
Sudah dua hari Bos Robert libur, suasana kantor benar-benar sepi. Kalau biasanya ada yang marah-marah karena telat mengerjakan perintah dia, sekarang banyak yang pada santai.
Begitu juga aku, sedikit rilex, karena tugas aku bisa aku kerjakan sesuka hati aku, asal beres.
''Tumben dia nggak ada chat aku.'' gumamku, membatin.
''Pasti nggak berani aktifkan HP karena lagi di rumah, ada nyonya besar.'' pikirku.
Belum juga selesai ngebatin, dia chat aku. Katanya minta dijemput di klinik, setelah selesai kontrol lukanya.
''Hmmm....lambat-lambat sedikit nggak apa ya. Aku masih kerja. Nanti aku kena marah sama bos aku.'' kataku membalas chatnya.
''Awas nanti kalau ketemu. Nggak aku kasih ampun, terus aku cium di depan klinik, biar orang pada ngelihat.'' selorohnya.
''Kalau begitu aku nggak mau jemput.'' jawabku, balas ngerjain Bos Robert.
''Tolonglah. Minta tolong istri aku, dia aja nggak pandai naik motor. Apalagi nyetir. Tolong aku. Nanti kamu minta apa, aku kasih deh. Kecup? Peluk sehari semalam? Atau apa....sebut aja, nanti aku beri.'' janji Bos Robert. Dia memang pandai merayu, dan aku tak pernah bisa mengelak rayuannya.
Setengah jam kemudian, aku jemput di klinik tempat dia kontrol luka tangannya itu.
Dia ngomel-ngomel, karena aku benar-benar lambat menjemputnya.
Kata dia, perjanjian batal. Jadi, kataku, kalau begitu aku nggak jadi jemput dia, meski aku sudah di depan klinik yang dia maksud.
''Pilih mana. Turuti permintaan aku, atau naik aja gojek, kan banyak. Apalagi abang ada aplikasi gojek. Tinggal klik aja aplikasinya.'' kataku yang tak mau kalah, gantian ngomel-ngomel, saingan bicara sama dia.
''Ya udah. Aku ikut. Antar aku ke kantor!'' pintanya.
''Lho bukannya Bos Robert terganteng sejagad raya ini masih menikmati waktu libur?'' kataku bercanda dengan dia.
''Nggak. Aku sudah mulai masuk kantor. Kalian senang kan kalau aku libur lama-lama.'' katanya sewot.
''Ih.....laki-laki kok suka ngomel sih? Bukannya yang suka ngomel itu, emak-emak ya? Kaum hawa?'' selorohku dan dia diam saja.
Tanpa aku sangka, dia mendaratkan kecupannya di pipi kiri aku.
''Ih ini pencurian berencana. Bisa kena pidana,'' kataku protes. Tapi, dia malah mendaratkan kecupannya yang kedua.
__ADS_1
''Cepat dikit. Lapar nih. Kita makan dulu sebelum ke kantor.'' pintanya manja.
''Baiklah, Tuan Robert Airlangga. Aku akan laksanakan perintah tuan. Kebetulan aku juga lapar.'' kataku jujur.
''Ih.....bukannya tadi sudah makan siang! Tuh kelihatan ada cabe di giginya.'' celetuk Bos Robert dan aku langsung ngecek di kaca depan mobil aku.
''Mana ada. Bohong!'' kataku mengelak.
''Salah lihat aku kalau begitu.'' kata bos ganteng-ganteng galak itu lagi.
''Kalau begitu kita makan bareng ya, sekarang.''
''Iya.....'' sahutku.
''Bisa lama-lama nih, kalau makan sama bos.'' celetukku padanya.
''Iya....boleh. Asal aku bisa kecup pipinya, diperbolehkan lama-lama sama bos.'' jawabnya sesuka hati.
Aku iseng, bilang ke Bos Robert, kalau misalnya aku berhenti kerja, terus dikasih modl buat buka usaha, aku bakal bahagia banget.
''Pengennya buka usaha. Tapi, modalnya dari mana ya. Gaji aku aja, masih belum cukup, buat aku dan anak aku.'' keluhku.
''Aku nggak suka kalau Mami mengeluh.'' protesnya seketika.
''Iya makanya modalin aku dong, biar aku buka usaha. Aku pengen berhenti kerja. Karena, impian aku sebenarnya jadi ibu rumah tangga yang dicintai suaminya.'' kataku lebai.
''Hmmm.....puitis banget?''
''Sejak kapan, jadi penyair?''
''Sejak nggak dipedulikan sama suami aku.'' kataku padanya blak-blakan.
Bos Robert langsung nggak suka kalau bahas soal Mas Arga. Katanya, dia akan menunggu waktu yang tepat, untuk ngomong ke Mas Arga soal hubungannya dengan aku. Bahkan, Bos Robert berjanji akan membahagiakan aku. Tapi, janji dia itu masih aku ragukan. Kecuali, dia menceraikan istrinya, dan menikahi aku. Baru, aku akan percaya janji dia, seratus persen.
''Tunggu Mi, aku akan berusaha tepati janji aku sama kamu. Aku akan bahagiakan kamu, suatu hari nanti.'' katanya lagi, siang itu, menggombal.
''Tapi, sampai kapan?'' tanyaku mencoba meminta kepastian.
__ADS_1
''Aku juga sudah berani minta cerai dari suami aku. Itu artinya aku serius mau pisah saja, sama dia. Tiga belas tahun aku bertahan. Rasanya waktuku sia-sia, hidup bersama laki-laki yang sama sekali sebenarnya tak butuh akan kehadiran aku.'' kataku, dengan mata berkaca-kaca.
''Iya, Mi. Aku juga berharap suatu hari bisa membahagiakan kamu, dan juga Fira. Tapi, tunggu waktu yang tepat Mi, ya. Aku sangat berharap kita bisa hidup bersama, Mi. karena kamu adalah wanita impian aku, sejak lama,'' katanya, mencoba menyanjung aku, sekaligus memberi harapan, dan angin surga.
''Kalau aku nggak mikir ada anak-anak aku, aku pasti sudah menceraikan istriku. Alternatif kedua, aku akan tetap menikahi kamu, meski aku nggak menceraikan istriku,'' jelasnya.
''Berarti aku rela jadi yang kedua?'' tanyaku pasrah.
Bos Robert diam saja. Dia pasti nggak berani memberi kepastian atas pernyataan aku tadi.
''Iya....aku dijadikan yang kedua?'' tanyaku lagi, memaksa dia untuk menjawabnya. Tapi, lagi-lagi dia masih diam.
Langsung saja aku bernyanyi.
''Jadikan aku yang kedua, buatlah diriku bahagia!''
''Mi, kita balik ke kantor yuk. Ada berkas yang harus aku tandatangani. Besok akan aku serahkan ke walikota.'' katanya mengalihkan pembicaraan.
Aku sebenarnya kecewa, karena dia masih ragu dengan aku. Tapi, aku harus bersabar. Karena dia memang bukan milikku.
''Sabar....Winona...sabar. Jangan main paksa hati dan perasaan orang. Dia kan nggak serius sama kamu. Dia itu lebih cinta ke anak istrinya, ketimbang memilih kamu,'' bisik batinku, bicara sendiri.
***
Sepanjang perjalanan pulang, kami lebih banyak diam. Karena suasana lagi nggak mendukung kalau mau bicara.
''Mi. Kamu marah ya. Bukannya aku nggak berani menikahi kamu. Tapi, tunggu waktu yang tepat ya Mi. Aku janji akan nikahi kamu,'' katanya berjanji padaku, serius.
Aku diam saja, sembari menelan salifaku sendiri, menahan rasa kecewa.
''Aku mah....apa atuh.....cuma selingkuhan. Nggak penting-penting banget mau diperhatikan.'' kilahku dan dia pun sepertinya tak bisa membantah kata-kata aku itu.
Tiba-tiba dia meraih tanganku, menggenggamnya erat.
''Mi...maafkan aku. Sumpah demi Allah aku serius sama kamu. Kamu itu semangat hidup aku. Tanpa kamu, hidupku hambar. Kamu tahu sendiri, kemarin aku jatuh dari motor, karena cari-cari kamu. Gara-gara HP nggak aktif, aku bingung. Khawatir kamu kenapa-kenapa.'' jelasnya serius.
Lagi-lagi aku masih diam. Mendengar pernyataan-pernyataan dia, dan realita yang aku hadapi saat ada di dekatnya, rasanya antara percaya dan tak percaya. Sebentar aku merasa dia cinta mati sama aku. Sebentar, aku merasa, dia hanya menjadikan aku sebagai pelariannya. Tapi, jujur, pelan-pelan aku mulai jatuh hati padanya. Takut kehilangan dia.(bersambung)
__ADS_1