Maaf Suamimu Aku Pinjam

Maaf Suamimu Aku Pinjam
Ibuku Masih Penasaran


__ADS_3

Kurang sehari lagi, aku harus balik ke Tanjungbalai Karimun. Karena, cutiku sudah selesai.


''Jadi balik ya besok?'' tanya ibu, sambil melibat baju-baju yang baru saja diangkat dari jemuran, karena sudah kering.


Aku pun, ikut membantu ibu, melipat baju.


''Wi....jujur kamu ya, sama ibu.'' kata ibu, padaku.


Aku langsung kaget dan jantungku berdebar tak karuan.


Pasti ibu bakal menyakan soal keberadaan Bos Robert.


Tiba-tiba, Fira menyela. Dia menunjukkan ponselnya ke aku.


''Mi....ayah baik video call.'' kata Fira.


Perhatianku pun tertuju ke ponsel Fira. Begitu juga ibu, menatap ke arahku dengan tatapan curiga.


Aku tolak saja panggilan video callnya. Karena, rasanya nggak mungkin aku video call di depan ibu.


''Angkat. Kenapa mesti takut?'' kata ibu berseloroh, sambil terus melipat baju-baju miliknya itu.


''Nggak apa, Bu. Paling bos aku itu tanya soal besok jadi pulang apa nggak.'' jelasku ke ibu, memberi alasan.


Ibu diam saja, tak memberi komentar.


Setelah aku tolak panggilan video callnya itu, kuserahkan lagi ponselnya ke Fira. Bersamaan dengan itu, Bos Robert menelepon aku lagi.


''Angkat kenapa. Itu kan bos kamu. Apa kamu nggak kena marah, nanti?'' kata ibu menasehatiku.


''Nggak apa, Bu. Biar kan saja.'' kataku acuh tak acuh.


''Sana sayang, main di kamar nenek,'' kataku meminta Fira menjauh dariku dan juga ibu.


Setelah Fira pergi, ibu berkata lagi padaku, agar aku jujur menjawab pertanyaannya.


''Kenapa kalian suka bareng kalau ke Tanjungpinang.'' tanya ibu, marah dan penuh curiga.


''Kami datangnya ramai-ramai, Bu. Bos Robert memang kemarin ada acara kantor, yang mengharuskan dia pergi ke Tanjungpinang. Ada rapat dengan orang Dinas Pariwisata Tanjungpinang.'' jelasku, yang terpaksa mengarang cerita.


Sebenarnya aku nggak mau berbohong seperti ini. Tapi, di sisi lain aku juga takut, kalau terlalu jujur ke ibu. Sudah bisa aku bayangkan, kalau aku mengatakan yang sebenarnya, pasti ibu marah banget sama aku.


''Mi, ayah baik video call terus, dari tadi,'' kata Fira lagi, tiba-tiba muncul di tengah perbincangan aku dan ibu.

__ADS_1


''Biarkan saja, sayang. Kalau Fira mau angkat, juga boleh. Tapi, jauh-jauh dari Mami ya. Bilang sama ayah baik, kalau Mami sedang sibuk.'' jelasku pada Fira, dan dia pun berlari menuju kamar neneknya.


Tak lama, dia muncul lagi. Sambil mengatakan kalau dia nggak mau diajak balik. Katanya nanti ayah baik mau ajak jalan lagi, ke mall. Beli es krim.


''Hmmm....mati aku. Semoga ibu nggak berpikiran yang aneh-aneh setelah mendengar kata-kata Fira.'' gumamku membatin, dan was-was akan prasangka ibu padaku.


''Mi....Fira nggak mau pulang. Fira masih mau tinggal di rumah nenek.'' katanya merengek padaku.


Tapi, bagaimana pun juga aku harus mengajaknya pulang.


Karena, meninggalkannya di rumah ibu, tidak mungkin. Kasihan ibu, harus menjaga Fira. Memang, Fira sudah sedikit mandiri. Tapi, aku nggak tega, lihat ibu menjaga Fira. Takut ibu kelelahan.


''Sayang, kemasi barang-barang kamu. Besok kita balik. Cuti Mami sudah selesai.'' kataku memberitahu Fira.


Dia langsung protes, menolak diajak balik. Bahkan, kata dia, mau sekolah di rumah neneknya saja. Nggak mau balik ke Tanjungbalai Karimun.


Untuk mempengaruhi, aku bilang saja, kalau dia bertahan di Tanjungpinang, bakal nggak bisa ketemuan sama ayah baik. Mendengar itu, Fira langsung berubah pikiran.


''Ya udah, Mi. Fira ikut balik.'' katanya.


''Nah....begitu, baru anak Mami. Kalau mau di Tanjungpinang, boleh-boleh saja. Mami nggak melarang. Tapi, nanti jangan nangis-nangis minta jalan-jalan atau minta belikan boneka kuda poni sama ayah baik,'' kataku memberi pandangan ke dia.


''Iya Mi, Fira mau balik.'' ulagnya.


Meski sebelumnya sudah sempat sepakat mau ikutan balik, keesokan harinya dia malah menangis. Nggak mau berpisah sama neneknya.


Neneknya janji, kalau kapan-kapan akan menyusul ke Tanjungbalai Karimun.


Dengan susah payah, neneknya membujuk Fira, hingga akhirnya dia mau balik.


''Cucu nenek yang cantik ini, pinter. Nanti kapan-kapan nenek ke Tanjungbalai Karimun. Nenek bawain boneka kuda poni yang besar ya. Tapi, nenek cari dulu, di toko. Jadi, sekarang Fira balik dulu sama Mami.'' ucap ibuku berusaha menenangkan cucu perempuannya itu.


Sebelum beranjak ke pelabuhan, aku minta supir taksi, untuk mampir ke hotel. Karena harus menjemput Bos Robert.


''Mampir ke Hotel Harmoni ya, Pak!'' pintaku pada sopir taksi itu.


''Baik Bu.'' jawabnya.


Di sepanjang perjalanan, kulihat Fira masih pasang wajah cemberut. Hatinya pasti masih kesal, karena keinginannya untuk tetap tinggal di rumah neneknya, tak diizinkan.


''Sayang.....senyum dong. Besok besok kita kan main lagi ke rumah nenek.'' kataku membujuknya.


Bahkan, agar dia tersenyum lagi, aku menjanjikan beli es krim, sebelum naik kapal ferry.

__ADS_1


''Sayang, lihat Mami. Fira suka es krim kan....nanti kita beli es krim dulu ya sama ayah baik, sebelum naik kapal ferry.'' kataku dan dia kulihat masih membisu.


''Yah.....anak Mami yang satu ini kenapa terus cemberut ya.''


Akhirnya aku punya inisiatif, di taksi itu aku menelepon Bos Robert, lewat panggilan video call.


''Fira......sayang.....lihat ini, siapa yang telepon.'' kataku sembari memperlihatkan ponselku yang di layarnya sudah ada Bos Robert.


''Ih....anak ayah lagi merajuk ya. Senyum dong. Nanti sampai hotel, kita beli es krim dulu ya, terus kita balik ke Tanjungbalai Karimun.'' katanya berusaha membuat Fira tersenyum.


''Mau....nggak nih dibelikan es krim?'' tanya Bos Robert lagi, masih lewat panggilan video call.


Fira menggelengkan kepalanya. Tanda nggak mau menerima tawaran beli es krim itu.


''Nanti menyesal....kalau nggak mau. Kalau begitu, biar ayah baik aja yang beli es krimnya. Nanti ayah makan sendiri aja. Fira jangan kepengen ya.''


Mereka berdua masih terus ngobrol, hingga akhirnya aku sudah sampai di halaman parkiran Hotel Harmoni.


Kusodorkan selembar uang lima puluh ribuan, kepada supir taksi itu.


''Mau ditunggu nggak. Bu. Kalau mau ditunggu, kami standby disini saja.'' katanya menawarkan jasa angkutannya itu.


Tanpa berpikir panjang, aku pun mengiyakan saja.


Kulihat, di lobby hotel, Bos Robert sudah bersiap.


Fira, yang melihat keberadaan Bos Robert dari jauh, langsung menghambur ke dia.


''Hmmm.....ampun. Udah seperti anak Bos Robert aja, kamu sayang.'' selorohku dalam hati.


Bos Robert pun demikian, langsung menyambut hangat anak gadisku itu. Dia mendekapnya erat, lalu membelai rambutnya dengan penuh kasih sayang.


''Jawab dulu pertanyaan ayah baik. Kenapa tadi di taksi, anak ayah yang satu ini cemberut saja waktu diajak bicara?''


Fira masih diam.


''Jawab dong sayang.....kenapa sih.....cemberut terus.'' katanya masih mendekap Fira dalam pelukannya.


''Mami jahat.'' celetuknya.


''Lho kenapa?''


''Iya. Fira nggak boleh tinggal di rumah nenek,'' katanya seolah mengadu pada Bos Robert.

__ADS_1


''Iya dong....kasihan nenek. Nanti capek, kalau jagain Fira. Terus, kalau Fira tinggal di rumah nenek, kita nggak bisa jalan-jalan ke mall lagi.'' ungkap Bos Robert mencoba memberi pengertian ke Fira. Mendengar itu, sepertinya Fira bisa memahami apa yang dikatakan Bos Robert.(bersambung)


__ADS_2