
Jujur, aku masih penasaran, dan curiga soal nastar yang ada di ruangan Bos Robert. Aku yakin, nastar itu adalah nastar buatan aku. Nastar itu hanya beda tempat. Tapi, di lidah aku, rasa dan bentuknya persis seperti buatan aku. Entah aku yang kepedean, merasa nastar itu, nastar buatan aku. Padahal, nyaris puluhan orang, bisa saja jualan nastar.
''Aku yakin, nastar itu nastar buatan aku,'' gumamku percaya diri.
''Ah! Biarkan saja, siapapun yang beli nastarnya, alhamdulillah. Pokoknya yang penting laris manis.'' pikir aku lagi.
*Centing....
Ada pesan masuk lewat chat whatsapp aku.
''Maafin aku ya sayang.''
Aku sengaja nggak jawab pesannya. Aku berusaha fokus dengan pekerjaan di meja kerja.
Lagi-lagi, Fitri staf andalan Bos Robert, disuruhnya untuk memanggil aku, ke ruangannya.
''Bilang aja aku lagi sibuk Fit!'' kataku, mengelak saat Fitri bilang kalau Bos Robert memintaku untuk ke ruangannya.
Fitri masuk lagi ke ruangan Bos Robert.
Tak lama, Bos Robert yang keluar sendiri, dan menghampiri meja aku.
''Tolong ke ruangan saya,, penting!'' perintahnya serius.
.
Kareana kulihat dia pasang wajah serius, dan aku tak mau ada keributan atau kehebohan lainnya, aku pun menuruti permintaan Bos Robert.
Aku beranjak pergi dari meja kerja, saat kulihat Bos Robert sudah masuk ruangan.
Sengaja aku memperlambat masuk ke ruangan dia. Sebab, aku mengemas barangku dulu. Baru, setelah itu aku berniat memasuki ruangan angker, yang penunggunya galak-galak ganteng itu.
Kali ini dia tenang banget.
''Tumben.'' gumamku dalam hati.
Sebelum dia mempersilakan duduk, aku nggak duduk.
''Duduklah,'' perintahnya, dan aku pun duduk di depannya.
''Aku sudah minta maaf. Tolong maafkan aku. Aku mau baikan lagi sama kamu.'' ucapnya serius.
Aku hanya diam. Tak ingin menatap matanya. Kualihkan pembicaraanku, soal pekerjaan.
''Sebenarnya, tujuan Bapak memanggil saya kemari apa?'' tanyaku tanpa basa-basi.
''Jangan seperti itu. Aku merindukan kamu setiap waktu.'' akunya lirih.
''Tolong perjelas saja, apa yang harus saya lakukan. Jangan bertele-tele dengan saya Pak,'' tegasku.
__ADS_1
Dia terus memohon padaku, agar aku memaafkannya. Tapi, aku masih belum berniat memaafkan dia.
Saat jam kantor berakhir, aku buru-buru mengemas barang-barangku dan beranjak keluar dari ruangan kerja.
Kudengar suara langkah sepatu Bos Robert yang mengekori aku dari belakang. Aku sama sekali tak ingin menoleh ke belakang.
''Tunggu!'' katanya berusaha menghentikan langkah aku.
''Tunggu sebentar, Winona. Jangan seperti ini. Sudahlah jangan terus menghukum aku seperti ini?'' katanya terus mengejarku sampai ke area parkiran.
Aku pun berusaha mempercepat langkah aku.
''Lepas nggak!'' pekik aku, saat Bos Robert berhasil menarik tanganku.
''Sayang, beri aku kesempatan!'' sebutnya dengan wajah sedih.
''Cepat katakan, mau kamu apa!'' kataku membentaknya.
''Kalau memang nggak ada rasa sama aku, bilang aja. Tapi jangan hukum aku seperti ini. Kamu suka diamin aku. Nggak mau balas chat aku! Tahu nggak, sikap kamu itu bikin aku tersiksa!'' jelasnya.
''Sama aku juga tersiksa, karena kamu sudah mengekang aku. Kamu terlalu posesif sama aku. Kamu bebas main sama perempuan manapun yang kamu suka. Tapi, kalau aku, kamu larang!'' protesku.
Setelah aku katakan itu, aku langsung masuk ke mobil aku. Dia, juga ikut masuk ke mobil aku!
''Kalau kamu mau pecahkan kaca mobilnya lagi. Silakan. Biar kamu puas. Setelah itu jangan cari aku lagi.''
''Satu lagi. Secepatnya aku akan minta pindah bidang. Jadi tenang aja. Aku akan segera pergi.''
Katanya, dia nggak bisa hidup tanpa aku.
''Gombal! Laki-laki buaya. Kamu chat aja kawan kamu itu, katanya mantan staf kamu!'' sebutku setengah membentaknya.
''Sumpah, Mi. Aku nggak ada hubungan apa-apa sama dia. Kalau kamu perintahkan blokir nomor dia, aku akan bllokir Mi!''
''Itu hak kamu.Mau kamu apakan nomor dia. Aku nggak ada urusan. Pokoknya secepatnya aku akan urus kepindahan aku ke bidang lain!''
''Tolong Pak. Keluar dari mobil saya.''
Kuusir dia dari dalam mobil aku.
Dia nggak keluar, malah mengencangkan sabuk pengaman, di tubuhnya.
''Antarkan aku makan!'' perintahnya seenak dia.
''Saya nggak punya uang Pak, untuk mentraktir Bapak. Bapak tahu sendiri, kan, saya jualan kue nastar demi mencari uang tambahan.'' jelasku meyakinkan dia.
Kuhentikan mobilku, dan aku mempersilakan dia keluar, sekali lagi.
''Tolong keluar dari mobil saya!'' pekikku.
__ADS_1
''Nggak bisa. Kamu jangan kurang ajar perintah-perintah saya. Kamu itu bawahan saya. Jadi, sekarang ikuti perintah saya!''
''Nggak! Saya nggak bisa!'' kilahku.
''Kamu nggak mau antar aku, atau aku nggak akan aku setujui, permohonan kamu pindah bidang!'' ancamnya.
''Sial!'' celetukku dalam hati.
''Antar saya ke rumah makan Pak Dollah!'' Hingga akhirnya aku terpaksa mengantarkan dia ke rumah makan langganannya.
''Kamu itu, punya telinga kan? Dengar apa kata saya kan? Jawab, kalau ada orang ngomong!''
Sambil terus menyetir, aku tak mau merespon kata-katanya.
''Sudahlah.....Mi. Tolong maafkan aku. Sampai kapan kita terus berantem seperti ini.''
Mobilku sudah sampai di pelataran rumah makan Pak Dollah. Aku tetap menemani dia makan, meski aku masih terbawa emosi selama di perjalanan tadi.
Saat dia memesan makanan, aku diam saja.
''Mi makan ya....nanti aku nggak jadi makan, kalau kamu nggak mau makan.'' ungkap Bos Robert sembari menyerahkan buku menu tadi, ke pelayan.
''Dek, maaf ya nggak jadi order. Ibu ini lagi nggak selera makan.'' katanya kepada pemuda yang tak lain pelayan rumah makan itu.
Aku langsung respon, dan bilang kalau aku mau makan sate kambing.
Pelayan itu pun mencatat orderan aku. Bos Robert juga memesan menu yang sama dengan aku.
Kami sibuk dengan ponsel masing-masing. Tak ada ngomong sepatah katapun.
Tak aku sangka, dia merebut ponsel yang ada di tangan aku.
''Bisa nggak saat berdua begini. Mami, nggak pegang ponsel!'' katanya, pelan, karena malu didengar orang lain.
Saat aku berusaha merebutnya, dia memasukkannya ke saku celana belakang.
''Tolong balikkan ponsel aku, atau aku akan teriak maling!'' ancamku.
''Teriak aja yang kencang. Biar orang-orang menolong kamu, menangkap malingnya!'' sebutnya pelan.
Memang, siang itu, hanya kami berdua, yang makan di sana. Maklum, jam makan siang, sudah lewat. Jam 15.00 wib.
''Ya Allah, sampai kapan hubungan ini bertahan.'' gumamku.
''Sebenarnya aku ini ikhlas nggak sih, melepas dia? Kenapa setiap usaha aku melupakan dia, dia selalu mendekat ke aku. Kenapa Allah nggak pisahkan aku dari dia?''
Seribu tanya yang tak pernah ada jawabannya. Aku selalu gagal menjauh dari dia.
''Mi, ajak aku ke rumah kamu ya......, aku mau ketemuan sama Fira. Aku rindu banget sama dia!'' pintanya sembari menggenggam erat tangan aku. Di sisi lain aku malah malu. Khawatir ada yang melihat aku. Soalnya, aku dan dia, bukan pasangan yang sah!
__ADS_1
Semua itu, cuma perasaan aku. Lagi pula, orang lain, belum tentu tahu, status aku sama Bos Robert. Mungkin, mereka mengira aku, pasangan suami istri. Ups! (bersambung)