
Setelah pertengkaran hebat kemarin, aku berusaha masih menghindari Bos Robert. Bahkan, saat dia berbicara di hadapan aku pun, aku berusaha diam. Karena, bagiku, diam adalah satu-satunya cara menyelesaikan masalah.
Kulihat, Bos Robert lebih sering uring-uringan di kantor, saat aku nggak ingin berbicara dengan dia. Ya, aku lebih memilih diam.
Beberapa staf, jadi sasaran kemarahan Bos Robert. Biarlah, itu bukan urusan aku. Sekarang, aku akan fokus dengan tugas dan tanggungjawab aku.
Tiba-tiba Bos Robert meletakkan setumpuk berkas di meja kerjaku, dengan membantingnya.
''Brak!''
''Sumpah aku kaget!'' pekikku, dan aku nggak berani menatap wajahnya.
Aku masih berusaha fokus dengan laptop aku.
''Kerja yang bener!'' bentaknya.
Aku nggak berani menanyakan apa salahku. Intinya, dia membentakku, pagi itu. Ya dia menumpahkan amarahnya di meja kerjaku.
Bukan hanya sekali. Hanya berselang beberapa menit kemudian, dia datang lagi, membanting setumpuk map lagi di mejaku. Kali ini, dia membantingnya lebih kuat. Beberapa staf lainnya memandang ke arahku dengan wajah penasaran.
Tak sengaja aku pun meneteskan air mata. Dia mempermalukan aku di depan staf lainnya. Tak bisakah dia membedakan antara pekerjaan dan masalah pribadi. Pertengkaran kemarin, sampai dibawa-bawa ke kantor.
''Tabahkan hatimu, Winona. Badai akan segera berlalu.'' batinku, sedih.
Tak lama, Bos Robert memerintahkan Fitri. Aku diminta Bos Robert segera datang ke ruangan dia. Kututup laptopku, lalu aku bergegas memenuhi panggilan Bos Robert.
Seperti biasa. Kuketuk pintu ruangan dia. Lalu aku berdiri mematung di hadapan dia.
''Mau kamu apa, sekarang?'' tanyanya dengan sombong.
Aku masih diam, tak ingin menjawab pertanyaan dia.
''Jawab!'' bentaknya.
Lagi-lagi aku masih diam. Nggak ingin bicara dengan dia.
''Kamu bisu atau tuli!'' bentaknya lagi.
Mau dia ngomong seribu kata, aku nggak akan meresponnya.
Saat dia mendekat ke arahku. Kuancam dia. Aku akan berteriak, agar semua pegawai di kantor ini mendengarnya. Dia pun mundur kembali ke tempat duduknya.
''Kamu jangan merasa hebat, dengan sikap kamu seperti ini. Kalau kamu nggak suka, bilang. Kita selesaikan secara adat!'' ungkapnya.
__ADS_1
Dia seolah menantang aku. Winona, ditantang! Itu seuatu banget. Aku pun meladeni tantangannya itu.
''Aku ingin mengakhiri semuanya!''
Setelah aku katakan itu, aku beranjak pergi dari ruangan dia. Tapi, dia malah mengekori aku. Lalu, buru-buru meraih tanganku.
''Apa perlu hubungan kita ini aku umumkan di depan semua pegawai dan staf yang ada?!'' kata Bos Robert penuh emosi.
''Terserah!''
Bersamaan dengan itu, aku berusaha mendorong dia, agar dia menjauh dari aku.
''Suka-suka kamu!'' imbuhku.
Aku sudah nggak peduli lagi, siang itu. Setelah beranjak pergi dari ruangan dia, aku meninggalkan kantor. Dia mengikuti langkahku, menuju parkiran. Ternyata, pertengkaran kami ada ronde kedua.
''Kamu jangan egois. Jangan banyak berkhayal kalau aku akan melepaskan kamu. Bagaimanapun juga aku nggak akan melepaskan kamu!'' sebutnya penuh emosi.
''Kamu nggak ada hak atas diri aku. Kamu juga bukan siapa-siapa aku!'' balasku.
''Terus aja ngomong. Kalau mau aku tampar!''
Saat dia mengatakan itu aku membalikkan badan dan menyodorkan wajahku ke dia.
''Tampar saja, karena jeruji penjara sudah menunggu kedatangan kamu, Tuan Robert Airlangga!'' sebutku santai.
Dia bilang minta maaf karena sudah menyakiti aku.
Karena masih terbawa emosi, aku belum bisa memaafkan kesalahan dia. Karena, dia banyak menyakiti aku, selama ini.
''Kamu tahu nggak. Lebih baik aku bebas, daripada sepanjang waktu aku bersama kamu. Aku memang butuh kasih sayang dari seorang lelaki. Tapi, bukan seperti ini yang aku inginkan. Kamu mengekang aku. Nggak boleh dekat atau temanan dengan laki-laki lain. Sementara kamu? Bebas, sebebas-bebasnya sama perempuan lain. Silakan kalau kamu memilih perempuan lain. Aku nggak melarang. Aku juga bukan siapa-siapa kamu!''
Kukatakan hal itu panjang lebar di depan Bos Robert. Tetapi, dia memelas padaku, minta maaf atas sikap dia selama ini. Sebenarnya aku bosan mendengar permintaan maaf dari dia. Tapi, setiap orang berhak medapatkan kesempatan meski itu seribu kesempatan.
Kata dia, Allah itu maha penyayang. Masa, manusia tidak bisa memaafkan kesalahan orang lain. Ya...aku luluh dengan kata-kata itu, hingga akhirnya aku selalu memberinya kesempatan demi kesempatan. Aku tak henti menangis, saat itu, menyesali kebodohan aku, kenapa harus terjebak ke dalam permainan terlarang ini.
****
Pulang ke rumah, kulihat Fira sudah berdandan dan siap mejeng di luar bareng aku. Dia menagih janji ke aku.
''Mi, katanya mau jalan sama ayah baik?!'' tanyanya polos.
''Ayah baik, sibuk Nak,'' kataku memberi pengertian padanya.
__ADS_1
''Kata ayah baik, sore ini mau jemput Fira.'' sebut Fira, kecewa.
Tanpa aku sadari, Bos Robert sudah di depan rumah aku.
''Mi.....itu ayah baik,'' katanya tiba-tiba, berubah jadi kegirangan. Fira pun langsung menyambut kedatangan Bos Robert. Dia berlari ke teras, menemui Bos Robert yang sudah berdiri disana.
''Hai, Fira sayang. Jalan kita, sore ini ya. Sama mami kan.....,'' tanyanya sembari melirik ke arah aku.
Aku tak kuasa menolak, saat melihat putri kecilku itu bergembira melihat kedatangan Bos Robert. Terpaksa aku pun menuruti keinginan Fira.
Di sepanjang perjalanan, aku lebih banyak memilih diam. Fira dan Bos Robert mendominasi suasana.
''Ayah baik, nanti Fira mau makan es krim ya!'' sebut Fira, seolah mengingatkan Bos Robert, agar dia menepati janjinya kemarin.
''Iya, tenang aja sayang, nanti kita beli es krimnya.'' kata Bos Robert dengan manisnya.
''Ya Allah, di saat aku ingin mengakhiri semuanya, kenapa Fira justru dekat dengan dia?'' gumamku dalam hati.
Doa yang selalu aku ulang-ulang di hadapan-Nya. Kalau dia bukan untukku, tolong jauhkan aku dari dia. Tapi, kalau dia memang untukku, berarti aku harus jadi yang kedua.
Doa yang salah. Ya aku selalu berdoa seperti itu. Karena aku nggak tahu, doa mana yang akan dikabulkan oleh-Nya.
''Eh....Mami sakit gigi ya, kok dari tadi Mami diam aja?!'' celetuk Bos Robert.
''Mami sakit gigi ya?'' kata Fira, menirukan pertanyaan Bos Robert.
''Iya.'' jawabku ketus.
''Kita bawa ke dokter, aja yuk. Mami!'' kata Bos Robert lagi menggodaku.
''Nggak lucu!'' sahutku.
''Mi, nanti Fira mau es krim KFC ya,'' sebut Fira lagi merengek.
''Iya. Minta sama bapak itu aja ya. Mami lagi nggak ada uang.'' ucapku serius.
Tiba di KFC, Fira begitu kegirangan. Dia langsung ke antrian, dan mengatakan ke pelayannya, ingin es krim dua.
Aku hanya terkekeh melihat tingkah Fira. Setidaknya dia menghiburku, saat itu.
''Maminya mau apa.'' bisiknya di telingaku.
''Nggak doyan!'' jawabku masih ketus.
__ADS_1
''Masa iya, nggak doyan. Jadi, minggu kemarin siapa ya yang menghabiskan es krim aku?'' katanya masih
berusaha membuat lelucon.(bersambung)