
Seperti biasa, kalau di rumah, aku jarang ngobrol sama suamiku. Apalagi, suamiku jarang di rumah.
Balik ke rumah, jam 22.00 wib. Sampai rumah, dia makan, main hape. Tidur. Begitulah pekerjaan suamiku setiap hari, sampai tak kenal waktu.
Nggak tahu kenapa, tiba-tiba aku pengen banget berada di dekatnya. Sekali saja, ingin merasakan dipeluk meski sebentar. Sebagai istri, wajar, bukan?
''Ihhh....apaan nih. Sana! Sana! Panas suasananya malam ini. Nggak mau dekat-dekat.'' kata dia menolak, dan mengusir aku, seperti jijik kalau aku dekati.
Rasanya, hatiku perih ditolak seperti itu. Seketika, aku bangkit menjauh dari dia, dengan hati yang hancur, perih diiris sembilu.
''Ya Allah.....sejijik itu aku, didekatnya.'' kataku membatin, sedih.
Malam itu juga, aku putuskan lari dari rumah. Padahal, kulirik jam tanganku, sudah menunjukkan pukul 23.00 wib. Kuambil kunci mobilku, lalu dengan perasaan yang hancur berkeping-keping, kutiggalkan rumah dan juga Fira.
Sebenarnya aku nggak mau pergi meninggalkan rumah. Tapi, rasanya aku terhina banget, suamiku tak sudi saat aku berada di dekatnya.
''Tidur di hotel, mungkin lebih nyaman, malam ini,'' pikirku. Karena, aku nggak tahu mau kemana malam ini. Masa iya harus tidur di mobil. Terus, parkir dimana coba?'' gerutuku.
***
#Di salah satu hotel.
''Satu kamar, yang ukuran standart,'' kataku pada karyawan hotel di lobby itu.
''Oke kak....Rp275 ribu,'' sebutnya sembari membuat billnya.
Masuk ke kamar itu, rasanya hatiku hampa.
''Kenapa dengan hidupku, ya Allah? Ratapku masih dengan hati yang perih.
Malam ini, sepertinya awal kehancuran rumah tangga aku. Memang, baru pertama dia menolakku. Tapi, hatiku rasanya hancur mendapat penolakan itu.
#Sendiri di tempat rahasia
Kutuliskan statusku itu di status insta storyku. Tak kuduga, dia, siapa lagi kalau bukan bos Robert. Langsung meneleponku.
''Dimana?'' tanya dia setengah membentak.
''Nggak perlu tahu!'' jawabku. Tapi, sejujurnya aku ingin dia malam ini menemani kesendirianku. Aku ingin cerita sepanjang malam bersama dia, tentang luka perih hati ini.
''Cepat. Bilang dimana?!'' desaknya serius.
''Kamu jangan bikin aku panik!'' katanya lagi mengancam.
''Eh nggak usah ngurus aku. Mau dimana, itu bukan urusan kamu!'' bentakku dengan nada kesal.
__ADS_1
''Kamu bisa nggak bicara sopan sama aku!'' kata dia lagi. Memang, lama-lama kupikir, aku mulai berani membentaknya saat bicara tentang hal-hal yang sensitif.
''Cepatlah. Aku nggak mau berdebat sama kamu!'' katanya sedikit mulai melembut nada bicaranya.
''Aku ingin menyendiri. Kamu urus saja istri kamu di rumah itu. Nggak usa pedulikan aku!'' kataku.
''Tolonglah, aku peduli sama kamu. Keselamatan kamu, adalah tanggungjawab aku,'' sebutnya.
Ya Allah, dia benar-benar memang peduli sama aku. Dia terus mendesakku, menanyakan dimana keberadaanku. Hingga akhirnya, aku terpaksa mengaku.
''Aku di Hotel Harjuna.'' sebutku.
***
Suara pintu ketukan pintu kanmarku. Pasti itu bos Robert. Memang benar, itu dia. Saat aku buka pintu, dia muncul di hadapan aku. Tatapan matanya, membuat jantungku berdebar tak karuan. Senyumnya membuatku rindu. Apa dia malaikat penolongku?
Dia menutup pintunya, langsung memelukku erat sekali. Kurasakan pelukan hangat itu, menjalari ke seluruh tubuhku.
Seolah tak ingin melepaskan pelukannya, dia tetap memelukku meski kami sama-sama sudah duduk di tepi ranjang hotel itu.
''Kenapa kamu nggak bilang aku kalau mau kesini?'' tanyanya lagi sembari terus memelukku, dengan ******* nafasnya yang menggebu-gebu.
''Tolong lepaskan aku,'' kataku yang berusaha melepaskan diri dari dekapan eratnya itu.
''Sudahlah. Jangan diteruskan,'' kataku menghentikannya.
''Nggak bisa. Kamu sudah mencuri hati aku.'' balasnya.
''Kamu jangan bohongi dirimu sendiri. Kamu sebenarnya suka sama aku kan!?'' tanyanya sok tahu.
''Nggak. Aku nggak suka. Aku punya keluarga. Kamu juga punya keluarga.'' jelasku.
Tapi, lagi-lagi, dia menolak alasanku. Kata dia, alasanku nggak masuk akal. Baginya, kata hati itu nomor satu. Nggak boleh bohongi diri sendiri. Harus berusaha membahagiakan diri sendiri. Meski jalannya salah.
''Hahahahahaha! Dasar laki-laki sinting!'' sebutku dalam hati.
Sekali lagi, memang benar apa yang dia katakan. Pelan-pelan aku menerima pengakuannya, kalau dia memang suka sama aku. ''Tapi, ini salah. Bagaimana!'' batinku protes lagi.
Hingga akhirnya, malam itu, kami terlibat dalam permainan terlarang.
''Malam ini, kamu milikku. Malam ini, dan seterusnya!'' kata dia tanpa bisa aku bantah.
Malam ini, memang dia memberikan kenyaman yang tak pernah aku dapatkan dari suami aku.
''Kamu bisa jujur nggak sama aku. Kenapa malam ini kamu sendirian ke sini!?'' tanyanya.
__ADS_1
''Ceritanya pedih, kalau aku ceritakan.'' kataku.
''Mulai malam ini, aku akan melindungi kamu. Aku nggak mau kamu menderita. Aku sudah tahu, dari sejak awal kita ketemu. Aku mencari info tentang kamu.'' jelasnya.
''Kamu nggak bahagia kan dalam rumah tangga kamu!'' sebutnya to the point.
Pengakuan dia membuat aku tak percaya. Apa betul dia mengetahui kisah biduk rumah tanggaku, sedalam itu? Ah dia cuma menerka-nerka keadaan aku. Nggak mungkin dia tahu.
''Jujurlah!'' katanya lagi mendesakku.
''Jujur apa? Aku nggak ada masalah.'' sebutku berusaha biasa-biasa saja mengatakannya.
''Nggak. Kamu bohong. Kamu ada masalah sama suami kamu. Kalau memang nggak ada masalah. Kenapa kamu lari dari rumah malam ini?!'' katanya lagi.
''Aku memang sengaja lari dari rumah. Pengen menyendiri aja. Emang nggak boleh?'' tanyaku kesal.
''Bohong. Kamu masih aja bohong sama aku!'' katanya membantah pernyataan aku tadi.
''Dia menolak aku, malam ini. Jadi aku pergi dari rumah!''
''Menolak gimana?''
''Panjang masalahnya.'' jawabku lagi, masih nggak ingin cerita sama bos aku itu.
''Sudahlah, kamu pulang saja. Kasian anak istri kamu, dia butuh kehadiran kamu di sisinya. Malam-malam begini, perempuan butuh diperhatikan!'' kataku memberi saran ke dia, supaya dia pergi meninggalkan aku sendiri.
''Hmmm itu kamu kan......yang butuh diperhatikan?'' katanya mengejek aku.
''Apaan sih. Ngapain minta perhatian sama suami orang. Nanti dibilang pelakor!'' jawabku seenaknya sendiri.
''Hahahahahaah. Nggak lah. Bukan pelakor. Tapi, pencuri hati lelaki!'' sebutnya sambil terkekeh.
''Ya udah, kamu istirahat ya. Urusan kita belum selesai. Besok aku hubungi kamu. Temani aku makan siang!'' pintanya.
''Nggak mau. Ajak aja orang lain. Hahahahaha!'' jawabku.
''Ih bandel banget sih,'' katanya sembari memencet hidungku yang mancungnya tak seberapa ini. Hahahahah!
''Temani. Kalau nggak mau, awas aja!'' ancamnya padaku.
''Awas apa, nggak takut. Mau dimutasi? Aku malah seneng banget kalau dimutasi. Biar nggak ketemu kamu!''
Setelah itu, dia buru-buru pergi karena istrinya menelepon menanyakan keberadaannya.
Setelah dia berlalu dari hadapan aku, aku nggak habis pikir, kenapa dia begitu perhatian sama aku.(***)
__ADS_1