
Hari Senin, bawaannya selalu malas-malasan. Tapi, pekerjaan sudah menanti seabrek-abrek.
"Ke ruangan aku sekarang." chat Bos Robert.
"Ada apa?"
"Diperintah pimpinan itu, nggak usah pakai tanya-tanya segala,"
"Dasar."
"Cepat."
"Apaan sih"
"Tunggu," Aku bergegas menuju ke ruangan Bos Robert.
"Ikut aku sekarang,"
Tanpa bertanya, aku menuruti permintaan dia.
Dia menyerahkan kunci mobilnya ke aku.
''Hari ini kamu jadi supir aku.''
''Kemana sih, orang aneh.'' celetukku.
''Kemana aja yang kamu suka.''
''Jangan gila. Ini jam kerja. Apa kata anak buah kamu nanti, kalau tahu aku jalan-jalan di jam kerja.'' protesku.
''Kamu melawan atasan ya. Menolak perintah aku?''
Aku pun diam saja setelah dia mengatakan itu.
Di sepanjang jalan, dia bersiul dan bernyanyi.
''Bener-bener aneh.'' celetukku.
''Habis kenalan sama cewek ya. Bahagia banget pagi ini. Terus aku mau ditraktir kan?''
''Ih....sok tahu. Nah.....berhenti di toko itu ya kita. Cari parkiran dulu yang aman.'' katanya sembari menunjuk toko emas langganan aku.
Setelah turun dari mobil, dia menggandeng mesra tanganku. Tapi, aku buru-buru menepisnya karena malu jadi tontonan orang lain.
Tapi, dia meraih tanganku lagi.
''Belajar mesra dong, kalau nanti jadi istri aku.'' candanya.
''Hahahahaha.'' kataku terbahak.
''Serius ini. Harus belajar mesra dari sekarang.'' katanya lagi.
Dia menuntunku ke toko emas itu.
''Pilih cincin kesukaan kamu ya Mi.'' katanya berbisik di telingaku.
Aku langsung menarik tangannya. Mundur beberapa langkah dari toko emas itu.
''Dalam rangka apa. Kamu mau belikan cincin emas buat aku?'' tanyaku ingin tahu.
''Pilih aja. Pokoknya aku belikan kamu.'' tegasnya.
''Nggak mau. Katakan dengan jelas dulu apa maksud dan tujuannya, baru aku mau pilih cincinnya.
''Itu untuk kamu pokoknya. Kenang-kenangan dari aku.''
''Udah kayak mau pisah aja, pakai ngasih kenang-kenangan.''
''Pilih ya sayang pokoknya untuk kamu. Aku mau belikan diam-diam, takut nggak pas di jari mungil kamu itu.''
__ADS_1
Tiba-tiba mataku berkaca-kaca, aku tak bisa membendung air mataku.
''Eh kok nangis......,'' katanya sembari mengusap air mataku.
''Pilih ya. Mami kan suka kalau dibelikan cincin.'' pintanya serius.
Aku terdiam sejenak.
Rasanya baru kali ini aku diperlakukan istimewa sama laki-laki.
''Kalau mau pilih, baca mantra ya.....''
Aku langsung tersenyum karena lelucon dia itu.
''Mantranya seperti apa?''
''Dengan cincin ini, jadikan aku istri Robert Airlangga.'' sebutnya.
Lagi-lagi aku tersenyum bahagia, mendengar lelucon dia itu, Padahal, semua itu masih jauh dari kenyataan hidup aku.
''Bukan aku menolak. Tapi, rasanya aku nggak pantas menerimanya. Karena aku belum sah jadi milik kamu.'' kataku pelan.
''Jangan begitu Mi,'' katanya kecewa.
''Aku ada rejeki lebih. Selama ini aku nggak pernah kasih apa-apa ke Mami. Ulang tahun pun aku nggak pernah kasih kado.'' ungkapnya lagi.
''Jangan. Aku nggak berhak menerima.'' tegasku lagi.
Akhirnya aku dan dia beranjak pergi dari toko emas itu.
Di sepanjang perjalanan, dia diam saja. Ada gurat kekecewaan yang tergambar di wajahnya. Tapi, aku harus tegas. Karena aku memang belum sah menjadi miliknya.
Keesokan harinya, dia memintaku ke ruangannya lagi. Katanya ada tugas penting yang harus aku kerjakan. Buru-buru aku pun ke ruangan dia.
Di ruangan, dia menyodorkan kotak kecil berwarna merah maroon.
''Apa ini?''
''Buka aja.'' perintahnya.
Deg-degan aku membuka kotak kecil itu.
''Ya Allah....cincin,'' pekikku pelan.
''Iya, karena Mami menolak, kemarin akhirnya aku balik lagi ke toko itu, dan aku beli cincin ini,''
Tak terasa, air mataku kembali terjatuh di pipi.
Aku sama sekali nggak menyangka, dia serius banget membelikan cincinnya.
''Kalau Mami nggak mau terima, aku harus kasih siapa ya?'' selorohnya.
Aku diam saja. Kotak cincin itu aku letak di meja kerjanya lagi.
''Jadi, kamu nggak mau terima ya Mi,'' tanyanya dengan penuh nada kecewa.
''Aku mau tahu, tujuan aku dibelikan cincin ini apa?'' desakku.
Dia membuka kotaknya, lalu mengambil cincinnya. Tak kusangka, dia meraih tangaku dan memakaikannya di jari manis tangan kananku.
''Aku mau kamu jadi milikku seutuhnya,'' katanya lirih, sembari mengecup punggung tangan kananku itu.
Lagi-lagi aku menangis sesenggukan.
''Terima ya Mi, dengan ikhlas, meski harga cincinnya tak seberapa.''
Aku diam seribu bahasa. Nggak tahu mau jawab apa, setelah mendengar pernyataan dia itu.
Tak lama, dia memelukku erat.
__ADS_1
''Ya udah....sayang. Balik ke ruangan kerja kamu lagi, sana. Nanti kena marah bos kamu. Masa iya di jam kerja ini malah pacaran.'' celetuknya.
''Ihhh....apaan sih!'' kataku berusaha melepaskan diri dari pelukannya.
Aku pun bergegas meninggalkan ruangan dia.
Kupandangi cincin permata berwarna putih yang disematkan Bos Robert di jari manisku itu.
''Pasti cantik, cincinnya, melingkar di jari manismu.'' kata Bos Robert lewat chat.
Aku membalasnya dengan kata-kata terimakasih.
''Tapi, Mi. Kamu mau kan jadi istri aku.'' tanyanya.
''Nggak.'' kataku.
Dia membalas dengan emoticon orang menangis.
Orang pertama yang aku beri tahu, soal cincin itu, Bayu. Karena dia sahabat aku tempat berbagi cerita kesedihan aku.
''Cie.....dapat cincin. Baguslah.'' komentar Bayu saat aku ceritain soal cincin dari Bos Robert.
''Jadi, kamu tak lama lagi, bakal dijadikan dia yang kedua dong?''
''Itulah Yu. Bingung aku. Aku belum bahas soal itu.'' kataku bingung.
''Yu....dimana posisi. Aku mau diskusi soal ini sama kamu.'' pintaku.
''Di rumah.''
''Ya udah bisa ketemu di kafe biasanya nggak?'' kataku meminta waktunya.
''Boleh. Aku mandi sebentar. Maklum dari pagi aku nggak ada kemana-mana. Rebahan aja di rumah.''
Setengah jam kemudian aku dan Bayu ketemu dan aku ceritakan soal pemberian cincin itu.
''Sekarang, kamu juga harus tegas. Dia mau jadikan kamu yang kedua atau apa?'' sebut Bayu tegas.
Saat aku dan Bayu asik membahas soal cincin itu, Bos Robert telepon.
''Yu....gimana ini. Dia video call.'' kataku panik sendiri.
''Angkat aja. Biar aku pergi.''
''Maaf ya Yu.''
''Sip.'' katanya dan berlalu dari hadapan aku.
''Dimana.....,'' sapa Bos Robert.
''Aku lihat kamu tadi ke arah kafe yang hutan. Ketemu siapa kamu?!'' tanyanya dengan nada meninggi.
''Ya Allah....bingung aku gimana ini.'' gumamku.
''Jawab....kamu ketemu siapa?''
''Nggak ada.'' jawabku berusaha santai.
''Kamu ketemu laki-laki kan...kamu ketemu Bayu untuk apa? Kamu selingkuh ya di belakang aku!'' bentaknya.
''Ya ampun....baik-baik kamu ngomongnya sama aku.'' bentakku balik lewat video call.
Kulihat suara itu ada di belakangku, dan aku berdebat lagi di kafe itu. Semua mata memandang ke arah aku dan Bos Robert.
''Mana laki-laki itu....biar aku bunuh.'' ancamnya dengan nada mengamuk.
''Mana.....kamu baru aja ketemu Bayu kan....ternyata kamu main serong di belakang aku.'' bentaknya lagi.
Tanpa berpikir panjang, cincin yang baru saja melingkar di jariku cuma sehari, aku lepas dan aku letakkan di meja. Tanpa kata. Aku pun berlalu dari hadapan Bos Robert. (bersambung)
__ADS_1