Maaf Suamimu Aku Pinjam

Maaf Suamimu Aku Pinjam
Menghindar


__ADS_3

Bos Robert terlihat gelisah. Mondar-mandir di ruangan kerjanya. Menunggu kedatangan Winona.


Entah berapa kali dia mencoba menghubungi Winona tapi ponselnya tak aktif. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk mendatangi rumah Winona.


Hasilnya nihil. Di rumah, Winona juga nggak ada.


''Bayu dimana posisi kamu?'' tanya Bos Robert ke Bayu, by phone.


''Di kafe noname Pak,'' jawab Bayu.


Bayu memintaku cepat-cepat pergi dari kafe noname, karena Bos Robert hendak menemuinya. Bayu juga terlihat panik. Dia sudah bisa memastikan, tujuan Bos Robert menemuinya, tak lain pasti menanyakan keberadaan aku dimana.


''Maaf ya, aku harus pergi kalau begitu!''


''Yu, tolong bilang sama dia, aku nggak mau ada urusan apapun dengan dia. Surat permohonan pindah aku, segera aku sampaikan ke Badan Kepegawaian Daerah. Doain di setujui ya, biar aku bisa hidup tenang, terbebas dari dia,'' sebutku dengan hati yang diselimuti rasa penyesalan, karena sudah terlalu jauh berhubungan dengan Bos Robert.


Hanya selisih sepuluh menit, setelah aku pergi, kata Bayu, Bos Robert sampai di kafe itu. Sesuai dugaan Bayu, dia memang menanyakan keberadaan aku.


***


Kata Bayu, tanpa basa-basi, Bos Robert langsung bertanya soal dimana aku saat ini.


''Terserah kamu mau bilang atau nggak, yang pasti aku akan mengakhiri semuanya, Yu! Aku nggak mau ada urusan lagi, sama dia,'' kataku pada Bayu, lewat WhatsApp.


''Nggak akan aku katakan kamu dimana. Tenang aja,'' jawab Bayu. Tapi, sejujurnya aku ingin ketemu Bos Robert, untuk mengakhiri semuanya.


''Tunggu ya nanti aku hubungi kamu, setelah Bos Robert pergi. Dia masih mendesak aku untuk mengatakan dimana keberadaan kamu. Aku bilang nggak tahu. Tapi dia nggak percaya dan terus memaksaku.'' imbuh Bayu.


Setelah chat terakhir, aku matikan ponsel. Rencananya, aku akan menemuinya besok pagi.


Rasanya, aku jadi orang pengecut. Lari dari masalah. Mungkin, lebih baik aku selesaikan baik-baik dengan Bos Robert.


Aku chat dia, minta ketemuan di villa miliknya. Karena aku nggak mau ada masalah, kalau sampai istrinya memergoki aku.


Dia setuju, lalu setengah jam kemudian, aku dan dia bertemu.

__ADS_1


Dia bilang minta maaf karena sudah membuat aku was-was dan ketakutan dengan kedatangan istrinya ke kantor, kemarin.


Namun, dia berjanji, apa pun yang terjadi, dia tetap memilih aku.


''Gila! Aku nggak bisa meneruskan hubungan ini.'' kilahku.


''Perlu kamu catat, kamu nggak usah kasian sama aku. Ini sudah takdirku.'' sebutku lagi masih dengan diselimuti rasa emosi.


''Tolong aku, aku mau sama kamu sampai mati.'' katanya ngotot mengatakan itu padaku.


Aku langsung mentertawakan dia.


''Hahahahaha! Darimana jalannya, kamu mau sampai mati sama aku. Kamu aja punya keluarga sendiri. Urus saja keluarga kamu, Tuan Robert.'' kataku dengan tegas.


''Nggak mau. Aku nggak mau pisah sama kamu. Tolong aku! ulangnya.


''Sekarang aku mau tanya kamu betul-betul. Kita mau bersama sampai mati? Terus anak istri kamu gimana? Pikirkan itu. Aku nggak mungkin jadi pengganggu di kehidupan kalian,'' jelasku setengah meninggi.


Dia diam, tak bisa menjawab pertanyaan aku. Tiba-tiba dia menggenggam erat tanganku. Saat aku ingin menepisnya, dia semakin erat menggenggamnya.


''Nggak peduli. Siapapun kamu, aku nggak akan melepaskan kamu. Karena aku sayang kamu.'' akunya.


''Jangan memaksakan diri untuk peduli ke aku.'' kilahku lagi.


''Nggak Winona, semakin hari, aku semakin sayang sama kamu. Kamu juga perlu tahu. Andai suatu hari ketahuan sama istri aku, kalau kita pacaran, aku nggak takut. Aku bisa nikahi kamu, kalau kamu mau!'' katanya semakin memaksa aku.


''Ya Allah, laki-laki ini baik banget sama aku. Dia nggak peduli, aku ini siapa. Tapi, dia tulus mencintai aku,'' gumamku dalam hati, sedih.


''Sudahlah, tolong hargai permintaan aku. Aku ingin mengakhiri semuanya,'' kataku jujur padanya.


''Nggak bisa. Sejak pertama aku kenal kamu, aku sudah jatuh hati sama kamu!'' kata Bos Robert, meyakinkan aku.


''Ingatlah, kamu jangan buat hancur hidup kamu sendiri. Aku ini hanya perempuan pengganggu di kehidupan kamu. Jujur, aku juga nggak siap jika suatu hari aku dilabrak sama istri kamu, terus aku dituduh jadi pelakor. Dimana harga diri aku. Aku juga perempuan. Aku bisa merasakan, bagaimana hancurnya hati perempuan saat belahan jiwanya dicuri perempuan lain!'' masih kataku, panjang lebar.


Sekali lagi, dia nggak mau mendengar alasan apapun dari aku. Dia tetap bersikukuh, ingin melanjutkan hubungan ini.

__ADS_1


''Kemarin, istri aku hanya dengar-dengar isu. Dia juga nggak tahu, soal kamu!'' jelas Bos Robert menenangkan aku.


Dalam hati, aku bersyukur. Ini artinya aku masih dilindungi sama Tuhan. Kalau istri Bos Robert tahu, aku adalah perempuan yang dekat dengan suaminya. Hidupku pasti sudah tamat.


''Tolong jangan pergi dari hidup aku. Karena aku merasa, selama ini kamu sudah memberikan kenyamanan dalam hidup aku.'' katanya lirih, padaku.


Tapi, di sisi lain, aku yang selalu was--was karena takut jika sewaktu-waktu ketahuan orang rumahnya.


***


Di kantor, aku berusaha sebisa mungkin mengurangi interaksi dengan Bos Robert. Besar harapan aku, permohonan pindah bidang, segera dikabulkan.


Aku terkejut, saat Bos Robert melempar sobekan kertas di meja kerja aku.


''Apa-apaan ini. Apa maksudnya kamu mengajukan pindah bidang?'' bentaknya.


''Ya Allah, untung saja ini jam istirahat. Nggak ada staf satu orang pun di ruangan kerja aku. Kalau sempat ada orang yang tahu masalah aku, betapa malunya aku.'' gumamku sambil mengurut dada.


''Nggak akan aku izinkan kamu minta pindah bidang. Kamu pikir aku akan melepas kamu, setelah apa yang terjadi dengan kita selama ini?'' sebutnya penuh emosi.


''Mau pindah ke ujung dunia sekalipun, aku nggak akan izinkan. Dengar itu,'' tegasnya.


Gagal sudah rencana pelarian aku. Hahahahah!


''Gimana mau lari, dikejar dia terus!'' gerutu aku.


''Sebenarnya mau kamu apa, sih?!'' bentak aku kesal.


''Aku mau kamu!'' sahutnya. Aku langsung terdiam, tak bisa berkata-kata. Karena, setiap aku bantah keinginan dia untuk bersama aku, dia bakal protes, dan ngotot tetap ingin bersama aku. Hmm...Gimana ini?!


''Tolonglah, jangan cari gara-gara terus sama aku. Sekarang, semangat kerja aku, semua karena kamu. Tolong kamu pahami itu. Aku nggak bakal bisa hidup tanpa kamu!'' tegas Bos Robert lagi.


''Pandai banget sih, para kaum adam ini, menggombal buat kaum hawa! Hahahahah!'' Ingin tertawa, takut aku kena bogem sama dia, kan nggak lucu! Jadi, sebisa mungkin aku harus menahan ketawa.


''Harus berapa kali, aku memohon padamu, tolong tetaplah bersama aku, apapun yang terjadi. Karena, kamu adalah semangatku.'' pungkasnya.(***)

__ADS_1


__ADS_2