.


''Hei....kenapa kamu diam. Jujur, aku nggak mau jauh-jauh dari kamu!'' katanya sembari memegang daguku, dan nyaris satu kecupan mendarat di bibirku. Tapi aku berusaha memalingkan wajahku dari dia. (***)

__ADS_1


__ADS_2