Maaf Suamimu Aku Pinjam

Maaf Suamimu Aku Pinjam
Dimarahi Bos Lagi


__ADS_3

Hari Senin, Bos Robert sengaja nggak masuk kantor. Dia ada keperluan mendadak, karena ada saudaranya yang masuk rumah sakit. Kalau bos lagi nggak di kantor, beberapa staf, terlihat senang, riang gembira. Termasuk aku juga senang bukan main. Apalagi, aku. Rasanya, seperti terbebas dari belenggu beban yang berat. Hahahahahah!


Kalau ada dia, pasti beberapa pekerjaan dilempar ke aku. Tapi, itu bukan jadi soal. Bagiku, itu memang sudah tugas aku, sebagai staf. Harus menyelesaikan pekerjaan yang dibebankan oleh pimpinan.


''Cit, makan siang yuk,'' ajakku ke teman satu bidang sama aku.


''Yuk Kak, aku paling mau banget kalau diajak makan,'' jawab Citra.


Seketika itu, dia membereskan mejanya. Berniat ikut makan siang bareng aku.


Hmmm....Hari ini aku benar-benar melenggang dengan tenang, tanpa bayang-bayang Bos Robert.


***


''Kita pakai mobil aja ya,'' kataku pada Citra.


''Oke Kak,'' Citra mengikuti langkah aku dari belakang. Sedangkan aku, buru-buru ke parkiran mobil.


''Udah kamu tunggu sini aja,'' kataku.


Tapi, Citra menolak. Katanya, dia memilih langsung ikut ke parkiran saja.


''Nggak apa Kak, aku ikut ke parkiran aja. Kalau tunggu disini, udah kayak bos aja, aku! Ups!'' celetuk Citra.


''Hahahahah. Kamu bisa aja,''


Tak sampai semenit, aku dan Citra, masuk mobil, dan meluncur ke warung soto Bude Dharmi.


''Cit, aku kemarin nggak masuk, gimana kantor?'' tanyaku, sambil terus menyetir.


''Maksudnya Kak?'' tanya Citra balik, sedikit bingung.


''Tapi, yang paling ribut, bos kita.'' cerita Citra.


''Maksudnya ribut, gimana nih?'' tanyaku penasaran, dan aku tiba-tiba ngerem mendadak karena ada kucing yang tiba-tiba menyeberang jalan.


Citra ikut tersentak kaget, dan dia tak sempat melanjutkan ceritanya itu.


Tapi, alhamdulillah, jalanan sepi. Belakang mobil aku, nggak ada pengendara lain.


''Ya Allah alhamdulillah, nggak kenapa-kenapa, kucing tadi, dan untung di belakang tadi nggak ada kendaraan lain. Kalau sempat ada, nggak tahu lagi, aku Cit,'' kataku dengan jantung yang masih berdebar karena kaget.


Sampai di warung soto Bude Dharmi, aku langsung pesen air hangat, untuk menghilangkan rasa kaget aku tadi.


''Bude, mau air putih hangat. Aku kaget banget. Soalnya tadi hampir aja aku nabrak kucing mau menyeberang jalan.'' ceritaku sama Bude Dharmi.

__ADS_1


''Oalah Neng.....kok iso, hati-hati toh, kalau bawa kendaraan.'' katanya menasehati dan mengingatkan aku.


''Iya Bude. Tadi untungnya aku memang nggak ngebut. Sempat ngebut, tak tahu aku, Bude!'' kataku.


''Yo wis, minum ini air putihnya dulu, biar kagetnya ilang,'' kata Bude itu yang kental dengan logat jawanya.


''Maemnya apa, Neng?'' tanya Bude Dharmi, memanggilku dengan panggilan Neng.


''Soto, Bude ya,'' jawabku. Bersamaan dengan itu, Citra juga order soto.


''Minumnya es teh ya,'' sebutku.


''Kamu, Cit?'' tanyaku.


''Sama aja Kak. Eh es teh!'' sebut Citra, yang terlihat sibuk otak-atik ponselnya.


''Bude, kalau bikin acara, boleh nggak ya, bantuin masak sotonya,'' kataku pada perempuan setengah baya yang usianya sebaya dengan ibuku.


''Ya boleh toh, Neng. Bude malah senang kalau diminta bantuin.'' sebutnya dengan wajah sumringah.


''Kapan, terus acara apa?'' tanya Bude lagi.


''Tanya dulu, Bude. Kapan-kapan kalau ada acara, yang menunya pengen buat soto, aku panggil Bude, ya ke rumah aku,'' sebutku.


''Iya, Neng. Atur wae. Bude siap kapan aja dipanggil suruh bantuin, Bude pasti mau.'' jawabnya meyakinkan.


Karena penasaran soal cerita bos, aku coba-coba menanyakannya lagi ke Citra.


''Cit, tadi kamu bilang, Bos Robert ribut kalau aku nggak masuk? Maksudnya gimana?'' kataku pasang wajah penasaran.


''Ohh...rupanya kakak penasaran? Kadang aku disuruh telepon ke kakak, suruh tanya, kenapa nggak masuk. Padahal, kakak kan udah izin ke bagian Kepala TU. Bahkan, ada suratnya lagi. Kakak izin, karena sakit. Eh kita masih aja disuruh telepon. Aku bilang aja, telepon kakak nggak aktif. Terpaksa aku harus berbohong!'' cerita Citra, panjang lebar.


Aku hanya geleng-geleng saat mendengar cerita Citra. ''Kenapa separah itu, bos aku ya?'' gumam aku dalam hati.


''Pokoknya asal kakak nggak masuk, dia suruh Citra telepon kakak. Tapi aku sering bohongi bos. Aku bilang aja nomornya nggak aktif.'' imbuh Citra lagi.


***


Setelah selesai makan, kami balik ke kantor. Tak aku sangka, bos Robert sudah ada di kantor. Padahal, kudengar, tadi katanya hari ini nggak masuk kantor.


Aku dan Citra pun langsung bergegas ke ruangan kerja, pura-pura sibuk dengan pekerjaan masing-masing.


Bos Robert mendekat ke arah kami. Dia protes, katanya jam makan siang sudah lewat setengah jam.


''Ini, sudah jam berapa? Kenapa baru masuk kantor?''

__ADS_1


Aku dan Citra diam saja.


''Maaf Pak,'' kataku.


''Tadi, kami telat, karena antri isi bensin di SPBU,'' jelasku padanya, terpaksa berbohong. Kulihat, Citra juga spontan minta maaf ke bos.


''Maaf Pak.'' kata Citra dengan wajahnya yang tertunduk ketakutan.


''Lain kali jangan diulang. Jadi staf, harus disiplin, kalau mau berkembang,'' sebutnya dan dia berlalu meninggalkan kita berdua.


***


Aku bergegas ke parkiran, setelah jam kantor berakhir. Eh..si Bos Robert itu mengikuti aku dari belakang. Tiba-tiba meraih tanganku, dan aku berusaha menepisnya, sambil celingukan. Karena, aku khawatir ada yang tahu.


''Bisa viral nanti aku.'' gerutuku kesal.


Semakin aku tepis, dia semakin kuat menggenggam tanganku.


''Lepas nggak!'' bentakku.


''Tunggu aku mau bicara!'' katanya dan akhirnya aku nggak jadi masuk mobilku.


''Bicara apa, soal kantor? Besok kan bisa!'' jelasku lagi sembari berusaha melepaskan tanganku dari pegangan tangannya.


''Ih. Jangan kayak anak-anak. Malu kita dilihat orang!'' sebutku lagi masih kesal.


''Kenapa sih kamu ini, nggak ada pedulinya sedikit aja sama aku?!'' katanya padaku.


Aku langsung melepas tawa. Kubilang sama dia, aku nggak punya kewajiban, untuk peduli sama dia.


''Emang hubungan kita apa? Aku harus peduli sama kamu!'' kataku sinis.


''Coba tanya pada hati kamu? Kamu merasa ada hubungan nggak sama aku?'' tanya dia balik dan semakin erat memegangi tanganku.


''Ya Allah, untung saja sudah mau jam 18.00 wib. Sejumlah staf kantor memang sudah pulang semua. Di kantor, hanya aku dan dia, di area parkir ini.


''Tolong lepas aku. Anak aku sudah menunggu di rumah. Aku sudah janji mau ajak dia jalan-jalan.'' kataku berusaha mengakhiri perbincangan sore itu. Mana mau maghrib.


''Oke....ajak dia, kita jalan bertiga!'' perintahnya.


''Nggak mau.'' elakku.


''Ayolah, beri aku kesempatan untuk menyayangi kamu dan juga anak kamu!'' katanya memelas padaku.


''Hahahahah. Kamu mabuk atau apa? Memberi kesempatan? Hubungan kita aja nggak jelas. Sudahlah. Urus aja keluarga kamu, dan aku juga akan urus keluarga aku.'' sebutku lagi.

__ADS_1


''Please. Beri aku kesempatan,'' katanya lagi, dengan suara lirih.(***)


__ADS_2