
Aku kaget saat Bos Robert bilang mau ikutan cuti ke Bandung, bareng aku.
''Ya ampun....gimana ini. Yang bener aja. Mau ikutan bareng ke Bandung?'' tanyaku dengan nada protes.
''Memang kenapa kalau aku ikutan? Risih ya, takut nggak bisa bebas?'' katanya menuding aku seenaknya sendiri.
''Ngajak kelahi atau apa ini!''
''Pokoknya aku ikut.'' tegasnya, masih ngotot.
''Terus gimana aku mau ngomong sama keluarga aku?'' kataku bingung.
''Bilang aja kalau aku ada pelatihan di Bandung!'' katanya mengajari aku.
Aku diam saja.
''Nanti, tiket pulang-pergi, aku yang beli,'' katanya berjanji padaku.
Dalam hati, syukur, ada yang belikan aku dan keluarga, tiket pesawat gratis.
''Lima orang, keluarga aku?'' sebutku, dan aku menunggu respon dia soal itu.
''Nggak masalah, mau lima atau sepuluh.'' katanya, berlagak sombong.
''Hmm....,'' sahutku.
Belum juga berangkat, Bos Robert mulai suka main ke rumah. Kalau Sabtu-Minggu, dia pasti mengajakku menyeberang pakai Feery, pulang ke rumah orang tua aku.
''Ya Allah, Mas Arga saja, jarang perhatian sama keluarga aku. Dulu, dia kupilih jadi imamku, karena ayahku, yang senang melihat sosoknya. Kata ayah, Mas Arga itu lelaki yang sopan santun, sama orang tua. Ditambah lagi, dia itu pegawai negeri. Orang tua mana, yang tak bangga, kalau dapat menantu pegawai negeri.'' kataku dalam hati.
Selain orang tua aku memang suka pada Mas Arga, aku juga mencintai dia, waktu itu. Bahkan, aku rela meninggalkan laki-laki yang mengejar-ngejar aku, demi memilih Mas Arga, yang juga pilihan orang tua aku.
Tapi, ekspektasi aku nggak sesuai dengan apa yang aku inginkan.
***
Ada tanda tanya besar tergambar di wajah ibuku, saat berulang kali Bos Robert main ke rumah. Tapi, ibuku sepertinya nggak mau ikut campur dengan urusan keluarga aku.
Terkadang, aku harus berbohong sama ibuku, kalau Bos Robert ada pelatihan. Aku tahu, ibuku curiga.
''Kamu pergi sama siapa? Berdua sama Pak Kadis aja ya?'' tanya ibu yang menaruh rasa curiga padaku.
''Ramai-ramai, Ibu, sama orang kantor. Berlima.'' jawabku, terpaksa berbohong.
__ADS_1
Bos Robert yang mendengar itu, terkadang hanya senyum-senyum.
''Kurang ajar dia senyum-senyum. Pasti ngetawain aku, dia!'' gerutuku kesal.
Daripada ada pertanyaan panjang-panjang. Aku langsung mengalihkan pembicaraan.
''Pak.....tadi ada telepon dari bagian Bintan Lagoon. Mereka mau ada pertemuan travel-travel se-Bintan. Nanti Bapak diminta hadir sebagai narasumber,'' kataku, mengarang agenda.
Bos Robert pun minta diantar ke hotel, dengan alasan ada acara yang aku sebutkan tadi.
Hmmm....lega. Karena kalau di rumah aku terus, bisa kena introgasi macem-macem, sama ibu aku.
***
''Kamu pandai ya, mengarang cerita.''
Aku langsung terkekeh.
''Makanya, selama ini, aku lebih percaya sama kamu. Karena, beberapa pekerjaan kantor, selesai di tangan kamu. Selain cantik, otak kamu itu bisa diandalkan.'' katanya memujiku dan membuat aku melambung tinggi.
'''Hmmm. Kalau ada maunya pasti puji-puji aku. Padahal, hari-hari, suka ngajak berantem aku. Bos satu ini memang aneh.'' selorohku.
''Soal rencana kamu pergi ke Bandung sekeluarga itu, jadi kan?'' tanyanya.
''Oke. Aku pesan tiket buat 7 orang. Kamu, aku, dan lima orang saudara kamu. Termasuk sama ibu dan adik kamu ya.''
Lega, rasanya, karena Bos Robert membelikan aku tiket PP ke Bandung, untuk satu keluarga.
***
Zaskia, adik perempuan aku, yang masih berusia 20 tahun itu, mulai bertanya-tanya soal Bos Robert. Pertanyaan dia, sedikit membuat aku emosi. Betapa tidak, Zaskia menuduh aku, pacaran sama Bos Robert.
''Kamu anak kecil, tahu apa,'' kataku emosi saat dia tanya-tanya soal Bos Robert.
''Kak, aku nggak sengaja liat foto-foto kamu di hapemu, kamu suka berdua sama dia!'' kata Zaskia to the point.
''Kamu lancang banget buka-buka ponsel aku!'' bentakku.
Rupanya ibu mendengar percakapan aku dan Zaskia. Tapi, lagi-lagi ibu diam. Dia hanya bilang kalau dengan keluarga, nggak boleh musuhan.
''Kalian ini ya, kalau ketemu, sudah seperti Tom and Jerry. Kelahi saja kerjanya. Kamu itu sopan sedikit, Zaskia sama kakak kamu. Lagian kamu ngapain periksa-periksa ponsel kakak kamu. Nggak boleh ya lain kali!'' bentak ibu.
Aku mengira, ibu sudah tahu masalah kedekatan aku dengan Bos Robert. Tapi, sepertinya ibu aku, pilih nggak mau tahu atau pura-pura nggak tahu.
__ADS_1
Akhirnya Zaskia meninggalkan aku., di kamar sendiri. Tapi, aku panik jug saat dia tahu di ponsel aku ada foto-foto aku dengan Bos Robert. Salah aku sendiri, karena ponselku nggak aku kunci pakai password.
''Ah. Masa bodoh. Dia paling hanya menerka-nerka. Nggak tahu fakta yang sebenarnya.'' celetukku dalam hati.
Saat aku ceritakan masalah itu ke Bos Robert, dia malah mentertawakan aku. Katanya dia santai saja, meski keluarga atau ibuku tahu soal hubungan dia dengan aku.
''Aku sengaja mendekati keluarga kamu, biar mereka menerima aku dengan senang hati.''
''Maksudnya apa?'' tanyaku, bingung.
''Ya biar dekat aja. Memangnya nggak boleh, menjalin silaturrahim sama keluarga kamu? Menjalin hubungan silaturrahim itu, bisa memperpanjang usia, tahu!'' jelasnya seolah mengajariku.
''Iya....iya....tahu, Pak Ustad.'' celetukku sewot.
''Uhui....ada yang sewot dengar ceramah ustad Robert.'' katanya menggodaku.
''Nggak cocok banget nama Ustad Robert.''
''Biarin. Tapi, ustadnya ganteng dan kamu jatuh cinta kan....sama ustad Robert?'' imbuhnya, sok percaya diri.
***
Hari yang aku tunggu-tunggu itu, akhirnya tiba juga. Aku berangkat ke Bandung, sekeluarga. Tentunya sama Bos Robert. Zaskia, terlihat cemberut saat aku dekat-dekat Bos Robert.
''Kak, siapa sih sebenarnya Pak Robert itu, bagi kamu!'' katanya berbisik padaku.
''Apa urusan kamu.'' kataku emosi. Karena, aku merasa, Zaskia sudah mengganggu privasi aku.
''Kamu anak kecil. Jangan ikut campur sama urusan orang tua,'' kataku memperingatkan dia.
Dia diam tapi pasang wajah sinis, padaku.
''Ya Allah, aku sebenarnya nggak tega marahin adikku itu. Tapi, aku harus jawab apa, atas kecurigaan dia pada Bos Robert?'' kataku, gundah gulana.
''Zaskia, sini, sama ibu, temani makan ibu.'' kata ibu yang mencoba menjauhkan aku dari Zaskia. Zaskia pun mendekati ibu. Aku nggak tahu mereka berbisik apa. Pastinya, Zaskia terlihat nggak menyukai kehadiran Bos Robert, diantara kami.
''Kak, aku mau sekamar sama kamu.'' kata Zaskia, yang tiba-tiba baik sama aku.
Ya....sampai di Bandung, kami rehat sejenak di hotel. Karena, tidur di rumah saudara ibu aku, rasanya nggak memungkinkan. Karena sudah full tamu-tamu yang datang dari jauh, menginap disana. Mereka, sekaligus membantu mempersiapkan acara pernikahan anak dari saudara ibuku.
''Kamu kenapa sih, dari kemarin mukanya kotak-kotak begitu. Kalau nggak suka, bilang. Lagian, kamu ke Bandung ini, pakai tiket siapa, kalau nggak dibelikan bos aku. Pikir itu baik-baik. Sadar diri.'' celetukku nyinyir.
Zaskia diam, dan aku pun merasa bersalah, karena sudah berkali- kali memarahi dia. Padahal, aku ini kakak kandungnya, bukan kakak tiri. Tapi, aku selalu jahat sama dia. Soalnya, dia usil banget, belakangan ini sama aku. Jadinya, aku emosi saat berbicara sama dia. Ya.....dia sudah mengganggu privasi aku, dengan ikut campur masalah pribadi aku. Lama-lama, dia diam tak mau bicara lagi sama aku, setelah perdebatan-perdebatan itu terjadi.(bersambung)
__ADS_1