
Meski sudah pernah aku tanyain ke dukun soal Bos Robert, tapi aku masih penasaran.
Kalau kemarin aku minta bantuan Fitri, kali ini aku iseng-iseng minta bantuan ke Bayu.
Siang itu, kebetulan Bos Robert nggak masuk kantor, jadi aku merasa sedikit bebas. Kabarnya, Bos Robert takziah ke rumah teman, yang orang tuanya meninggal dunia.
''Bayu, dimana posisi?!'' kataku berkirim chat ke Bayu.
''Kantor. Biasa. Ngapain chat-chat aku. Nanti kena cekik Bos Robert, dituduh selingkuh sama aku, baru tahu rasa!'' seloroh Bayu dan buat aku kesal.
''Apaan sih. Makan yuk, temani aku makan!'' ajakku.
''Aman nggak?!'' Nanti pas nguyah, kena bogem mentah karena udah ganggu cem-ceman dia! Hahahahahaha!'' katanya semakin buat aku emosi.
''Ih nyebelin banget punya teman satu ini?! Ayoklah. Aku jemput ya ke kantor kamu. Tunggu depan!'' desakku.
''Iya iya.....nona cantik, aku tunggu. Tapi, dijamin aman kan, ketemuan sama kamu!'' kata Bayu lagi, masih membully aku.
''Nanti aku yang kasih bogem kamu! Hahahahaha!'' jawabku sembari melepas tawa.
***
Lima belas menit kemudian aku bertemu Bayu, di kantornya.
''Sehat, kan....Nona Winona?'' tanya Bayu dengan gaya bicaranya yang humoris itu.
''Alhamdulillah.'' jawabku.
''Bayu. Temani aku ke dukun. Dukun yang pernah kamu ceritain tempo hari!'' pintaku.
''Ini temani makan atau temani ke dukun?! Nggak jelas juga nona satu ini!'' gerutunya.
Jadi, aku bilang ke dia, makan dulu setelah itu baru temani ke dukun yang pernah dia ceritakan ke aku.
Dia pun setuju. Katanya, demi pertemanan, dia akan berusaha selalu ada untuk aku.
''Makasih ya....'' kataku padanya.
''Tapi, asli aku lapar. Makan siang dulu kita ya,'' kataku.
''Iya, perjanjian awal kan memang makan. Eh di tengah jalan mau belok ke rumah dukun. Hahahahahah. Kaget aku!'' celetuknya kembali membuat aku tertawa.
''Iya.....iyaaaaaaa tuan Bayu!'' kataku sambil terus konsentrasi nyetir dengan pandangan tetap ke depan.
''Aku dengar-dengar, istri Bos Robert akan berusaha mencari tahu siapa perempuan yang dekat sama suaminya itu. Soalnya, dia waktu ke kantor kemarin, nggak berhasil jumpa.'' sebut Robert.
*Deg...
Jantungku mulai berdebar nggak karuan karena takut.
''Tapi, tenang aja.....aku jamin dia nggak tahu. Kamu juga harus waspada, jangan sembarangan ketemu dia di depan umum.'' kata Bayu mewanti-wanti.
__ADS_1
''Iya...makasih,'' sahutku.
***
Setelah sampai di rumah makan Pak Dollah, kami konsentrasi makan dulu. Lalu, bicara soal tujuan berikutnya, ke rumah dukun sakti, yang pernah dia ceritakan ke aku, tempo hari.
''Syaratnya apa aja kalau ke dukun yang kamu ceritain itu?'' tanyaku penasaran.
''Nggak ada syarat apa-apa. Kamu bawa rokok aja. Rokok dia, rokok cerutu yang gede,'' sebut Bayu.
''Merknya apa?'' tanyaku lagi.
''Nanti kita tanya aja sama penjualnya. Rokok yang cerutu gede merk apa!'' sebutnya.
Setelah agak 15 menit, kami pun on the way ke rumah dukun itu. Kebetulan, hari ini, Jumat. Jadi, aku nggak balik lagi ke kantor. Lagian, di kantor juga nggak ada bos. Aku juga tadi sudah menyelesaikan semua tugas-tugas aku. Kalau diminta bos, tinggal menyodorkan ke dia.
*Dreetttt....
*Dreetttt....
Ponselku sepertinya bergetar. Dugaanku, pasti Bos Robert.
Kusuruh Bayu mengambilnya di dalam tas aku.
''Yu, maaf. Tolong ambil ponsel aku di tas. Sepertinya ponsel aku bergetar. Pasti itu dari mantan bos kamu!'' kataku yakin.
''Cie.....cie....tahu aja siapa yang telepon!'' katanya, lagi-lagi membully aku.
''Ih minta tolong tapi maksa!'' celetuknya lagi masih tak bergerak mengambil ponsel dalam tas aku.
*Dretttt....
*Drettt....
*Dreettt....
*Dreettt...
''Tolonglah. Kalau nggak aku berhenti dulu sebentar. Nanti aku kena omel dia, sepanjang jalan kenangan, gara-gara tak mau angkat telepon bos!'' kataku.
''Iya...tunggu....tapi, mana tas kamu,'' katanya sambil mencari-cari di bagian jok belakang mobilku.
''Oh ini, dia tasnya masuk kolong tempat duduk, jadi nggak kelihatan. Hahahahah!'' jawabnya.
Setelah dia menemukan tas aku, dia buka tas aku.
''Ih beneran. Bos Robert Galak!''
*Dreetttt......
Waktu mau aku angkat, dia matikan panggilannya. Kulihat, ada 20 panggilan tak terjawab masuk ke layar ponsel aku.
__ADS_1
''Hahahahaha. Kacau dia ini. Bos nya masak dikasih nama Bos Robert Galak! Nanti kamu kena cekik dia, baru tahu!'' kata Bayu, mengkritik aku.
''Biarin. Kalau dia cekik aku, dia masuk penjara dong!'' kataku santai.
''Karena sudah mati, biarin saja. Mungkin dia capek menelepon aku!'' kataku lagi.
Bayu pun memasukkan ponselku ke tas.
''Jadi, gimana kalau besok dia mengamuk.'' tanya Bayu ingin tahu.
''Nggak pakai nunggu besok. Nanti pasti dia datang ke rumah aku, kalau tahu Mas Arga nggak di rumah.'' jelasku, dan buat Bayu geleng-geleng kepala.
''Hahahaha. Sungguh dia benar-benar cinta mati sama kamu. Jujur, aku aja, setiap ketemu kamu, rasanya was-was. Siapa tahu di itu pasang mata-mata, untuk mengawasi kamu!'' sebut Bayu menerka-nerka apa yang dilakukan Bos Robert.
''Nggaklah. Hebat kali, dia sewa mata-mata buat mengawasi aku! Udah kayak apa aja aku ini, pakai dimata-matai.'' kataku sembari melepas tawa.
***
Akhirnya sampai juga di rumah dukun yang diceritakan Bayu. Dukun itu, sama-sama dari Berakit, seperti yang dikenalkan Fitri, ke aku. Tapi, kali ini, dukun yang dikenalkan Bayu, orangnya jauh berbeda. Penampilan dia lebih serem.
''Bayu. Tolongin aku dong. Kamu yang bicara duluan sama dia,'' kataku, lewat chat.
Mau ngomong langsung, nggak enak didengar dukun itu.
Kusenggol tangannya, kubilang buka ponselnya. Karena dia nggak respon, dengan chat yang aku kirim. Langsung dia buka ponselnya.
''Oke...,'' balasnya.
''Begini....Pak, kami kemari, mau minta bantuan. Sebenarnya kawan saya ini ada masalah.'' katanya.
''Hm...iya....sudah tahu!'' katanya.
''Ha!? Sakti kali dia sudah tahu aku ada masalah!?'' gumamku.
''Wi, kamu dong ngomong sendiri. Aku nggak paham apa masalahnya,'' kata Bayu berbisik ke telingaku.
Akhirnya aku beranikan diri mengatakan apa masalahku, ke dukun itu.
''Pak, saya punya teman, satu kantor. Dia bilang sayang dan cinta sama saya. Bahkan, dia nggak peduli dengan istri, dan andai saya menuntut agar dia menikahi saya, dia bersedia meninggalkan istrinya. Menurut bapak, apa dia itu serius dengan perkataan dia?'' tanyaku dan setelah itu aku diam, menunggu jawaban dari lelaki tua yang aku taksir usianya sudah 50 tahun lebih.
Sejenak dia diam, minta izin padaku, menyulut sebatang rokok dengan korek apinya.
Lumayan lama, dia diam, sambil memainkan asap rokoknya. Aku tertunduk, tak berani memperhatikan dia.
Begitu juga dengan Bayu, ikut-ikutan diam.
''Mana foto orangnya,'' katanya tiba-tiba, setelah dia puas memainkan asap rokoknya.
''Aku lihat, kamu bakal serius sama dia,'' katanya.
''Ya Allah, bener nggak sih, kata dia! Bukannya kebalikannya. Padahal, selama ini aku acuh tak acuh, ke dia.(bersambung)
__ADS_1