
Setelah jalan bareng kemarin, Bos Robert mulai akrab dengan Fira. Kata dia, Fira itu bocah lucu yang cerdas. Bahkan, dia sering membelikan mainan buat Fira.
''Jangan sering-sering manjain Fira. Aku nggak suka. Karena, nanti giliran sama aku, apa yang dia minta selalu aku batasi,'' kataku pada Bos Robert serius.
''Nggak apa. Fira itu bocah lucu yang menggemaskan. Aku yakin dia itu bakal tumbuh jadi gadis yang cerdas dan tangguh nantinya.''
Katanya sambil menggenggam erat tanganku.
''Udah ah, balik yuk. Ini udah sore. Pasti Fira menunggu kepulangan aku di rumah.'' kataku berusaha bangkit dari tempat dudukku. Tapi, Bos Robert menahannya.
''Nanti dulu, ini baru jam 21.00 wib. Tunggu sampai kafe ini tutup, kita pulang. Kafe ini tutupnya jam 22.00 wib. Sejam lagi, sayang.'' cegahnya. Terpaksa aku pun tak bisa menolaknya.
''Lapar nih, temani makan ya. Dari tadi kita cuma menikmati minum juice,'' katanya.
Bos Robert langsung memberi kode pada pelayan, dengan menyalakan manchisnya. Karena, di kafe itu penerangannya sedikit remang-remang. Seketika, seorang pelayan datang menghampiri meja kami.
''Order salad buahnya ya, sama kentang goreng,'' katanya, setelah melihat menu yang ada di buku daftar menu yang disodorkan karyawan itu.
Tanpa banyak pertanyaan, pemuda pelayan itu langsung mencatat dalam note mininya.
''Sayang kamu apa. Maem ya...apa?!'' tanya dia.
Aku bilang saja, order kentang goreng. Sebenarnya aku nggak lapar. Karena sudah janji sama Fira, mau makan nasi goreng sepesial yang jualan di simpang rumah aku.
''Maemnya kenapa ikut aku?'' tanya dia.
''Iya aku sebenarnya nggak lapar. Nanti, pulangnya Fira titip nasi goreng.'' sebutku.
''Iya biar aku yang belikan nasi gorengnya ya,'' kata Bos Robert menawarkan diri.
Aku langsung menolaknya. Kukatakan padanya, kalau Bos Robert nggak punya kewajiban memenuhi keinginan Fira.
''Nggak usah. Biar aku aja.'' elak aku.
''Nggak apa, dia juga anak aku.'' katanya serius.
Aku hanya diam mendengar pengakuan yang meluncur dari bibirnya itu.
Hahahahahah!
''Aneh,'' kukatakan padanya.
''Kenapa anehnya?!''
''Kamu kan bukan bapaknya ngapain perhatian sama Fira. Bapak nya aja nggak peduli.''
Dia langsung heran mendengar ceritaku itu.
''Ya udah mulai sekarang aku yang bakal perhatian ke dia,'' janjinya serius.
''Hahahaha. Ngapain.'' elak aku lagi.
Tak lama, pelayan tadi membawa orderan kami. Dengan semangat Bos Robert menghabiskan makanan yang dia pesan tadi.
__ADS_1
''Sampai di rumah, aku jarang makan. Nggak selera,'' akunya.
''Kenapa?'' tanyaku heran.
''Iya masakan dia nggak enak!'' katanya blak-blakan.
Ah! Laki-laki dimana-mana sama saja, suka menjelekkan istri di rumahnya. Alasan yang klasik. Masakan nggak enaklah! Kurang merawat dirilah! Nggak perhatian! Nggak mesra lagi lah!
Tapi, aku nggak berani mengatakan itu padanya. Aku hanya diam saja saat dia bercerita itu.
''Makanya aku lebih suka makan di luar sama kamu,'' katanya.
Seketika aku tertawa kecil.
''Gombal!'' sahutku, merasa nggak percaya dengan kata-kata gombalan dia.
***
Di sepanjang jalan pulang, aku bingung. Mengakhiri atau meneruskan kisahnya dengan Bos Robert. Aku nggak bisa membayangkan andai istrinya tahu, gimana?
Belum selesai melamun, Bos Robert meneleponku. Dia menanyakan posisi aku dimana. Kenapa jam 09.00 wib belum juga sampai di kantor. Terpaksa bohong, dengan alasan Fira nggak mau ditinggal ke kantor. Dia pun percaya.
''Sekarang posisi dimana?'' tanyanya.
''Di jalan.'' kataku.
Tapi aku nggak bilang mau ke kantor.
''Ke kantor kan?'' tanyanya.
''Jangan main-main kamu sama aku. Cepat ke kantor!'' perintahnya dengan nada meninggi.
''Nggak!'' masih tetap dengan jawaban aku tadi.
''Dimana bilang aku jemput kamu!'' desaknya masih by phone.
''Nggak perlu!'' kataku mengelak.
''Kenapa kamu ini?'' tanyanya.
''Aku minta izin.'' jawabku.
Jujur, aku ingin menghindar dari dia karena aku nggak ingin melanjutkan hubungan yang tak jelas ini. Dia masih milik orang!
***
''Aku ke rumah kamu, nih. Aku jemput Fira, mau ajak jalan dia.'' sebutnya.
Ya ampun nekad banget dia. Sebenarnya kenapa dia selalu mengejar aku?
''Sudahlah tolong jauhi aku dan jangan pernah dekati Fira!'' bentakku.
Tiba-tiba Bos Robert sudah di rumah.
__ADS_1
''Mama.....Fira tunggu di rumah ya. Kita ke mall sama Om Obet!'' teriak Fira lewat ponsel Bos Robert.
Sial! Kenapa sih dia itu terus mendekati aku! Sekarang dia mendekati Fira, sebagai senjata untuk mendekati aku.
Akhirnya aku harus buru-buru pulang ke rumah. Menjemput Fira. Kulihat Bos Robert terliat begitu akrab dengan Fira.
Aku menghela nafas panjang melihat pemandangan ini. Karena, ini pemandangan yang tak aku inginkan. Tapi, dia hadir di hadapanku.
''Kenapa sih kamu Bang. Sampai datang ke rumah aku segala. Nanti ada Mas Arga, bisa-bisa aku dibunuh dia nanti!'' kataku setengah berbisik kesal di telinganya.
''Mama, yuk jalan, Fira mau main ayunan di Mall. Kan ada ayunannya.'' katanya merengek padaku.
''Iya, sayang. Yuk,'' kataku pada Fira.
Dia memilih naik mobil Bos Robert. Aku mau naik mobilku sendiri, dia menahannya.
''Udah, sama mobil aku aja.'' katanya tak ingin melepaskan genggaman tangannya.
''Apaan sih!'' protesku dan dia melepaskan genggaman tangannya itu.
''Kulihat Bik Minah tak nampak keluar dari rumah. Mungkin dia sibuk di dapur jam segini. Tak lama lagi, Mas Arga pasti balik makan siang!'' gumamku.
''Tolong jangan ulangi lagi kamu ke rumah aku, Bang!'' kataku memohon padanya.
''Kan aku bos kamu. Apa salahnya bos ke rumah anak buahnya!?" kata dia, dan dia merasa dirinya nggak bersalah atas kejadian itu.
''Kurasa, suami kamu itu nggak bakal cemburu kalau aku cium kamu di depannya!'' kata dia, asal-asalan.
''Apaan sih! Jangan gila!'' sergahku.
''Ya Udah, kita coba yuk,'' katanya bergurau memancing aku supaya tersenyum.
''Kamu jangan gila Bang!'' kataku sewot.
''Ya nggaklah. Masa iya aku harus cium kamu di depan suami kamu.'' katanya mencoba mengklarifikasi kalimatnya tadi.
''Sayang.....kok diam aja, Fira kenapa?'' tanyaku yang mencoba mengalihkan pembicaraan dengan Fira.
''Oh dia ngantuk,'' kataku saat dia mulai pelan-pelan menutup matanya.
''Biarlah dia tidur. Kasian. Kalau siang begini dia biasa tidur siang ya?''
''Nggak juga. Malah main,'' jawabku.
''Biasa dia tidur sama Bik Minah. Kalau siang. Itu pun sesekali aja. Lebih banyak main HP kalau di rumah siang-siang.'' jelasku lagi mendetail.
Tiba-tiba Bos Robert memegangi tanganku. Aku langsung protes.
''Nyetir itu harus konsen. Jangan nakal tangannya!'' kataku dan dia mulai mengendalikan setirnya.
''Jadi, gimana ini, kita seriusan mau ke mall atau gimana? Dia kan lagi bobok.'' tanya dia minta kepastian.
''Iya, nanti kalau nggak ditepati, dia bisa nagih janji ke kita!''
__ADS_1
''Hahahaaahahah!'' katanya melepas tawa.
Spontan, Fira langsung bangun, karena sepertinya dia kaget mendengar Bos Robert tertawa kuat sekali.(***)