
Kudekati ibu, karena hatinya masih terluka. Semua karena sikapku yang masih belum bersedia menceritakan tentang masalah rumah tanggaku dengan Mas Arga.
''Sekarang, Arga mana. Kenapa selama ibu disini, dia nggak balik-balik?'' tanya ibu, penuh curiga.
Aku sendiri juga nggak tahu, kemana dia pergi. Dia saja nggak pernah pamit, kemanapun dia pergi. Begitu juga, aku. Aku dan Mas Arga memang sudah mulai mengurus hidup masing-masing dan nggak ada saling peduli.
''Ya ampun lupa, mau cerita sama ibu. Dia lagi ada dinas keluar kota, Bu.'' sebutku berbohong.
''Ibu mau kamu telepon dia, sekarang.'' pintanya dengan tegas.
''Duh....gimana ini. Semoga saja ponselnya nggak aktif,'' kataku berdoa dalam hati.
Aku mencoba meneleponnya. Nggak diangkat.
Ibu langsung melirik ke arahku.
''Sini biar ibu yang telepon.'' katanya meminta ponselku.
Tanpa berpikir panjang aku pun menyerahkan ponselku ke ibu.
''Chat saja dia.Bilang aja aku mau bicara,'' kata ibu memintaku untuk mengirim chat ke Mas Arga.
''Mas ibu aku mau ngomong sama kamu, tolong angkat telepon kamu ya.'' kukirim chat itu. Kulihat, langsung dibaca Mas Arga. Dia pun langsung menelepon balik ke aku.
''Assallamuallaikum Ibu,'' sapa Mas Arga lewat panggilan video call.
''Kenapa sebenarnya dengan kalian ini?'' tanya ibu yang to the point ke Mas Arga.
''Ibu....di rumah, ya. Maaf ibu, Arga masih di Jakarta,'' jelas Mas Arga dan ibu terlihat emosi, karena pertanyaannya nggak dijawab.
''Aneh.....! Aku bertanya apa, jawabnya apa?!'' celetuk ibu, sewot.
''Kapan balik?'' tanya ibu lagi.
''Besok, insya Allah ibu,'' janjinya ke ibu.
Ibu pun memutuskan, ia harus bertemu Arga dulu, sebelum balik ke Tanjungpinang.
''Ibu tunggu kamu sampai balik ke rumah. Setelah itu kita bicarakan baik-baik semuanya.'' sebut ibu, melemah.
Sejujurnya aku sedih melihat ibu kecewa seperti itu. Tapi, aku sendiri belum siap menghadapi kenyataan. Ibu pasti marah kalau aku bersikeras untuk tetap berpisah dari Mas Arga.
''Ibu...maafkan Winona ya, kalau harus mengambil keputusan untuk pisah dari Mas Arga,'' kataku mulai punya keberanian untuk mengatakan ke ibu lagi.
__ADS_1
''Nggak usah bicara. Tunggu Arga balik, biar semuanya lebih jelas. Aku nggak mau mendengar cerita sepihak, tentang alasan kalian mau cerai.'' kata ibu yang mulai meneteskan air mata.
''Ya Allah.....salah aku apa, sampai Engkau uji dengan ujian seberat ini. Rumah tangga anak aku harus bubar. Padahal, almarhum suami hamba selalu berpesan, Winona harus selalu rukun sama suaminya. Sakit ya Allah.....harus mendengar kabar rencana perceraian ini.'' keluh ibu lirih, sembari terus menangis sesenggukan.
''Ibu....maafkan Wi, ya. Wi belum bisa membuat ibu bahagia.'' kataku yang juga mulai meneteskan air mata.
''Sebenarnya Wi juga nggak mau semua ini terjadi. Wi ingin hidup bahagia sama suami Wi. Tapi.....,'' kataku tak ingin melanjutkan kalimatku itu.
''Tapi apa?!'' tanya ibu penasaran.
''Tapi....Bu. Janji ya....ini rahasia kita berdua. Jangan ceritakan kepada siapa pun.'' ungkapku gugup.
''Iya....ibu janji, akan menyimpan rahasia ini sampai kapanpun.'' janji ibu padaku.
''Mas Arga.....nggak butuh aku lagi bu!'' sebutku.
''Maksudnya gimana?'' ibu terlihat bingung.
''Kalau memang ini jalannya, Wi pasrah bu.''
Ibu diam, seperti memberi jeda percakapan diantara kami.
''Sudah tiga belas tahun, bu, Winona hidup seperti ini. Hidup masing-masing.'' kataku mulai memperjelas cerita.
''Dia selingkuh selama tiga belas tahun itu?'' tanya ibu, ingin tahu.
Ibu terus mendesakku. Hingga akhirnya aku pun menceritakannya dengan penuh keberanian.
''Ibu....Mas Arga itu ODHA!''
Ibu langsung terdiam, tak bertanya lagi.
''Astagfirullah.......'' pekik ibu, dan dia tak kuasa membendung tangisnya.
''Kamu jangan ngarang cerita.''
Aku gantian yang diam. Ibu seolah tak percaya dengan cerita aku.
''Bagaimana ini bisa terjadi?''
Aku kembali terdiam.
''Oke, semua sudah jelas bagi ibu. Sekarang, ibu angkat tangan. Semua terserah pada kamu. Apapun itu keputusan kamu, ibu nggak bisa ikut campur.'' kata ibu dan dia masih menangis.
__ADS_1
Kami pun berpelukan, seakan ingin menumpahkan kesedihan ini bersama.
''Maafkan ibu, Wi. Ibu nggak tahu. Ibu selalu marah sama kamu, kalau melihat kamu berdua sama bos kamu. Jadi, itu semua alasan kamu kenapa harus berpisah.'' katanya lirih.
Suara ibu bergetar saat mengatakan itu dan aku pun memeluknya erat.
''Maafkan ibu ya sekali lagi. Selama ini ibu sudah berdosa, menghalang-halangi rencana perceraian kamu dengan dia.''
''Jadi, selama 13 tahun kamu pendam ini semua, seorang diri?''
''Ya Allah Wi. Ibu nggak menyangka sama sekali. Ibu minta maaf ya sayang.'' ungkap ibu berulang kali, dan memelukku erat.
''Semua sudah berakhir bu, antara aku dan Mas Arga. Itu sejak usia Gio masih 1 tahun. Sejak itu, hidup Wi merasa hancur, bu. Nggak tahu lagi mau mengadu ke siapa, selain pada Allah.''
''Lagi pula, kenapa baru sekarang, setelah tiga belas tahun, baru kamu ceritakan semuanya pada ibu.''
''Ibu memang bodoh, tidak bisa memahami anak sendiri.'' kata ibu seolah menyalahkan dirinya.
''Ibu....ini bukan salah ibu. Semua karena Wi sudah nggak kuat lagi, bu menyimpannya dalam hati. Makanya, Wi ambil keputusan sekarang, meski terlambat. Wi mantap berpisah bu, dari Mas Arga,'' kataku menjelaskan ke ibu, dengan blak-blakan.
''Ke depan, apa rencanamu setelah bercerai? Ibu siap kok menerima kepulangan kamu di rumah ibu.'' katanya masih terus menangis di pelukan aku.
Aku mencoba menenangkannya. Mengatakan bahwa aku akan tegar menghadapinya.
''Jadi, ibu tenang ya. Aku akan kuat dan baik-baik lagi ibu, setelah nanti ada titik terang perceraian aku dengan Mas Arga.'' kataku meyakinkan ibu.
''Mas Arga juga pasrah, kali ini atas keputusan aku.''
Ibu melepaskan diri dari pelukan aku. Katanya kepala dia tiba-tiba pusing dan ingin rebahan sebentar.
''Wi...ibu pusing. Boleh rebahan sebentar ya.''
Aku langsung menuntunnya ke kamar Fira. Kebetulan, Fira sudah tertidur di kamar aku sejak jam 21.00 wib tadi. Ibu, bisa bebas berehat disana sendiri.
Dalam hati, aku merasa bersalah, sudah menceritakan masalah aku ke ibu. Ibu pasti syok berat setelah mendengar semuanya.
''Ampuni aku ya Allah. Perempuan yang paling aku cintai dunia akhirat itu, pasti terpukul banget dengan ceritaku.''
Sebenarnya aku nggak ingin menceritakannya ke ibu.
''Bang....'' kataku lewat chat, ke Bos Robert.
''Aku sudah cerita ke ibu aku, dan sepertinya ibu syok banget mendengar cerita aku.'' kataku lagi.
__ADS_1
''Gimana ya. Jujur aku rasanya bersalah banget, sudah membuat hati ibu terluka.''
''Sudah....doakan saja yang terbaik buat ibu kamu. Aku juga akan berdoa buat calon mertua aku, agar ibu nggak kenapa-kenapa. Kalau kita tutupi, suatu hari, ibu kamu pasti lebih syok lagi saat mengetahui kisah kamu itu dari orang lain.'' ungkap Bos Robert mencoba menenangkan aku. (bersambung)