
Sejujurnya, kuakui, diam-diam, aku merasa nyaman berada di dekatnya.
Tapi, aku masih maku untuk mengatakan itu padanya.
''Nanti, dia bisa besar kepala kalau aku sampai jujur soal itu,'' aku cerita itu ke Bayu.
''Bahkan, aku juga rela dan ikhlas, jadi yang kedua.'' imbuhku.
''Wowwwwww.....amazing!'' celetuk Bayu.
''Pikir baik-baik. Nanti menyesal kemudian, tiada guna,'' kata Bayu lagi mengingatkan aku.
''Hmmm. Iya,'' kataku, acuh tak acuh menanggapinya, karena Bayu sebenarnya tak mendukung hubungan aku dengan Bos Robert.
''Di awal-awal saja, laki-laki itu baik. Nanti, kalau sudah masuk ke fase bosan, kita bakal ditinggalin. Apalagi status kita hanya sebagai yang kedua,'' ungkap Bayu panjang lebar.
''Berarti kamu seperti itu, dong. Wkwkwkwk!'' kataku sembari melepas tawa.
''Nggak salah,'' tandasnya.
''Hmmm.....kacau!'' sahutku.
''Aku hanya ngasih saran. Kalau memang kamu mantap sama dia, ya lanjutkan. Tapi, kami juga harus ingat, ada konsekwensi yang harus kamu terima, ketika menjadi perempuan kedua. Ups!'' tegas Bayu.
''Iya...iya...paham. Tapi, sumpah aku sudah siap kalau aku harus jadi yang kedua.'' kataku mantap saat mengatakan itu pada Bayu.
''Bayu, tapi tolongin aku ya. Cerita ini jangan sampai menyebar kemana-mana. Cerita ini hanya kamu dan aku yang tahu. Di kantor aku juga, hanya Fitri yang tahu.'' jelasku, sembari memohon kepada Bayu untuk merahasiakan kisahku ini.
''Boleh bertanya nggak?'' kata Bayu.
''Nggak boleh....kalau tanya aneh-aneh. Tapi, kalau tanya, dikasih duit mau nggak? Baru aku jawab!'' kataku bergurau.
''Serius ini. Jawab jujur ya.....,'' kata Bayu.
''Apa sih?!'' kataku kesal karena Bayu suka buat penasaran.
''Andai.......,'' katanya.
''Andai kamu.....jadi istri kedua Bos Robert, apa yang kamu lakukan?''
''Aku mau, dia meluangkan waktu lebih banyak, untukku,'' sahutku percaya diri.
''Ih....jangan GR. Belum tentu dia meluangkan waktu lebih banyak untuk kamu. Dia punya anak istri yang juga jadi prioritas dia.''
''Ya. Benar banget kata kamu. Tapi, dia bilang, aku selalu jadi prioritasnya. Karena, dia sudah nggak cocok sama istrinya.'' jelasku mencoba membela diri.
__ADS_1
''Iya.....baiklah kalau memang kamu yakin. Lanjutkan. Tapi, pikir lagi, masa depan kamu masih panjang. Kamu yakin, jadi yang kedua bisa bahagia?'' ungkap Bayu dan pernyataannya itu sedikit menggoyahkan hatiku.
''Sekarang aja, katanya kamu suka dikekang. Mau temanan sama cowok, cowok itu dilabrak. Aku takut banget kalau jumpa sama kamu kayak begini.'' keluh Bayu dan aku terkekeh mendengar curahan hati dia.
Kata-kata dia benar. Aku harus berpikir lagi soal melanjutkan hubungan aku sama Bos Robert. Kalau aku yang mundur, Bos Robert nggak mau melepasku. Ini benar-benar dilema.
***
Nggak tahu kenapa, belakangan ini, Bos Robert suka marah nggak jelas. Imbasnya, kena ke aku. Aku suka jadi sasaran amuknya. Aku pun berusaha menghindar, biar dia bisa menenangkan diri. Ternyata, cara aku itu salah. Dia justru minta diperhatikan. Kata dia, kalau lagi ada masalah, istrinya di rumah semakin buat dia pusing kepala, dengan tuntutan kebutuhan rumah tangga yang tak ada habisnya.
''Kamu kenapa, sayang. Marah-marah aja kerjanya.'' kataku mencoba mendekatinya.
''Kamu itu cuek kalau aku ada masalah.'' katanya, menyalahkan aku.
''Kalau aku cuek, kenapa kamu ikut cuekin aku!?'' katanya masih dengan nada emosi.
''Hmmm...kamu nggak cerita. Gimana aku mau tahu.'' kataku lagi, membela diri.
''Iya kamu beda sekarang. Kurang perhatian lagi sama aku.'' protesnya.
Aku diam saja menghela nafas panjang, karena nggak tahu mau harus jawab apa, atas perkataannya itu.
''Jadi, maunya apa, coba bilang sama aku.''
''His nggak lucu!'' jawabku.
Akhirnya, demi mengambil hatinya, aku ajak makan siang saja. Karena dengan cara itu, aku bisa bicara dari hati ke hati.
''Kalau kamu nggak ada waktu, nggak apa, nggak usah dipaksa,'' kata Bos Robert, sok jual mahal.
''Ya ampun, Bapak Kepala Dinas yang satu ini kenapa suka marah-marah ya belakangan ini.''
''Udah kamu pergi saja sama teman kamu cowok. Siapa itu. Bayu ya!'' ungkapnya masih sewot.
Akhirnya, aku tarik tangannya dan aku ajak naik mobil aku.
Kukatakan padanya, aku siang ini ingin makan seefood di rumah makan Pak Dollah. Dia diam aja, nggak meresponnya.
''Bayarin ya, Pak Kadis yang baik hati.'' kataku mencoba menggodanya.
''Nggak ada duit!'' jawabnya.
''Coba sini saya cek, dompetnya!''
Tanpa berpikir panjang, dia mengambil dompet di saku celana belakangnya, lalu menyerahkan ke aku.
__ADS_1
Kulihat, ada beberapa lembar uang seratus ribuan. Lima puluh ribuan dan dua lembar uang lima ribuan.
"'Wuih, banyak.'' kataku yang nyambi mengendalikan kemudi mobilku.
''Kalau kamu mau, ambil aja semua.'' kata Bos Robert yang bicara malas-malasan.
''Beneran, nanti aku ambil semua sama dompetnya sekalian, ada yang nggak makan, di rumah.'' ungkapku.
''Dia terus bertanya ke aku, siapa perempuan yang dekat dengan aku di kantor. Kalau nggak aku jawab, dia nangis terus.'' ceritanya serius.
''Makanya aku pusing kalau di rumah, nggak nyaman.'' keluhnya lagi.
''Jawab aja, nanti aku kenalin!'' kataku memberi saran.
''Beneran, mau dikenalin ke dia?'' tanyanya iseng.
Aku diam saja. Dalam hati, kalau pun mau, itu namanya bunuh diri. Aku nggak mungkin melakukan itu. Kecuali, kepergok berdua, baru aku pasrah.
''Nanti, ya ada waktunya aku kenalin. Kalau Mami teman kantor aku.'' katanya senyum-senyum.
''Nggak bakalan kamu berani melakukan itu. Kalau sampai berani, aku ajak kamu jalan-jalan selama 2 hari.'' sebutku menantangnya.
''Yah....cuma 2 hari. Ajak jalan itu, seminggu. Seminggu ya.' Masa cuma tiga hari,'' pintanya, bernegosiasi dengan aku.
''Hmmmm....memang nggak kerja, liburan seminggu.'' tanyaku, ingin kepastiannya.
''Biarkan saja soal kerjaan. Bosnya kan aku. Mereka mau marah, nggak bisa dong!'' katanya, menyombongkan diri.
''Nggak bener kepala dinas yang satu ini,'' celetukku.
''Ke depan, aku ganti aja kepala dinasnya. Hahahahahah!'' selorohku lagi.
''Udah ah, cepetan. Lapar ini. Kita makan dulu, di rumah makan Pak Dollah.'' sebutnya dan aku mempercepat laju mobilku.
Di rumah makan Pak Dollah, lagi-lagi bahas soal Bayu. Dia malah mengintrogasiku. Tak hanya sekedar mengintrogasi, dia juga menuduhku ada affair dengan Bayu. Aku berusaha diam, saat dia nyerocos nggak jelas. Soalnya perut aku lapar. Nggak ada tenaga mau berdebat sama dia.
''Kalau pisah, rindu. Giliran waktu jumpa berdua, asik mau kelahi, bahas yang masalah-masalah yang nggak jelas. Bingung aku dengan hubungan ini. Mau diakhiri, aku nggak siap. Mau bertahan, berat banget rasanya, selalu saja ada perdebatan-perdebatan yang nggak jelas. Ujung-ujungnya, setelah perang dunia ketujuh, pasti sehari setelah itu, baikan lagi.'' gumamku bingung sendiri.
''Benar-benar seperti buah simalakama.'' gerutuku.
''Tahu kalau mau kelahi kayak begini, aku tak mau ajak kamu makan, Bang. Heran aku, asal ketemu, pasti ada aja tuduhan yang nggak jelas buat aku. Kalau memang aku ada affair sama Bayu, aku nggak bakalan sering jalan sama kamu. Ingat itu.''
Terpaksa aku nggak menghabiskan makanan aku, karena perdebatan itu, membuat aku sudah nggak selera melanjutkan makan. Aku diam setelah itu. Setelah kulihat dia selesai makan, aku bergegas ke kasir membayar makanan aku. Lalu tanpa kata aku ke mobil. Dia pun mengikuti aku dari belakang, masuk ke mobilku.
Sepanjang jalan pulang, kami hanya diam, begitu juga dia.(bersambung)
__ADS_1