Maaf Suamimu Aku Pinjam

Maaf Suamimu Aku Pinjam
Perang Lagi


__ADS_3

Rasanya nggak sah, kalau jam istirahat, nggak jumpa sama Fira di rumah. Sesibuk apapun, aku berusaha menyempatkan diri, pulang ke rumah, walaupun hanya lima belas menit. Aku selalu merindukan gadis kecilku itu.


''Bik. Tadi Fira sarapan apa? Terus siangnya dia sudah makan apa belum?'' dua pertanyaan rutin yang sering aku lontarkan ke Bik Inah, saat aku pulang di jam istirahat makan siang.


''Sudah, Bu.'' jawabnya.


Terkadang, Fira itu susah disuruh makan, kalau lauknya nggak sesuai dengan selera dia. Sebenarnya dia mau makan pakai lauk apa saja. Tapi, makanan favorit dia, cuma ikan. Mau dimasak model apa saja, asal ikan, dia pasti lahap makannya.


''Mami,'' sapanya saat dilihatnya aku pulang sebentar ke rumah.


''Mi, kapan ajak jalan ayah baik!? katanya di depan Bik Inah.


Bik Inah sendiri paham, siapa yang dipanggil Fira, ayah baik itu. Tapi, dia nggak pernah bertanya soal ayah baik yang dimaksud Fira itu.


Setahu Bik Inah, ayah baik yang dimaksud Fira itu, bos aku di kantor.


''Sabar ya sayang. Ayah baik itu sedang sibuk. Banyak pekerjaan di kantor.'' jelasku sama Fira.


Dia pun menganggukkan kepalanya, lalu kembali sibuk dengan ponselnya, nonton film anak-anak lewat youtube.


''Bik, sudah ya. Saya mau ke kantor lagi. Titip Fira ya Bik.'' kataku sembari ngeloyor beranjak pergi dari hadapan Bik Inah.


Ternyata, ponsel aku ketinggalan di mobil. Saat aku kembali lagi ke mobil hendak balik ke kantor lagi, kulihat sudah ada dua belas panggilan dari Bos Robert. Pasti dia resah dan gelisah mencari aku. Karena hari ini aku nggak makan siang sama dia.


Selain ada dua belas panggilan. Bos Robert juga berkirim puluhan chat.


Dalam hati, ya ampun. Baru juga lima belas menitan aku nggak pegang HP, ada belasan panggilan masuk dan puluhan chat, masuk ke layar ponsel aku. Luar biasa memang ya!


''Dimana?!''


''Dimana?!''


''Dimana?!''


''Dimana?!''


Karena emosi, aku biarkan saja chat dan juga panggilan masuk ke layar ponsel aku itu.


Memang parah banget, dia. Nggak bisa pisah dari aku barang sedetikpun.


Seperti biasa. Sebelum ada jawaban atau balasan dari aku, dia pasti akan terus menterorku, dengan panggilan telepon biasa, video call dan chat. Rasanya, pengen aku buang ke laut saja, ponsel aku itu, biar dia nggak bisa menghubungi aku. Karena, gimana aku mau menikmati hidup, kalau sebentar-sebentar ditanya lagi dimana, dan lagi sama siapa. Hadeehhh! Capek deh!

__ADS_1


Seperti buah simalakama. Mau pergi atau bertahan, rasanya sama-sama sulit bagiku.


Sampai di parkiran mobil, kulihat mobil dia nggak di kantor. Berarti, bos ganteng-ganteng galak itu sedang tak berada di tempat. Pasti dia sedang mencari dimana keberadaan aku.


Kulangkahkan kakiku menuju ruangan kerja. Tak kusangka, dia tiba-tiba muncul.


Dengan nada emosi, dia langsung mengintrogasi aku.


''Kamu makan siang sama laki-laki mana?!'' tudingnya tanpa basa-basi.


Ya Allah, untung belum ada pegawai atau staf lain yang masuk ke kantor. Kurang setengah jam lagi, waktu istirahat akan berakhir. Kalau sempat ada yang mendengar perdebatan ini, betapa malunya aku.


''Aku tadi pulang sebentar. Ponsel aku ketingggalan di mobil.'' kataku beralasan. Tapi, memang tadi ponsel aku ketinggalan di dashboard mobil aku.


Tak aku sangka, dia langsung merebut ponsel aku.


Dia scrol-scrol chat dan juga panggilan masuk di ponsel aku.


''Bagus ya....seminggu yang lalu kamu janjian ketemuan sama Bayu, di belakang aku!'' katanya sembari masih mengecek isi chat ponsel aku.


Aku diam saja, sambil terus berdoa dalam hati, semoga nggak akan terjadi perang dunia ke-lima.


Tapi, aku bentak balik dia, saat dia mulai meninggikan suaranya.


''Siapa Hana itu!'' tanyaku seakan memojokkan dia.


''Teman! Cuma teman!'' tegasnya.


''Aku pernah cek ponselmu. Kamu chat-chat dia, kan di belakang aku!?'' bentakku. Gantian aku sekarang yang emosi.


''Itu soal kerjaan.'' kilahnya.


''Bagus ya. Sini ponselmu!'' desakku setengah membentaknya.


Dia pun menyerahkan ponselnya ke aku. Tapi, ponselku nggak dia serahkan. Karena, dia masih memeriksa semua isi chat di ponsel aku itu.


''Mana, chat cewek itu. Kenapa kamu hapus?!'' tanyaku penuh emosi.


''Aku lihat minggu kemarin, ada chat kamu sama cewek itu. Tapi, kenapa kamu hapus! Takut ketahuan ya!? kataku masih terus memojokkan dia.


Dia menarik tanganku, lalu mengajaknya ke ruang kerjanya.

__ADS_1


''Jadi, hanya karena aku chat cewek itu, kamu juga bebas janjian sama Bayu. Kamu ada main ya, sama Bayu, di belakang aku!" tudingnya.


Aku berusaha diam saja, saat dia mengatakan itu. Lalu dia membanting ponselku, hingga hancur tak karuan.


Melihat itu, aku langsung emosi berat.


''Ganti ponsel aku!'' bentakku.


''Aku heran ya sama kamu. Laki-laki macam apa kamu ini. Kamu bebas berteman sama perempuan mana pun. Tapi, kamu melarang aku, berteman sama teman cowok! Kamu itu orang posesif banget!''


Dia menamparku dan aku langsung beranjak, hendak keluar dari ruangan dia.


Tapi, saat aku hendak beranjak pergi meninggalkan dia, dia malah menarik tanganku, dan menarikku dalam pelukannya.


Aku berusaha menolak, tapi dia semakin erat memelukku.


''Maafin aku ya Mi, aku tadi emosi. Semua, karena aku nggak mau kamu tinggalin. Aku sayang banget sama kamu.'' katanya penuh penyesalan.


''Mi, maafin aku ya,'' katanya sambil terus memelukku, erat.


Seketika, dia memagut bibir aku penuh gairah, dan anehnya aku nggak bisa menolaknya.


Ya Allah, kenapa dengan aku? Apakah laki-laki di hadapan aku ini, memang benar-benar Engkau hadirkan untukku? Mengobati luka lara yang selama ini mendera batinku.


''Aku nggak tahu lagi, harus bagaimana menghadapi ini semua. Di satu sisi, aku menolak dan di sisi lainnya, aku begitu mendambakannya.'' gumamku membatin.


''Sayang, jangan tinggalkan aku,'' bisiknya di telingaku, dan bersamaan dengan itu aku berusaha melepaskan diri dari peukannya, karena kulihat jam istirahat, lima menit lagi sudah berakhir.


''Maaf aku harus kerja lagi,'' kataku, beranjak pergi dari ruangannya.


***


''Sayang....maafin aku ya. Aku nggak ada hubungan apa-apa sama cewek itu. Makanya aku hapus. Nanti kalau nggak aku hapus chatnya, kamu tuduh aku yang macem-macem. Dia itu cuma teman lama. Percayalah, kamu satu-satunya perempuan yang bertahta di hatiku.'' katanya padaku, lewat chat.


Aku nggak ingin membalasnya. Karena masih terbawa emosi, setelah tadi dia menampar aku.


''Kalau kamu mau berteman sama cewek itu, silakan. Bebas. Aku nggak ada hak melarang. Lagi pula, aku juga bukan istri kamu.'' tandasku.


''Jangan begitu sayang. Aku nggak akan pernah ke lain hati. Karena, aku hanya mau menua bersama kamu.'' katanya dan lagi-lagi kalimat dia membuat aku tersanjung.


Tapi, aku nggak bertanya lebih detail, apa maksud dia mau menua bersama aku. Aku baca saja chatnya, tanpa membalasnya, dan aku kembali menyibukkan diri dengan tugas-tugas kantorku.(bersambung)

__ADS_1


__ADS_2