Maaf Suamimu Aku Pinjam

Maaf Suamimu Aku Pinjam
Kepergok


__ADS_3

Setelah seharian berkutat di rumah saudara ibuku, inginnya aku istirahat. Badanku penat. Namun, karena rumah saudara ibuku ramai, dan nyaris tidak ada kamar kosong buat istirahat, akhirnya aku balik ke hotel. Sedangkan ibu, dan adikku, serta saudara-saudara ibu, tetap di rumah pengantin, atau di rumah saudara ibuku itu.


''Ini jam istirahat, break sebentar!


''Dimana posisi? Habis maghrib, kemana acaranya? Aku di hotel, nih!'' kata Bos Robert padaku.


Aku tak membalas chatnya. Aku ambil kunci mobil, menuju ke hotel.


*Dreett....


*Dreettt...


Ponsel aku bergetar. Pasti, Bos Robert yang telepon. Penyakit dia, kalau aku nggak balas chat cepat, pasti dia telepon dan video call. Memastikan keberadaan aku dimana.


*Dreettt....


*Dreettt....


''Biarin aja....'' pikir aku.


Sampai di parkiran hotel, aku buru-buru masuk ke kamar. Karena kepalaku berat banget, ngantuk.


Belum sempat masuk kamar aku, Bos Robert menarik tanganku, lalu mengajakku ke kamarnya.


''Kemana aja, sih Mi.'' katanya sambil menutup pintu kamar hotel, dan kami berpelukan berdua di atas tempat tidur.


Dia memelukku erat, menyentuh titik-titik sensitifku.


''Sayang, udahan, aku mau tidur. Ngantuk, berat rasanya. Tadi aku sibuk bantuin saudara ibu aku.'' sebutku, dan Bos Robert nggak mempedulikan keluhan aku tadi. Dia terus menjelajahi sisi-sisi rahasiaku, yang terdalam.


''Dari kemarin aku merindukan kamu,'' katanya dengan nafas yang mendesah.


''Kamu juga sebenarnya merindukan aku, bukan?'' katanya terus menggodaku.


''Nggak.''


''Jangan bohong.'' katanya lagi, dan aku berusaha mengelak saat dia terus mencumbuku.


''Jujur, aku nggak pernah melakukan ini, belakangan,'' katanya dan pelan-pelan, aku mulai menikmati cumbuannya.


''Jujur, sebenarnya aku juga nggak pernah merasakan ini, sudah 13 tahun.'' gumamku, membatin.


''Peluk aku sampai pagi, sayang.'' kataku tanpa kusadari.


''Ya....aku akan memelukmu, sampai kita sama-sama meraih puncak kenikmatan.'' kata dia yang terus mendesah.


Tanpa aku sadari, aku memang mendambakan belaian itu.

__ADS_1


Buru-buru aku menyudahi semuanya, setelah kudengar pintu kamar Bos Robert diketuk seseorang.


Untung aku masih berpakaian lengkap, meski sempat berpelukan dengan Bos Robert.


''Sebentar Mi, biar aku aja yang buka pintunya.'' kata Bos Robert dan aku masih dalam posisi rebahan di ranjang.


''Pak, maaf, lihat kakak aku nggak. Tadi aku lihat ada mobilnya di parkiran,'' tanya Zaskia ke Bos Robert.


Belum sempat menjawab, tiba-tiba aku menyahut.


''Siapa Pi,'' tanya aku.


''Kakak.....!'' pekik Zaskia saat mendengar suara aku.


Aku langsung bangun, memperbaiki posisi aku.


Aku berusaha sesantai mungkin dan nggak panik, saat mengetahui Zaskia yang masuk ke kamar Bos Robert.


''Iya Kakak numbang baring. Karena di kamar kakak ada bunyi-bunyi serem, jadi kakak nggak berani tidur sendiri.'' kataku menjelaskannya ke Zaskia.


''Pinjem kunci kamar hotel, Kak,'' katanya, tanpa merespon apa yang aku katakan tadi.


''Hmm...ini.'' kataku sembari menyerahkan kuncinya.


Aku ikuti dia ke kamar sebelah. Lalu aku marahi dia.


''Kenapa kamu nggak chat atau telepon aku dulu, kalau mau ke hotel.'' protesku emosi.


''Kamu ini, bikin emosi orang aja. Pak Robert itu, bos aku. Jadinya dia nggak enak, kamu datangi kayak begitu. Tadi itu aku lagi bahas kerjaan. Terus kamu ganggu kami.'' kataku lagi masih dengan nada emosi.


''Iya,....maaf.'' ucap Zaskia.


Tapi, di sisi lain, dia masih menaruh curiga, akan keberadaanku tadi yang di kamar Bos Robert.


Ah! Masa bodoh aja. Zaskia juga nggak tahu permasalahan aku yang sebenarnya. Perkara dia menuduh aku yang macem-macem, silakan saja.


***


Tiga hari kemudian, setelah acara pernikahan saudara ibu di Bandung, kami pulang ke rumah. Lagi-lagi, aku ingin rebahan karena melepas penat.


Zaskia datang menanyakan kejadian aku yang ada di hotel tempo hari.


''Kak...Pak Robert itu siapa kamu. Kakak jangan macem-macem. Kasian Mas Arga.'' katanya menasehati aku.


''Kamu tahu apa soal rumah tangga aku. Anak kecil, nggak usah ikut campur urusan orang tua,'' sebutku lagi.


''Kamu ada hubungan kan sama dia!'' kata Zaskia to the point.

__ADS_1


''Jangan kurang ajar kamu!'' bentakku.


''Dosa kak, mengkhianati suami kamu itu namanya.'' imbuhnya.


Karena dia nggak pergi, aku yang pergi, ke ruang tamu, menghindar dari Zaskia. Karena kepala aku pusing banget, nyari tempat rebahan yang nyaman. Bukan malah diceramahi.


***


Aku menceritakan soal Zaskia ke Bos Robert. Aku terhenyak, saat Bos Robert menjawab, biarkan saja kalau memang Zaskia tahu.


''Biarin aja Zaskia tahu. Itu baru Zaskia, kalau ditambah ibu kamu tahu juga, aku nggak peduli. Memang tujuan utamaku itu, minta restu ke ibu kamu.'' jelasnya panjang lebar.


''Maksud kamu apa?"' tanyaku bingung.


''Ya minta restu ke orang tua kamu, biar beliau merestuinya.'' jelasnya meyakinkan aku.


''Kamu mau nikahi aku?'' tanyaku kege'eran.


''Wuih....lebih mantap lagi kalau kamu memang mau aku nikahi.'' tegasnya.


''Serius, dong ngomongnya. Tujuan kamu apa sih, sampai minta restu ibu aku?'' ulangku bertanya, penasaran.


''Lah...emang seorang anak, minta restu pada ibunya, nggak boleh ya? Salah ya?!'' katanya lagi padaku.


Akhirnya aku nggak melanjutkan percakapan, karena terbawa emosi, Bos Robert nggak serius bicara dengan aku.


''Kalau bisa, keluarga besarmu, harus tahu hubungan kita.'' katanya, dengan santai.


''Jangan gila. Aku belum siap.'' kilahku.


''Sudahlah, mau tunggu apa lagi.'' katanya.


''Maksudnya apa sih, sampai keluarga besar aku harus tahu.'' desakku lagi bertanya keBos Robert. Tapi lagi-lagi dia masih mempermainkan aku.


''Aku mau, keluarga besar kamu itu, menerima aku.''


''Nggak mungkin.'' protesku.


''Apa yang nggak mungkin. Jangan sebut Robert kalau sesuatu yang nggak mungkin, bisa jadi mungkin.'' akunya berbangga hati.


Kukatakan pada Bos Robert, aku memang ingin bercerai dari suamiku. Mungkin, sampai disini aku berjodoh dengan Mas Arga. Tapi, entah kenapa, aku masih ragu melepasnya. Bertahan atau melepaskan, dua hal yang tak mudah bagiku. Saat aku melepaskan dia, bagaimana dengan Fira. Tapi, saat aku bertahan, tiga belas tahunan aku nggak mendapatkan nafkah batin.


''Coba bicarakan baik-baik soal ini. Adik kamu Zasia, sudah tahu kurasa. Dia sudah bisa menebak hubungan kita ini seperti apa. Dia kan bukan anak kecil. Dia sudah beranjak dewasa.'' sebut Bos Robert panjang lebar.


Sepertinya, memang benar. Zaskia pasti sudah tahu aku menjalin cinta dengan Bos Robert. Tapi, konyol banget, kalau aku cerita soal itu. Biarkan saja, waktu yang akan menceritakan kedekatan aku dengan Bos Robert.


Bahkan, belakangan ini, Zaskia mulai nggak mau bicara sama aku. Jangankan bicara, makan satu meja pun dia menghindar.

__ADS_1


Aku menghela nafas panjang. Mungkin ini sudah jalan hidup yang harus aku jalani.


Suatu hari, aku berharap, bisa berjodoh dengan laki-laki yang pelan-pelan mulai aku cintai ini. Bos Robert, lelaki ganteng-ganteng galak.(bersambung)


__ADS_2