
Semalaman, ibu menangis. Kulihat, ada kesedihan yang mendalam tergambar di raut wajahnya.
Pagi-pagi sekali, jam 06.00 wib, ibu membangunkan aku. Minta diantar ke pelabuhan.
Katanya, ibu harus pulang, hari itu juga.
''Wi....antarkan ibu ke pelabuhan. Ibu nggak bisa lama-lama disini.'' katanya pamitan padaku. Antara bingung dan sedih, aku yang baru bangun tidur pagi itu, nggak bisa berkata apa-apa. Aku nggak mandi. Hanya ganti baju dan cuci muka.
''Ibu kenapa buru-buru balik,'' kataku di perjalanan menuju pelabuhan kapal ferry.
''Ibu ada acara, Wi, sama ibu-ibu arisan komplek perumahan. Nggak enak kalau nggak datang. Ibu kan juga pengurus arisan.'' sebut ibu.
Tapi, aku bisa merasakan, kalau ibu sebenarnya cuma alasan.
Berbagai dugaan terlintas di otakku. Tapi, ya sudahlah, aku nggak mau bertanya detail soal ibu. Mungkin ibu ingin menenangkan diri, setelah mendengar semuanya dari aku.
''Ibu....janji ya....ibu nggak akan marah sama Wi,'' pintaku penuh harap.
''Nggak, sayang.'' katanya seraya meneteskan air matanya lagi.
''Aku ini ibu yang bodoh. Ibu ini bukan ibu yang baik. Buktinya, sudah tiga belas tahun, kamu menghadapi masalah kamu seorang diri. Sungguh ibu yang tak pandai merawat anaknya sendiri.'' ungkap ibu menyalahkan dirinya lagi.
''Ibu....jangan begitu dong....jadinya kalau ibu seperti ini, Wi merasa bersalah, sudah melibatkan ibu dalam masalah ini.'' kataku lemah, dan penuh sesal.
''Ibu nggak salah sama sekali. Wi hanya ingin berterimakasih pada ibu, karena ibu nggak membenci Wi, setelah tahu semuanya.'' kataku lagi sambil terus memandang ke depan, sampai tiba di area parkir.
''Ibu....pulangnya jangan sekarang dong. Fira pasti nangis, bangun-bangun nanti nggak lihat neneknya pergi.'' kataku mencoba membujuk ibu agar dia membatalkan niatnya untuk pulang.
''Nggak bisa Wi.Ibu harus hadir di acara arisan itu. Ibu ketuanya.'' aku ibu masih bersikeras dengan pendiriannya.
Aku menghela nafas panjang. Ternyata usahaku membujuk ibu, nggak berhasil.
''Salam sama Arga ya. Bilang sama dia, ibu ada keperluan mendadak yang nggak bisa ditinggalkan. Nggak enak sama pengurus arisan. Nanti mereka marah kalau ibu nggak hadir.'' ungkap ibu gamblang.
''Titip Fira, cucu ibu ya. Salam ke dia, kalau ibu sebenarnya masih kangen.''
Aku menganggukkan kepala, lalu mencium punggung tangannya. Kupandangi punggungnya, sampai ibu masuk ke kapal ferry.
Bersamaan dengan itu, aku tak kuasa menahan tangis.
''Baik-baik ya jaga diri. Ingat, selalu ingat sama Allah. Jangan
''Ibuku sudah balik.'' kataku pada Bos Robert.
''Alhamdulillah. Semoga selamat sampai tujuan.'' kata Bos Robert lewat chat.
''Dimana posisi?''
''Aku masih di pelabuhan. Rasanya aku nggak kuat melangkahkan kakiku.''
__ADS_1
''Ya sudah aku jemput kamu ya di pelabuhan?'' tanyanya menawarkan diri.
''Terus, gimana mobil aku?''
''Gampang. Semalaman di area pelabuhan, aman. Kita sarapan aja sebentar.'' ajaknya.
''Aku belum sarapan,'' imbuhnya lagi.
''Lagian, mau kemana, setelah dari pelabuhan?''
''Tidur.'' jawabku tanpa mikir lagi. Karena, di otak aku, yang terlintas, cuma ingin tidur lagi.
''Jangan tidur pagi. Nanti rejekinya dipatok ayam.'' kata Bos Robert membuat lelucon.
''Iya sudah. Cepetan jemput aku di pelabuhan. Aku juga sebenarnya lapar. Semalaman belum makan.''
Dalam hitungan setengah jam kemudian, aku dijemput Bos Robert. Dia membawa aku ke warung soto dekat pelabuhan, yang memang sudah buka sejak jam 06.00 wib.
''Gimana.....respon ibu kamu, setelah mendengar cerita yang sebenarnya tentang Arga?''
''Aku lihat, ibu langsung syok.'' sebutku.
Lagi-lagi, Bos Robert mencoba menghiburku, dengan mengirimkan gambar-gambar lucu ke chat aku.
''Mi....kapan kita jalan lagi ke Tanjungpinang. Aku mau lebih dekat lagi dengan calon mertua.'' katanya dengan percaya diri.
''Ibu aku itu, sukanya dibawain oleh-oleh yang mahal.''
''Intan berlian.''
''Hm...nggak sanggup beli kalau harus bawa oleh-oleh intan berlian.'' katanya sambil garuk-garuk kepala.
''Eh tunggu. Maksudnya....intan berlian itu untuk barang hantaran kan? Semacam barang seserahan atau emas kawin ya?'' jelas Bos Robert.
Mendengar itu, aku langsung terkekeh. Tak menampik apa yang dia katakan. Setelah itu, aku klarifikasi apa yang aku katakan tadi.
''Tadi itu, cuma khayalan aku jadi istri sultan. Hahahahahahah!'' selorohku.
''Ih....dia ini nakal banget.'' kata Bos Robert, mencubit tangan aku.
''Mi....serius ini. Aku kangen. Kapan kita jalan lagi. Beneran aku lagi kangen berat. Minta dipeluk.''
''Nggak mau. Minta aja sama cewek kamu Hana itu!'' kataku sewot.
''Kan....dia ini memang mau cari gara-gara sama aku. Sekali lagi sebut-sebut nama perempuan itu, benar-benar aku cium di depan staf kantor aku.'' ancamnya.
Aku bilang sama dia, aku nggak takut. Kalau memang berani, buktikan saja.
''Eh......jangan menantang Bos Robert Airlangga. Karena dia itu lelaki sejati. Gagah perkasa dan pemberani!'' katanya memuji diri sendiri.
__ADS_1
Aku pun lagi-lagi terkekeh mendengar dia memuji dirinya sendiri. Tapi, jujur, dia itu laki-laki yang gagah, ganteng, baik hati, dan penuh kasih sayang. Tapi, sayangnya ganteng-ganteng galak.
''Mi....serius ini, aku kangen. Besok ya kita ketemuan dimana, aku jemput Mami.''
''Besok aku ada urusan.'' kilahku.
''Apa....nggak boleh!''
''Ada urusan sama laki-laki atau sama perempuan?'' desaknya.
''Ih mau tahu aja.'' kataku nyinyir ke dia.
''Nggak bisa. Aku harus tahu. Karena, kamu itu istri aku.'' tegasnya.
''Enak aja, istri. Surat nikahnya aja nggak ada.'' sebutku.
''Mau dapatin surat nikahnya?'' tanyanya menunggu jawaban aku.
Aku nggak buru-buru memberi jawaban.
''Iya kan Mi. Kamu mau surat nikahnya?''
''Apaan sih!''
''Jawab!'' katanya.
''Besok, kita resmikan!'' kata Bos Robert pasang wajah serius.
''Beneran ini Mi. Besok kita cari cincin nikah. Terus kita ke penghulu.'' katanya lagi, serius.
''Emang segampang itu orang nikah?'' celetukku sesuka hati.
Tapi, entah sudah yang keberapa kali, Bos Robert memang sering mengajak aku ke KUA. Tapi, aku sendiri masih ragu.
''Kamu nggak percaya sama aku? Aku sudah berkali-kali ajak kamu nikah. Tapi, kamu tolak, bukan?'' protes Bos Robert.
''Istri kamu bagaimana?'' tanyaku penasaran.
''Udah kamu ceraikan atau apa?'' imbuhku.
Bos Robert diam. Nggak bisa memberikan jawaban yang aku inginkan. ''Lalu, kenapa harus mengajak aku berkali-kali ke KUA, kalau istri kamu aja belum jelas nasibnya. Dia mau nggak dipoligami?''
''Hahahahaha.'' katanya tertawa lepas, mentertawakan pernyataan aku.
''Mau atau nggak mau, dia harus mau menerima kamu. Aku ingin menikah sama kamu, Mi. aku ingin menua sama kamu, Mi.'' katanya penuh romantis.
''Itu puisi atau novel sebabak?'' kataku berseoroh.
''Serius ini, Mi. Aku mau menikahi kamu. Kamu terima dong pernyataan aku. Sumpah mati aku memang sangat sayang sama kamu. Harus berapa kali lagi aku katakan ini sama kamu?'' ungkapnya.
__ADS_1
''Bisa aku percaya nggak pernyataan kamu, Bang Robert Airlangga?''
''Ih...awas ya....sekali lagi meragukan cinta aku, aku cium kamu di depan umum.'' selorohnya.(bersambung)