
Sebagai istri, aku butuh dipuji suami. Terutama soal masakan. Tapi, aku sendiri, nggak ingat, kapan terakhir kali Mas Arga memuji aku. Jangankan memuji, dia saja, lebih banyak makan di luaran bareng teman-teman kantornya. Bagiku, itu bukan masalah besar. Bahkan, itu sudah berlangsung belasan tahun. Pagi, sebelum berangkat ke kantor, dia hanya sarapan sekedarnya. Dia lebih sering minta dihidangkan secangkir kopi, dan sepotong roti bakar. Terkadang, kalau dia buru-buru ke kantor, hidangan kopi dan roti bakar yang aku sediakan di meja makan, tak tersentuh olehnya.
Sedih? Tentu saja, karena aku merasa pekerjaanku menyiapkan sarapan pagi itu, sia-sia. Semua itu memang tugas seorang istri. Dipuji atau nggak dipuji, sudah menjadi tanggungjawabnya, melayani suami dengan baik. Padahal, dibalik semua itu, keinginan aku sederhana banget. Aku hanya berharap kata terimakasih dari Mas Arga, atas sarapan pagi yang sudah aku sediakan. itu. Tapi, sudahlah!
***
Nggak tahu kenapa, pagi itu aku ingin sekali bawa bekal makanan ke kantor. Sesekali, boleh kan? Selain enak bawa bekal makan siang sendiri, tentunya aku bisa sedikit berhemat.
''Fit, nanti cicipi masakan kakak ya,'' kataku sama Fitri.
''Wuih, kakak bawa bekal. Rajin banget kak. Tadi pagi emang bangun jam berapa, bisa bawa bekal ke kantor. Pasti bangunnya pagi banget.'' sebut Fitri, saat aku katakan bahwa aku pagi itu aku bawa bekal makan siang, ke kantor.
''Kakak semalam buat rendang. Cobain ya....nanti kalau nggak enak, diam aja.'' kataku.
''Iya...baiklah kakak. Tapi Fitri yakin sedap, masakan kakak.'' puji Fitri. Padahal, dia nggak pernah merasakan makan masakan aku.
''Rendang, sama sambal jengkol.'' sebutku dan Fitri langsung bilang kalau sambalnya, pasti enak.
''Aku percaya, kalau masakan kakak pasti sedap luar biasa.'' puji Fitri lagi.
''Emang pernah makan masakan aku?'' tanyaku.
''Sedap pasti, Fitri yakin,'' imbuhnya.
***
Ponsel aku bergetar. Bos Robert mengajak aku makan siang. Tapi, aku to the point saja kalau aku lagi makan siang sama Fitri di kantor saja, karena bawa bekal dari rumah.
''Kapan-kapan, aku mau dibawain bekal masakan kamu.'' kata Bos Robert.
Aku langsung membalas chatnya dengan emoticon orang tertawa ngakak.
Kukatakan padanya kalau masakan aku nggak enak. Nanti dia nggak bakal selera makan kalau tahu rasa masakan aku.
''Nggak mau tahu. Pokoknya besok masakin aku, buat makan siang. Nanti kita makan siang bareng di ruangan aku saja.'' perintahnya.
''Ih....nggak mau. Nanti kamu nggak selera, makan masakan aku. Nggak enak!'' kilahku.
__ADS_1
''Kamu, melawan perintah atasan ya. Aku keluarkan (SP)/ surat peringatan baru tahu rasa!'' ancamnya.
''Apaan sih, kepala dinas ancam-ancam anak buah. Aku laporkan ke media, baru tahu rasa! Biar viral!'' ancam aku balik.
''Kamu jangan macam-macam. Pokoknya aku tunggu masakannya besok.'' desaknya masih lewat chat.
Tak lama, karena sudah waktunya istirahat jam makan siang. Bos Robert, keluar dari ruangannya. Lalu menghampiri meja kerja aku, yang siang itu, aku sedang makan siang sama Fitri.
''Wuih. Enak ya, makan siang bawa bekal. Mau dong.'' katanya iseng tanpa malu-malu, ke aku dan Fitri.
''Eh....maaf Pak. Makan siang Pak, ini masakan Kak Fitri, sedap.'' celetuk Fitri.
''Oke. Lanjut. Aku ada janji sama kawan,'' katanya sambil ngeloyor keluar, meninggalkan aku dan Fitri yang siang itu kami hanya berdua. Pegawai dan staf lainnya, sudah beranjak pergi.
***
Ponselku bergetar. Bos Robert kembali mengingatkan akan permintaan dia.
''Jangan lupa, request aku pagi ini. Masakin aku yang enak. Tapi, nggak usah banyak-banyak bawa masakannya. Jangan pula dibawa sama panci-pancinya. Nanti dikira kamu mau buka lapak!'' kata Bos Robert, chat aku pagi-pagi.
''Kurang asem. Ya nanti aku buka lapak di kantor. Buat cari uang tambahan. Hahahahahah!'' kataku membalas chatnya.
''Nggak mau. Emang aku ibu kantin, bisa sesukanya request masakan.'' jawabku ketus.
''Coba aja kalau memang ada rencana melawan atasan. Betul-betul aku buatkan SP!'' sahutnya lagi.
Aku bakas saja dengan mengirim emoticon orang tertawa ngakak.
Lalu, terakhir, kututup dengan kata-kata, melawan atasan, siapa takut!
Sampai di kantor, dia sudah chat aku. Pasti, dia memantau aku dari cctv yang ada di ruangan dia.
''Masakannya, bawa ke ruangan aku ya.'' perintahnya tanpa basa-basi.
Aku, lagi-lagi masih bercanda meladeni chat dia.
''Ih....siapa yang bawain makanan buat Bos Robert. Ini bekal makanan aku sendiri, sama Fitri.'' jawabku dengan percaya diri.
__ADS_1
''Ke ruangan saya. saya tunggu.'' desaknya.
Aku pun, terpaksa menuruti perintahnya. Karena, kalau nggak aku turuti, pasti bakal ribut. Pasti, nggak lucu kan, kalau ribut hanya soal makanan. Bekal makan siang yang aku bawa dari rumah, aku letakkan di atas meja kerja Bos Robert.
''Boleh nggak, aku makan sekarang. Jujur, aku lapar. Karena dari rumah aku belum sarapan. Tadi aku kelahi sama istri,'' kata dia, memelas.
''Boleh. Silakan. Itu memang buat Bos Robert. Mau dimakan sekarang buat sarapan atau mau dimakan di saat jam makan siang. Bebas, sayang!'' jelasku.
Tapi, aku bilang sayangnya itu agak pelan.
''Apa, tadi kamu bilang yang terakhirnya?'' tanya dia minta diulang.
''Apa. Aku nggak ada bilang apa-apa.'' tegasku.
''Ada. Tadi kamu bilang, sayang, terakhirnya. Kamu berarti memang benar-benar sayang ya sama aku!'' sebutnya.
''Ah! Nggak ada aku bilang sayang. Salah dengar!'' kilahku.
''Emang aku tuli.'' katanya sewot.
''Kamu itu, suka membohongi diri sendiri. Kamu itu sebenarnya sayang juga kan....sama aku. Tapi, kamu pungkiri!'' katan Bos Robert, sekak mati.
Perkataan dia memang tak bisa kubantah. Dia benar, aku suka membohongi diri sendiri. Karena, jujur, aku memang sedikit meragukan soal hati dan perasaanku sendiri. Benar nggak sih, aku sayang dia. Tapi, dia nggak bisa aku miliki seutuhnya.
Pernah aku berdoa, ya Allah jauhkan dia dari aku, karena dia bukan milikku. Begitu juga sebaliknya, terkadang aku juga sering membatin, berdoa dalam hati, agar Allah dekatkan aku dengan dia, karena aku memang sayang sama dia.
Doa itu sering aku ulang-ulang, sampai aku sendiri nggak tahu, lebih banyak yang mana permintaan aku sama Allah. Minta dijauhkan atau didekatkan.
''Ayo, temani aku sarapan. Masa aku disuruh sarapan sendiri.'' protes Bos Robert yang dari tadi masih belum menyentuh masakan yang sudah aku letakkan di meja kerjanya itu.
Aku masih termangu di hadapannya.
Karena respon aku lambat, akhirnya dia buka sendiri makanan yang aku letakkan dalam rantang itu. Lalu dia pun menyendoknya. Dia bilang lezat banget masakan aku.
''Hm.....luar biasa. Enak....enakk. Cantik, pandai masak. Memang benar-benar perempuan idaman aku.'' pujinya sambil terus menyantap masakan aku itu.
''Ah...masa iya. Perasaan biasa aja. Bukannya lebih enak masakan istri di rumah?!'' kilahku.
__ADS_1
Dia sama sekali nggak merespon kata-kataku itu, karena dia memang benar-benar menikmati masakan yang aku bawakan itu. Pujian dia, benar-benar membuat aku tersanjung. Mas Arga saja, nggak pernah memuji aku selebai itu. Tapi, Bos Robert, benar-benar membuat aku tersanjung dengan pujiannya itu.
''Makasih sayang ya.'' ucapnya dan aku pun mengemas rantang makanan tadi.(bersambung)