
Sepekan belakangan ini, aku dan Bos Robert lagi nggak akur. Jadi, demi menenangkan diri, aku lebih baik nggak muncul di hadapannya. Dibalik semua itu, jujur kuakui, rasanya dunia sepi, menjauh dari dia. Tapi, mau bagaimana lagi, aku harus melakukan itu, demi kebaikan bersama. Ya.....cinta harus ada jeda!
''Dituduh melakukan hal yang tidak kita lakukan itu, rasanya sakit banget.''
Kutuliskan status itu di pesan insta story aku.
''Dituduh....? Siapa yang menuduh kamu? Bukannya memang benar. Kalau kamu suka jalan sama pria lain, saat aku nggak mengawasi kamu!'' kata Bos Robert menuduhku seenaknya.
Aku nggak terima karena aku merasa nggak pernah melakukan hal itu.
''Nggak usah ngurus orang. Urus aja urusan kamu sendiri.'' kataku, dan langsung kumatikan ponselnya.
***
Mau nggak masuk kantor selama sepekan, rasanya nggak mungkin. Nanti pasti tunjangan aku hilang, kena potong sama orang bagian Tata Usaha. Karena, memang sudah jadi aturan tetap, siapa yang nggak masuk selama sepekan, tunjangan, bakal ditiadakan. Hingga akhirnya aku terpaksa harus masuk kantor.
Pagi, itu aku benar-benar nggak menyangka, karena begitu aku sampai ruangan kerjaku, Bos Robert memintaku ke ruangan kerja dia.
''Kak, dipanggil Bapak,'' kata Fitri, pelan.
''Oke.....'' kataku, dan aku langsung bergegas ke ruangan kerja Bos Robert.
''Kamu kenapa.'' tanya Bos Robert padaku dan aku diam sejenak. Tak ingin merespon pertanyaannya.
''Maaf kalau hanya untuk berdebat, sepagi ini, lebih baik aku besok mengajukan pindah saja. Maaf aku juga nggak bisa terus-terusan seperti ini.'' kataku pasrah, sambil menahan emosi.
''Aku nggak tahu harus mengatakan ini berapa kali kepada kamu. Aku pusing kalau kamu menjauh dari aku. Jadi, aku mohon, pahami aku.'' ungkapnya.
''Maaf sepertinya kita sudah nggak sejalan. Kamu mau aku menuruti semua yang kamu inginkan. Sementara kamu, sama sekali nggak pernah memahami aku,'' protesku.
''Nyaris setiap ketemu, kita selalu mau baku hantaam. Sebenarnya ini hubungan seperti apa. Aku nggak paham.'' kataku lagi dan aku berusaha hendak beranjak dari ruangan dia. Tapi, lagi-lagi dia menarik tanganku.
Aku bilang juga sama dia, sebaiknya hubungan ini diakhiri karena lebih banyak baku hantam, ketimbang romantisnya.
''Aku bilang aja sama semua orang kalau aku cinta sama kamu! Bagaimana? Biar kamu percaya bahwa sebenarnya aku sangat sayang sama kamu,'' katanya dengan nada mengancam.
__ADS_1
''Jangan gila kamu. Kamu itu disini pejabat. Jadi panutan anak buah. Harus memberikan contoh yang baik. Bukan contoh yang buruk,'' kataku mengingatkannya.
''Kamu nggak tahu ya siapa aku. Kalau kamu ingin bukti, akan aku lakukan. Nanti akan aku umumkan di depan pegawai yang ada di kantor, kalau kita sedang menjalin asmara.'' ulangnya lagi, meyakinkan aku.
''Ih.....dasar sinting. Dimana akal sehat kamu. Kalau kamu lakukan itu, aku benar-benar akan mengajukan pindah dari kantor ini. Aku sudah nggak bisa bertahan di situasi seperti ini.'' ancamku, serius.
Tiba-tiba dia memelukku erat. Memohon padaku, untuk tidak meninggalkan dia.
''Tolong aku MI, jangan seperti itu. Aku nggak bisa jauh dari kamu, Mi,'' kata Bos Robert yang semakin erat memelukku.
''Ya Allah, jujur saja, sebenarnya aku nggak ingin berpisah dari dia. Aku juga merasakan hal yang sama, aku nggak semangat tanpa dia. Begitu juga dia, nggak semangat tanpa aku. Tapi, sampai detik ini, aku tak ingin buru-buru mengatakannya.'' gumamku dalam hati.
***
Pertemuan pagi itu, dilanjutkan malam hari. Seperti biasa dia ingin mengajakku jalan-jalan ke villa rahasianya. Aku nggak menolak, karena aku memang merasa nyaman bersama dia.
Untuk kali kedua, aku ke villa rahasia itu. Di sana, kami seharian, memadu kasih.
''Mi, jujur aku merindukanmu, kalau lagi ada masalah di rumah atau di kantor. Karena di otakku, hanya ingin bercinta sama kamu.'' katanya menggodaku.
''Kamu bisa nggak berhenti menggombal,'' celetukku. Dia terus melucuti pakaianku, menelusuri titik-titik tersembunyiku. Aku hanya pasrah saat dia melakukan itu.
''Aku sudah lama nggak melakukan ini,'' aku Bos Robert yang terus agresif.
''Siang itu, aku nggak bisa menolak sentuhan-sentuhan erotisnya, karena aku memang menikmatinya.'' kataku membatin, sambil terus membalas sentuhan-sentuhan nakalnya itu.
''Jujur, kamu juga merindukan aku, bukan?''
''Nggak!'' elakku.
''Jangan bohong Mi, aku benar-benar menginginkan kamu, seutuhnya. Karena kamulah semangat aku.'' akunya lagi. Dalam hitungan sepuluh menit kemudian setelah pemanasan itu, aku menyerahkan sesuatu milikku yang selama ini nggak pernah aku serahkan ke Mas Arga.
Ya!!! Mulai siang itu, dia adalah pemilik resminya. Aku pun berjanji dalam hati, dia adalah satu-satunya lelaki yang berhak menyentuh daerah-daerah terlarangku.
''Punya kamu hebat.'' katanya memujiku.
__ADS_1
''Tubuhmu masih indah, sayang. Makanya aku jatuh hati dengan semua yang ada pada kamu.'' imbuhnya.
Siang itu, benar-benar tak ada sehelai benangpun yang menutupi tubuhku, dan dia bebas memainkannya hingga beberapa kali.
''Mi, aku cinta mati sama kamu. Kamu perempuan impianku sejak dulu.'' katanya terus membelai ujung rambut sampai ujung kakiku.
Aku benar-benar nggak berkutik saat dia menjelajahi daerah-daerah terlarangku, hingga berkali-kali.
*Ponsel Bos Robert bergetar.
*Istri. Begitu tertulis di layar panggilan masuk ponselnya.
''Sttt....istri aku telepon. Jangan bersuara,'' katanya sembari terus memainkan dua gunung kembarku yang selama ini juga tak pernah aku persembahkan buat Mas Arga.
Sebenarnya aku ingin mempersembahkan seutuhnya buat dia seorang. Tapi, sudah tiga belas tahun ini, dia tak pernah ingin berkunjung ke dua gunung kembar itu. Jangankan berkunjung. Dia nggak ingin menyiramnya dengan air kehidupan.
''Iya....Ma....aku cepat balik,'' kata Bos Robert sembari mengakhiri percakapannya dengan istri.
''Semua punya kamu, aku suka. Karena semuanya indah,'' pujinya.
''Jangan menggombal.'' kilahku pura-pura menolak pujiannya.
***
Rasanya setelah pertemuan siang itu, aku nggak ingin berpisah dari dia. Begitu juga dia, dia bilang ingin selalu membahagiakan aku.
''Mi, aku ingin membahagiakan kamu.'' janji Bos Robert itu masih terngiang-ngiang di telinga aku, sampai sekarang.
Perlakuan dia yang begitu mengistimewakan aku, membuat aku semakin jatuh hati sama dia.
''Mi, aku nggak peduli bagaimana kisah kamu dengan Arga, yang pasti, mulai sekarang kamu milikku. '' katanya, kemarin siang sebelum kami berpisah.
''Kamu nggak jijik, sama aku? Soalnya aku sudah cerita kalau Mas Arga itu ODHA.'' tegasku minta kepastian dari Bos Robert.
''Nggak. Karena aku yakin kamu nggak pernah disentuh dia. Ngapain jijik!'' katanya meyakinkan aku.
__ADS_1
''Makasih ya kamu sudah mau menerima aku apa adanya. Tapi, aku masih pesimis, kita bisa nggak ya bersatu. Kalau aku, jelas, bisa minta cerai. Kamu? Nggak mungkin bukan, mau menceraikan istri kamu?'' celetukku penasaran menunggu jawaban dia apa.
Tapi, dia memang diam nggak menjawab pertanyaan aku tadi.(bersambung)