Maaf Suamimu Aku Pinjam

Maaf Suamimu Aku Pinjam
Istri Bos Robert


__ADS_3

Siang itu, aku fokus dengan pekerjaan aku. Soalnya, Bos Robert butuh laporan cepat, untuk diserahkan ke walikota.


Tak kusadari, seorang perempuan


Berdiri tak jauh dari meja kerjaku. Aneh dia nggak ngomong, atau setidaknya mengucap salam.


Fitri menyapanya dengan sopan.


''Selamat datang ibu,'' katanya.


''Mau saya antar ke ruangan Bapak?'' tanyanya.


''Nggak,'' katanya judes.


''Ih siapa sih dia ini, judes banget ngomongnya.'' celetukku.


''Sombong banget dia. Siapanya bos Robert, dia?'' tanyaku penasaran sama Fitri, lewat chat.


Padahal, kami masih berada di ruangan yang sama. Tapi, biar nggak ketahuan aku penasaran sama perempuan itu, terpaksa tanya sama Fitri, lewat chat.


''Itu, nyonya bos!'' balas Fitri by chat whatsappku.


''Hahahahahah. Sombong banget ya. Baru juga jadi istri kepala dinas. Belum jadi istri gubernur.'' balas aku lagi, dengan membubuhkan emoticon orang yang membekap sendiri mulutnya.


''Husss. Hati-hati. Nanti kalau ketahuan sama nyonya bos, dia bakal marah sama kita.'' kata Fitri lagi mewanti-wanti.


''Kita harus layani dia dengan baik, Kak!'' sebut Fitri.


''Hahahaha. Ogah. Kamu aja layani dia, Kakak lagi sibuk.'' Aku letakkan ponselnya dan aku berusaha fokus pada pekerjaanku.


Jujur, aku deg-degan juga saat dia memandang ke arahku dengan pandangan yang sinis. Aku takut banget sesuatu terjadi.


''Bisa saja dia datang ke kantor, niatnya mau melabrak aku. Ah! Nggaklah. Dia aja nggak tahu aku?!'' gumamku yakin dengan kata hatiku.


''Nggak. Dia kan nggak kenal aku.'' kataku lagi, membatin dan aku percaya dia hanya ingin mencari Bos Robert.


Karena masih penasaran, aku chat lagi ke Fitri.


''Dia mau ngapain ke kantor!? Sidak suaminya? Ngecek suaminya lagi ngapain di kantor! Hahahahahah.'' selorohku, masih chat dengan Fitri, lewat ponsel.


''Nggak tahu Kak. Dari tadi dia diam saja. Anehnya dia nggak mau nyelonong ke ruangan suaminya.'' sebut Fitri memuji nyonya bos itu.

__ADS_1


Belum selesai balas chat Fitri, tiba-tiba Bos Robert keluar, dan menggandeng tangan istrinya itu.


***


*Di area parkiran mobil kantor.


''Ma, ngapain kamu ke kantor?'' tanya Bos Robert ke istrinya.


''Maksud kamu apa. Jangan bikin malu aku, Ma. Aku di kantor kerja,'' sebut Bos Robert pelan dan berusaha menarik tangan istri, supaya segera masuk ke mobil. Karena Bos Robert khawatir, ada yang lihat kalau ada perdebatan mulut di parkiran itu.


''Nggak boleh?! Takut aku labrak ya selingkuhan kamu itu.'' kata Nurmala, istri Bos Robert itu dengan santai.


''Selingkuhan apa maksud kamu. Aku di kantor kerja. Jaga kata-katamu, Ma!'' jawab Bos Robert serius dan ia terlihat menahan emosi karena mulai berdebat dengan istrinya.


Seketika, Nurmala berusaha balik kanan dan dia menuju ke lobby kantor.


''Saya mau ketemu Bayu'' kata Nurmala dengan suara meninggi.


Staf yang ada di lobby depan kantor langsung menjawab bahwa staf yang namanya Bayu, sudah pindah ke kantor lain.


''Kantor mana, biar saya ke sana.'' kata Nurmala, suaranya semakin meninggi.


''Apa sih, Ma kamu ini bikin onar di kantor. Malu, Ma aku!'' kata Bos Robert yang berusaha menarik tangan Nurmala, istrinya itu.


''Tolong bilang sama saya, dia pindah di kantor mana? Bagian apa?'' katanya lagi mendesak staf yang ada di lobby kantor Dinas Kebudayaan itu.


''Kamu jangan bikin malu aku, Ma. Sudahlah Ma. Apa sih, masalahnya kamu ini, tiba-tiba ngamuk datang ke kantor!'' sebut Bos Robert sembari menahan emosinya.


''Jawab dulu siapa perempuan itu. Dimana dia sekarang.'' desak Nurmala.


''Siapa Ma?'' tanya Bos Robert balik.


''Kamu jangan berusaha menyembunyikan perempuan itu ya, dari aku. Aku dengar kalian sering sama-sama di kantor dan makan siang di luaran,'' sebut Nurmala lagi, blak-blakan, dan suaranya nyaris didengar staf yang ada di kantor itu. Apalagi, jam istirahat makan siang belum tiba. Jadinya, para staf di kantor itu, mendengar perdebatan sengit bos Robert dengan istrinya.


Bos Robert terlihat panik!


''Ya Allah, dia nyari aku,'' pekikku dalam hati.


''Winona, tolong kamu pergi saja dari kantor, sekarang. Kalau bisa, besok kamu jangan ke kantor dulu.'' kata Bayu, tiba-tiba kirim chat ke aku.


Aku pun buru-buru mengemas pekerjaan aku yang ada di meja kerja. Pelan-pelan aku lewat jalan belakang. Terpaksa naik gojek.

__ADS_1


Dengan langkah gontai, aku pulang ke rumah.


''Ya Allah, apa yang aku khawatirkan itu, sudah di depan mata. Tapi, Allah masih melindungi aku. Dia belum tahu siapa aku. Padahal, tadi di ruangan sempat saling pandang. Pandangan dia memang sinis banget ke arah aku.


''Dimana posisi?'' tanya Bayu lagi.


''Di rumah.'' jawab aku masih dengan debar jantung yang tak karuan karena masih panik karena insiden di kantor tadi.


''Bisa nggak kamu ke Kafe noname. Tempat biasa!'' pinta Bayu.


Aku pun bergegas menuju tempat biasa aku dan Bayu ketemuan makan siang.


''Aku duduk paling sudut ya,'' sebut Bayu, memberitahuku posisi dia di kafe itu.


***


Sampai di kafe noname, aku masih panik. Rasanya, aku masih gemeteran. Membayangkan andai tadi dia tahu siapa aku yang sebenarnya.


''Minum dulu,'' kata Bayu menenangkan aku.


''Iya, makasih,'' kataku serius dan masih berusaha mengatur nafasku yang dari tadi masih ngos-ngosan, campur ketakutan.


''Aku tadi, dichat sama Fitri, kalau istri bos ngamuk di kantor, nyari aku.'' cerita Bayu membuka cerita siang itu.


''Iya, tadi kita sempat pandang-pandangan. Dia sempat melirik ke arahku, dengan tatapan sinis. Tapi, dia nggak tahu, kalau aku perempuan yang dia cari. Dia aja nggak tahu mau cari namanya siapa,'' cerita aku di depan Bayu.


''Tenangkan hati dan pikiran kamu dulu. Kalau sudah tenang, baru cerita.'' kata Bayu.


''Makasih ya, kamu sudah menyelamatkan aku,'' kataku.


''Dari kemarin, aku sudah menduga. Hal ini akan terjadi. Tapi, aku masih tak kuasa untuk menghindari dia.'' kataku, pelan-pelan aku mulai bisa tenang saat bercerita soal itu.


''Yu, andai kamu didesak sama istri bos, kamu bakal buka mulut nggak kalau perempuan yang dia cari itu adalah aku?!'' tanyaku menguji Bayu.


Sejenak Bayu diam saja nggak mau menjawab pertanyaan aku.


''Nggak apa-apa Yu, kalau kamu mau jujur sama istri bos. Aku memang pantas dimaki-maki sama dia, kok Yu!'' kataku pada Fajar, pasrah.


''Hahahahah. Emang aku sinting, sampai mau buka suara dan mengatakan yang sejujurnya ke istri bos, kalau perempuan yang lagi dekat sama suaminya itu, adalah kamu,'' jawab Bayu meyakinkan aku.


''Serius Yu? Kamu nggak mau jujur sama istri bos? Meski nanti kamu bakal dikasih imbalan dengan naik jabatan?'' tanya aku sekali lagi ke Bayu.

__ADS_1


''Hahahaha. Darimana jalannya dapat jabatan setelah mencelakai kamu, dengan jujur ke istrinya. Ada-ada aja sih kamu, Wi!'' celetuk Bayu, dan aku bangga punya sahabat seperti dia.


''Makasih ya, Yu, aku beruntung punya sahabat seperti kamu!'' ucap aku penuh syukur. (***)


__ADS_2