
Untuk kesekian kalinya, Adrian mengajak aku dan Fitri, makan siang bareng. Ya, aku, Fitri dan Adrian. Karena kami satu tim di bidang yang sama. Bidang Pendataan. Jadi, kami sering bertiga.
Ternyata, dibalik kebersamaan kami itu, diam-diam jadi masalah buat Bos Robert. Adrian diintrogasi, kenapa sering keluar bertiga. Bos Robert bertanya padanya. Apa ada hubungan antara Adrian dengan Fitri atau antara aku dengan Adrian.
Jelas saja, Adrian bingung mau jawab apa. Karena, memang dia nggak ada hubungan apa-apa, baik sama aku atau sama Fitri.
''Ya ampun.....aku malu banget sama Adrian. Kenapa, lelaki itu jadi sasaran kecemburuan Bos Robert yang tak beralasan.'' pekikku.
Hingga akhirnya, Fitri menjauhi aku.
Fitri sendiri juga sudah menebak hal ini akan terjadi. \
''Sungguh norak, sikap Bos Robert,'' sebut Fitri.
''Maaf Kak, bagusnya kita menjauh saja. Karena, gara-gara kita bertiga sering keluar bareng, rupanya itu jadi masalah buat Bos Robert.'' keluh Fitri padaku.
Jujur, aku jadi nggak bisa ngomong lagi, sejak Fitri mengatakan kalau dia ingin menjauhi aku.
''Dimana salah aku, coba Fit. Temanan sama perempuan, salah. Apalagi temanan sama laki-laki.'' kataku gantian mengeluh ke Fitri.
''Aku yang nggak enak Kak. Dituduh aku jadi mak comblang buat kakak dan Bang Adrian. Padahal, diantara kita bertiga, nggak ada hubungan spesial. Kita hanya satu tium kerja saja. Jujur, aku nggak kuat kak, menghadapi situasi ini. Mungkin, aku minta pindah bidang, biar aman. Kalau saban hari kejadiannya seperti ini, sungguh aku nggak sanggup Kak. Aku ingin tenang. Punya banyak teman. Bukan banyak musuh.'' paparnya serius.
Memang benar apa kata Fitri. Aku disini yang lebih merasa bersalah. Gara-gara aku, persahabatan jadi rusak. Intinya, ini gara-gara Bos Robert.
***
Aku to the point, minta waktu ke Bos Robert, untuk bicara empat mata.
''Aku nggak tahu ya apa maksud dan tujuan kamu, memusuhi semua teman-teman aku. Termasuk, Adrian, staf baru itu juga, kamu suruh dia jauhi aku. Maksud kamu apa coba!'' kataku yang langsung blak-blakan, siang itu.
Padahal, di sisi lain, perut aku keroncongan. Cacing-cacing di perut aku lagi menuntut haknya, makan siang. Tapi, aku sengaja mengulur waktu, demi menyelesaikan masalah aku dengan Bos Robert.
''Udah selesai ya bicaranya?!'' tanya Bos Robert, datar.
''Kamu nggak boleh dekat-dekat sama cowok lain!'' jawabnya jujur.
''Ya ampun. Bisa gila aku lama-lama kamu buat, Bang!'' bentakku, tapi aku berusaha merendahkan nada bicaraku.
__ADS_1
''Aku berhak hidup bebas. Suami aku aja, nggak separah ini mengekang aku. Sedangkan kamu, bukan siapa-siapa aku. Tapi, kamu posesif banget, sama aku. Aku nggak bisa lama-lama seperti ini. Aku mundur. Jujur, aku nggak sanggup dikekang seperti ini!'' kataku lagi blak-blakan.
''Nggak bisa!'' sahutnya dengan matanya yang menyalak, penuh emosi.
''Eh....ingat. Kita nggak ada hubungan apa-apa, kamu nggak punya hak atas diri aku!'' kilahku.
Dia semakin emosi. Lalu menarik tanganku. Terpaksa, aku yang tadinya lapar berat, sekarang harus batal makan, karena diajak keluar dari rumah makan itu.
Di parkiran, kami masih berdebat. Dia genggam tangan aku kuat sekali.
''Aku nggak akan melepas kamu. Kemanapun kamu pergi, aku cari!'' ancamnya, masih menggenggam erat tangan aku.
''Lepas nggak! Atau aku akan teriak maling, biar kamu dihajar orang-orang yang mendengar teriakan aku!'' kataku mengancam dia dengan nada penuh amarah.
''Coba teriak saja kalau kamu mau!'' perintahnya, sembari merebut ponsel yang ada di tangan kiriku. Lalu, dia membantingnya.
*Brakkkk!
Ponselku itu, berkecai berantakan.
''Kamu resah kan, aku banting ponselmu, karena kamu nggak akan bisa hubungi Adrian lagi, untuk makan siang bareng, besok!'' katanya menuding aku, ada affair dengan Adrian.
''Kamu ini gila apa sinting. Tanya baik-baik sama Adrian. Aku ada hubungan apa, sama dia. Jangan asal tuduh!''
''Kamu yang ganjen ya. Kegatelan, ajak-ajak suami orang, makan siang bareng!'' kata Bos Robert menuduhku lagi, tanpa berpikir panjang.
''Suami orang? Terus apa bedanya sama kamu! Kamu suami orang kan? Kenapa kamu kejar-kejar istri orang?!'' bentakku, kesal.
''Jangan kurang ajar ngomongnya. Hargai aku. Aku ini nggak mau kamu dipermainkan laki-laki. Jadi, aku benar-benar menjaga kamu!'' akunya seolah-olah jujur banget pernyataannya itu.
Aku berhasil melarikan diri dan berpisah, setelah berdebat panjang di area parkiran itu.
***
Aku benar-benar nggak habis pikir, kenapa dia separah itu, cemburu sama laki-laki yang dekat sama aku. Padahal, aku ini nggak ada hubungan apa-apa sama Adrian. Pergi makan siang sama Adrian, bukan berdua. Ada Fitri, kami bertiga.
Memang benar-benar parah!
__ADS_1
''Bayu, aku bingung.'' kataku curhat ke Bayu, teman satu kantor aku juga, dulunya. Dia, dipindah ke bidang lain, itu juga gara-gara bos Robert cemburu sama Bayu. Parah!
''Bingung apa?'' tanya Bayu, acuh tak acuh, karena dia lagi konsen main game dominonya.
''Tahu nggak tadi, aku cuma modal nekad menunggu kamu di parkiran, terus aku ajak makan.'' jelasku.
''Nggak tahu!'' jawab Bayu masih sama responnya.
''Karena aku nggak punya hape!'' sebutku.
''Lah....kemana hapenya?!'' tanya Bayu, tapi masih fokus dengan gamenya.
''Dibanting sama mantan bos kamu!''
''Hahahahah. Serius!'' kata Bayu sembari melepas tawa. Karena penasaran ceritaku, dia pun meletakkan ponselnya, menghentikan permainan gamenya, sejenak.
''Kenapa memang pakai acara bantinmg-bantingan! Itu nanti, pasti diganti dengan yang baru, ponsel super canggih!'' celetuk Bayu.
''Diganti dari hongkong! Dia aja merasa paling benar dan merasa tak berdosa sama aku, setelah banting HP aku!'' jelasku lagi.
Bayu bingung mau meresponnya.
Tapi, dia tiba-tiba menyarankan kalau lebih baik meninggalkan Bos Robert saja.
Jadi, aku langsung membantah apa yang dia katakan.
''Bayu, tolong garisbawahi. Aku nggak ada hubungan apa-apa sama bos galak kayak singa itu. Aku jadi bingung ya. Rasanya aku terjebak dalam hubungan tanpa status ini. Dia nggak mau melepas aku!'' sebutku tanpa malu-malu, saat cerita sama Bayu.
''Iya, aku tahu itu sih. Tapi, coba berusaha menghindar, kalau kamu ingin hidup normal. Nggak dikekang seperti sekarang. Aku aja, takut banget kalau ketemuan sama kamu seperti sekarang. Takut tba-tiba dikasih bogem mentah, pas lagi enak-enaknya ngunyah!'' seloroh Bayu, panjang lebar.
''Hahahahaha!'' sahut aku, melepas tawa. Soalnya, apa yang ada di otak Bayu, sama persis di otak aku juga. Aku selalu was-was, kalau bertemu sama lelaki. Takut Bos Robert memergoki aku.
''Jujur, Bayu. Tolongin aku, gimana caranya aku lepas dari dia!'' kataku, minta saran Bayu.
''Jujur juga, aku nggak tahu. Heheheheheh!'' balas Bayu.
''Semua terpulang sama kamu. Kamu bisa menghindar atau nggak!'' pungkas Bayu serius.(bersambung)
__ADS_1